NovelToon NovelToon
Kekasih Akhir Pekan

Kekasih Akhir Pekan

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:587.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aya Emily

Aku Rafka.

Pekerjaanku sebagai lelaki bayaran di sebuah club malam.

Dari luar aku tampak menikmati pekerjaanku. Jika kau pernah berjumpa denganku sekilas, kau pasti berpikir hidupku sempurna.

Tapi itu hanya topeng.

Aku sangat membenci pekerjaanku. Lalu, kenapa aku tidak pergi? Mencari pekerjaan lain dan meninggalkan dunia malam?

Kalau kau ingin tahu jawabannya, kau harus menjelajah kisahku dulu. Agar kau tahu, kisah mengerikan apa yang membelenggu tubuhku di balik topeng ceria yang selama ini kugunakan.

Bagian dari Trilogy of Night Club
1. Kekasih Akhir Pekan
2. Polisi Penggoda
3. The Guy and Little Girl

--------------------

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aya Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Epilog

Senin (13.50), 23 Maret 2020

Udah sampe part terakhir...

Oh, apa udah pada tahu kalau cerita ini bagian dari Trilogy of Night Club?

1. Kekasih Akhir Pekan

2. Polisi Penggoda

3. The Guy and Little Girl

Cerita ini dan Polisi Penggoda saling berhubungan. Jadi ada bagian2 yang kejadiannya dalam waktu bersamaan.

**Pokoknya happy reading dan semoga suka ^_^ **

---------------------------

Pak Gun menatap menantunya dengan senyum puas. Ternyata suami pilihan putrinya tidak salah. Rafka adalah lelaki yang cerdas. Hanya dalam beberapa bulan dia sudah memahami seluk-beluk bisnis keluarga milik pak Gun padahal Rafka tidak pernah sekolah.

Pak Gun tidak menyesal mempercayai Rafka untuk memimpin proyek besar. Sekarang lelaki itu sedang memberi pengarahan kepada semua manajer dan bagian personalia yang akan terlibat dalam proyek itu. Semua orang mendengarkan Rafka dengan serius. Pak Gun bisa merasakan rasa hormat yang tulus dari seluruh staf di perusahaannya terhadap menantunya.

Kegugupan yang dirasakan Rafka sejak mendapat kepercayaan untuk memimpin proyek ini, kini sirna. Semua orang menerimanya dengan baik. Tidak ada yang merasa iri dan dilangkahi karena dirinya orang baru.

Tinggal beberapa menit lagi sebelum jam makan siang. Ternyata waktu berlalu amat cepat ketika dirinya menikmati kegiatannya.

Mendadak rasa sakit yang menyengat menghantam perut bagian bawah Rafka. Nafas Rafka terengah dan dia berusaha menahan rasa sakitnya. Perutnya seolah akan sobek. Rafka bertumpu di tepi meja rapat dengan tangan terkepal kuat.

Semua orang dalam ruangan itu serentak berdiri. Beberapa orang yang paling dekat dengan Rafka segera melompat menahan tubuh lelaki itu. Pak Gun yang melihat kejadian itu hanya mematung panik.

“Cepat telepon ambulan!” salah seorang manajer berteriak.

Rafka mengerang panjang sambil mencengkeram perut. Beberapa detik kemudian dia terlihat lega ketika sakitnya berlalu. Dua menit kemudian lelaki itu kembali mengerang panjang.

“Anda baik-baik saja, pak?”

Seseorang menepuk bahu pak Gun membuat dia tersadar dari syoknya. Dengan panik pak Gun menghampiri Rafka yang sudah telentang pasrah dengan kepala bertumpu pada salah satu pria yang menolongnya pertama kali.

“Nak, apa yang terjadi padamu?” tanya pak Gun sambil meremas tangan Rafka yang basah karena keringat.

Rafka menggeleng sambil kembali mengerang ketika rasa sakit itu kembali menghantamnya. Wajah dan tubuhnya basah karena keringat yang terus menetes.

Dering ponsel mengagetkan pak Gun yang masih menatap menantunya dengan panik. Pak Gun menerima panggilan tanpa melihat identitas penelepon. Kekhawatiran mencengkeram dadanya.

“Halo?” suara pak Gun bergetar.

“Papa! Cepat ke rumah sakit! Ajak Rafka juga. Rena akan melahirkan!” suara bu Yuni juga terdengar panik.

“Rena mau melahirkan?” pak Gun menatap Rafka yang terus mengerang dengan bingung. Kekhawatirannya menigkat. “Kenapa sekarang, ma? Tidak bisa ditunda dulu?”

“Papa jangan bercanda. Pokoknya mama tunggu di rumah sakit!” bu Yuni langsung memutus sambungan.

Vani yang baru saja kembali masuk bekerja setelah cuti melahirkan, mendadak terkikik geli. Serentak semua orang yang mengerumuni Rafka menatapnya bingung.

“Apanya yang lucu, Vani?” pak Gun bertanya kesal.

“Sepertinya pak Rafka baik-baik saja. Dia hanya kesakitan.” Vani menjelaskan sambil berusaha menahan senyum.

“Hei, kami semua juga tahu pak Rafka sedang kesakitan. Tapi apa penyebabnya?” salah satu bagian personalia berkata kesal.

“Yah, kejadian semacam ini memang langka. Satu di antara sejuta orang.” Jelas Vani berapi-api. “Pak Rafka sedang merasakan sakitnya melahirkan. Bisa dibilang, dia dan istrinya berbagi rasa sakit selama proses melahirkan.”

Semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan.

“Lalu kapan rasa sakitnya berakhir?” tanya pak Gun bingung.

“Tentu saja sampai bayinya lahir.” Ujar Vani hati-hati.

Semua mata beralih memandang Rafka dengan iba. Para pria di ruangan itu meringis membayangkan rasa sakit yang dialami Rafka.

Rafka yang juga menyimak penjelasan Vani di antara rasa sakitnya mendadak lemas. Dia tidak sanggup memikirkan berapa lama rasa sakit ini akan berlangsung.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya pak Gun lagi.

“Bawa saja dia menemui istrinya. Dia pasti akan merasa lebih baik jika bisa menggenggam tangan istrinya selama proses melahirkan itu.”

***

Dokter dan perawat dalam ruangan itu menahan senyum melihat pemandangan di depan mereka. Sengaja mereka menyiapkan dua ranjang untuk pasangan suami istri itu yang sedang menunggu anak pertama mereka.

Si istri hanya menggigit bibir untuk menahan rasa sakitnya. Sesekali dia tidak bisa menahan senyum melihat suaminya yang sedang meringkuk di ranjang sebelahnya sambil memegang perut. Tangan si suami mencengkeram erat tangan istrinya. Keringat yang mengalir membuat tubuh lelaki itu basah.

“Romantis sekali.” Ujar seorang perawat wanita kepada rekannya. “Aku tidak menyangka memiliki kesempatan melihat keajaiban semacam ini.”

Rekannya mengangguk antusias sambil menyeringai.

“Kenapa kalian hanya bergosip saja di situ?” bentak Rafka dengan suara lemah karena tersengal-sengal. “Lakukan sesuatu! Rasanya sakit sekali.”

“Kami masih menunggu hingga pembukaannya sempurna, pak.” Jelas dokter wanita yang memimpin proses persalinan. Dokter itu juga tidak bisa menahan senyum melihat Rafka yang terus menerus mengerang.

Beberapa menit kemudian, mendadak tubuh Rafka dan Rena menegang lalu disusul erangan panjang Rafka.

“Sudah waktunya.” Gumam dokter.

“Oh, astaga!” desis Rafka di antara giginya yang terkatup rapat.

Jemari Rafka semakin kuat mencengkeram tangan Rena. Tak disangka di antara semua rasa sakit itu, ibu jari Rena membelai tangannya. Rafka memaksakan diri untuk menoleh menatap istrinya. Rena tersenyum menenangkan. Keringat bercampur air mata menetes di pipi gadis itu.

Tiba-tiba perut Rafka seperti disobek. Rasa sakitnya lebih parah dari yang sebelumnya. Semua isi perut Rafka seolah akan ditarik keluar. Rafka tidak bisa menahan diri lagi. Dia berteriak keras lalu semuanya gelap.

Beberapa menit kemudian Rafka kembali tersadar setelah mendengar suara lengkingan bayi di dekatnya. Rafka mengerjap-ngerjapkan mata mencoba mengumpulkan kesadarannya. Jemarinya dan jemari Rena masih saling bertaut. Gadis itu menatapnya dengan senyum sayang. Wajahnya tampak kelelahan.

“Bayi kita sangat tampan.” Bisik Rena, tidak sanggup berbicara keras.

Rafka menghembuskan nafas lega. “Syukurlah. Akhirnya berakhir juga.”

Perawat dan dokter dalam ruangan itu terkikik geli.

“Maaf, pak. Tapi masih ada satu lagi yang belum keluar.” Jelas dokter sambil menahan cengirannya.

Rafka menatap dokter dengan bingung. “Maksudnya?”

“Anda memiliki bayi kembar, pak.” Jawab dokter yang tidak lagi mampu menahan senyum lebarnya.

Rafka melongo. Matanya membulat tidak percaya.

Rena meremas tangan Rafka membuat lelaki itu menatapnya dengan raut ngeri. “Sayang, dokter bisa memberimu suntikan obat bius.”

Rafka memejamkan mata sejenak lalu menatap Rena penuh tekad. “Tidak. Aku mampu menahannya.”

Dengan penuh percaya diri Rafka berusaha turun dari ranjang rumah sakit. Baru sejenak kakinya menapak lantai, rasa sakit itu kembali menghantamnya membuat Rafka jatuh kembali ke ranjang dengan posisi meringkuk. Suara erangan terdengar keras dari bibirnya.

“Oh, kontraksinya kembali dimulai.” Seru dokter.

Rafka memukul ranjang dengan kepalan tangannya. “Oh, Tuhan! Bunuh aku dua jam saja!” seru Rafka dengan frustasi di antara rasa sakitnya.

***

Rena tersenyum melihat Farrel yang minum ASI dengan rakus. Ibu jari Rena membelai pipi montok Farrel. Rena mendongak menatap suaminya. Rafka sedang mengayun-ayunkan tubuh Fachmi yang sudah terlelap di lengannya. Wajah Rafka tampak damai dan bahagia. Sesekali lelaki itu mengecup ujung hidung putranya.

“Kakak! Om Gun memanggilmu. Di luar ada lagi tamu yang datang.”

Rafka menoleh lalu melotot pada Ratna yang berdiri di ambang pintu kamar bayinya. “Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? Fachmi dan Farrel baru saja terlelap.”

Ratna hanya mengangkat bahu sambil menyeringai.

Perlahan Rafka meletakkan Fachmi di boks bayi yang dirancang khusus untuk bayi kembar. Bayi itu hanya menggeliat sejenak karena dipisahkan dari dekapan hangat papanya lalu kembali terlelap.

Rafka tersenyum lalu mengecup Fachmi dengan sayang. Lelaki itu berbalik lalu menghampiri istrinya yang masih duduk tegak sambil menyusui Farrel. Putranya yang satu ini memang terlihat lebih agresif daripada kakaknya. Rafka menunduk lalu memberi kecupan lembut di dahi Farrel.

Ratna menatap Rafka tak sabar. “Cepatlah keluar! Om Gun menunggumu.”

“Dasar pengganggu! Kenapa kau tidak pulang saja?” Rafka mengomel sambil berjalan keluar kamar.

Ratna mencibir lalu bergegas menghampiri Rena yang berusaha bangkit sambil menggendong Farrel yang sudah terlelap.

“Biar aku saja.” Ratna segera mengambil Farrel lalu membawa ke boks bayi di sebelah Fachmi. “Baru tiga hari yang lalu kau keluar dari rumah sakit. Sebaiknya kau tidak membawa beban yang berat dulu.”

“Tapi bocah-bocah mungil itu sangat ringan.” gerutu Rena

“Jangan membantah! Sebaiknya kau perhatikan kesehatanmu dulu.” Ratna terdiam memperhatikan bayi kembar itu. “Sampai detik ini aku belum bisa membedakan mereka padahal setiap hari aku selalu datang ke sini.”

“Menurut dokter mereka kembar identik.” Rena menyeringai bangga. Dia berdiri di sebelah Ratna turut memperhatikan bayi kembarnya.

Mendadak sepasang lengan memeluk tubuh Rena dari belakang. Dia memekik kaget sambil berusaha berbalik untuk melihat orang di belakangnya.

“Destia, kau membuatku kaget!” pekik Rena sambil berusaha mencubit lengan orang yang baru datang itu.

Ratna juga berbalik lalu memperhatikan seorang gadis bertubuh lebih pendek dari Rena yang sedang terkikik geli sambil berusaha menghindari serangan Rena. Wajahnya sangat imut dan manis. Mungkin usianya sekitar tiga belas tahun, tafsir Ratna.

Puas dengan aksi mencubitnya, Rena memeluk gadis itu lama lalu menoleh pada Ratna. “Ratna, kenalkan sepupuku. Namanya Destia. Sebenarnya yang sepupu itu ayah kami.” tambah Rena lalu kembali menghadap Destia. “Destia, ini adiknya Rafka. Namanya Ratna.

“Hai,” sapa Destia sambil mengulurkan tangan.

Ratna mengernyit tidak suka karena menurutnya Destia kurang sopan terhadap orang yang lebih tua tapi dia tetap berusaha tersenyum dan menerima uluran tangan gadis itu. “Hai, juga.” Balas Ratna ramah. “Kau sangat cantik. Sudah kelas berapa?”

Mendadak Rena terbahak tapi segera menutup mulutnya karena bayi kembarnya menggeliat. Sedangkan wajah Destia berubah masam. Gadis itu menatap Ratna dengan cemberut.

“Bisakah kita bicara di luar saja?” ajak Rena sambil menggandeng lengan Ratna dan Destia.

Ratna masih menatap mereka dengan bingung sambil mengikuti langkah Rena. “Apa pertanyaanku salah?”

“Hei, nona!” ucap Destia kesal. “Sebentar lagi usiaku akan menginjak dua puluh tujuh tahun. Kau kira aku masih SD?”

Ratna menghentikan langkahnya lalu menatap Destia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tinggi wanita itu pasti tidak lebih dari seratus lima puluh senti. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Dia hanya mengenakan kaos oblong, celana jins selutut dan sepatu kets. Penampilannya yang tampak seperti wanita tomboy ditambah tingkahnya yang kekanakan semakin klop dengan wajahnya yang imut dan manis. Ratna berani bertaruh. Siapapun yang melihat Destia untuk pertama kali pasti mengira dia masih SD atau baru masuk SMP.”

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Destia kesal.

Rena menyikut pinggang Destia. “Kenapa kau selalu menyalahkan orang lain. Salahkan wajahmu sendiri yang seperti anak kecil itu.” Rena beralih menghadap Ratna. “Tidak perlu heran. Wajahnya memang seperti ini. Orang-orang menyebutnya baby face.”

Ratna menatap Destia kagum. “Kau bahkan lebih tua dariku. Aku jadi iri padamu.”

Ucapan Ratna bermaksud memuji tapi wanita itu malah menghentakkan kaki dengan kesal menuju ruang tamu. Kedua wanita itu hanya terkikik geli melihat tingkah Destia sambil mengikutinya.

Di ruang tamu ternyata Freddy juga sudah datang. Sejak Rena melahirkan, setiap hari Ratna pasti minta diantar ke rumah mertua kakaknya itu bersama Juan. Kebetulan jalannya searah dengan kantor Freddy.

Ratna segera duduk di sebelah suaminya sedangkan Rena di sebelah Rafka. Rena dan Ratna saling pandang merasakan suasana yang sedikit tidak bersahabat.

“Dimana Juan?” tanya Freddy sambil berbisik.

“Dia tidur di kamar tamu.”

Freddy mengangguk. “Sebentar lagi kita pamit pulang.”

Ratna mengangguk pelan lalu mengalihkan tatapannya pada para tamu. Ada dua lagi tamu selain Destia. Menurut Ratna pasti itu orang tuanya. Ratna sedikit khawatir dengan pandangan pria paruh baya itu yang menatap kakaknya seolah merendahkan.

“Rena, apa kau tidak bisa menemukan pria terhormat yang mau menikahimu?” tanya pria itu kasar.

Dada Rena menjadi panas mendengar pertanyaan itu. Dia hendak menjawab namun Rafka meremas tangannya sambil menggeleng pelan.

“Indra, jaga bicaramu! Kau tidak berhak menghakimi putri dan menantuku.” Pak Gun membentak dengan sama kasarnya.

Pria yang dipanggil Indra menatap pak Gun sinis. “Kau juga sama, Gun. Kau telah mencoreng nama baik keluarga kita dengan membawa lelaki penghibur itu ke dalam keluarga kita!”

“Hentikan, om!” Pekik Rena.

“Hei, tuan. Kasar sekali bicara anda.” Ratna ikut menimpali dengan geram.

Mendadak Destia bangkit lalu menatap papanya garang. “Papa membuat Destia malu!”

Wanita itu berderap keluar dengan wajah merah padam. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu ketika wajahnya menabrak dada seseorang. Tubuhnya nyaris tersungkur kalau tangan orang itu tidak menahan pinggangnya. Destia mendongak untuk menatap orang itu.

“Kak Alan.” Bisik Destia kaget.

Alan juga tampak kaget melihat dirinya.

Semua pandangan tertuju ke ambang pintu. Mendadak Indra bangkit sambil menunjuk Alan dengan murka. “Kau! Bukankah kau lelaki penghibur yang telah meniduri Silvi, kekasihku. Berani sekali kau muncul di hadapanku!”

Indra menghambur ke arah Alan sambil menghantamkan tinjunya ke pinggang Alan. Sebelumnya Alan telah menggeser Destia hingga wanita itu tidak terkena imbasnya. Tubuh Alan langsung tersungkur ke beranda.

“Papa!” jerit Destia sambil berusaha menghentikan papanya.

Alan menatap Destia kaget lalu menunduk kalah. Ternyata dirinya memiliki masa lalu yang buruk dengan orang tua wanita yang dicintainya. Mungkin inilah akhir dari hubungannya dengan wanita itu.

Alan tetap menunduk pasrah ketika semua pria di ruang tamu itu berusaha menahan tubuh Indra yang meronta-ronta ingin menghajar Alan. Destia hanya bisa menatap Alan dengan air mata berlinang.

Destia tidak mengerti kenapa Alan hanya diam saja. Kenapa papanya begitu marah pada Alan. Sebenarnya apa hubungan mereka.

Freddy mulai kesal karena Indra masih terus meronta-ronta. Akhirnya dia mengeluarkan borgol dari saku celananya lalu memborgol salah satu tangan Indra.

“Mungkin anda belum tahu bahwa saya seorang polisi.” jelas Freddy datar. “Sekarang anda saya tahan karena melakukan tindak kekerasan.”

Mendadak Indra terdiam lalu menatap Freddy tajam. “Seharusnya orang-orang hina semacam mereka yang kau tahan.”

“Dasar kau!” pak Gun memukul belakang kepala Indra. “Aku akan menuntutmu atas tuduhan pencemaran nama baik.” Pak Gun menoleh pada Alan. “Kau juga bisa menuntutnya atas tuduhan penganiayaan.”

“Om Gun, lupakan saja.” Alan yang sudah berdiri dibantu Rena dan Ratna mulai membuka suara. “Aku dan Rafka yang menjadi biang masalah. Aku tidak mau membesar-besarkan hal ini.”

Rafka mengangguk setuju. “Freddy, lepaskan borgolnya!”

Dengan berat hati Freddy membuka borgol di tangan Indra.

Indra menatap Alan dengan pandangan jijik dan merendahkan. “Kau sok sekali. Kau pikir bisa membawaku ke penjara? Orang sepertimu bahkan tidak berhak membuka mulut, malah mengkhayal bisa menjebloskanku ke penjara.” Segera Indra berbalik menuju mobilnya. “Mama, Destia, ayo pulang! Kalian tidak boleh lagi menginjakkan kaki di tempat rendahan ini.”

Destia berjalan sambil tertunduk malu dengan sikap papanya. Mama Destia yang sejak tadi berada dalam pelukan bu Yuni sambil terisak, berkali-kali mengucap maaf lalu pamit pergi.

Alan mendesah sambil terus menatap punggung Destia yang menyelinap ke dalam mobil. Sepertinya sudah menjadi takdir Alan tidak bisa memiliki pasangan hingga akhir hidupnya.

END

----------------------------

Wah... udah end akhirnya. Next borong novelku yang lain dari lapak sebelah hihihi...

Sampai jumpa di cerita2 yang lain... 🤗

♥ Aya Emily ♥

1
Erry Sunarti
Thor Rena hamil Thor , keluarga benang ruwet ,
Erry Sunarti
ya ampun Rena ,. g bisa kah mencari pasangan yang halal dan Soleh gitu , walaupun sudah mendapatkan ginjalnya tapi kok menjijikan , masa iya tahu itu ibunya kok masih hooh saja yeeek
Erry Sunarti
yeeek Maya seorang ibu yang menjijikan
/Awkward//Awkward//Awkward/
Erry Sunarti
Kehidupan macam apa ini Thoor , kayaknya g ada di dunia nyata .
Erry Sunarti
mengerikan , Rafka terlanjur kecebur dalam kubangan lumpur , tolongin dong Thoor agar Rafka bisa keluar dari pekerjaan itu dan menjadi laki laki yang baik .
Erry Sunarti
Akhirnya tumbuh rasa cinta di kedua belah pihak. Cinta akan mencari jalan untuk mempersatukan pasangan ini.
RithaMartinE
luar biasa
RithaMartinE
Akhirnya berbahagia 😊😊😊
Ratna Yayang Debora
Miris ya...kematian ibu yg disyukuri. Amit2😰
Raudatul zahra
eh ??? berarti cowok yg nolongin bapak² yg anaknya gagal ginjal itu si Rafka ini ya???
Raudatul zahra
baru nemu cerita inii... ini kok baguss yaa opening nyaa.. ngalir banget bahasa nyaa..
Maria Magdalena Indarti
kukira Rena mati ternyata di rmh Freddy
Maria Magdalena Indarti
Rafka kakak yg baik
Maria Magdalena Indarti
pasti Rena hamil anak Rafka
Maria Magdalena Indarti
crita diluar biasa alurnya. ibu berhubungan intim dg anak kandung
Maria Magdalena Indarti
apa ya ada ibu kandung sm anaknya. wong edan tenay
Maria Magdalena Indarti
ibu edan kok bisa sm anak sendiri
Maria Magdalena Indarti
lho maya bukannya ibu Rafka krn adiknya Ratna anak maya.
Maria Magdalena Indarti
Airin kalau Akan judulnya apa??
Ponsel Ponsel
😊😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!