Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Teman lama.
Aruna melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik Ajeng. Ruangan itu luas, berdesain modern dan sangat nyaman. Tak butuh waktu lama Ajeng langsung menyuguhkan banyak makanan enak dan aneka buah-buahan segar di atas meja tamu.
Ajeng tahu betul karakter sahabatnya ini. Sejak dulu Aruna memang terkenal sangat suka makan, lidahnya manja, tapi entah bagaimana caranya tubuhnya tetap langsing ideal dan sangat bagus. Hal itu selalu membuat Ajeng iri setengah mati, tapi ia tetap mendukung dan senang melihat sahabatnya lahap makan.
"Aruna kamu masih sama seperti dulu kan... suka makan, suka buah...?" tanya Ajeng sambil tersenyum, berusaha mencairkan suasana. Namun ucapannya terputus begitu saja saat melihat Aruna yang langsung menyerbu piring buah-buahan itu tanpa sungkan sedikitpun. Seolah-olah sudah lapar berhari-hari.
Ajeng hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Tapi ia tidak kaget memang begitulah Aruna dari dulu polos dan apa adanya.
"Soal makan... aku gak pernah berubah kok Jen," jawab Aruna dengan mulut penuh, tangannya masih sibuk mengambil potongan buah.
"Oh iya Jen... gimana kamu udah berapa lama sih menikah?"
"Hm... sebenernya belum lama sih Run... baru beberapa bulan aja," jawab Ajeng sambil menuangkan air minum.
"Dijodohin sama dukun? atau dijodohin sama orang tua? atau emang kamu pilih sendiri?" tanya Aruna santai sambil mengunyah. Ia masih ingat betul kalau dulu Ajeng ini hobi banget pergi ke dukun atau paranormal cuma buat nanya-nanya soal jodoh dan cinta.
Mendengar itu Ajeng langsung tertawa lepas.
"Haduh kamu inget aja soal dukun ya... dulu kan aku lagi bingung aja," jawabnya sambil tertawa. "Tapi tenang Run, kali ini aku nikah beneran karena pilihanku sendiri kok. Gak ada paksaan sama sekali."
"Oh bagus bagus..." Aruna mengangguk-angguk puas. "Terus gimana? Siapa nama suamimu? Dia kerja apa?"
"Namanya Arman Run..." jawab Ajeng pelan. "Dia perwira polisi. Aku mencintainya dan dia pun begitu, sayang sama aku... tapi..."
"Tapi apa?" tanya Aruna cepat, berhenti mengunyah dan menatap sahabatnya penasaran.
"Tapi..." Ajeng menghela napas panjang, wajahnya berubah murung dan sedikit sedih. "Dia itu agak workaholic banget Run. Kadang sampai gak pulang berhari-hari karena tugas. Dan karena hal itu juga... kami sering banget berantem. Rasanya sepi banget kalau cuma sendirian di rumah sebesar ini."
"Kurang ajar banget tu cowok!!" seru Aruna tiba-tiba dengan semangat membara tangannya menepuk meja pelan. "Mau aku samperin gak? Nanti aku ngamuk kayak orang kesurupan di kantornya deh. Aku siap kok beneran!"
Aruna terlihat sangat emosional dan siap tempur demi sahabatnya.
"Biar dia tahu rasa Sekali-kali emangnya harus ditegur pake cara yang gak biasa biar otaknya balik encer lagi." balasnya mengebu-gebu penuh semangat.
Mendengar jawaban nyeleneh dan protektif seperti itu Ajeng justru makin terhibur. Wajahnya yang tadinya murung jadi kembali ceria karena tingkah lucu sahabatnya ini.
"Ah gak usah Run, gak usah lah malu..." tolak Ajeng sambil tertawa. "Gak enak lah kalau begitu kan. Nanti kamu malah malu sendiri loh bertingkah aneh di sana."
"Ah elah... gitu doang sih gak bakalan bikin aku malu, kalau perlu aku acak-acak sekalian berkas-berkas pentingnya, biar dia pusing sekalian." jawab Aruna santai sambil melambaikan tangan. "Palingan tunanganku saja yang malu punya cewek galak kayak aku ya... tapi biarin."
Ajeng hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa, ia tahu betul dari dulu Aruna memang punya karakter yang unik dan berani.
"Terus gimana soal tunangan kamu Run?" tanya Ajeng kembali mengalihkan topik.
"Hm... biasa aja sih..." jawab Aruna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya mulai terlihat sedikit malu-malu. "Awalnya aku males banget lho dijodohin-jodohin kayak di sinetron-sinetron itu... tapi ya gimana lagi, ternyata dapetnya cowok yang sabar banget."
"Dia bisa ngadepin sikapku yang agak aneh dan nyebelin ini..." lanjut Aruna sambil terkekeh. "Ya jadinya... pelan-pelan aku mau juga nerima dia."
"Wah... serius?" Ajeng terlihat makin penasaran. "Siapa namanya? Kerja apa dia Run?"
"Axel..." jawab Aruna singkat. "Panglima Angkatan Darat gitu lah..."
DEG!
Mata Ajeng membelalak sedikit kaget, tapi ia segera tersenyum lebar.
"Oh begitu ya..." gumamnya. "Aduh selamat ya Run. Akhirnya ada juga cowok yang bisa menangin hati kamu yang keras itu. Aku ikut seneng deh beneran..."
"Ya udah lupain aja dulu soal itu..." ucap Aruna sambil menepuk bahu sahabatnya. "Aku serius nih Jen, mau aku samperin terus ngamuk gak? Atau... mau aku ajarin taktik biar suami kamu sadar dan mikir?"
"Kalau kamu yang ngamuk sih jangan Run, nanti malah jadi masalah baru..." tolak Ajeng cepat sambil tertawa. "Tapi kalau taktik buat luluhkan hati suami sih... boleh banget."
"Yasudah gini aja..." Aruna mulai menjelaskan dengan semangat, matanya berbinar penuh ide. "Kamu ke kantornya terus ngamuk di sana. Asal bukan ngamuk sembarangan, tapi ngamuknya karena dia gak pulang-pulang. Ngamuk yang wajar saja. Atau kalau gak mau ngamuk kamu bisa...."
"Kamu juga harus keluarkan semua unek-unek kamu yang ditahan selama ini. Bilang saja sama dia kalau kamu itu bukan pajangan di rumah, bukan juga alat pemuas nafsu doang. Kamu itu istri yang butuh perhatian, butuh ditemani, kalau gak mau heboh pake cara terakhir aja yang aku bisikin barusan..." jelas Aruna panjang lebar.
Ajeng mengangguk-angguk perlahan, seolah mulai paham dan termotivasi.
"Tapi... kalau dia marah sama aku gimana Run?" tanya Ajeng lagi, masih terlihat sedikit ragu dan takut.
"Marah? Yaudah biarin aja." jawab Aruna santai dan cuek banget. "Gak usah takut dong. Jadi cewek itu jangan terlalu kelihatan bucin banget lah sama suami. Jangan terlihat terlalu butuh dia terus."
"Tinggalin dulu rumah juga bagus tuh. Pergi main ke tempat teman atau keluarga, biar dia ngerasa kehilangan dan sadar betapa berharganya kamu." saran Aruna bijak namun tetap dengan gaya santai.
"Hahaha... yasudah nanti aku pikirkan dulu deh..." jawab Ajeng sambil tertawa kecil. "Soalnya aku emang gak seberani kamu sih Run... aku masih takut banget lho, takut dia justru marah terus berpaling dan ninggalin aku."
"Iya paham..." Aruna mengangguk setuju sambil melirik sahabatnya. "Dari dulu kamu emang begitu sih. Lemah banget sama cowok, bucin parah. Makannya si cowoknya jadi keenakan dan seenaknya, karena dia ngerasa kamu terlalu baik, terlalu nurut, dan gak bakal kemana-mana."
"Beda jauh banget sama aku..." tambah Aruna sombong sedikit.
"Ya beda lah..." sahut Ajeng cepat. "Kamu dari dulu kan emang berani banget sama cowok, gak ada takut-takutnya sama sekali. Eh iya Run... jadi inget kejadian lucu waktu SMA..."
Ajeng mulai terlihat bersemangat mengingat masa lalu.
"Waktu itu kan si Aldi ketua OSIS yang ganteng dan populer itu nembak kamu di depan gerbang sekolah. Eh tau-taunya kamu malah pura-pura pingsan. Bikin dia panik setengah mati lho."
Ajeng tertawa terpingkal-pingkal mengingatnya.
"Dia sampai ngomong ngelantur gitu lho Run. Dia bilang, 'Kan cuma ditembak cinta doang kok bisa pingsan... padahal bukan ditembak pake pistol beneran.' Hahaha lucu banget aku sampai dua hari ketawa terus inget momen itu." kenang Ajeng.
Aruna mendelik malas mendengar cerita sahabatnya itu, tapi mulutnya justru ikut tertawa lepas. Ia jadi teringat jelas momen itu.Tapi sebenernya... kalau diingat-ingat lagi, dia malah kesal setengah mati.
"Haduh jangan diceritain lagi deh..." rengek Aruna sambil memukul lengan Ajeng gemas. "Aku kan pura-pura pingsan biar dia kapok dan gak nembak-nembak aku lagi. Eh tau-tau malah jadi bumerang."
"Iya tuh... habis kejadian itu si Aldi malah makin ngejar-ngejar aku terus. Dikira aku cewek lemah kali ya..." keluh Aruna kesal. "Dia jadi makin semangat ngejar aku sampai kemana pun beneran bikin aku pusing dan terganggu parah."
"Akibatnya aku sampai harus pindah sekolah. Kabur dari situ karena gak kuat digangguin sama dia terus." tambah Aruna panjang lebar, matanya melotot mengingat kejadian menyebalkan itu yang ternyata malah jadi kenangan lucu buat mereka.
"Iya bener banget..." sahut Ajeng sambil menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. "Dan setelah kamu pindah sekolah waktu itu... aku kehilangan sahabat terbaikku ini lho."
"Mana kamu itu lose contact banget sama aku, hilang begitu saja tanpa kabar..." lanjut Ajeng sambil memukul pelan lengan Aruna manja. "Sampe akhirnya kita ketemu lagi sekarang... di saat aku udah jadi istri orang, dan kamu pun juga sebentar lagi mau jadi istri orang..."
"Huwaa... beneran gak nyangka banget bisa ketemu lagi di sini..." ucap Ajeng terharu, lalu langsung memeluk erat sahabatnya itu. Rasa rindu bertahun-tahun terbayar lunas sudah saat ini..
____________________&&&&____________________