Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06: Pamit Pulang
Setelah dua minggu Regan berhasil menarik investor, hari ini ia meminta pulang ke Singapura kepada Raymond.
"Al, nanti sore aku berangkat," ucap Regan saat menemani Alvero makan siang.
Alvero ngangguk sambil ngunyah.
"Kamu gak mau ikut? Sekalian temani aku nonton F One sama investor itu?"
"Gak, kerjaanku di sini banyak. Mending aku ajak jalan-jalan Veyra sama Zio." Alvero membuka tutup botol air mineral, lalu meminumnya.
"Hari ini kamu lembur?" Tanya Regan, tangannya nyomot makanan di piring Alvero.
Alvero mengangguk lagi, "iya, tapi gak lama."
"Kalau begitu, aku mau ke rumah kamu dulu, mau pamit sama Zio. Walaupun sebentar, dia takut kangen sama Aku, Al."
"Hm," Alvero hanya menggeram.
Waktu jam makan siang sudah selesai, Alvero kembali masuk ke ruang kerjanya lagi. Sementara Regan pergi bersiap untuk perjalanan pulangnya nanti sore.
Di luar, matahari begitu terik. Kontras dengan hawa dingin di dalam mall besar. Regan menyeret langkahnya masuk ke salah satu toko mainan.
Lalu berhenti di depan rak mobil-mobilan yang berjajar. Banyak berbagai jenis, tapi Regan mengambil mobil remote kecil.
"Kayaknya Zio belum punya jenis mobil kayak gini?" Gumamnya sambil menatap mainan di tangannya. Selanjutnya, Regan melangkah menuju kasir.
Setelah sesi pembayaran selesai, Regan beralih masuk ke toko cookies. Aroma cokelat, kacang almond, dan harum dari berbagai jenis cookies memenuhi penciuman Regan.
Tangannya sudah menenteng dua totebag saat Regan kembali ke mobilnya.
Di parkiran, ia tak langsung masuk mobil. "Ini cukup gak ya buat, Zio?" Katanya pelan.
Setelah diam lama, akhirnya Regan masuk ke dalam mobilnya. Mesin mobil meraung halus saat Regan menginjak pedal gas, dan mobil keluar dari perkiraan mall.
Kurang dari lima belas menit, mobil Regan sekarang sudah kembali terparkir di halaman keluarga Ardion.
Langkahnya santai saat menginjak teras depan rumah. Di depan pintu, tangan Regan terulur menekan bell.
Tak menunggu lama, pintu dibuka oleh Bi Alin. "Regan, ayok masuk!"
Regan mengangguk sambil tersenyum lebar. "Makasih, Bi."
Aroma rumah itu menjadi salah satu tempat ternyamannya akhir-akhir ini.
"Kok sepi, Veyra sama Zio mana, Bi?" Mata Regan menyapu ruang keluarga.
"Lagi di halaman belakang."
Regan mengangguk, melanjutkan langkahnya ke pintu belakang.
Di sana, Renzio sedang memainkan pasir kinetik. Anak itu hanya memakai kaos pendek dan celana pendek.
Regan diam sebentar di ambang pintu, matanya menangkap Renzio yang asik bermain dengan Mbak Rini. Sedangkan Veyra dan Serena, tengah menikmati rujak buah di gazebo.
"Zioo!" Teriak kecil Regan, membuat semua orang noleh.
Renzio langsung bangun, berhambur ke pelukan Regan yang sudah jongkok.
"Om Egan, ayok main!" Renzio melepaskan pelukannya, lalu menarik jari telunjuk Regan.
"Om bawain mobil remote kecil buat kamu. Mau lihat gak?" Regan mengangkat satu totebag tinggi.
"Mau," teriak Renzio sambil melompat senang.
Regan mengeluarkan mainan itu. Ia membukanya, lalu memasangkan batrei pada remote monil-mobilannya.
Mata Renzio berbinar melihat koleksi mobil-mobilan baru lagi.
"Zio, mainnya sama Mbak dulu ya. Om mau nemuin Mama sama Oma dulu." Regan mengelus lembut kepala Renzio.
Anak itu mengangguk patuh dengan senyum lebar yang masih menggantung di wajahnya.
"Mbak, ini buat kamu sama Mbak Alin. Aku lupa ngasih barusan." Regan memberikan dua paper bag.
"Mas Regan baik banget, selalu gak lupa juga sama aku dan Bi Alin." Mbak Rini mengambilnya. "Makasih ya, Mas. Sering-sering aja, gak bakal di tolak kok."
Regan tertawa kecil, "siap!" Regan mengacungkan jari jempolnya.
Mbak Rini menyimpan paper bag di meja taman, sementara Regan melanjutkan langkahnya ke gazebo.
"Lagi pada ngapain?"
"Ayok, ngerujak. Nemenin yang ngidam." Serena menepuk lantai sebelahnya.
Regan melepaskan sepatunya, duduk di tempat yang Serena tunjukkan. "Seger banget kayaknya." Ia nyomot irisan mangga mudanya.
Begitu masuk mulut, Regan langsung terpejam. Rasa asam dari mangga, serta pedas manis dari bumbu rujak menyatu di mulutnya. "Asyemm," katanya sambil bergidik.
Veyra tertawa, "seger, kan?"
"Seger buat kamu. Buat aku nggak."
"Kamu bawa makanan apa? Buat aku, kan?" Tanya Veyra, tatapannya jatuh ke paperbag.
"Iya," Regan mendorong paperbag ke hadapan Veyra.
"Makanan apa lagi yang dia bawa, Vey?" Tanya Serena yang ikut penasaran.
"Cookies, Mah. Cocok buat ngilangin pedes di mulut." Veyra mengeluarkan satu toples cookies premium itu. Lalu membukanya.
Veyra dan Serena kini beralih memakan cookies, setelah memakan rujak buah-buahan. Dan beberapa minuman dingin.
Mata Regan menatap sekitar halaman, udaranya cukup segar karena masih ada beberapa pohon. Sampai akhirnya, tatapannya jatuh ke sosok Veyra yang tengah menikmati cookies bawaannya.
Veyra terlihat lahap, entah karena emang suka. Atau bawaan kehamilannya. Rambut Veyra bergerak terkena angin, membuat Regan mengedipkan matanya pelan.
Di sebelahnya, Serena menangkap tatapan Regan pada menantunya itu. Serena menatap mereka bergantian. Lalu, dengan jahil ia nyikut lengan Regan pelan.
"Cantik ya menantu saya?" Goda Serena.
Regan langsung menenoleh. Ia mengangguk cepat. "Cantik," jawabnya kikuk.
"Kamu lihatin aku ya?" Veyra nunjuk wajah Regan.
Regan langsung nyengir kecil. "Kamu sedikit berisi sekarang." Elaknya.
Veyra mendelik. "Regan," rengeknya. "Aku hamil baru delapan minggu, lho!"
"Gak papa, mungkin bawaan ibu hamil gitu, pengen nyemil terus."
Veyra mendengus. Bibirnya mengerucut.
Membuat senyum Regan melebar karena merasa lucu dengan tingkah Veyra, yang kadang kekanak-kanakan.
Tak ada lagi yang bersuara, hening jatuh lama di gazebo itu. Hanya samar suara Renzio dan Mbak Rini yang sekarang tengah asik bermain mobil-mobilan.
"Nanti sore aku pulang dulu ke Singapura." Suara Regan memecah hening yang menggantung.
"Ada apa? Kenapa mendadak?" Tanya Serena cepat.
"Tapi balik ke sini lagi gak?" Timpal Veyra.
Regan mengangguk. "Pasti dong. Aku cuma mau nemenin klien nonton F1."
Veyra mengangguk-anggukan kepalanya. "Yaudah, hati-hati ya!"
"Aman, cuma ke Singapura."
Setelah berpamitan, Regan kini segera pulang. Karena hari sudah menjelang sore. Dan jet pribadi keluarga Regan sudah berangkat dari Singapura.
Regan tak langsung pergi ke bandara, tapi pulang dulu ke penthousenya.
Perjalanan kota Jakarta sore ini belum terlalu macet, Regan tiba di tempat tinggalnya lebih cepat.
Mobil Regan masuk ke basement apartemen dengan lampu-lampu redup yang memantul di bodi hitam mobilnya.
Setelah mesin dimatikan, suasana langsung terasa sunyi. Regan berjalan santai menuju lift private sambil memainkan kunci mobil.
Lift bergerak cepat menuju lantai lima puluh delapan. Dan begitu pintu lift terbuka, apartemen bernuansa abu gelap langsung menyambutnya.
City light Jakarta terlihat jelas dari dinding kaca besar di ruang tamu. Tapi sayangnya... sunyi.
Tak ada suara Renzio. Tak ada suara Veyra yang menyuruhnya makan teratur. Dan tak ada suara Alvero yang mengomel karena ulahnya.
Regan menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan