NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Neraca dan Dinginnya Batu

Piring keramik itu masih ada di sana, di tengah meja makan yang luas dan sunyi.

Elara berdiri di ambang pintu ruang makan pribadi, tangannya memegang erat selendang wol yang menutupi bahunya. Cahaya pagi yang masuk dari jendela timur jatuh tepat ke atas meja, menyinari sisa-sisa pertempuran sunyi semalam.

Tidak ada lagi kue blackberry yang utuh. Yang tersisa hanyalah remah-remah ungu gelap yang berserakan di atas piring porselen putih, dan sebuah garpu perak yang diletakkan miring—bukan dilempar, melainkan diletakkan dengan sengaja.

Kaelen telah memakannya. Habis.

Sebuah hembusan napas lega lolos dari bibir Elara, menciptakan kabut tipis di udara dingin ruangan itu. Itu adalah bukti fisik. Bukan mimpi, bukan ilusi. Iblis Utara itu telah duduk di sana, memakan kue ulang tahunnya, dan menelan sedikit rasa manis yang ditawarkan istrinya.

Itu bukan berarti dia tiba-tiba berubah menjadi suami yang hangat dan penuh cinta, Elara tahu itu. Tapi itu berarti dia menerima gencatan senjata.

"Nyonya?"

Suara Silas terdengar dari belakang, lembut dan penuh kehati-hatian. Elara berbalik. Kepala pelayan tua itu berdiri dengan nampan berisi teko teh pagi, matanya melirik sekilas ke arah piring kosong di meja, lalu kembali ke wajah Elara. Ada kilatan emosi di mata tua itu—rasa tidak percaya yang bercampur dengan rasa hormat yang mendalam.

"Selamat pagi, Silas," sapa Elara, suaranya terdengar lebih mantap daripada hari-hari sebelumnya. Postur tubuhnya tegak. Dia bukan lagi gadis yang gemetar di halaman bersalju. "Tolong bereskan mejanya. Dan... sampaikan terima kasihku pada Martha karena buah berinya sangat segar."

Silas membungkuk dalam, lebih rendah dari biasanya. "Akan saya sampaikan, Nyonya. Martha pasti... terkejut mendengarnya."

"Dan Silas," tambah Elara sebelum pelayan itu beranjak. "Setelah sarapan, antarkan aku ke ruang kerjamu. Atau ke mana pun kau menyimpan buku besar pengeluaran rumah tangga kastil ini."

Silas terdiam. Tubuhnya menegang sedikit. Wajahnya yang keriput menyiratkan keraguan. "Buku besar, Nyonya? Maafkan saya, tapi urusan administrasi kastil biasanya ditangani langsung oleh Tuan Duke atau ajudan militernya. Nyonya tidak perlu membebani diri dengan angka-angka yang membosankan dan..."

"Silas," potong Elara lembut. Ia berjalan mendekat, menatap mata pelayan tua itu dengan intensitas yang tenang. "Kastil ini dingin. Air di kamar tamuku membeku tadi malam jika aku tidak menjaga api perapian tetap besar. Pelayan tidur dengan menggigil. Makanan diantar dalam keadaan dingin. Ini bukan cara sebuah rumah bangsawan dijalankan. Ini adalah barak militer yang berpura-pura menjadi rumah."

Elara memberi jeda, membiarkan kata-katanya meresap  .

"Suamiku sibuk menjaga perbatasan agar kita tidak mati dibunuh musuh," lanjutnya. "Itu tugasnya. Tapi tugas seorang Duchess adalah memastikan bahwa ketika dia pulang, dia tidak mati kedinginan di rumahnya sendiri. Jadi, bawa aku ke buku besar itu."

Silas menatapnya lama. Perlahan, keraguan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyum tipis yang bangga. Ia melihat bayangan Nyonya Besar Helena di dalam diri gadis muda ini.

"Mari ikut saya, Nyonya," ucap Silas. "Ruang arsip ada di lantai dasar Sayap Barat."

Ruang arsip itu adalah mimpi buruk bagi siapa pun yang mencintai kerapian.

Ruangan itu kecil, berdebu, dan dipenuhi tumpukan kertas yang menggunung di setiap permukaan datar. Bau tinta kering dan kertas lapuk begitu menyengat hingga membuat hidung gatal. Lemari-lemari arsip berdiri miring, pintunya tidak bisa ditutup rapat karena terlalu penuh dengan gulungan perkamen yang mencuat keluar.

Elara menghabiskan waktu empat jam berikutnya terkubur di sana.

Ia duduk di kursi kayu yang keras, dikelilingi oleh buku-buku besar bersampul kulit hitam. Debu menempel di ujung jarinya, dan noda tinta mengotori lengan gaunnya, tapi Elara tidak peduli. Matanya bergerak cepat menelusuri kolom-kolom angka yang ditulis dengan tulisan tangan kasar dan terburu-buru.

Apa yang ditemukannya membuatnya ingin menangis dan marah sekaligus.

Kastil Blackiron tidak miskin. Jauh dari itu. Wilayah Draxos kaya akan tambang besi dan kayu. Pemasukan dari pajak dan perdagangan tambang sangat besar. Namun, kolom pengeluarannya sangat timpang.

Sembilan puluh persen anggaran dialokasikan untuk militer: perbaikan senjata, pembelian kuda perang, gaji prajurit, benteng perbatasan, dan persediaan logistik perang.

Sementara itu, kolom "Pemeliharaan Kastil" nyaris kosong.

Perbaikan atap bocor: Ditunda. Pembelian kayu bakar kualitas tinggi: Ditolak. Perbaikan sistem pipa pemanas sentral (hypocaust) kuno yang dibangun leluhur: Tidak Prioritas. Gaji tambahan pelayan musim dingin: Ditiadakan.

Kaelen tidak pelit. Dia hanya tidak peduli pada dirinya sendiri. Dia memperlakukan kastil ini seperti tenda sementara di medan perang. Asal dindingnya berdiri dan atapnya tidak runtuh total, baginya itu sudah cukup.

Dia rela tidur dalam dingin asalkan pasukannya memiliki pedang terbaik. Itu adalah sifat yang mulia bagi seorang Jenderal, tetapi bodoh bagi seorang Duke.

"Sistem pemanasnya rusak di tiga titik utama," gumam Elara, jarinya menelusuri denah teknis tua yang ia temukan terselip di halaman belakang buku besar tahun lalu. "Pipa uap di bawah lantai aula utama retak, dan saluran udara ke Menara Barat tersumbat total. Pantas saja."

Ia mengambil secarik kertas bersih, mencelupkan pena bulu ke dalam tinta, dan mulai menulis. Bukan puisi, bukan surat cinta, melainkan sebuah proposal anggaran.

Ia menghitung biaya perbaikan pipa. Ia menghitung biaya pembelian kain wol untuk seragam baru pelayan. Ia menghitung biaya kaca jendela baru untuk menggantikan yang retak di koridor utara.

Ia bekerja dengan presisi seorang akuntan dan visi seorang arsitek. Ibunya tidak hanya mengajarkannya cara menjahit dan tersenyum; Baron Vane yang sering terlilit hutang memaksanya belajar mengatur keuangan agar rumah mereka tidak disita. Keterampilan itu, yang lahir dari kesulitan masa lalu, kini menjadi senjatanya.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!