Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 PENOLAKAN KAK JUNA.
Setelah kepergian Kak Juna, apartemen kembali sunyi.
Bee masih duduk di atas tempat tidur. Selimut putih hanya menutupi sebagian kakinya, Tatapannya kosong menembus jendela besar yang memperlihatkan langit siang.
Angin perlahan menggoyangkan tirai.
Bee tersenyum tipis, Namun senyum itu terasa begitu pahit. "Dulu... Rumah itu benar-benar rumahku." Gadis itu memejamkan mata.
Bayangan masa lalu kembali memenuhi pikirannya.
Saat Mamah Lana selalu memeluknya setiap pulang sekolah.
Saat Papah Prans menggendongnya ketika ia tertidur di mobil, Saat kak Darius dengan bangga berkata kepada semua orang, "Ini adik perempuan aku." Air mata Bee kembali jatuh.
"Mah... Pah... Apa kalian benar-benar sudah tidak menyayangi Bee lagi?" Suaranya lirih Hampir tidak terdengar.
Bee memeluk kedua lututnya. "Padahal... Aku cuma ingin tetap menjadi anak kalian, Tapi sekarang... Keberadaanku justru seperti mengganggu kebahagiaan kalian." Tangisnya pecah. "Kalau memang dengan perginya Bee semuanya akan kembali bahagia... Bee akan pergi. Sudah saatnya Bee keluar dari kehidupan keluarga Luwis."
Bee mengusap air matanya. Meski dadanya terasa begitu sesak, perlahan rasa lelah menguasainya, Ia merebahkan tubuhnya.
Meringkuk kecil di atas ranjang milik kak Juna.
Tak lama kemudian, Bee tertidur dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
Rumah Sakit.
Operasi yang dilakukan Juna akhirnya selesai.
Ia melepas masker operasi sambil mengembuskan napas panjang.
"Operasinya berhasil, Dok."
"Lanjutkan observasi pasien."
"Baik, Dok."
Kak Juna berjalan menuju ruang kerjanya. Namun langkahnya berhenti sesaat ketika melihat dua sosok yang sudah duduk menunggu di dalam, Papah Prans.
Dan Mamah Lana.
Kak Juna masuk dengan tenang. "Om, Tante." Sapanya sopan. "Kalian sudah lama menunggu?"
"Baru saja." jawab Papah Prans.
Kak Juna duduk di kursinya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Mamah Lana tersenyum tipis. " Nak Juna... Kami datang sebenarnya ingin meminta bantuan."
Kak Juna mengangguk pelan. "Bantuan apa?"
Papah Prans menyela. "Jelita masih dirawat di rumah sakit ini, Kalau ada waktu, kami berharap kamu bisa menjenguknya."
Kak Juna terdiam beberapa detik. Kemudian menjawab dengan tenang. "Maaf, Om. Saya tidak bisa."
Papah Prans sedikit mengernyit. "Kenapa?"
"Karena hubungan saya dengan Jelita hanya sebatas orang yang pernah bertemu, Tidak lebih." Ucap kak Juna "Sebagai dokter, saya tentu mendoakan pasien saya cepat sembuh., tapi untuk menjenguk secara pribadi... Saya rasa itu tidak perlu."
Ruangan kembali sunyi.
Mamah Lana saling pandang dengan suaminya.
Lalu kembali berbicara. "Sebenarnya... Ada satu hal lagi."
Kak Juna mempersilakan mereka melanjutkan.
"Kami juga berharap... Kamu tidak terlalu dekat dengan Bee."
Kalimat itu membuat tatapan kak Juna berubah.
Mamah Lana melanjutkan,
"Bee sekarang sedang sensitif, Kami khawatir dia salah paham."
Papah Prans menganggukkan kepala. "Lagipula... Sebentar lagi kami berencana menjodohkanmu dengan Jelita." ucap papah prans "Jadi akan lebih baik kalau kamu menjaga jarak dengan Bee."
Beberapa detik... Kak Juna hanya diam, Tatapannya tetap tenang. Namun sorot matanya mulai berubah dingin. "Maaf, Om. Saya tidak bisa memenuhi permintaan itu."
Papah Prans mengernyit. "Maksudmu?"
Kak Juna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya akan tetap memperlakukan Bee dengan baik. Dia teman adik saya, Dan..." Kak Juna terdiam "Dia juga seseorang yang layak mendapatkan perhatian."
Papah Prans mulai terlihat tidak senang. "Juna... Kamu belum mengerti situasinya."
Kak Juna menggeleng pelan. "Justru saya cukup mengerti Dan saya memilih untuk tidak menjauhi Bee."
Ruangan kembali hening.
Papah Prans menarik napas panjang. "Kalau soal pertunanganmu dengan Jelita? Kami berharap kamu mempertimbangkannya."
Kak Juna tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Om, Tante. Saya sangat menghormati kalian tapi... Hidup saya bukan untuk diatur oleh siapa pun, Terutama dalam urusan perasaan."
Mamah Lana tampak terkejut. "Juna... Kami hanya ingin yang terbaik."
"Saya menghargai niat baik itu Tetapi saya tidak akan bertunangan dengan seseorang hanya karena permintaan orang lain." jelas kak Juna "Saya yang akan menjalani hidup itu Bukan orang lain."
Papah Prans mengepalkan tangannya. "Jadi kamu menolak?"
Kak Juna mengangguk mantap. "Iya. Saya menolak Dan saya harap setelah ini tidak ada lagi pembicaraan mengenai pertunangan saya dengan siapa pun, Karena siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya... Adalah keputusan saya sendiri."
Ruangan kembali sunyi.
Mamah Lana dan Papah Prans saling berpandangan.
Mereka tidak menyangka Juna akan menolak dengan tegas.
kak Juna kemudian berdiri dari kursinya. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan... Maaf, saya masih memiliki pasien yang harus saya periksa." Ucapan itu terdengar sopan.
Namun cukup jelas menjadi penutup percakapan mereka.
Papah Prans dan Mamah Lana akhirnya berdiri.
Tanpa banyak bicara lagi, keduanya keluar dari ruang kerja Juna dengan wajah yang dipenuhi berbagai macam pikiran.