NovelToon NovelToon
BISIKAN LUKISAN BERDARAH

BISIKAN LUKISAN BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
​Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
​Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
​Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

Sosok wanita menyeramkan berambut panjang itu merangkak semakin dekat. Gerakannya yang patah-patah di atas kasur terdengar seperti gesekan ranting kering yang patah. Kuku-kuku hitamnya yang tajam mulai terangkat ke udara, siap untuk mencabik dada Bram. Bau busuk bangkai bercampur darah segar terasa begitu pekat, menyumbat tenggorokan Bram hingga ia merasa tercekik.

​Bram memejamkan mata erat-erat. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia berteriak sekuat tenaga memecah kesunyian kamar yang dingin itu.

​"PERGIII! JANGAN BUNUH AKU! TOLONGGG!"

​GUBRAK!

​"Bram! Kamu kenapa?!"

​Suara teriakan yang sangat familier tiba-tiba memotong jeritan Bram. Bersamaan dengan itu, cahaya siang yang terang benderang langsung menyengat mata Bram. Listrik mendadak menyala kembali. Hawa dingin yang ekstrem, bau busuk yang menyengat, dan sosok wanita berdarah di atas kasur itu lenyap dalam sekejap mata, seolah menguap bersama kegelapan.

​Bram membuka matanya dengan napas memburu yang tersengal-sengal. Di ambang pintu kamar tamu yang terbuka lebar, berdiri Adista. Wajah kakak sepupunya itu tampak sangat terkejut, heran, sekaligus cemas melihat Bram yang berdiri menyudut di dekat jendela dengan tubuh gemetar hebat dan wajah pucat pasi seperti mayat.

​Adista memegang beberapa lembar map dokumen di tangan kirinya. "Bram, kamu kenapa teriak-teriak seperti itu? Suaramu terdengar sampai ke luar halaman rumah!" tanya Adista sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

​Melihat kehadiran Adista, Bram langsung berlari mendekat dan mencengkeram kedua bahu sepupunya itu dengan erat. Tangannya masih dingin dan bergetar hebat. "Ta! Lukisan itu, Ta! Lukisan itu ada hantunya! Rumah ini... rumah ini terkunci ghaib tadi! Perempuan di lukisan itu keluar dan mau bunuh aku!" ceracau Bram dengan suara yang panik dan tidak beraturan.

​Adista mengernyitkan dahi, menatap Bram dengan tatapan bingung. "Terkunci bagaimana? Aku baru saja masuk lewat pintu depan seperti biasa. Tidak ada yang terkunci, Bram. Aku terpaksa pulang sebentar karena ada berkas penting perusahaan yang tertinggal di kamar kerja Papa."

​"Nggak, Ta! Kamu nggak paham! Rumah ini tadi gelap gulita, jendelanya nggak bisa dipecahkan, dan..." Bram tiba-tiba teringat sesuatu yang lebih mengerikan. "Soto! Soto babat yang kamu belikan tadi pagi! Jangan makan soto itu, Ta!"

​Adista semakin heran. "Soto? Ada apa dengan sotonya?"

​"Soto itu bukan dari daging sapi, Ta! Itu... itu potongan tubuh manusia!" teriak Bram dengan mata melotot karena teringat jelas benda yang ia lihat tadi. "Waktu aku sendok, isinya kulit kepala manusia yang masih ada rambut hitam panjangnya! Terus waktu aku pakai garpu, yang terangkat itu jari tangan manusia, Ta! Baunya busuk sekali seperti bangkai! Aku sampai muntah di lantai dapur!"

​Mendengar penjelasan Bram yang semakin tidak masuk akal dan terdengar mengerikan, wajah Adista berubah menjadi serius. Sebagai wanita yang berpikir logis, ia merasa sepupunya ini mungkin sedang mengalami trauma berat atau halusinasi akibat berita kematian Ronald yang sangat sadis kemarin.

​"Bram, kamu tenang dulu. Ayo kita cek ke dapur sekarang," kata Adista tegas. Ia meletakkan map dokumennya di atas meja kamar, lalu menuntun Bram yang masih ketakutan menuju ke arah dapur.

​Setibanya di koridor ruang tengah, Bram sempat melirik ke arah lukisan perempuan menangis darah itu. Lukisan itu kembali tampak seperti benda mati biasa. Sosok perempuan di dalam kanvas kembali menghadap ke depan dengan senyuman tipis yang sedih, tidak lagi menatap ke samping seperti yang dilihat Bram beberapa menit lalu. Darah yang mengalir di dinding juga tidak berbekas sama sekali, menyisakan lantai kayu yang bersih dan mengilat.

​Bram menelan ludah. Kepalanya mulai terasa pening. Apakah ia benar-benar sudah gila?

​Mereka berdua akhirnya sampai di depan meja makan. Bram langsung menunjuk ke arah mangkuk keramik besar yang bertutup itu dengan jari yang bergetar. "Di dalam situ, Ta. Coba kamu buka sendiri. Baunya sangat busuk."

​Adista melangkah mendekati meja makan. Ia mengendus udara di sekitar dapur. "Bau busuk apa, Bram? Malah bau kuah soto rempah yang harum," ujar Adista heran.

​Adista kemudian mengulurkan tangannya dan membuka tutup mangkuk keramik tersebut. Uap hangat langsung mengepul keluar, membawa aroma gurih bawang goreng, serai, dan kaldu sapi yang sangat menggugah selera. Sama sekali tidak ada bau bangkai atau bau amis darah seperti yang diceritakan Bram.

​Adista mengambil sendok besar di samping mangkuk, lalu mulai mengaduk-aduk isi soto tersebut di depan mata Bram. Ia menyendok beberapa potongan daging hitam bertekstur kasar dari dasar mangkuk dan mengangkatnya ke atas.

​"Lihat ini, Bram. Ini babat sapi biasa. Ini potongan daging sandung lamur. Semuanya baik-baik saja," kata Adista sambil memperlihatkan isi sendoknya kepada Bram. "Dan lihat ke lantai, tidak ada bekas muntahan sama sekali. Lantainya bersih."

​Bram membelalakkan matanya, maju beberapa langkah untuk melihat langsung ke dalam mangkuk. Jantungnya berdegup kencang karena rasa tidak percaya. Benda-benda mengerikan yang ia lihat tadi—kulit kepala berambut dan jari tangan manusia—telah hilang tanpa bekas. Kuah soto itu berwarna kuning jernih yang tampak sangat lezat, bukan merah darah pekat seperti sebelumnya. Bahkan lantai tempat ia muntah-muntah tadi juga tampak kering dan bersih sempurna, seolah kejadian mengerikan itu tidak pernah terjadi.

​"N-nggak... nggak mungkin... aku berani sumpah tadi aku lihat jelas banget, Ta! Jari tangan manusia!" bisik Bram, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Rasa takutnya kini bercampur dengan rasa bingung yang luar biasa. Jika semua itu hanya halusinasi, mengapa rasanya begitu nyata hingga ia bisa mencium bau busuknya?

​Adista menghela napas panjang, menatap sepupunya dengan tatapan penuh rasa iba. Ia meletakkan kembali sendoknya dan menepuk bahu Bram pelan. "Bram, aku tahu kamu sangat syok dengan kematian Kak Ronald. Berita tentang perut Kak Ronald yang robek dan kondisinya yang mengenaskan pasti membuat pikiranmu tertekan tanpa kamu sadari. Kamu kurang tidur, dan itu membuatmu berhalusinasi yang menyeramkan."

​"Tapi, Ta—"

​"Sudahlah, Bram," potong Adista lembut namun tegas. "Soto ini baik-baik saja. Aku beli di tempat langganan keluarga kita sejak bertahun-tahun lalu. Sebaiknya hari ini kamu ikut aku saja ke kantor. Aku tidak tenang membiarkanmu sendirian di rumah dalam kondisi seperti ini. Di kantor ada banyak orang, mungkin itu bisa membuat pikiranmu lebih tenang."

​Bram terdiam, tidak mampu membantah lagi. Ia memandangi mangkuk soto itu dengan sisa rasa ngeri yang mendalam. Ia tahu, Adista tidak akan pernah mempercayainya jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, Bram tahu bahwa apa yang terjadi padanya bukan sekadar mimpi atau halusinasi.

​Rumah ini, atau lebih tepatnya lukisan perempuan menangis darah itu, sedang mempermainkan pikiran mereka. Kutukan Bisikan Lukisan Berdarah sengaja menyembunyikan wujud aslinya di depan Adista, membiarkan sang pemilik tetap tidak menyadari bahwa maut yang sesungguhnya sedang mengintai dari balik keindahan kanvas berdarah tersebut.

1
Ungkar Aj
maaf ya suy untuk saat ini author belum bisa update ,hape author rusak ,tunggu seminggu lagi insyaallah author up sampai tamat /Sob/
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
aduh piye sih di ulur3 mkin lama makin menjadiw saja
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
sesulit itukah berkata jujur

krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur

tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ininlah akibatnya klo salah g mau ngaku salah jd ya di hantui rasa bersalah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
kenapa g mengku saj biar g di hamtui rasa bersalah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduhh ini knp rupanya lukisan itu smpe ke adista krn ada dalam li gakran keluarganya
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi ini rupanya anak nya di bantai padahal anak nya tak tau apa2
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
Iis Dawina
iya kali om Harun terlibat pembunuhan laras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
lha jadi ada kaitanya ya
weehhh kira2 apa ya
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
lha apakah ada kaaitanya dgm rian
aduh entah lah
andhig Rosdiana
kita lupa tuntas apa yang sebenarnya om harun lakukan pada Laras , terimakasih udah like dan koment 👍😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ini dia yg bikin penasaran
total 1 replies
Iis Dawina
apa om Harun salah satu yg sudah membunuh Laras . trs Laras bls dendam ke bram
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahhh sekarang gmn kek buntu gitu sih
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi belum di ceritakan ya perempuan iru

knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh kan semakin rahasia nya terkuak akhirnya akan bertemu di alam berbeda damar dan perempuan itu jgn bilang nama permouan itu nawang wulan/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wow akan terkuak lah apa yg selama ini terpendam

tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
andhig Rosdiana
tenang tahan nafas kita kupas tuntas ya dik ...🤭 terimakasih selalu setia di karya aku ,😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
apa mungkin lukisan itu minta di kemabalikan di rumah itu ya
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh bahayakah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi pere.puan itu tidak meneror karna akan menemukan apa kebenaran yg akan menguak sebuah misteri wow su guh perjalanan yg tak mudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!