“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kehidupan yang Tampak Sempurna dari Luar
Hujan lebat yang mengguyur sejak siang berhasil membuat danau di vila mewah ini meluap hingga airnya sedikit merambat ke daratan. Namun, hujan tak kunjung berhenti. Setelah derasnya mereda, rintik-rintik halus masih terus turun membasahi permukaan air yang tenang.
Ikan-ikan di dalam danau tampaknya menyambut hujan ini dengan gembira. Beberapa kali mereka melompat ke permukaan, menciptakan riak-riak kecil yang membuat para pelayan tersenyum saat melihatnya.
Kini sinar matahari sore perlahan menghilang dari langit, digantikan oleh malam yang membawa kegelapan serta bulan sabit yang menggantung di atas sana. Lampu-lampu taman pun satu per satu mulai menyala, memancarkan cahaya hangat di tengah udara yang basah. tapi meski begitu, hujan rintik masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Tepat di kejauhan sebuah mobil sport hitam baru saja berhenti di depan vila mewah bernuansa modern dengan sentuhan arsitektur Eropa. Pintu gerbang terbuka secara otomatis menyambut kedatangan sang pemilik. Nathan melajukan mobilnya perlahan, menyusuri jalan yang dihiasi lampu-lampu kecil di sepanjang taman menuju pintu utama.
Begitu Nathan sampai, seorang pelayan yang sudah menunggu segera membukakan pintu mobil untuknya. Tanpa menunggu lama, Nathan segera turun dari mobilnya lalu memberikan kunci pada pria yang masih menunggunya keluar dari dalam mobil.
Lalu dengan kaki jenjangnya Nathan melangkah masuk ke dalam vila mewahnya, vila dengan pemandangan yang hampir sama selama tiga tahun terakhir, saat dirinya dan Arin istrinya memutuskan vila ini sebagai tempat tinggal mereka.
Setelah masuk ke dalam villa seperti biasa, Nathan langsung berjalan ke arah pintu lift melewati meja makan untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya. Di meja makan, Nathan dapat melihat sosok wanita yang sedang makan di sana, seorang diri menikmati makanannya dengan tenang. Tanpa menghiraukannya, Nathan langsung masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka. Keduanya bahkan tidak saling menyapa seolah-olah keberadaan satu sama lain tidak pernah ada.
...*****...
Suara alarm dari ponsel berdering, memecah keheningan kamar dan membangunkan Arin dari tidurnya.
Dengan mata yang masih terpejam, ia meraih ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya, lalu mematikan alarm tersebut.
Tanpa menunggu lama, Arin beranjak dari tempat tidur, ia melirik layar ponselnya yang masih menunjukkan pukul lima pagi.
Lalu segera membuka pesan dari sekretarisnya, pesan yang dikirim tadi malam, berisi jadwal kegiatannya pagi ini.
Setelah selesai membacanya seperti biasa, Arin memulai paginya dengan berolahraga sambil mendengarkan musik.
Begitu selesai berolahraga, ia segera membersihkan diri lalu mengenakan pakaian kantornya, celana panjang elegan dipadukan dengan jas beraksen renda bunga di bagian leher.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai, lurus dan rapi, menambah kesan anggun pada dirinya. Dengan setiap langkahnya, Arin terlihat seperti model yang tengah memperagakan busana di atas panggung.
Arin baru saja turun ke lantai satu menggunakan lift menuju ruang makan.
Di sana, matanya langsung menangkap sosok Nathan yang sudah lebih dulu duduk menikmati sarapannya.
Tanpa sepatah kata, Arin menarik kursi dan duduk di meja makan, menjaga jarak dari suaminya.
Tidak ada percakapan, tidak ada sapaan.
Hanya tatapan sekilas yang berlangsung singkat sebelum keduanya kembali fokus pada makanan masing-masing.
Suasana di antara mereka begitu hening, nyaris tanpa kehadiran.
Saat Nathan selesai, ia beranjak dari kursinya, berniat pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika suara Arin terdengar.
"Sore ini, Ayah mengundang kita ke rumahnya," ucap Arin tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan di depannya.
Nathan melirik Arin sekilas, lalu menjawab dengan nada datar,
"Katakan aku sibuk."
Arin akhirnya mengangkat kepalanya, lalu menatap Nathan dengan ekspresi tanpa emosi.
"kakak ipar juga akan datang, Aku akan menunggumu di depan gerbang jam tiga sore" ucapnya singkat.
Nathan diam sejenak, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia berbalik dan pergi.