NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: KABAR TENTANG ALINA

...BAB 19...

...KABAR TENTANG ALINA...

Keesokan paginya, matahari bersinar terang menyinari halaman luas Sekolah Yayasan Al-Azhar. Suara deru langkah kaki siswa-siswi SD-SMP-SMA yang bergegas masuk ke gerbang sekolah terdengar riuh, bercampur dengan suara sapaan ceria dan tawa riang di mana-mana. Di sudut lapangan sekolah yang masih sepi, tepat di bawah pohon rindang yang daunnya bergoyang lembut tertiup angin, berdiri Farhan yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu. Matanya terus memandang ke arah jalan masuk, menunggu sosok Dimas yang baru saja datang berjalan santai dengan tas punggung di punggungnya.

Begitu melihat Dimas, Farhan segera melambaikan tangan dan memanggilnya pelan.

“Dimas! Kemari sebentar, ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu. Sangat penting dan tidak bisa ditunda,” panggil Farhan dengan nada serius.

Melihat wajah kakak tingkatnya yang tampak sangat serius dan cemas, Dimas langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia mempercepat langkahnya, lalu segera menghampiri Farhan dengan wajah penuh tanya.

“Ada apa, Kak Farhan? Wajahmu kok kelihatan cemas sekali? Ada masalah apa ya?” tanya Dimas penasaran, hati kecilnya mulai merasa gelisah.

Farhan melirik sekelilingnya memastikan tidak ada siswa lain yang mendengar pembicaraan mereka, lalu ia menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Ia menceritakan seluruh kejadian yang dialami Alina kemarin sore, dari awal saat ia mendengar teriakan minta tolong, melihat Alina dipojokkan dan dilecehkan oleh Raka, sampai ia mengalahkan pemuda jahat itu, membawa Alina ke klinik, hingga mendengar sendiri ucapan Alina yang tidak mau pulang ke rumahnya sendiri.

Semakin lama Farhan bercerita, wajah Dimas semakin berubah pucat pasi. Jantungnya berdebar kencang, rasa marah, kaget, dan rasa khawatir bercampur menjadi satu di dadanya. Tangannya mengepal erat sampai kuku jari menancap ke telapak tangan, menahan amarah yang meluap-luap mendengar perlakuan kejam Raka pada kakak tirinya.

“Kak Raka… Dia berani berbuat begitu pada Kak Alina? Itu tidak bisa dibiarkan, keterlaluan!” geram Dimas dengan suara rendah yang penuh amarah. Matanya memerah menahan emosi, tidak pernah menyangka hal mengerikan itu akan menimpa Alina.

“Karena aku khawatir hal buruk itu terulang lagi, aku sudah catat alamat tempat kosan tempat Alina tinggal sekarang,” ucap Farhan pelan, lalu menyerahkan secarik kertas kecil yang bertuliskan alamat lengkap. “Aku serahkan ini padamu, Dimas. Sebagai adiknya, kamu harus tahu di mana dia berada, supaya kamu bisa menjaganya dan memastikan dia aman. Aku takut Raka atau teman-temannya datang mencari dia lagi untuk membalas dendam. Alina sendirian, dia tidak punya siapa-siapa di sana.”

Dimas menerima kertas itu dengan tangan gemetar, menyimpannya rapi di dalam saku baju dengan rasa hormat dan rasa tanggung jawab yang besar. Ia mengangguk dalam, menatap Farhan dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.

“Terima kasih banyak, Kak Farhan. Kalau tidak ada kamu, aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Kak Alina. Kamu sudah menyelamatkan nyawa kakakku, aku tidak akan pernah lupa kebaikanmu ini,” ucap Dimas tulus dengan suara yang tercekat.

“Sama-sama, Dimas. Kita teman dan saudara di sekolah, sudah seharusnya saling tolong-menolong. Yang paling penting sekarang, pastikan Alina aman dan baik-baik saja. Segera kabari ayahmu, ini masalah besar yang tidak boleh diabaikan sedikit pun,” pesan Farhan dengan tegas, sebelum mereka berpisah masuk ke kelas masing-masing.

Sepanjang jam pelajaran hari itu, pikiran Dimas sama sekali tidak bisa fokus. Kepalanya penuh dengan rasa khawatir pada Alina, rasa marah pada Raka, dan rasa gelisah membayangkan reaksi Ayah Aditya serta ibunya nanti. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Dimas langsung bergegas pulang ke rumah dengan langkah cepat, tidak mau berlama-lama di sekolah sedikit pun.

Sesampainya di rumah, suasana terlihat tenang seperti biasa. Aditya sedang duduk di ruang tamu membaca koran, sedangkan Kirana sedang menyusun bunga di vas kaca di meja tengah. Begitu melihat Dimas masuk dengan wajah pucat, napas terengah, dan tampak sangat gelisah, keduanya langsung merasa ada sesuatu yang salah.

“Dimas? Kenapa kamu pulang buru-buru sekali? Ada apa, Nak?” tanya Aditya segera meletakkan korannya, bangkit berdiri menghampiri putranya.

Kirana pun ikut mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran. “Iya Nak, ada kejadian apa? Wajahmu kok kelihatan ketakutan begitu?”

Dimas menarik napas panjang berusaha menenangkan diri, lalu dengan suara gemetar dan terputus-putus, ia menceritakan semua hal yang didengarnya dari Farhan. Semua cerita tentang perlakuan kasar Raka, penderitaan Alina.

Hening mendadak menyelimuti seluruh ruangan. Suasana yang tadinya tenang, kini berubah menjadi hening yang mencekam.

Wajah Aditya berubah merah padam, urat lehernya menonjol jelas, tangannya mengepal erat sampai urat-urat tangannya terlihat. Amarah yang luar biasa besar meledak di dadanya, perasaan sakit hati, marah, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu rasa yang menyiksa. Raka, anak dari orang yang dulu pernah bermusuhan dengannya, berani melecehkan, menyakiti, dan mengancam keselamatan putri kandungnya sendiri. Itu adalah hal yang paling tidak bisa Aditya terima seumur hidupnya.

“Brengsek! Dasar manusia tidak tahu diri!” geram Aditya dengan suara menggelegar, suaranya gemetar karena menahan amarah yang meluap. Matanya memerah menahan air mata dan kemarahan. “Dia berani menyakiti Alina… Putriku sendiri! Aku tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja! Aku akan pastikan dia mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya!”

Rasa bersalah juga menghantam hati Aditya dengan keras. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia yang dulu berjanji akan melindungi dan membahagiakan Alina, kini justru melihat putrinya menderita, terpojok, dan harus hidup sendirian di tempat asing karena tidak merasa aman dan nyaman di rumahnya sendiri.

Di sampingnya, tubuh Kirana terasa lemas seketika. Lututnya gemetar, ia hampir saja jatuh terjerembap kalau tidak segera berpegangan ke tepi meja. Air mata langsung mengalir deras membasahi pipinya, rasa sedih, rasa bersalah, dan rasa sakit hati menyayat hatinya dengan tajam. Ia ikut merasa bertanggung jawab atas semua hal buruk yang menimpa Alina. Ia tahu betul, alasan utama kenapa Alina tidak mau pulang ke rumah, alasan kenapa gadis itu merasa tidak memiliki tempat berlindung, semuanya berawal dari dirinya.

Kata-kata tajam dan menyakitkan yang pernah diucapkan Alina kepadanya saat pertemuan di sekolah dulu, tiba-tiba terngiang kembali dengan jelas di telinganya:

“Aku tidak akan pernah mau pulang ke rumah itu selama masih ada kamu yang berdiri di dekat Papaku. Selama kamu ada di sana, rumah itu bukan rumahku lagi.”

Kalimat itu dulu membuat hati Kirana sakit luar biasa, namun sekarang, kalimat itu kembali menghantam hatinya dengan rasa bersalah yang jauh lebih besar. Ia sadar, kehadirannya di rumah ini, meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, ternyata tetap menjadi alasan penderitaan bagi putri tirinya. Alina merasa tersisihkan, merasa terasingkan, merasa tidak dicintai, dan akhirnya memilih pergi hidup sendirian demi menjauh darinya.

Bersambung....

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!