Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Pelabuhan Timur
Tiga minggu berlalu sejak insiden di ruang kerja Nicholas. Dinamika di antara mereka berdua bergeser secara perlahan namun pasti. Tidak ada lagi ancaman pembunuhan verbal yang dilemparkan Nicholas setiap sarapan pagi.
Pria itu tetap dingin dan berwibawa, namun Elena bisa merasakan perubahan kecil pada sikap suaminya. Seperti bagaimana Nicholas selalu memastikan makanan kesukaan Elena salad buah dengan saus madu selalu tersedia di meja makan, atau bagaimana pria itu tidak lagi menyindir pilihan baju berwarna merah muda yang sering Elena kenakan.
Namun, kedamaian di dalam benteng emas itu tidak berlangsung lama. Dunia mafia bukanlah tempat yang membiarkan penghuninya hidup tenang dalam waktu lama.
Sore itu, badai besar sedang melanda New York. Hujan deras mengguyur kaca-kaca jendela mansion dengan suara berisik yang memekakkan telinga.
Nicholas sedang berada di ruang kerjanya bersama tiga orang kepercayaannya, termasuk Christian, tangan kanan setianya yang bertubuh tegap dan selalu waspada.
Elena sedang berada di ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menggambar di atas kertas sketsa yang dibelikan oleh Thomas atas perintah rahasia Nicholas beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba, pintu utama mansion terbuka dengan sentakan keras.
Seorang penjaga luar berlari masuk dengan pakaian yang basah kuyup oleh air hujan dan darah.
"Di mana Boss?! Di mana Mr. Barrett?!"
teriak pria itu dengan napas terengah-engah, memegangi lengan kirinya yang terluka akibat tembakan.
Thomas segera menghampiri pria itu, sementara Elena bangkit dari duduknya dengan perasaan cemas yang mendalam. Tak butuh waktu lama, Nicholas dan Christian turun dari lantai dua dengan langkah cepat setelah mendengar keributan.
"Apa yang terjadi, Dimitri?" tanya Nicholas, suaranya rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang tertahan.
"Pelabuhan Timur, tuan... dikepung," jawab Dimitri dengan suara parau, menahan rasa sakit di lengannya. "Orang-orang Marcus Moreno melakukan penyergapan di Gudang Empat. Mereka tahu jadwal kedatangan kapal logistik kita malam ini. Mereka... mereka tidak hanya menjarah barang, Tuan. Mereka membantai semua orang di sana. Moreno mengirim pesan... dia bilang ini adalah balasan untuk ciuman di pesta malam itu."
Wajah Nicholas seketika berubah menjadi sangat mengerikan. Sepasang mata abu-abunya menggelap sepekat malam badai di luar. Rahangnya mengencang hingga otot-otot di lehernya menonjol tajam. Sisi monster yang selama tiga minggu ini tertidur di depan Elena, kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
"Christian, siapkan tim Alpha dan Beta. Kita berangkat sekarang juga," perintah Nicholas, suaranya terdengar seperti vonis mati bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Baik, Tuan," sahut Christian cepat, langsung meraba interkom di telinganya untuk memberikan instruksi pada pasukan Barrett yang berada di luar.
Nicholas berjalan menuju lemari pajangan senjata di dekat aula utama. Dia membukanya, mengambil sebuah pistol semi-otomatis kaliber sembilan milimeter, memeriksa bagasinnya dengan gerakan taktis yang sangat terlatih, lalu menyelipkannya ke dalam holstster di balik jas hitamnya.
Elena melangkah maju, didorong oleh sebuah dorongan impulsif yang tidak bisa dia kendalikan. "Nicholas, tunggu!"
Nicholas menghentikan gerakannya, berbalik menatap Elena. Untuk sesaat, tatapan kejam pria itu melunak ketika melihat wajah pucat ketakutan milik istrinya.
"Jangan keluar, Elena. Tetap di dalam rumah. Thomas akan mengunci seluruh akses mansion ini dari dalam. Di sini aman," kata Nicholas, mencoba menenangkan Elena meskipun suaranya tetap terdengar tegas.
"Marcus Moreno melakukan ini karena aku, kan?" Elena meremas ujung gaun rajut pink-nya.
"Dia terprovokasi oleh akting kita di pesta itu. Ini salahku..."
Nicholas melangkah mendekati Elena, mengabaikan Christian dan Dimitri yang sedang sibuk mengurus persiapan medis.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Elena, lalu meletakkan kedua tangannya yang besar di atas bahu gadis itu. Sentuhannya terasa sangat kokoh dan memberikan rasa aman yang instan di tengah badai yang berkecamuk.
"Dengar sepedaku, Elena," ucap Nicholas, memaksa Elena menatap langsung ke dalam manik matanya yang tajam.
"Moreno melakukan ini bukan karena kau. Dia melakukan ini karena dia serakah dan bodoh. Dia menggunakan alasan itu hanya untuk memicu perang terbuka denganku. Ini adalah duniaku, duniaku yang kotor dan berdarah. Kau tidak punya andil apa pun dalam kesalahan ini."
Nicholas mendekatkan wajahnya, mengecup dahi Elena dengan lembut namun lams sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah janji bahwa dia akan kembali dalam keadaan hidup.
"Tunggu aku di sini. Aku akan menyelesaikan ini sebelum fajar," bisik Nicholas di depan bibir Elena, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar menembus hujan deras bersama pasukannya.
Pintu besar mansion tertutup rapat, diikuti oleh suara besi pengunci otomatis yang berdentang nyaring. Elena berdiri terpaku di aula yang luas, menatap pintu kayu itu dengan perasaan cemas yang luar biasa.
Malam ini, badai tidak hanya terjadi di luar sana, melainkan juga di dalam hatinya yang perlahan mulai mengkhawatirkan keselamatan sang iblis pelindungnya.