Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Restoran mewah itu perlahan mulai sepi seiring jarum jam yang terus merambat mendekati tengah malam. Beberapan rekan kerja dan manajer senior sudah lebih dahulu pamit pulang satu per satu setelah melontarkan berbagai pujian dan ucapan terima kasih kepada Bagas.
Lampu-lampu jalanan di luar jendela kaca raksasa memantulkan cahaya temaram ke dalam ruang privat yang kini hanya menyisakan beberapa orang saja. Di meja bar, Rendy melempar lirikan mata penuh arti ke arah Bagas seraya mengetuk-ngetuk kunci mobil sport milik pria itu di kantong jasnya. Bagas membalas tatapan sahabatnya dengan senyuman miring yang begitu dingin sebuah gertakan percaya diri bahwa permainan gila ini baru saja dimulai.
Bu Maya berdiri dari kursinya, merapikan selendang sutra yang menyelimuti bahunya yang anggun. Wanita paruh baya itu mengambil tas tangan bermerek mahal dari atas meja, lalu menghembuskan napas pelan dengan wajah yang mengisyaratkan sedikit kelelahan.
"Pak Bagas, sekali lagi terima kasih banyak untuk jamuan malam ini ya," tutur Bu Maya ramah seraya menyunggingkan senyum hangatnya. "Ibu sangat menikmati hidangannya, juga obrolan kita mengenai rencana ekspansi pasar."
Bagas dengan sigap melangkah mendekat, memasang raut wajah yang begitu santun dan berwibawa. "Sama-sama, Bu Maya. Justru saya dan tim yang merasa sangat terhormat karena Ibu sudah meluangkan waktu berharga untuk hadir malam ini."
"Malam sudah makin larut, Ibu mau pamit pulang dulu. Driver kantor yang mengantar Ibu tadi sepertinya sudah menunggu di area parkir depan," lanjut Bu Maya seraya melangkah menuju pintu keluar.
Namun, baru saja Bu Maya melangkah dua ayunan ke arah lorong, seorang pelayan restoran berlari kecil menghampiri mereka dengan raut wajah agak cemas.
"Permisi, Bu Maya... Maaf mengganggu," panggil pelayan itu sopan. "Apakah sopir Ibu yang mengendarai mobil sedan hitam bernomor polisi B 1001 KSA?"
Bu Maya mengerutkan dahinya pelan. "Iya, betul. Ada apa ya?"
"Anu, Bu... Sopir Ibu tadi mendadak mengeluh sakit dada dan mual hebat di area parkir bawah tanah. Sekarang sedang dibantu oleh tim keamanan kami untuk dibawa ke klinik terdekat menggunakan taksi," terang pelayan tersebut penuh penyesalan.
Mata Bu Maya membelalak kaget. "Ya ampun... Pak Karta sakit? Aduh, kasihan sekali. Terima kasih informasinya ya, Mas."
Mendengar kejadian yang tidak terduga itu, otak Bagas berputar cepat bak kilat. Di dalam pikirannya, kejadian ini bukan sekadar kebetulan biasa, melainkan sebuah karpet merah yang terhampar luas untuk melancarkan taruhan gilanya bersama Rendy!
Bagas langsung memasang mimik wajah yang sangat prihatin sekaligus sigap menunjukkan rasa tanggung jawabnya.
"Aduh, kasihan sekali Pak Karta, Bu," sahut Bagas cepat dengan nada suara yang begitu tenang dan mengayomi. "Ibu tidak usah cemas. Malam ini biar saya pribadi yang mengantarkan Bu Maya pulang sampai ke rumah dengan selamat."
Bu Maya menoleh ke arah Bagas, tampak agak ragu dan tidak enak hati. "Ah, tidak usah, Bagas... Kamu pasti lelah setelah seharian bekerja dan malam ini jadi tuan rumah acara perayaan. Ibu bisa pesan taksi online atau minta jemputan lain dari rumah."
"Sama sekali tidak repot, Bu Maya," potong Bagas mantap, melangkah satu tapak lebih dekat dengan gestur yang sangat menghormati namun tegas.
"Sangat tidak sopan dan berbahaya kalau saya membiarkan istri dari pimpinan utama saya pulang larut malam begini sendirian naik taksi. Ini sudah jadi kewajiban saya untuk memastikan keselamatan Bu Maya. Pintu mobil saya sudah siap di depan."
Bu Maya menatap Bagas selama beberapa detik. Terpancar rasa kagum di dalam mata wanita itu melihat betapa sigap, sopan, dan perhatiannya manajer mudanya ini.
"Baiklah kalau begitu, Bagas. Ibu minta maaf jadi merepotkan kamu malam-malam begini ya," ucap Bu Maya akhirnya seraya mengangguk setuju.
"Dengan senang hati, Bu Maya. Mari, saya pandu menuju kendaraan," balas Bagas dengan senyuman paling menawan yang ia miliki.
Dari sudut bar, Rendy menyaksikan interaksi itu dengan senyum lebar yang sarat akan kelicikan. Bagas sempat menoleh sejenak ke arah Rendy, mengedipkan sebelah matanya seolah memberi sinyal: Tonton dan pelajari bagaimana cara seorang ahli bekerja.
Mobil sedan hitam milik Bagas menyusuri jalanan protokol ibu kota yang mulai lengang. Lampu-lampu merkuri di sepanjang jalan membiaskan cahaya keemasan yang menembus kaca depan kendaraan, menciptakan suasana yang intim dan tenang di dalam kabin mobil yang beraroma wewangian kayu manis yang elegan.
Bagas mengemudikan kendaraannya dengan sangat halus. Posisinya tegap, kedua tangannya memegang lingkar kemudi dengan tenang, menunjukkan profesionalisme tingkat tinggi. Namun di balik sikap tenangnya, pikiran Bagas sibuk menyusun taktik demi taktik untuk memikat hati wanita di sampingnya.
Di kursi penumpang depan, Bu Maya menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Musik instrumental piano klasik yang sengaja diputar Bagas dengan volume pelan menambah kehangatan suasana.
"Pilihan musik kamu bagus sekali, Bagas," puji Bu Maya memecah keheningan seraya menatap jalanan malam. "Sangat menenangkan."
Bagas tersenyum tipis, melirik Bu Maya sekilas lewat cermin tengah. "Terima kasih, Bu Maya. Saya selalu percaya kalau suasana yang tenang bisa membantu menghilangkan lelah setelah beraktivitas seharian."
"Kamu ini memang selalu punya cara untuk memikirkan detail-detail kecil ya," tutur Bu Maya penuh apresiasi. " pantesan saja Pak Kusuma selalu bilang kalau kamu itu calon pimpinan masa depan yang punya empati dan kejelaian tinggi."
Bagas terkekeh pelan, nada suaranya dibuat serendah dan sehangat mungkin. "Pak Kusuma terlalu berlebihan memuji saya, Bu. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik, baik dalam pekerjaan maupun dalam menghargai orang-orang hebat di sekitar saya... seperti Pak Kusuma dan Bu Maya."
Bu Maya menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sedikit menyimpan beban. Wanita paruh baya itu membetulkan letak selendangnya.
"Pak Kusuma itu memang pemimpin yang hebat di kantor, Bagas... Tapi belakangan ini, pekerjaannya benar-benar menyita seluruh waktunya. Hampir tiap minggu dia harus terbang ke luar kota atau luar negeri. Rumah terasa sangat sepi..." bisik Bu Maya tanpa sadar, meluapkan sedikit kesepian yang selama ini terpendam di hatinya.
Mendengar umpan emosional dari Bu Maya, naluri licik Bagas langsung menyambar celah tersebut! Ini adalah kesempatan emas untuk masuk lebih dalam ke sisi pribadi sang target.
Bagas menurunkan sedikit kecepatan mobilnya, memberikan ruang perhatian yang lebih utuh.
"Saya bisa memahami perasaan Ibu," tutur Bagas dengan nada yang sangat empati dan penuh kelembutan. "Pasti tidak mudah menjadi sosok pendamping bagi pria sekelas Pak Kusuma. Di satu sisi Ibu harus bangga atas keberhasilannya, tapi di sisi lain... seorang wanita seanggun dan sebaik Bu Maya tentu berhak mendapatkan perhatian serta kehangatan yang cukup."
Bu Maya agak tertegun mendengar kalimat Bagas. Sorot matanya menoleh menatap profil samping wajah Bagas di balik kemudi. Kata-kata Bagas barusan terasa sangat menohok sekaligus mengusap bagian hatinya yang haus akan perhatian. Sudah sekian lama tidak ada pria yang memperhatikan perasaannya secara mendalam seperti ini.
"Kamu... ternyata peka sekali ya, Bagas," bisik Bu Maya pelan, ada nada haru yang tertahan di suaranya.
"Bukan peka, Bu Maya," sahut Bagas seraya mengarahkan pandangannya sejenak ke arah mata Bu Maya, memberikan tatapan mata yang dalam dan hangat sebelum kembali fokus ke jalan. "Tapi wanita hebat seperti Bu Maya ini memang pantas untuk disimak dan dihargai setiap perasaannya. Kalau saya berada di posisi yang memiliki pendamping seistimewa Bu Maya, saya tidak akan membiarkan Ibu merasa sepi sedetik pun."
Deg.
Jantung Bu Maya berdesir halus. Kalimat santun namun sarat akan godaan terselubung itu berhasil menembus benteng pertahanannya. Wajah Bu Maya agak merona di balik keremangan lampu kabin mobil, walau ia berusaha tetap bersikap tenang sebagai seorang istri direktur utama.
"Ah, kamu ini bisa saja merangkai kata-kata, Bagas," sahut Bu Maya tertawa kecil untuk menutupi kecanggungannya yang mendadak muncul. "Oh ya, bagaimana dengan keluarga kamu sendiri di rumah? Istrimu tidak menanyakan kalau kamu pulang semalam ini?"
Bagas tersenyum tipis senyuman yang sengaja dibuat agak getir dan sedikit sendu untuk memancing simpati lebih jauh.
"Saya... baru saja resmi berpisah, Bu Maya," jawab Bagas dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tegar namun menyimpan luka.
Mata Bu Maya berkedip kaget. "Loh? Berpisah? Maksud kamu... kamu bercerai?"
"Iya, Bu," desah Bagas pelan seraya menggelengkan kepala berpura-pura sedih. "Ternyata tidak semua wanita memiliki pemahaman, kelas dan kedewasaan seperti Bu Maya. Mantan istri saya kurang bisa menyelaraskan diri dengan ritme kerja dan ambisi karir saya. Akhirnya, demi kebaikan bersama, kami memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri."
Bu Maya menatap Bagas dengan rasa simpati yang mendalam. Di matanya saat ini, Bagas terlihat sebagai sosok pria muda yang sangat berdedikasi, tampan, mapan, namun sayangnya tidak beruntung dalam urusan asmara karena mendapatkan pasangan yang tidak sepadan.
"Ya ampun, Ibu tidak tahu, Bagas... Maaf ya kalau pertanyaan Ibu tadi membuat kamu teringat masa lalu," ucap Bu Maya penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa sama sekali, Bu Maya," balas Bagas lembut seraya tersenyum menenangkan. "Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Dan malam ini, bisa mengantarkan Bu Maya dengan selamat saja sudah cukup membuat hari saya terasa sangat berarti."
Sanjungan halus yang terus-menerus disuntikkan Bagas membuat Bu Maya benar-benar merasa disanjung dan dihargai sebagai seorang wanita, bukan sekadar sebagai istri dari pemilik perusahaan.
Sepuluh menit kemudian, mobil sedan hitam milik Bagas berbelok memasuki kawasan perumahan elit di puncak bukit kota. Rumah kediaman Pak Kusuma berdiri megah bak istana dengan gerbang besi tempa yang tinggi dan halaman luas yang dikelilingi pepohonan rindang.
Bagas menghentikan mobilnya tepat di depan pilar teras utama kediaman tersebut. Dengan gerakan cepat dan sangat sopan, Bagas turun dari kursi kemudi, melangkah memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bu Maya seraya menutupi bagian atas pintu dengan tangannya agar kepala Bu Maya tidak terbentur.
Bu Maya melangkah keluar dari mobil. Angin malam yang dingin menyapa kulitnya, membuat wanita itu agak sedikit menggigil.
"Terima kasih banyak ya, Bagas," tutur Bu Maya seraya menatap mata Bagas dalam-dalam di bawah sorot lampu teras yang terang. "Pengabdian dan kebaikan kamu malam ini sungguh berarti buat Ibu."
"Sama-sama, Bu Maya. Sudah menjadi kehormatan besar bagi saya," balas Bagas seraya membungkukkan badannya sedikit dengan sikap penuh hormat.
Bu Maya merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama pribadi berlapis tinta emas bukan kartu nama kantor dan menyerahkannya langsung ke jemari Bagas.
"Ini nomor ponsel pribadi Ibu," ucap Bu Maya dengan nada suara yang lebih pelan dan terkesan rahasia. "Kalau kapan-kapan kamu butuh teman bicara, atau ada hal-hal di luar pekerjaan yang mau kamu diskusikan... jangan ragu untuk menghubungi Ibu kapan saja."
Jemari Bagas sengaja menyentuh kulit tangan Bu Maya secara halus saat menerima kartu nama tersebut. Sebuah gesekan kecil yang mengirimkan sinyal keberanian yang memikat.
"Pasti, Bu Maya. Saya akan menyimpan nomor pribadi Ibu ini dengan sangat baik," sahut Bagas seraya tersenyum penuh pesona. "Selamat beristirahat, Bu Maya. Semoga mimpi indah."
Bu Maya tersenyum manis, menganggukkan kepalanya pelan sebelum membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya dengan langkah anggun yang sedikit tergesa-gesa menutupi getaran di dadanya yang sudah lama tidak merasakannya.
Bagas berdiri mematung di samping mobilnya, memperhatikan punggung Bu Maya hingga pintu jati raksasa rumah itu tertutup rapat.
Begitu pintu rumah tertutup, raut wajah Bagas yang tadinya sopan dan empati seketika berubah seratus delapan puluh derajat! Senyuman miring yang penuh dengan keangkuhan, kesombongan, dan kejahatan langsung terkembang di wajahnya.
Bagas menatap kartu nama berbalut tinta emas di genggamannya, lalu mencium aroma wewangian mahal yang tertinggal di kartu itu.
Ia merogoh ponsel di saku jasnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada Rendy:
"Istri bos sudah di dalam genggaman gua. Siapkan BPKB mobil sport lu, Ren. Tiga bulan terlalu lama... Gua bakal selesaikan permainan ini jauh lebih cepat!"
Bagas tertawa pelan yang terdengar sangat sinis di tengah keheningan malam. Ia merasa dirinya adalah raja yang tak terkalahkan. Karirnya meluncur bagai roket, uangnya berlimpah, dan kini wanita berkelas dari kalangan atas pun mulai bertekuk lutut di bawah pesonanya.
Tanpa Bagas sadari, kesombongan gila dan kebanggaan palsu ini adalah awal dari lubang hitam raksasa yang sedang digalinya sendiri sebuah jerat jebakan yang kelak akan menghancurkan seluruh hidup dan karirnya hingga tak berbekas.
apakabar bagassss enak kedinginan diluar sanaaa🤣🤣🤣