NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selalu Sendiri

“Apa-apaan ini? Jangan-jangan ini ulah Prof Eliza,” Rina menyipitkan matanya mencari sela foto yang bisa memberikannya jawaban.

Lama dia mengamati foto dirinya tapi tidak ada satupun petunjuk yang didapatkannya.

“Apa ini?” bisik Rina sekali lagi saat dia menemukan sesosok pria yang tadi memang sempat melintas di depannya.

Dia mengingat betul wajah pria itu dan yakin kalau dia memang dikuntit.

“Om Adrian harus tau,” desis Rina lalu menelpon suaminya itu.

Tut!

Tut!

Ponsel Adrian berdering tapi tidak ada jawaban.

“Kemana dia?” Rina mulai kesal.

Dia lalu mematikan ponselnya lalu mengirim pesan.

‘Om, ada yang kuntit aku. Om bisa pulang malam ini, kan? Aku kesepian,’

Pesan terkirim dan Rina menunggu balasan. Tapi sampai matanya mengantuk dia belum juga mendapatkan jawaban.

Tak sabar menunggu jawaban dari suaminya Rina kembali menghubungi ponsel Adrian.

Tut!

“Halo,” jawab seorang wanita yang tak lain adalah Prof. Eliza.

Sial!

Rina buru-buru mematikan ponselnya lalu meletakkan ponsel itu ke dadanya. “Beneran ini? Dia bener-bener tidur di samping dosen killer itu?” Rina makin cemas. "Dasar om gila. Katanya cuma mau menenangkan Prof Eliza. Kok dia malah tidur sama istrinya lagi!"

Rina kesal bukan main, dia tidak menyangka bayangannya tidak sama dengan kenyataan.

Semalaman mata Rina terus terjaga berharap pagi datang dan Adrian membaca pesannya.

Dini hari datang dan Rina masih memperhatikan jam di ponselnya.

Tidak ada jawaban apa lagi panggilan balik dari Adrian yang ada hanya dia yang kesepian sendirian di dalam kamarnya.

Huaaah!

Rina menguap lebar menyadari hari sudah pagi.

Dia lalu melangkah ke dapur mencari sarapan.

“Sudah siang tapi Om masih di rumah Prof. Apa beneran dia mau tinggal di sana 2 minggu. Terus aku gimana?" tanya Rina pada dirinya sendiri.

Wanita simpanan itu menghela nafas berat lalu melangkah mendekati meja makan.

Tidak ada apa-apa di sana, bahkan untuk sekedar sepotong roti.

“Biasanya jam segini ada aja yang kirim makanan. Tapi kok sepi,” bisik Rina lalu melangkah mendekati jendela kaca di depannya. “Om, pulang, Om. Aku kangen.”

Krek!

Pintu terbuka dan Rina segera menoleh "Om!" Rina senang bukan main. Dia lalu memeluk Adrian yang akhirnya pulang ke apartemen.

Sesaat Rina melupakan rasa kesalnya pada Adrian berganti dengan pelukan dan ciuman di wajah pria tampan itu.

"Apa, sih?" gerutu Adrian tapi membiarkan Rina memeluknya erat.

"Om!"

“Eh!” Adrian yang merasa pelukan ini sudah cukup banyak langsung melepaskan Rina setengah mendorong. “Sudah, ah, peluk aku cuma bentar,” gerutunya.

“Kenapa?” tanya Rina lalu meraih tangan Adrian. “Om, kenapa jadi gini?”

“Apanya? Aku datang cuma mau nganter sarapan udah gitu pergi lagi. Udah, jangan manja-manjaan sekarang.”

Adrian lalu meletakkan kotak pizza di atas meja kemudian pergi tanpa kata.

"Om jadi dingin gini," Rina tentu kecewa dengan sikap suaminya itu tapi hanya bisa pasrah.

"Paham dong posisi aku sekarang kayak gimana. Sudah bagus kan aku masih inget sama kamu terus ke sini antar makanan?"

"Iya, makasih makanannya. Jadi Om sekarang mau langsung pulang?"

"Iya, udah ya. Nanti lagi aku ke sini. Sabar, ya, Sayang. Kita sama-sama tau posisi masing-masing, kan?"

Rina mengangguk pelan lalu mengantarkan suaminya sampai ke ambang pintu.

Sungguh saat ini Rina kecewa luar biasa dengan sikap suaminya tapi di sisi lain Eliza justru sedang berbunga-bunga.

Ancamannya pada Adrian akhirnya berbuah manis. Pria yang selama ini dingin padanya malah jadi sangat hangat.

Memang alasan pria paruh baya itu jadi manis pada Eliza karena ancaman tapi paling tidak dia tidak mencari Rina untuk beberapa minggu kedepan.

Saat Adrian sedang duduk di taman, mata Eliza terus saja memperhatikan gerak-gerik suaminya. Dia lalu meminta pelayan mengantarkan teh hangat untuknya dan menyeruputnya perlahan.

“Eh, Bu. Kok tumben Bapak pulang?” tanya ART di rumah Eliza melihat majikannya kembali satu rumah.

“Kepo, ih.” Eliza terkekeh menjawab pertanyaan singkat itu.

“Bukan gitu, Bu. Tuan kan udah punya, itu loh.”

“Simpanan?” tegas Eliza lalu tersenyum sini.

“Iya, itu. Wanita itu. Yang kapan hari datang ke apartemen Bapak, kan?”

“Loh, kok kamu tau?"

"Wah,satu rumah ini udah tau, Bu. Tapi bener, kan, kalau Bapak punya itu?" lanjut ART Eliza.

"Iya, emang sudah punya. Udah jelas. Gak usah ditutupi lagi. Ibunya juga udah minta maaf. Mau gak minta maaf gimana, gara-gara wanita ganjen itu uang belanja ibunya kepotong banyak buat jajan simpanan,” kekeh Eliza lagi.

“Oh, pantesan Nyonya Gede marah besar kemarin. Gara-gara itu, toh,”

“Iya, gara-gara simpanannya Bapak. Makanya ta’ suruh pulang. Kalau dia tetap di apartemen itu habis dia diporotin istri mudanya.”

“Yo gitu Bapak. Gak kapok-kapok. Dulu aja kan udah pernah dimarahi Nyonya Gede. Kok di ulang lagi,”

“Orang laki itu gitu. Selama tiang benderanya masih berdiri. Terus aja nyari korban.” lanjut Eliza dengan santainya.

“Mmmm! Kasihan istri mudanya Bapak.”

“Eh!” Eliza menghentikan perkataan asisten rumah tangga-nya. “Kok kasihan sama simpanan, kamu ini kerja ke siapa?”

“Ya, kasihan, Bu. Pasti udah pernah hubungan sama Bapak. Enggak mungkin enggak, toh.”

Eliza mengernyitkan keningnya. “Terus kasihan kenapa wong dia yang mulai,”

“Kasihan, gak bakal tenang hidupnya. Pasti dia pikir Bapak itu setia. Padahal aku juga tau kalau Bapak itu kan simpanannya tiap tower apartemen ada.”

“Wkwkwkwkwkwk! Ya, syukurin. Salah siapa mau ama laki orang,”

Eliza terbahak mendengar jawaban dari asistennya. Dia merasa benar-benar puas akan apa yang terjadi pada Rina yang sampai saat ini masih mengira kalau kalau Adrian akan kembali ke pelukannya.

Malam semakin larut saat akhirnya Rina kembali tertidur di kamarnya seorang diri. Di sana dia benar-benar seorang diri.

Rasanya dia ingin kabur saja meninggalkan kisah cintanya dengan Adrian. Tapi dia kembali teringat betapa susahnya hidup yang dia jalani beberapa tahun ini sedangkan dengan Adrian dia bisa sedikit bersenang-senang meski dia harus makan hati.

Saat Rina hampir tertidur malam itu tiba-tiba...

“Rin,” panggil Adrian sembari melangkah masuk ke dalam apartemen.

Mendengar suara suaminya datang, Rina buru-buru bangkit dan menyalakan lampu kamar. “Om,” sahut Rina lalu menuju pintu utama.

“Kamu sudah tidur, Sayang.”

“Belum," jawab Rina lalu bangkit dari pembaringannya.

“Aku punya kabar bagus,” lanjut Adrian lalu menyodorkan sebuah amplop coklat besar ke arah Rina.

“Apa itu?”

“Ini, aku baru beli apartemen di Bandung. Mulai besok, kamu pindah ke Bandung, ya?” pinta Adrian.

Rina terdiam. "Kok ke Bandung?"

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!