COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Daniel POV
Begitu Gilang memuja Dinda meski 5 tahun sudah berlalu. Aku memang bicara padanya ingin kerja, tapi entah kenapa pikiranku tiada hentinya memikirkan Dinda.
Aku ingin sekali memeluknya. Menciumnya bahkan menunjukkan bahwa aku sangat mencintainya, tapi Dinda tidak percaya itu. Dia hanya mengingat kejadian menyakitkan itu. Dia tak bisa mengingat bahwa kami sudah bahagia setelah hal-hal itu berlalu dan aku tidak siap untuk menjelaskannya kembali.
Aku takut dia tidak percaya karena dengan aku mengatakan bahwa dia istriku saja. Dia sudah terlihat seperti sangat takut padaku. Dia terus tidak mau aku sentuh. Untuk hanya menunggunya di samping ranjangnya. Dia terlihat menutup matanya tak ingin melihatku.
Dia mengacuhkanku dan seperti tak mau percaya dengan kata-kataku. Mungkin karena itu, lebih baik aku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Dokter pun bilang aku tidak boleh membebankannya dengan segala ingata yang dia lupakan. Karena itu aku dan James pun sudah sepakat untuk tidak terlalu banyak menghakimi ingatannya. Biarlah begini adanya. Biarkan dia mengingatnya perlahan dan aku selalu berdo’a semoga semuanya akan tetap baik-baik saja.
...........................................
Kulihat tumpukan dokumen yang aku harus kerjakan hari ini. Cukup banyak, ralat bukan lagi banyak tapi sangat banyak. Membuat diriku sendiri kebingungan harus mengerjakan yang mana lebih dulu. Apa itu tentang hotel di London. Apa mall yang sedang dalam pembagunan. Setidaknya dari tumpukan dokumen itu merekalah yang akan menghasilkan banyak uang untukku. Aku bisa mandi uang setiap harinya.
Aku pun menarik berkas yang ada di atas mejaku. Di bagian paling atas dan laporan tentang pengeluaran hotelku di London. Amat sangat berkembang pesat dan tak banyak pengeluaran untuk tahun ini. Wanita yang telah mendekam di penjara itu ternyata sangat lihai dalam pekerjaannya. Pantas saja dia tak menikah-nikah. Dia saja workholic.
Lagi pula siapa yang mau menikahinya. Dia pembunuh darah dingin. Dia gila! Dia sudah gila! Oh Daniel hentikan pemikiran tentang wanita yang sudah kau masuki ke dalam neraka dunia. Dia harusnya tahu betapa lelahnya aku menjadi detektif hanya untuk memata-matainya. Kalau saja waktu itu James (ayah Dinda) tak membiayai hidupku. Sudah aku perkirakan kalau pengintaianku ini akan sia-sia dan takkan membuahkan hasil seperti sekarang dan brengseknya aku, saat James menitipkan anaknya padaku sebagai ganti rugi untuk segala uang yang aku habiskan untuk hidupku. Aku malah mengambil harta berharga anaknya. Seandainya waktu itu kembali terulang, aku berjanji tidak akan membiarkannya ikut mabuk
Tokkk..., tokkk....,
Kudengar pintu ruanganku berbunyi. Bayangan yang aku kenal karena lekuk tubuhnya. "Clara masuklah," ungkapku dan mendapati wajah Clara di balik pintu. Dia masuk ke dalam ruanganku seperti biasa membawa secangkir kopi tanpa pemanis.
"Terima Kasih," kataku dan dia mengecup pipiku secara tiba-tiba membuatku sangat marah padanya, tapi kucoba diamkan saja karena aku tahu dia akan semakin merayuku jika aku memarahinya.
Kini aku lihat dia sedang naik ke atas mejaku. Duduk di atas sana sehingga menampakkan pahanya yang putih mulus ke arahku. Dia mulai menggangguku lagi. Itu sangat menjengkelkan sekali. “Apa kau ada perlu denganku lagi? Pergilah dari ruanganku,” ungkapku padanya tegas, tapi benar saja Clara semakin menjadi.
“Apa kau selalu menolak seorang wanita hemm?” Dia menyentuh pangkal hidungku lalu tanpa aba-aba lagi dia menarik dasiku ke arahnya. Sangat tidak sopan sekali.Kemudian menarik tengkukku dan tak kusangka bibirnya mencium bibirku.
“Daniel,” suara seseorang lainnya kudengar membuka pintu ruanganku tanpa izin.
"Apa kau tidak punya sopan santun!" teriak Clara saat siapa yang kutemukann di ambang pintu.
Itu...,
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍