Maaf untuk para readers jika kalian merasa bingung saat karya ku ini berganti judul. Setelah aku pikir-pikir judul Izinkan aku mencintaimu kurang pas dengan isinya jadi aku ganti dengan judul Cinta Dalam perjodohan.
Erlangga Bayu Pramuja, anak bungsu dari Egi Pramuja dan Monica Alandra Putri Pramuja, Si Playboy, pemain cinta, dan pecinta one night stand.
Dijodohkan oleh keluarganya dengan perempuan yang polos dan dari keluarga yang sederhana. Akan tetapi siapa sangka Erlangga akan jatuh hati dan dibuat jungkir balik oleh gadis yang jauh dari tipenya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Terpendam
Erlangga langsung menutup pintu bahkan menguncinya setelah mereka masuk ke dalam rumah. Erlangga benar-benar tidak akan membiarkan Satria untuk masuk ke dalam rumah dan mengganggu waktunya bersama Alana.
“Eh, Mas kok dikunci?” tanya Alana.
“Biar temen kamu itu gak bisa masuk,” jawab Erlangga.
“Tapi aku belum bilang terima kasih pada Satria,” ucap Alana.
“Itu tidak perlu,” balas Erlangga. “Lagian kamu gak minta buat dibawakan catatan pelajaran sama dia, 'kan?”
“Ya gak sih. Tapi ....”
“Ya sudah biarkan saja. Lagi pula ini sudah malam, jadi biarkan saja dia pulang,” ucap Erlangga.
“Cepat siapin aku makan! Aku sangat lapar,” pinta Erlangga.
“Baik, Mas,” sahut Alana.
Alana memilih diam dan mengalah. Katanya tidak boleh melawan suami.
Alana menata piring di ruang tengah rumahnya. Alana meletakan piring, nasi, dan ayam kremes yang sebelumnya mereka beli di atas karpet. Mereka makan seperti di tempat lesehan. Setelah semuanya siap Alana memanggil Erlangga.
“Ayo, Mas kita makan,” ajak Alana.
“Iya,” sahut Erlangga.
Keduanya duduk dan makan bersama di ruangan itu. Jarak umur mereka yang terpaut jauh, membuat mereka bukan seperti pasangan suami istri, tetapi seperti seperti om dan keponakannya.
Alana mencuri pandang ke arah Erlangga. Senyumnya mengembang saat melihat suaminya makan.
“Mas, makannya pelan-pelan. Aku gak akan minta, kok,” ledek Alana.
“Ini enak. Aku gak bisa mengendalikan diriku kalau aku memakan makanan kesukaanku,” ucap Erlangga tampa berhenti makan.
Alana terkekeh melihat tingkah Erlangga yang terkesan seperti anak kecil. Alana tidak mengira jika Erlangga memiliki sikap kekanakan. Padahal saat awal bertemu menurutnya Erlangga itu dingin dan terkesan galak.
Tangan Alana bergerak untuk mengambil nasi yang menempel pada pipi Erlangga. Jantung Alana mendadak berdegup kencang saat ibu jarinya tidak sengaja menyentuh bibir Erlangga, bibir yang sudah menciumnya.
Alana memandang wajah Erlangga tanpa berkedip. Ia mengingat kejadian waktu di apartemen, saat mereka menyatukan bibir mereka.
“Ada apa?”
Eh?
Partanyaan Erlangga membuyarkan lamunan Alana.
“Ada nasi di pipi Mas,” kilah Alana.
“Ohw.” Erlangga tidak bertanya apapun lagi, ia kembali memakan makanan yang ada di hadapannya.
“Aku sangat kenyang.” Erlangga berseru saat ia selesai makan.
“Aku cuci tangan dulu.” Erlangga beranjak dari tempat mereka makan menuju dapur.
Alana sendiri membereskan bekas makanan mereka.
“Aku pulang ya. Ini sudah malam,” pamit Erlangga.
“Iya,” sahut Alana.
Erlangga pulang dari rumah Alana setelah mereka selesai makan. sejujurnya Erlangga masih ingin bersama dengan istrinya yang lugu itu. Bukan hanya itu saja, Erlangga sedikit cemas meninggalkan Alana sendiri. Akan tetapi mereka masih harus menyembunyikan status mereka sampai Alana lulus sekolah.
“Kamu hati-hati di rumah,” pesan Erlangga pada Alana sebelum ia pergi dari rumah itu.
“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati di jalan,” ucap Alana.
“Kamu gak apa-apa 'kan aku tinggal sendiri?” Erlangga merasa berat meninggalkan Alana.
“Gak apa-apa kok,” sahut Alana.
“Ingat ya ... hanya sampai 40 hari saja kamu di sini,” ucap Alana. “Dan setelah itu kamu harus tinggal bersamaku.”
Alana tersenyum lalu mengangguk untuk merespon perkataan Erlangga.
“Baiklah aku pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku,” pesan Erlangga dan Alana mengangguk lagi.
Sebelum Erlangga pergi terlebih dulu ia mendaratkan kecupan di kening Alana.
“Dah.” Erlangga melambaikan tangannya pada Alana, lalu pergi dari rumah Alana.
Alana melambaikan tangannya pada Erlangga yang sudah mulai berjalan jauh dari rumahnya. Setelah bayangan Erlangga lenyap dari pandangannya, Alana kembali masuk ke dalam rumah.
Alana menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Bulir air matanya jatuh membasahi pipi saat ia sendiri. Dalam kesendiriannya itu Alana teringat akan neneknya.
Namun, saat Alana mengingat akan kata-kata suaminya Alana segera mengusap air matanya. Alana meraih buku yang diberikan oleh Satria dan ia mulai belajar agar tidak tertinggal pelajaran.
*****
Keesokan harinya.
Sudah satu minggu Alana tidak masuk sekolah. Kini Alana sedang bersiap-siap untuk masuk sekolah.
Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Alana sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
“Nenek, Alana berangkat dulu ....” Alana menghela napas saat secara tidak sadar ia memanggil neneknya.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu di depan rumahnya mengalihkan perhatian Alana.
“Siapa yang datang pagi-pagi?” batin Alana.
Alana melangkah untuk membuka pintu rumahnya. Matanya melihat Satria berdiri di hadapannya saat pintu terbuka dengan sempurna.
“Hai, selamat pagi,” sapa Satria.
“Hai.” Alana sedikit terkejut saat melihat Satria. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku mau jemput kamu,” jawab Satria.
“Jemput? Kok tiba-tiba?” Nada bicara Alana tergagap.
“Iya, mulai hari ini aku akan jemput kamu,” ucap Satria.
“Eh, gak usah. Aku sudah biasa jalan kaki kok,” tolak Alana. “Lagian sekolahnya dekat.”
“Ya sudah, mulai sekarang kamu gak usah jalan kaki. Aku yang akan antar jemput kamu ke sekolah,” ucap Satria.
“Tapi ....”
“Please ... jangan nolak,” mohon Satria.
“Tapi ... itu nanti mas Erlangga ....” Alana merasa ragu untuk mengatakan pada Satria jika suaminya itu melarangnya dekat dengan dirinya.
“Ada apa sama om tukang ngambek itu?” tanya Satria. “Sebenarnya ada hubungan apa sih kamu sama dia?”
“Em ... itu ... aku sama mas Erlangga itu ....” Alana bingung untuk menjawab pertanyaan Satria.
“Jangan bilang kamu pacaran sama dia?” tebak Satria.
“Iya ...,” jawab Alana.
“Kami beneran pacaran sama dia?”
Satria merasa terkejut sekaligus merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Alana katakan.
“Alana ... kenapa kamu sih mau pacaran sama orang kaya dia?” tanya Satria.
“Sebenarnya aku sudah dijodohkan sama mas Erlangga,” jawab Alana dengan wajah tertunduk.
“Terus kamu mau?” Satria benar-benar tidak habis pikir kepada Alana.
Alana mengangguk dengan wajah tertunduk. Satria berdecak kesal, ada emosi dalam diri Satria yang tidak bisa ia luapkan.
“Apa ini karena tante Monica?” Satria bertanya lagi pada Alana.
“Iya ...,” jawab Alana. “Mami sudah baik sama aku dan nenek. Jadi apa salahnya jika aku memenuhi permintaan mami yang satu itu.”
“Tapi laki-laki itu gak baik buat kamu, Alana,” ucap Satria.
“Mas Erlangga orangnya baik kok,” bela Alana.
“Alana, apa kamu tidak merasa aneh?” tanya Satria.
“Apanya yang aneh, Satria?" Alana balik bertanya kepada Satria.
“Tentang kebaikan yang dilakukan oleh tante Monica ke kamu dan nenek kamu,” jawab Satria. “Ya menurutku aneh saja mereka itu orang kaya tapi —”
“Cukup Satria! Aku tidak mau kamu berprasangka buruk pada mereka apalagi pada mami Monica.” Alana merasa kesal saat Satria memiliki pikiran buruk kepada ibu mertuanya itu.
“Maaf Alana aku cuma —” Ucapan Satria disela oleh Alana.
“Sudah, aku mohon jangan diteruskan lagi,” pinta Alana.
“Baiklah, Alana aku minta maaf. Aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi,” ucap Satria. “Ayo kita berangkat ke sekolah saja.”
“Aku berangkat sendiri saja,” ucap Alana.
“Kamu marah padaku?” tanya Satria.
“Mami Monica itu sudah seperti ibuku. Aku tidak suka ada yang berpikiran buruk tentang beliau,” ucap Alana.
“Oke, Alana aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu tadi. Aku hanya merasa kesal, karena kamu menjalin hubungan laki-laki itu,” ucap Satria.
Alana masih diam.
“Please, Alana,” mohon Satria. “Aku hanya gak mau terluka.”
Melihat sahabatnya memohon dan melihat penyesalan di wajah sahabatnya meluluhkan hati Alana.
“Baiklah aku maafkan,” ucap Alana.
“Ayo kita berangkat sekolah,” ajak Satria yang langsung dianggukki oleh Alana.
Keduanya berangkat bersama ke sekolah dengan menaiki motor milik Satria. Sepanjang perjalanan ke sekolah, Alana jadi memikirkan apa yang Satria katakan.
Apa alasan mami Monica baik terhadap keluarganya?
Apa sama dengan yang neneknya pernah katakan dulu saat masih hidup, jika mami Monica dan neneknya itu bersahabat?