Cerita ini berkisah tentang perjalanan cinta sang dokter cantik dan pria tampan berpangkat kapten , jatuh cinta diantara desingan peluru dan tebalnya debu di sebuah daerah konflik antar negara .
Lebanon Indonesia adalah saksi perjalanan kisah Cinta di Selamat Pagi Kapten
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavender_fla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seharusnya Aku Tidak Disana
Masa rentan dari sebuah hubungan itu adalah saat menunggu waktu pelaksanaan akad nikah , kata orang akan banyak godaan yang menyertainya , menguji keteguhan hati kedua orang yang memiliki keinginan untuk menjadi halal ."
_______________________________________
Setelah acara lamaran Guntur kembali ke kesatuannya di Divisi infanteri 1 / Kostrat di Cilodong Depok untuk mengurus perizinan menikah dan menjalani prosedur menikah untuk prajurit , begitu juga Dini yang langsung bertugas kembali di Rumah Sakit dan persiapan untuk Yudisium S2 nya .
Sebenarnya pengajuan izin menikah ini sudah diajukan Guntur sejak kepulangannya dari Lebanon, karena memang mengurusnya membutuhkan waktu yang cukup lama . Juga pasangan yang akan menikah harus menjalani proses sidang persiapan pernikahan yang bertujuan untuk mengetahui sampai dimana kesiapan istri dalam mendanpingi suaminya . Juga calon istri prajurit harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
" Dok , maaf kemarin pas lamaran saya ngga bisa hadir karena ngga ada yang gantiin shif , lagian Devian perginya buru-buru ." ocehan Rianty menyambut kedatangan Dini siang itu diruang kerjanya , Dini meletakkan paperbag berisi makanan khas yogya dan Wonogiri titipan mba Sofie untuk rekan kerja Dini diatas meja pelayanan perawat .
" Iya ngga apa, saya maafkan , tapi pas acara akad nikah harus hadir ya , ntar ticket Devian yang bayarin ."
" Etdah kirain dokter yang beliin ticket sama bayar hotelnya ." Rianty menyebik pura-pura sewot , sementara Dini hanya tersenyum simpul .
" Dok ini oleh - olehnya boleh dimakan ?." seru Dani perawat shif sore rekan Rianty .
" Ngga boleh Dan , itu sama dokter Dini di kasih formalin ." sahut Rianty membuat Dani melongo .
" Ya saya bawa kan buat dimakan Dani , ngga usah dengerin Rianty dia lagi sensitif ." ucap Dini sembari tersenyum membuat Dani bersorak girang .
" Yes buat temen minum kopi biar ngga ngantuk ."
" Dok ditunggu dokter Rendy di ruang rapat lantai lima ." ucap Camelia perawat berkulit hitam manis yang baru keluar dari lift .
" Oh ya , terima kasih ya mel ." jawab Dini ramah , lalu segera menuju lift bersama Riany sebagai asistennya .
Ruang rapat lantai 5 berada di depan ruang operasi I dimana ada empat ruang operasi di lantai tersebut.
Tampak di ruangan berukuran 4 x 6 m itu ada yang sudah hadir termasuk Rendy selaku Direktur Rumah Sakit sekaligus dokter spesialis bedah orthopedy yang sudah duduk mengitari meja oval bersama 4 dokter lainnya , sepertinya akan ada bahasan penting kali ini, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang terlihat tegang. .
" Siang dok ." sapa Dini sebelum masuk keruang rapat .
" masuk Din , kebetulan kamu udah masuk kerja , ini ada masalah yang harus segera kita selesaikan ." sahut Rendy sembari menggeser kursinya untuk Dini .
Dini mengangguk lalu mulai membaca dokumen yang disorongkan Rendy padanya .
" Pasien pertama baru masuk jam 10 pagi tadi. Indikasinya sempat mengalami gagal nafas sewaktu dibawa ke rumah sakit ." Rendy menjelaskan apa yang dimaksud , Dini mengangguk paham .
" Pasien kedua, indikasi tumor tulang belakamg. "
" Pasien dijadwalkan operasi jam 3 sore nanti , jadi saya minta smua dokter yang hadir sekarang terlibat dalam operasi ini ." intruksi Rendy sangat jelas dan dipahami semua rekannya .
Drrttt
Notifasi pesan masuk terdengar dari ponsel Dini .
Mas Guntur
Assalamualaikum ."
^^^Me ^^^
^^^Walaikumsalam^^^
Mas Guntur
Pulang jam berapa nanti
^^^Me^^^
^^^Kemungkinan jam 8 malam mas , Dini ada jadwal operasi hari ini .^^^
Mas Guntur
Ya sudah , ntar mas jemput .
^^^Me ^^^
^^^Iya , mas masih dimarkas ?^^^
Mas Guntur
Iya , kenapa dek ?
^^^Me ^^^
^^^Enggak , cuman nanya aja .^^^
Mas Guntur
Cuman nanya atau ngecek ?
^^^Me ^^^
^^^Dini cuman nanya mas , ya sapa tau aja mas lagi nga dimarkas .^^^
Mas Guntur
Emang mas mau kemana ?
^^^Me ^^^
^^^Ya nga tau , kali aja kerumah ortunya dokter Rendy .^^^
Mas Guntur
Ngapain kesana ?
Oh mas tau , dia nga ada hubungannya sama kita , lebih baik kita fokus dengan apa yang kita kerjakan dan persiapkan untuk acara kita .
^^^Me ^^^
^^^Iya mas ,Dini paham .^^^
Mas Guntur
Oke sayang , sampe ketemu nanti ya .
^^^Me ^^^
^^^Iya mas .^^^
Dini lalu mengubah ponselnya kemode silance lalu memasukkannya kedalam tas dan segera bersiap untuk ikut melakukan operasi .
Operasi pasien kecelakaan kerja menghabiskan waktu sampai 4 , 5 jam , karena ternyata pasien mengalami trauma perut , dan trauma dada yang tidak terdeteksi saat berada di UGD yang bisa berakibat fatal jika ditangani dengan salah .
Dini mengganti Sneilli nya dengan cardigan merah maroon lalu bergegas menuju lobby meninggalkan Rianty yang masih membuat laporan .
Senyum Dini mengembang bak bolu kukus saat melihat sosok Guntur yang menunggunya di lobby dengan stelan casualnya .
" Ngga lama kan ?." ucap Dini saat sudah berada di hadapan Guntur .
Guntur tersenyum lalu satu tangannya merapikan rambut Dini yang terlepas dari kuncirnya kebelakang telinga .
" Biar lama juga ngga masalah kalau kamu yang ditunggu ."
" Mulai dech , ayo pulang , jangan kelamaan disini ." sahut Dini sembari menarik tangan Guntur keluar dari lobby .
" Emang kenapa ?." tanya Guntur bingung namun tetap mengikuti Dini menuju mobilnya yang terparkir.tak jauh dari lobby yang merupakan parkir khusus direksi rumah sakit dan Dokter.
" Entar pasien diabetes semakin nambah gara-gara liat senyumnya mas ." sahut Dini dengan wajah serius , membuat Guntur tersenyum lebar , ditariknya pipi Dini gemas .
" Ngebales gombal ya , sekarang udah pinter ngegombalnya ya ."
Guntur membukakan pintu mobil untuk Dini setelahnya dia sendiri masuk ke mobil dari sisi kanan .
" Siapa yang ngegombal , ini kenyataan kapten ." sahut Dini sembari melirik kearah lobby diikuti Guntur .
" Emmm sayangnya mas cemburu ya ." akhirnya Guntur mengerti , dielusnya kepala Dini lembut ," ya sudah besok lagi kalo jemput , mas nunggu dimobil aja."
Guntur mulai menjalankan monilnya keluar dari rumah sakit.
" Kita makan dulu ya mas baru pulang ." usul Dini yang dianggukin Guntur yang sudah menjalankan mobilnya diruas jalan yang masih padat.
Guntur mengarahkan mobilnya kedaerah Senopati dan memarkir mobilnya di rumah makan Seafood Santa 68 .
" Kita makan yang berat ya , seharian tadi mas banyak kerjaan jadi ngga sempet makan nasi ." Guntur mengutarakan alasannya sebelum Dini bertanya , karena biasanya mereka akan makan malam di warung sate sambas , gule tingkungan nasi uduk kebon kacang atau cukup makan bakso .atau ketoprak.
Dini mengangguk lalu menurut saja saat Guntur menggandengnya masuk .
" Besok padat ngga kerjaannya sayang ?."
" Ngga juga sich mas , cuman kegiatan rutin visit pasien jam 10 dan jam 3 sore , dan ada jadwal operasi jam 4 sore , jadwal praktek besok libur kan cuman 2 hari aja dalam seminggu , memang kenapa mas ?."
" Klo gitu jam 11 mas jemput ya , ada prosedur pra nikah yang harus kita jalani dikantor ."
" Siap Kapten."
******
Rencananya sore ini Guntur akan mengajak Dini untuk memesan cincin pernikahan mereka sekaligus bertemu WO yang akan mengurus acara resepsi pernikahan mereka diJakarta .
Dini sudah mengcancel semua jadwal prakteknya hari ini untuk ditukar pada jadwal kerja rekannya esok hari .
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan Guntur belum terlihat menunggunya di depan meja pelayanan lantai 6 dimana ruang kerja Dini berada.
" Apa dia masih tugas ? Tapi kemarin kan janjinya jam 2 siang mau jemput ." gumam Dini sedikit gelisah , dicobanya menelphon pria itu namun tidak dijawab , pesan yang Dini kirim pun hanya centang dua dan berwarna abu-abu .
Karena tidak ada pekerjaan lain Dini memutuskan untuk menunggu Guntur dilobby rumah sakit saja daripada dia harus buru - buru turun dari ruang kerjanya dilantai 6 lebih baik nunggu di lobby , bisa melihat orang hilir mudik .
" Udah mau pulang dok ?." sapa Camel yang baru kembali dari visit pasien , Dini mengangguk .
" Apa ada berkas yang belum saya periksa sus ?."
" untuk hari ini sudah semua dokter cek dan acc ." jawab Camel sebagai asistennya bersama Rianty .
" Baiklah , saya pulang dulu kalau ada hal urgent terkait pasien segera hubungi saya ."
Dini segera beranjak dari meja pelayan perawat lantai 6 menuju lift .
Dilantai 5 pintu lift terbuka dan masuklah Dokter Rendy bersama Dokter Irvandi .
" Mau kemana Din ?." tanya Rendy melihat Dini menyangklong tas ranselnya .
" Pulang ."
" Kok pulang , kalau bisa kamu bantu Dokter Irvandi operasi pasien gagal ginjal yang memutuskan memakai CAPD kita kekurangan dokter bedah karena malam nanti ada 5 operasi yang bersamaan ." ucap Rendy sembari bersandar di dinding lift .
Posisi Rendy selaku Direktur Rumah Sakit harus bisa mengatur semuanya dengan baik walau kadang dia juga ikut turun tangan menangani operasi.
" Jam berapa operasinya ?." tanya Dini
" Jam 7 malam Din , bener ya Van ?."
" Iya dok ." jawab Irvandi , lalu menoleh kearah Dini ," seneng dech operasi ditemani dokter Dini ."
" Saya kan belum mengatakan iya dok? "
" Saya yakin dokter pasti mau membantu, karena ruang operasikan rumah pertamanya dokter Dini, dan obat bius suplemennya. " canda dokter Irvandi membuat Dini menyebik.
" Senang ya , dokter harus bayar waktu istirahat saya , seharusnya ntar malam saya kan bisa tidur dengan nyaman ." sahut Dini dengan wajah dibuat kesal.
" iya ntar dech saya bayar waktu istirahatnya ." sahut Irvan sembari terkekeh .
Tak lama lift terbuka dilantai 2 , Rendy dan Irvan pun keluar meninggalkan Dini sendirian menuju ke lobby .
Sesampainya dilobby kembali Dini mencoba menghubungi Guntur tapi tetap panggilannya tidak terjawab malah sekarang ponsel Guntur tidak aktif .
Entah kenapa langkah Dini malah mengajak gadis itu ke ruang UGD yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lobby .
Dini membalas sapaan perawat dan pekerja rumah sakit yang berpapasan dengannya .
Saat langkahnya memasuki pintu ruang UGD , Dini langsung disambut oleh beberapa perawat dan dokter jaga yang bertugas .
" Ada angin apa nich , dokter bedah terfavorite hadir di UGD ." sapa Dokter Irsan yang merupakan 1 angkatan dengan dirinya sewaktu kuliah dulu .
" Ngga usah lebay dech , saya kan sering ke UGD kamunya aja yang ngga pernah liat aku San ." jawab Dini tersenyum simpul .
" Cie dokter Dini , kangen ya ? Kangem sama suasana di UGD atau kangen sama kita - kita nich ." Dokter Melissa Chou ikutan menggoda Dini .
" Dua - duanya ." sahut Dini sembari pandangannya mengidari ruangan unit gawat darurat itu , sebagian besar ranjang terisi pasien yang sedang diobservasi .
" Ngga ada jadwal operasi Dok ?." Irsan yang ikutan berdiri disebelahnya pun ikut kepo.
" Nanti jam 8 malam , pasien gagal ginjal dengan pemasangan CAPD ." jawab Dini .
" Wess, banyak orderan ya dok. "
" Orderan, emang jam kerja dokter beedasarkan permintaan, lagi pula pasien bedah kan kebanyakan kiriman dari kamu San ." Tambah Dini membuat Irsan terkekeh .
" Ya begitulah prosedurnya Din, kadang jadi Kepala UGD membuat aku de javu , kadang aku pengen minta dikembalikan menjadi dokter ruangan saja sedikit lebih santai , paling hanya visit pasien dan stay di ruang praktek ."
" Saya sudah pernah berada diposisi kamu san , masa kamu lupa ? Kamu kan gantiin saya di sini ."
" Oh iya , kenapa bisa lupa ya ." sahut Irvan yang tak lama kemudian beranjak untuk mengecek pasien korban kecelakaan yang baru datang .
" Dok, bisa bantu sebentar, ada dua pasien korban kecelakaan yang masuk sekaligus ." pinta dokter Irsan pada Dini yang langsung mengikuti langkah Irsan.
Dini langsung memeriksa kondisi pasien dan segera memerintahkan untuk dilakukan operasi karena pasien dalam kondisi pita merah.
Setelahnya Dini kembali mengamati aktivitas di instansi paling sibuk itu.
" Dini ."
Keasikkan Dini memperhatikan aktifitas di UGD sedikit terganggu dengan suara wanita yang memanggilnya .
Dini menoleh kearah suara yang memanggilnya. Dini sedikit memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya .
" Hesti , ada apa kamu kesini ?." tanya Dini setelah yakin kalau wanita yang memanggilnya adalah Hesti adik tirinya .
" Iya , ini bawa Aurel tadi pulang sekolah badannya demam dan sempat muntah ." jawab Hesti sembari menunjuk kearah gadis kecil berusia 2 tahun yang sedang terbaring diranjang , Dini langsung berjalan mendekati gadis kecil itu .
Dan memeriksa kondisinya.
" Papanya sudah tau ?."
" Sudah , barusan aku telp ."
Dini mengangguk, lalu meminjam stateskop pada perawat yang menangani Aurel, dan memeriksa bocah cantik yang biasanya ceria itu.
" Kamu tugas di UGD lagi Din ?."
" Ngga cuman lewat aja ."
" Mama juga sakit din ."
" Mama sakit ? Sakit apa ?."
" Tekanan darahnya drop karena kecapean , tapi sekarang sudah mulai pulih lagi ."
" Syukurlah kalau begitu ."
Tiba - tiba Hesti mencolek lengan Dini sedikit keras .
" Ada sich apa hes ?."
" Kamu liat dech didekat pintu masuk , itu bukannya Tunangan kamu ?." ucap Hesti sembari menunjuk kearah pintu dengan dagunya .
Dini mengikuti perkataan Hesti , dan dia mengiyakan kalau pria yang sedang berdiri didekat ranjang itu benar Guntur tunangannya .
" Ngapain dia kesini , bukankah kalau tentara yang sakit mereka punya rumah sakit militer ." tanya Hesti penuh rasa ingin tau , bahkan wanita itu sampai sedikit mendekat kearah Guntur berdiri .
" Ya mungkin ngantar teman atau keluarganya ." sahut Dini berusaha untuk tidak terprovokasi .
" Teman bisa jadi , tapi kalau keluarga emang disini Guntur punya keluarga ? Keluarga dia disini kan cuman mertua aku , orangtuanya Rendy ."
Dini hanya diam terpaku ditempatnya , apakah karena ini Guntur sampai mengabaikan panggilan dan pesannya .
Tiba - tiba mata Dini melebar dan rasa panas iru kembali menjalari dada dan matanya .
Seorang wanita berjilbab memeluk lengan Guntur erat sambil menangis , walau Guntur tak membalas namun terlihat Guntur tak menolak wanita itu ,pria itu hanya diam saja .
" Din ." panggil Hesti dengan raut wajah kesal .
Dini hanya diam .
*********