GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Logistik Urana, Evolusi Sarkasme, dan Antrean Menantu
Sementara Arka dan YUI baru saja meninggalkan fasilitas medis di dek atas, suasana yang jauh lebih bising dan sibuk terjadi di lantai bawah kapal.
Dek Kargo Utama GPS Andromeda tidak bisa dibilang sekadar ruangan. Skalanya lebih mirip sebuah kota logam di dalam lambung kapal. Ratusan drone pengangkut berdengung mengudara di langit-langit setinggi tiga puluh meter, memindahkan kontainer-kontainer baja raksasa secara silang-menyilang. Di lantai bawah, puluhan kru logistik dari berbagai spesies alien berlalu-lalang menarik palet anti-gravitasi.
Di tengah hiruk-pikuk kosmik yang memekakkan telinga itulah, berdiri sebuah kantor berdinding kaca tebal kedap suara. Sebuah gelembung ketenangan milik sang Kepala Divisi Kargo.
Di dalam kantor tersebut, Null duduk diam di balik meja kerjanya. Pusaran materi gelap di wajahnya beriak tipis saat jemarinya mengetik laporan evaluasi harian di atas layar holografik.
Di seberang meja, Harry sang kurir duduk bersandar di kursi pengunjung dengan wajah ditekuk lesu. Tangannya mengelus kepalanya yang pelontos.
"Saya lagi nih, Pak, yang harus turun ngirim di pengiriman kedua?" keluh Harry.
Null tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Kamu kan gagal di pengiriman pertama tadi pagi."
"Nggak bisa gitu dong, Pak!" protes Harry tak terima. "Kan murni bukan salah saya. Pelanggannya sendiri yang tidak ada dirumah. Mana bel rumahnya suara burung tercekik lagi. Masa kurir yang disalahkan?"
Ha...kzzzzt...vrrr...ha...kshhh.
Alih-alih menjawab keluhan itu, Null justru tertawa. Namun, karena ia adalah entitas ras Voidwalker, suara tawanya tidak terdengar seperti makhluk biologis, melainkan gabungan suara radio rusak yang dicelupkan ke dalam air dan gesekan frekuensi televisi yang kehilangan sinyal.
Harry refleks meringis, merapatkan pundaknya, dan menutup rapat kedua telinganya. "Aduh, Pak, tolong jangan ketawa! Telinga saya sakit dengarnya. Ngilu nih."
Tawa statis itu berhenti. Null menekan tombol di layarnya.
"Ya sudah. Intinya, kamu tidak akan turun sendirian untuk jadwal berikutnya," jelas Null santai. "Paket kali ini tidak sedikit. Ada lima ratus boks dengan total berat tiga ton. Saya juga akan turun memimpin pengirimannya."
Mata Harry membulat. "Banyak amat, Pak? Tiga ton itu paket apaan sih?"
"Paket suplai makanan pokok," jawab Null. "GPS punya kontrak logistik jangka panjang dengan bangsa Urana. Kebetulan lintasan kapal kita melewati sistem galaksi mereka sekarang, jadi sekalian kita antar."
Harry mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba mengingat isi buku panduan ras alien. "Oh, Urana. Alien-alien melayang yang bentuk tubuhnya imut, tapi kalau ngomong kasarnya minta ampun itu, ya?"
Null mengangguk. "Beeetul."
"Saya pernah dengar cerita dari divisi ekspedisi lain," ucap Harry bergidik ngeri. "Katanya kalau kita kasih paket makanan ke mereka, bukannya bilang 'Terima kasih, orang baik', mereka malah bilang, 'Lama banget sih, kurir gembel!' Memang begitu, ya pak?"
"Iya. Katanya, gaya bahasa kasar mereka itu adalah hasil evolusi pertahanan diri supaya peradaban mereka tidak direndahkan oleh bangsa lain yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar."
Harry mendengus geli. "Ah, bohong itu, Pak. Mana ada teori evolusi bertahan hidup lewat jalur sarkasme dan maki-makian."
"Masuk akal atau tidak, teori itulah yang tercatat resmi di pangkalan data alam semesta."
Tok. Tok. Tok.
Perdebatan biologi mereka terpotong oleh ketukan di pintu.
"Masuk," kata Null.
Pintu geser otomatis terbuka. Sosok perempuan tinggi melangkah masuk membawa sebuah sabak digital.
Napas Harry seketika tercekat di tenggorokan.
Perempuan itu berasal dari ras Seraphi. Sepasang sayap kecil bersinar anggun di punggungnya. Wajah humanoidnya memancarkan ketenangan yang sulit dijabarkan. Namun yang paling menakjubkan adalah kulitnya; di balik seragam kerjanya, garis-garis tipis memancarkan cahaya keemasan yang mengalir halus di seluruh permukaan kulit tubuhnya, berdenyut pelan mengikuti irama napasnya.
Kehadirannya yang suci dan anggun seakan membuat suasana gudang kargo yang penuh oli dan keringat ini terasa seperti tempat yang salah untuknya.
"Oh, Eve," sapa Null datar. "Sudah selesai proses mapping tumpukan paket Urana-nya?"
Eve mengangguk, tersenyum simpul yang membuat ruangan itu seolah bertambah terang. "Sudah, Pak. Sesuai instruksi dari Kapten Arka, setelah memilah lima ratus paket ini..."
Suara merdu Eve perlahan memudar di telinga Harry. Waktu di dalam kepala kurir botak itu seolah berjalan sangat lambat.
Oh, Tuhan... batin Harry. Matanya terpaku tanpa berkedip. Malaikatkah dia ini?
Ibu...Anakmu yang botak ini akhirnya menemukan calon menantu...
Menyadari anak buahnya di seberang meja sedang melamun menatap staf barunya dengan mulut sedikit terbuka dan senyum-senyum tidak jelas, Null mendengus pasrah. Ia menjentikkan jarinya kuat-kuat tepat di depan wajah Harry.
"Har. Har. Harry!" panggil Null.
Harry terlonjak kaget di kursinya hingga nyaris terjungkal. "Eh, ah, iya! Kenapa, Pak?!"
"Sudah, sana keluar. Saya mau diskusi teknis jalur mapping paket sama Eve."
Harry langsung menggeleng kuat-kuat. Ia mencengkeram erat lengan kursinya. "Nggak boleh saya di sini aja, Pak?"
"Ngapain?"
"Biar Bapak ada temannya," elak Harry asal.
"Di luar, kontainer masih numpuk. Bantuin sana yang lain."
"Tolonglah, Pak," Harry menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memasang wajah memelas sambil melirik Eve yang tampak kebingungan. "Plis, Pak, biarkan saya diam di ruangan ini selamanya."
Null menatap kurirnya itu lekat-lekat. Merasa malas menghabiskan kalori untuk berdebat dengan makhluk biologis yang sedang kasmaran, Null mengangkat tangan kanannya.
Ia mencubit udara kosong di dekat kepalanya, menarik sejumput gumpalan materi gelap yang melayang bak rambut, lalu menggulungnya menjadi sebuah bola padat kecil di ujung jari.
Tanpa aba-aba, Null menyentil bola materi gelap itu ke arah dada Harry.
Zwuut!
Harry merasa perutnya seperti diaduk, sementara ruang dan waktu di sekitar kursinya melipat seketika bagai kertas. Ia merasa tubuhnya disedot paksa masuk ke dalam sedotan minuman.
Dalam sekejap mata, tubuh Harry lenyap dari dalam kantor.
***
Brukk!
Harry mendarat miring dengan keras di atas lantai logam yang dingin, tepat di luar pintu kaca kantor. Teknik pemindahan spasial khusus ras Voidwalker itu bekerja sempurna, membuang Harry keluar dari ruangan tanpa perlu repot-repot menyentuhnya secara fisik.
"Aduh!" Harry mengusap pinggangnya yang ngilu, lalu menatap tajam ke arah pintu kaca. "Dasar Voidwalker sialan! Ganggu orang lagi kasmaran aja."
Harry bangkit dan menepuk-nepuk celananya. Pikirannya kembali melayang pada senyuman dan garis-garis bercahaya di kulit perempuan tadi. "Siapa tadi namanya... Eve? Cakep bener. Nanti pas jam istirahat ganti shift, aku minta nomor komunikatornya, ah."
"Har, akhirnya kau keluar juga dari ruangan Pak Null."
Harry menoleh ke kiri. Di sebelahnya telah berdiri sesosok alien lendir berwarna hijau kebiruan yang tingginya hanya mencapai satu meter. Febri, alien dari ras Slime itu, bergoyang-goyang kecil layaknya jeli untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Ada apa, Feb?" tanya Harry santai.
Febri memajukan tubuhnya. "Paket VIP yang di Planet Gun'Mar tadi pagi... itu kan gagal terkirim. Nanti masih bakal dikirim ulang, kan?"
"Iya, kata Kapten Arka sih begitu. Nanti kita putar balik lagi ke Gun'Mar sesudah urusan paket makanan Urana ini selesai." Harry tanpa sadar mencuri pandang lagi ke arah pintu kaca kantor Null. "Udah kau taruh lagi di storage pengaman yang benar kan paketnya?"
"Udah, aman di brankas." Febri menyipitkan dua titik hitam yang berfungsi sebagai matanya di dalam cairan tubuhnya, menyadari gelagat temannya. "Dari tadi lagi ngeliatin apaan sih ke dalam?"
Harry buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ah, nggak ada. Ayo ke kantin yuk, aku belum makan siang nih."
Permukaan tubuh Febri beriak, membentuk lekukan melengkung yang menyerupai senyum menggoda. "Ooooh... aku tahu."
"Tahu apaan?"
"Kau pasti terpesona lihat anak baru itu kan? Si Eve, ras Seraphi itu?"
Wajah pucat Harry mendadak memerah. "Eve siapa? Apaan sih, nggak jelas."
"Halah, nggak usah sok-sokan nggak tahu gitu," ejek Febri. Tangan lendirnya menepuk pelan paha Harry hingga meninggalkan sedikit jejak basah. "Ras Seraphi memang terkenal cantik di seantero galaksi. Tapi, kalau kau mau dapetin hatinya dia, mending kau ambil nomor antrean dulu sana."
Harry mengernyit bingung. "Maksudmu?"
Febri mengangkat salah satu lengan slimenya, menunjuk ke arah deretan rak kargo raksasa yang menjulang tinggi tepat di belakang punggung Harry.
Harry menoleh mengikuti arah tunjuk Febri.
Pemandangan di sana membuat rahang Harry nyaris lepas.
Di balik tumpukan kotak kontainer yang remang-remang, bersandar di balik pilar baja penyangga, hingga di lorong rak paling atas... terdapat belasan alien kru logistik laki-laki dari berbagai macam spesies, saling berdesakan secara diam-diam.
Ada alien reptil setinggi dua meter yang mencoba bersembunyi di balik kardus mi instan berukuran setengah meter. Ada alien pohon yang pura-pura menscan dinding kosong yang tidak ada barcode-nya. Ada alien bermata sepuluh yang menempelkan semua matanya ke celah rak. Semuanya sedang memicingkan mata, menatap lekat-lekat ke arah pintu kaca kantor Null dengan tatapan penuh damba yang persis sama dengan tatapan Harry tadi.
Harry mematung menatap lautan buaya antar-galaksi tersebut. Pundaknya merosot jatuh seketika, dan harapan di hatinya hancur berkeping-keping.
Ya ampun... batin Harry nelangsa. Nggak jadi kayaknya, Bu. Calon menantumu saingannya satu batalyon...