Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bab 29: Keraguan di Hati Diana
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Suasana di dalam hotel mewah itu mulai hening, riuh suara tamu yang semula memenuhi aula resepsi perlahan mereda seiring berakhirnya acara pernikahan.
Lampu-lampu besar di koridor sudah diredupkan, menyisakan cahaya lembut yang menciptakan suasana tenang namun terasa sepi.
"Sayang, hati-hati !" Arga memegang bahu Diana, lalu mendekapnya
Diana berjalan sambil melamun, pikirannya berkelana jauh. Sehingga hampir saja dia menabrak guci besar yang terletak di dekat dinding.
"Maaf, Mas !" Ujar Diana sambil melepaskan tangan suaminya dengan pelan.
Arga sedikit bingung dengan sikap istrinya, tetapi dia memilih diam, karena mungkin Diana sudah lelah.
Diana berjalan lebih dulu, dan Arga segera menyusulnya.
Arga dan Diana berjalan berdampingan menuju kamar tidur yang telah disiapkan khusus untuk mereka di lantai paling atas.
Sepanjang perjalanan, Arga mencoba mencairkan suasana, dia berbicara dengan nada santai, menceritakan sedikit hal-hal lucu yang terjadi saat resepsi tadi,
Tetapi , tanggapan Diana hanya singkat dan datar. Ia hanya mengangguk pelan atau menjawab “ya” dan “tidak” saja, matanya menunduk seolah memikirkan sesuatu yang berat.
"Ayo masuk sayang!" Arga memutar kunci lalu membuka pintu kamarnya
Diana masuk tanpa mengatakan apapun, membuat Arga menjadi kurang nyaman.
Begitu sampai di dalam kamar yang luas dan mewah,
Arga melepaskan jasnya dan meletakkannya di atas sandaran kursi.
Ada apa dengan Diana ?
Biasanya, jika Arga melepas jas, Diana selalu paling senang dan langsung membantu.
Tetapi, kali ini....
Ia menoleh ke arah istrinya, dan semakin terlihat jelas bahwa wajah Diana tampak murung, senyumnya yang biasa terlihat cerah kini hilang entah ke mana.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi Diana yang berdiri di dekat jendela sambil memandang ke luar kota yang masih bersinar dengan lampu-lampu jalan.
“Sayang,” panggil Arga dengan suara lembut.
“Kamu terlihat berbeda sejak tadi. kamu lebih banyak diam. Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Atau ada yang membuatmu tidak nyaman?”
Diana terkejut, lalu menoleh perlahan.
Ia memaksakan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya.
“Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma capek aja, acara hari ini cukup melelahkan.”
Arga tidak mudah percaya.
Ia sudah mengenal istrinya luar dan dalam.
Dia mengetahui kapan Diana berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
Ia berdiri dan berjalan mendekat, lalu memeluk nya dari belakang, dagunya di letakkan di pundak istrinya.
Tetapi Diana tetap diam, dan tidak menoleh sedikitpun, seolah Susana malam di luar sana lebih menarik dari suaminya.
“Diana, kita sudah berjanji tidak akan menyimpan rahasia satu sama lain. kalau cuma capek, kamu tidak akan terlihat semurung ini. Katakan apa yang ada di pikiranmu. Apakah ada tamu yang bertindak kurang sopan, atau ada hal lain yang membuatmu tidak tenang?”
Diana hanya menunduk dalam, tidak berani menatap mata suaminya.
Pikiran yang berputar sejak tadi kembali datang:
bisikan-bisikan itu, pembicaraan tentang Wulan, dan tatapan dingin wanita itu saat berkenalan.
Ia ingin bertanya, ingin memastikan semuanya, tapi rasa takut dan ragu membuatnya menahan diri.
“Iya, Mas. Aku cuma ngerasa capek aja,” jawabnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.
“Aku mau ke kamar mandi dulu, badanku udah lengket.” Diana melepaskan pelukan hangat suaminya
Sedangkan Arga hanya terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana, ingin memaksa bertanya, takut membuat istrinya tidak nyaman.
Tetapi melihat istrinya menjauh, Arga yang merasa kurang nyaman.
Bahkan ....
Tanpa menunggu jawaban Arga,
Diana segera berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu dengan suara yang cukup pelan.
Ia berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri yang terlihat pucat dan lelah.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap rasa sesak di dadanya bisa hilang, namun justru semakin terasa.
Siapa sebenarnya Wulan itu?
Kenapa semua orang mengatakan mereka sangat cocok?
Apakah dia benar-benar hanya besikap sebagai adik mendiang istri, atau ada maksud lain yang tidak aku ketahui?
Pertanyaan itu terus berulang-ulang di kepalanya, membuat hatinya semakin gelisah.
Di luar kamar mandi,
Arga duduk kembali di tepi tempat tidur,
tangannya menyandarkan kepala seolah berpikir keras.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Diana? .
Apakah ada perkataan yang menyakiti hatinya? Batin Arga bertanya-tanya sendiri, rasa penasaran dan kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Diana keluar dengan mengenakan pakaian tidur yang lembut, rambutnya sudah disisir rapi namun masih terlihat basah sedikit.
Ia berjalan perlahan menuju tempat tidur, matanya masih terlihat sayu.
Belum sempat Diana duduk,
Arga segera berdiri dan menariknya perlahan mendekat ke arahnya. Arga mendudukkan Diana di pangkuannya.
"Mas... kamu ngapain?"
Diana ingin berdiri, tetapi Arga memeluk erat pinggang nya.
Posisi itu membuat Diana bisa merasakan sesuatu di bawah sana, sedikit mengganjal dan Emmm... Entahlah.
"Sayang ....!" Arga memanggil dengan sangat lembut
Kali ini tatapannya lebih serius, tidak ada nada marah atau memaksa, hanya keinginan untuk mengetahui kebenaran.
“Diana, kita tidak akan tidur sampai kamu beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi. Jangan menutupi apapun dariku, karena aku bisa melihat kegelisahan yang ada di matamu. Apa yang membuatmu sedih? Katakan padaku, Hmmm”
"Mas... Aku - aku gapapa!" Ujar Diana
"Jangan bohong sama, Mas!" Arga mempererat lagi pelukan nya,
Dia menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh istrinya, begitu manis dan menenangkan.
Mendengar nada bicara suaminya yang begitu tulus dan penuh perhatian, benteng pertahanan Diana yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh seketika.
Matanya yang sudah berkaca-kaca akhirnya menumpahkan air mata yang sedari tadi ditahannya.
Ia tidak mampu lagi berkata-kata, hanya bisa memeluk tubuh Arga dengan sangat erat, seolah takut jika melepaskannya sedikit saja, suaminya itu akan menghilang dari sisinya.
Diana menaruh wajahnya di ceruk leher suaminya sambil sesenggukan.
Arga terkejut melihat istrinya menangis tiba-tiba.
Ia segera membelai lembut punggung dan rambut Diana, berusaha menenangkan.
“Sudah, sayang… jangan menangis. Ada aku di sini. Katakan apa yang kamu rasakan, aku akan mendengarkan.”
Diana menangis tersedu-sedu, suaranya terputus-putus saat ia berbicara.
“Mas… aku takut… aku benar-benar takut…”
“Takut apa? Katakan, tidak ada yang perlu ditakutkan selama aku ada di sampingmu,” jawab Arga lembut, terus membelai kepala istrinya.
Diana mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang basah memandang lurus ke mata Arga.
“Aku takut kehilanganmu, Mas. Sejak tadi banyak hal yang membuatku gelisah. Ada yang mengatakan aku hanya mengincar hartamu, ada yang bilang kamu akan bosan dan mengusirku… dan kemudian ada Wulan itu…”
Arga mengerutkan kening, mendengarkan dengan seksama.
“Wulan? Apa hubungannya dengan dia?”
Diana menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar bisa berbicara lebih jelas.
Hidungnya merah dan matanya bengkak seperti anak kecil, membuat Arga gemas dan ingin mencubit pipi tembem nya.
“Saat aku di toilet tadi, aku mendengar beberapa wanita. Mereka bilang Wulan sangat cocok denganmu, usianya tidak jauh berbeda, dan ada yang berkata mungkin kamu akan menjadikannya istri kedua.
Saat aku melihatnya tadi, dia terlihat sangat akrab denganmu dan Gilang, tatapannya juga begitu dekat denganmu. Aku takut… siapa sebenarnya dia? Apakah dia lebih baik dariku? Apakah suatu saat nanti kamu akan memilihnya dan meninggalkanku?”
Diana bercerita sambil sesegukan, punggung tangannya terus mengusap air mata yang terus mengalir.
Setelah mengeluarkan semua kekhawatirannya,
Diana kembali menunduk, menunggu reaksi suaminya dengan hati yang berdebar kencang.
Ia takut mendengar jawaban yang tidak ia harapkan, namun ia juga tidak bisa lagi memendam rasa cemburu dan keraguannya itu sendirian.
Arga mendengarkan semua itu dengan wajah yang tenang,
bahkan muncul senyum lembut di wajahnya.
Masih dengan posisi yang sama, Arga sudah seperti ayah yang sedang menenangkan anak gadisnya.
Ia mengangkat kedua tangannya, mengusap air mata di pipi Diana dengan lembut, lalu menatap matanya dalam-dalam.
“Jadi ini yang membuatmu murung ? Rasa takut dan keraguan yang tidak berdasar itu?” tanyanya dengan nada lembut namun meyakinkan.
Ia menarik Diana kembali ke dalam pelukannya, membuat wanita itu ingin kembali menangis
“Dengar baik-baik, Sayang. Wulan memang adik kandung mendiang istriku, Sarah. Kami memang sudah saling kenal selama puluhan tahun, dan dia memang sering berkunjung ke rumah karena menganggap kami sebagai keluarga. Tapi percayalah, itu hanya hubungan persaudaraan semata, tidak ada perasaan lain lebih dari itu.”
"Beneran, Mas ?"
Arga mencium kening Diana dengan lembut, melanjutkan ucapannya.
“Dan soal omongan orang lain? Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya melihat dari luar saja, tidak tahu apa yang ada di dalam hatiku.
Aku menikahimu bukan karena kamu muda atau cantik semata, tapi karena hatimu yang tulus, kesabaranmu, dan kebahagiaan yang kamu bawa ke dalam hidupku. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Wulan, atau siapa pun itu, tidak akan pernah menjadi apa-apa selain keluarga.”
Diana mendengarkan setiap kata yang diucapkan Arga, perlahan rasa takut dan cemas di hatinya mulai tergantikan oleh rasa hangat dan percaya.
Ia memeluk suaminya lebih erat, merasa sangat bersalah karena telah meragukan Arga.
“Maafkan aku, Mas… aku terlalu lemah dan mudah terpengaruh omongan orang lain. Aku tidak bermaksud meragukanmu, tapi benar-benar takut kehilanganmu,” ujarnya dengan suara lirih.
Arga tersenyum dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
“Tidak perlu minta maaf. Justru dengan kamu bicara, aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Mulai sekarang, jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, katakan saja langsung padaku. Jangan dipendam sendiri, karena kita berdua adalah satu. Aku juga tidak ingin melihatmu sedih seperti ini.”
Diana tersenyum manis " Aku janji " Lalu dia mencium pipi kanan suaminya.
Arga juga ikut tersenyum lalu menyodorkan pipi sebelah kirinya.
"Yang ini juga butuh ciuman, sayang. Nanti berat sebelah" Ujarnya
Tanpa menunggu lama, Diana langsung memberikan ciuman bertubi-tubi,
Arga yang sudah gemas sejak tadi, langsung memberikan balasan dengan mencium dan sedikit mencubit pipi nya.
Malam itu, suasana hati Diana perlahan kembali tenang.
Tetapi, di sudut pikirannya yang paling dalam, ia masih menyimpan satu pertanyaan kecil: apakah Wulan benar-benar hanya menganggap Arga sebagai kakak ipar, ataukah wanita itu menyimpan niat lain yang belum terungkap?