Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sadar
Matahari sudah terbenam sepenuhnya, digantikan oleh lampu-lampu taman yang mulai menyala di luar rumah. Azizah telah menghabiskan banyak waktu di dapur untuk menyiapkan beberapa hidangan sederhana dengan sisa bahan makanan yang ada di kulkas.
Ia menata makanan itu di meja makan. Setiap kali mendengar suara mesin mobil dari arah jalan depan, jantung Azizah berdegup kencang. Ia berharap itu adalah Ezra yang pergi sejak siang tadi.
Namun satu jam berlalu, kemudian dua jam, tiga jam, dan semuanya tetap sama. Tidak muncul tanda-tanda bahwa pria itu akan pulang.
Azizah duduk diam di kursi meja makan, menatap hidangan yang mulai mendingin. Ia tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Merasa tidak berselera sementara suaminya tidak menunjukkan batang hidungnya.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Apa dia benar-benar membenciku sampai sejauh ini? Batin Azizah.
Ia kemudian mencari kontak nomor Ezra yang dikirimkan Amisha siang tadi, lalu mengetikkan pesan di ponselnya. Namun jempolnya terhenti di udara tepat di atas tombol kirim. Ia ragu untuk mengirimkannya. Ia tahu, mungkin saja Ezra hanya akan membaca lalu mengabaikannya, atau justru semakin marah karena ia berani mengganggu. Azizah akhirnya meletakkan kembali ponselnya dan memilih bangkit untuk membereskan meja makan.
Ia memindahkan sisa makanan ke dalam wadah dan menyimpannya ke dalam lemari pendingin. Hatinya terasa berat. Hari pertamanya sebagai istri di rumah itu berakhir dengan meja makan yang tidak tersentuh. Dan Azizah harus belajar menerima bahwa ini mungkin hanyalah awal dari malam-malam panjang yang akan ia lalui seorang diri di rumah itu.
Setelah membereskan dapur, Azizah melangkah gontai menuju ruang tamu. Ia mendudukkan diri di sofa yang empuk. Azizah bersandar, menatap lurus ke arah pintu masuk yang masih tertutup rapat, dan tanpa sadar sedang menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
Rasa kantuk yang tidak diundang akhirnya berhasil menguasai kesadaran Azizah. Kelopak matanya terasa semakin berat seiring dengan malam yang semakin larut. Tanpa ia sadari, tubuhnya perlahan merosot. Ia pun berbaring di atas sofa dan membiarkan mimpi menjemputnya di tengah penantian yang sia-sia.
Namun waktu seolah terhenti saat suara benda jatuh memenuhi keheningan malam. Azizah terjaga dengan napas terengah dan seketika tubuhnya tegak dari sofa. Matanya menyipit, mencoba menembus keremangan ruang tamu, hingga ia menangkap sosok Ezra yang berjalan limbung. Penampilan pria itu berantakan. Langkahnya juga tidak stabil hingga menyenggol dan memecahkan sebuah cangkir hiasan di meja dekat jendela.
Tanpa pikir panjang, Azizah berlari mendekat dan merangkul pinggang Ezra untuk menopang tubuhnya. Ezra memberontak sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, namun Azizah bergeming dan mengarahkan lengan suaminya agar merangkul pundaknya. Wanita itu tetap berusaha memapah Ezra. Saat jarak mereka begitu dekat, indra penciuman Azizah menangkap aroma tajam yang menusuk.
Alkohol? batinnya pilu. Kenyataan bahwa Ezra memiliki kebiasaan mabuk menambah luka di hatinya.
Ya Allah, berikan hamba kesabaran, doanya dalam hati sambil terus memapah Ezra.
Azizah sempat bingung ke mana harus membawa pria itu. Ia tidak tahu letak kamar Ezra, dan membopong pria seberat itu menaiki tangga adalah hal yang mustahil baginya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa Ezra ke kamarnya sendiri di lantai dasar.
Sesampainya di sana, Azizah membaringkan Ezra ke tempat tidur. Pria itu tampak teler, wajahnya memerah padam meski matanya sudah terpejam rapat. Hati Azizah benar-benar hancur. Sosok suami yang ia harapkan ternyata jauh dari kenyataan pahit di depannya. Walaupun begitu, kewajiban sebagai istri tetap ia jalankan. Ia melepas sepatu Ezra, lalu menyelimuti pria itu sebatas dada.
Namun saat Azizah hendak beranjak pergi, lengannya ditarik dengan kasar.
“Jangan pergi.... jangan pergi...”
Harapan sempat menyelinap di benak Azizah. Ia menatap wajah suaminya, berharap bahwa dirinyalah yang diminta untuk tetap tinggal. Namun harapan itu hancur berkeping-keping saat Ezra melanjutkan gumamannya.
“Sienna... jangan pergi...”
Azizah merasa bodoh karena sempat berharap. Ia mencoba melepaskan diri, tapi Ezra justru menarik lengannya lebih kuat hingga Azizah jatuh menimpa dada pria itu. Ezra membuka matanya sedikit, lalu merangkul pinggang Azizah dan membalik posisi, hingga membuat Azizah kini berada di bawah kungkungannya.
Azizah merintih dan meronta hebat, sambil terus memukuli dada Ezra.
Jangan! Jangan lakukan! Kumohon jangan!, teriaknya dalam hati dengan ketakutan luar biasa.
“Sienna...” Ezra membelai pipi Azizah dengan tangan yang terasa berat, “Aku merindukanmu...”
Ezra mendekatkan wajahnya. Azizah otomatis memejamkan mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun tiba-tiba tubuh Ezra terkulai lemas. Pria itu pingsan tepat di atas tubuh Azizah dengan wajah yang terkulai di sisi bantal.
Dengan sisa tenaga yang ada, Azizah segera mendorong tubuh Ezra hingga pria itu tersungkur ke sisi ranjang yang lain. Ia melompat turun, dan memeluk dirinya sendiri dengan perasaan gemetar. Walaupun mereka telah menikah, Azizah tidak akan pernah mau memberikan kesuciannya pada pria yang sedang mendambakan wanita lain dalam mabuknya.
Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi benaknya.
Apa mereka sering melakukan perbuatan zina seperti itu? Astaghfirullah, batinnya perih.
Tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan Ezra, Azizah bergegas keluar kamar. Ia berusaha mencari tempat untuk menenangkan diri dan membasuh rasa sakit yang semakin dalam di hatinya.
......................
Pagi harinya, cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai membangunkan Ezra dari tidurnya. Ia merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat akibat sisa minuman semalam. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia tersentak. Ini bukan kamarnya, dan ia yakin seratus persen bahwa itu adalah ulah Azizah.
Dengan kepala yang masih pening, Ezra beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan kasar.
“Azizah!” panggilnya dengan suara meninggi, “Azizah!”
Tidak ada sahutan yang terdengar. Namun indra penciumannya menangkap aroma masakan yang menggugah selera dari arah dapur. Tanpa sadar, kakinya melangkah menuju sumber aroma itu.
Di sana, Azizah tampak sedang menuang sup hangat ke dalam mangkuk. Begitu menyadari kehadiran Ezra, Azizah dengan tenang meletakkan mangkuk itu di meja makan.
Ezra menatap tajam, “Beraninya kau membawaku ke kamar pembantu! Lain kali, kau tidak perlu mengurusi kehidupanku! Kita memang tinggal satu atap, tapi jangan mencampuri urusan masing-masing!”
Azizah mencoba menelan rasa sabarnya. Ia mengambil ponsel dari kantung celemeknya dan mengetikkan balasan.
‘Aku hanya membantumu. Jika aku tidak ada, kau pasti sudah menghancurkan barang-barang di rumah ini.’
“Itu urusanku! Isi rumah ini bukanlah sesuatu yang berhak kau khawatirkan!” bentak Ezra.
Azizah menghela napas panjang melihat betapa keras kepalanya sang suami. Ia kembali mengetik dengan sabar.
‘Baiklah. Terserah padamu. Tapi bisakah kau hentikan kebiasaan minummu itu? Perbuatan itu haram dan hanya merusak kesehatanmu.’
Ezra menatap layar ponsel itu dengan sinis, “Kau siapa memangnya yang mengatur apa yang boleh dan tidak untuk kulakukan? Aku minum karena dirimu! Aku butuh sesuatu yang menjadi tempat pelampiasan atas apa yang terjadi di hidupku!”
Azizah kembali merangkai kata di ponselnya.
‘Masih ada jalan lain. Masih ada Allah. Allah akan membantumu.’
“Omong kosong! Aku tidak percaya!” sahut Ezra ketus.
Azizah hanya bisa beristighfar dalam hati, memohon ampunan untuk suaminya yang masih tersesat. Ia melanjutkan ketikannya.
‘Untuk sekarang kau memang berkata seperti itu, tapi kau pasti akan menyesal nantinya.’
Ezra membaca kalimat itu dengan wajah datar, sama sekali tidak peduli. Azizah kemudian mengetikkan kalimat terakhir sebelum ia pergi.
‘Aku sudah membuatkan sup pereda pengar untukmu, dan tadi seorang pria mengantar mobilmu, kuncinya kuletakkan di dekat pintu.’
Setelah Ezra membaca pesan terakhir itu, Azizah langsung melangkah pergi meninggalkan dapur. Membiarkan Ezra berdiri sendirian di sana dengan rasa kesal yang masih membekas.