NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku mengerti perasaanmu, Mara

"Amara, sebenarnya kamu punya pria lain yang kamu sukai?"

"Hah?" tanyaku bingung, benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya.

Melihat ekspresi kebingunganku, Bastian menutup laptopnya. Dia bangkit berdiri dan berjalan mendekati tepi ranjang dengan jubah mandi yang terikat longgar. Dia menumpukan kedua tangannya di atas kasur, mengurungku dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.

"Amara, saat pertama kali melamar ke perusahaan, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu menyukaiku?"

"Iya..." jawabku pelan, mulai merasa sudut batinku tersudut.

"Setelah diterima bekerja, bukankah kamu juga yang sengaja menggunakan berbagai alasan minta tanda tangan berkas hanya demi bisa masuk ke ruanganku?" lanjut Bastian dengan suara makin rendah.

"Iya..." jawabku lagi, dan nada suaraku kali ini terdengar makin serba salah.

"Lalu, apa kamu keberatan dengan pernikahan kita ini?" Bastian menyipitkan matanya, mengunci pandanganku dengan tatapannya yang tajam.

"Tidak... tidak ada keberatan sama sekali!" jawabku terbata-bata.

"Bagus." Bastian menegakkan kembali tubuhnya. Ekspresi wajahnya sangat sulit dibaca, namun tangannya terulur untuk mengacak-acak rambutku pelan. "Jadilah wanita yang penurut."

Aku hanya bisa terpaku.

Selama lebih dari tiga tahun bersamanya, aku tidak pernah melihat Bastian menunjukkan sikap seperti ini. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, tetapi tatapan matanya membuatku merasa seperti sedang terisolasi di dalam ruangan bersuhu minus derajat.

Aku salah kalkulasi.

Ternyata melepas diri dari hubungan ini tidak akan pernah semudah yang kubayangkan.

Tubuhku terasa kaku di bawah bayang-bayangnya. Tepat saat ketegangan itu membakar sarafku, suara ketukan pintu dari arah luar lobi suite mendadak terdengar.

"Pak CEO, kenapa tidak buka pintunya dulu?" tanyaku memaksakan senyum canggung.

Bastian tidak menjawab. Dia menatapku sekali lagi dengan tatapan yang dalam, lalu berbalik melangkah untuk membuka pintu.

Melihat punggungnya menjauh, aku akhirnya bisa menghela napas lega. Namun, baru saja napas panjangku berhembus, suara ragu-ragu yang sangat kukenal terdengar dari balik pintu.

"Pak... Pak Bastian?"

Astaga, Bu Ratna!

Bu Ratna mengekor di belakang Bastian dengan tubuh membungkuk canggung seperti burung unta. Dia melirik ke arahku yang masih terduduk di atas ranjang. Matanya memancarkan jutaan pertanyaan dan rasa ingin tahu yang membuncah, tetapi di hadapan sosok Bastian yang berwibawa, dia tidak berani melontarkan satu kata pun.

"Nanti aku suruh Rian membawakan sarapan ke kamar. Siang ini aku ada urusan bisnis di luar, tapi aku akan kembali untuk makan malam bersamamu nanti," ujar Bastian tenang.

Dibandingkan dengan kepanikanku dan rasa ingin tahu Bu Ratna yang tertahan, Bastian bersikap sangat santai. Selesai berbicara, dia mengambil jasnya dari ruang ganti, lalu melangkah keluar kamar tanpa keraguan.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Bu Ratna langsung memburu ke arah ranjang. Matanya tertuju tepat pada beberapa bekas kemerahan yang tercetak jelas di perpotongan leher dan bahuku.

Dia mencengkeram bahuku dan menggoyangkannya dengan emosi meluap-luap. "Amara! Apa yang kubilang kepadamu semalam? Kamu... kamu..."

Bu Ratna menjadi gagap kehabisan kata-kata. Pada akhirnya, dia menghela napas berat dan terduduk pasrah di tepi kasur. "Pak Bastian itu kan sudah punya istri! Kamu ini sebenarnya mau membawa hidupmu ke mana?"

Melihat Bu Ratna yang benar-benar khawatir padaku, aku meraih jubah mandi di samping kasur, mengenakannya, lalu turun dari ranjang tanpa alas kaki. Aku berjalan ke dispenser air, menuangkan segelas air hangat, lalu menyesapnya perlahan untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering.

Aku berbalik menatapnya. "Bu Ratna... kalau aku beri tahu bahwa wanita yang dinikahi Pak Bastian itu sebenarnya adalah aku, apa yang akan kamu katakan?"

"Amara, kamu sedang berhalusinasi ya?" potong Bu Ratna cepat. Namun, saat menyadari raut wajahku sangat serius, bibirnya mulai bergetar. "Kamu... tidak sedang bercanda, kan?"

Aku mengangkat tangan kiriku dan menggoyangkan jari manisku di depan wajahnya. "Ini cincin pernikahannya. Pak Bastian punya pasangannya."

Bu Ratna seketika bungkam.

Aku mengamati perubahan ekspresi di wajahnya dengan saksama. Mulai dari rasa khawatir, rasa tidak percaya, hingga akhirnya berubah menjadi kejengkelan yang memuncak. Detik berikutnya, dia melompat dari tempat tidur dan kembali menerkamku, menggoncang bahuku tanpa ampun.

"Amara! Kamu benar-benar tidak menganggapku sebagai sahabat, ya?! Urusan sebesar dan sepenting ini sama sekali tidak kamu ceritakan padaku?!"

"Aduh, ampun, ampun!" Demi menyelamatkan leherku dari amukan Bu Ratna, aku menepuk-nepuk tangannya sambil memasang raut wajah penuh penderitaan. "Pak Bastian yang melarangku membocorkannya ke orang kantor..."

Mendengar alasan itu, Bu Ratna perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya mendadak berubah menjadi penuh rasa simpati yang mendalam. "Menikah dengan pria yang menakutkan dan berkuasa seperti Pak Bastian... hidupmu pasti terasa sangat melelahkan dan penuh tekanan, kan?"

Begitu Bu Ratna selesai berbicara, aku menatapnya dalam-dalam, berpura-pura hendak tersedak, menutup mulut, lalu memalingkan wajah ke arah lain.

Melihat reaksiku, Bu Ratna langsung mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. "Iya, iya, aku tidak akan bertanya lagi. Kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa mengerti kok. Memang sudah sewajarnya kalau kamu diminta merahasiakan pernikahan saat menikah dengan pria berstatus tinggi seperti Pak Bastian."

Bu Ratna memberikan beberapa kalimat penghiburan lagi, dan aku menoleh menatapnya dengan raut wajah yang dibuat seolah penuh rasa terima kasih.

Aku sama sekali tidak khawatir Bu Ratna mengetahui hubunganku dengan Bastian. Dia bukan tipe orang yang suka mengumbar gosip, dan kalaupun dia tahu, dia tahu batas untuk tidak membeberkannya ke mana-mana.

Sore itu, aku dan Bu Ratna pergi berbelanja di pusat kota. Sekitar pukul tujuh malam, kami kembali ke hotel sambil membawa beberapa kantong belanjaan.

"Jarang-jarang kamu bisa pergi berbelanja di luar negeri, tapi barang yang kamu beli cuma sedikit begini?" tanya Bu Ratna heran.

Saat kami mendekati kamar Bu Ratna, aku menyerahkan beberapa tas belanjaan kepadanya, hanya menyisakan satu kotak hadiah kecil di tanganku.

"Aku memang tidak punya barang yang benar-benar ingin kubeli," jawabku sambil tersenyum tipis.

Mendengar itu, Bu Ratna mengintip ke luar koridor, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan. Dia kemudian mendekat ke arahku dan berbisik pelan, "Pak Bastian tidak pelit soal memberi uang saku, kan?"

"Ratna, bisakah kamu tidak membicarakan bagian yang paling sensitif?" jawabku bercanda sambil menimang kotak hadiah kecil di satu tangan dan bersandar di dinding koridor.

Ratna mengangguk paham lalu menepuk bahuku agak kencang. "Aku mengerti perasaanmu, Mara."

Setelah berpamitan dengan Ratna, aku naik lift menuju lantai dua puluh delapan. Tepat saat melangkah keluar dari lift dan menunduk untuk mencari kartu kunci di dalam tas, sebuah suara pria yang sangat kukenal mendadak memanggil nama panggilanku.

"Amara."

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!