Di desa Pantai Kelumbayan, Sumatera Barat, berdiri Batu Tujuh Sudut – batu karang legendaris yang dipercaya menyimpan jejak takdir setiap penghuni desa. Salma, cucu ahli warisan budaya, terpaksa menghadapi tekanan keluarga untuk menikah demi kepentingan ekonomi desa. Sementara itu, Yuda – pemuda yang gagal meraih impian di kota – kembali sebagai petugas pemantau ekosistem laut dan menemukan bahwa batu karang serta terumbu di sekitarnya akan dirusak oleh rencana pembangunan pariwisata besar.
Cinta tumbuh di antara mereka saat mereka berjuang bersama untuk melindungi alam dan budaya yang mereka cintai. Namun, beda latar belakang, tradisi yang kaku, dan takdir yang tak terduga menghadang hubungan mereka. Ketika badai besar menghantam dan kapal Yuda tenggelam dalam misi penyelamatan, Salma harus melanjutkan perjuangan sambil merenungkan makna sejati dari legenda batu karang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu yang Berdiri Kokoh
TAKDIR PADA BATU KARANG
Laut pagi di Pantai Kelumbayan masih mengeluarkan hembusan udara yang segar dan sedikit asin. Mentari baru mulai muncul dari balik bukit di ujung barat, menyinari permukaan air dengan warna keemasan yang merambat perlahan hingga menyentuh bibir pantai berpasir coklat kemerahan. Di kejauhan, sebuah bentangan batu karang raksasa berdiri kokoh seperti penjaga yang tak pernah lelah – bagian atasnya terpapar sinar matahari, sementara bagian bawahnya masih terendam dalam bayangan dan ombak yang terus menerus menyapunya.
“Batu Tujuh Sudut,” ucap Salma dengan nada lembut sambil menyisir rambutnya yang panjang dengan jari-jari yang tipis. Gaun panjang berbahan kain songket hitam dengan motif emas yang menjulang seperti puncak gunung menutupi tubuhnya, bagian roknya terbentang luas di atas pasir saat dia duduk bersila di bawah pohon bakau yang rindangnya. Tangan kanannya masih memegang selembar kain batik yang sedang dia kerjakan – pola lingkaran kecil yang menggambarkan gelembung ombak dan bentuk batu karang yang telah dia lukis dengan hati-hati.
“Sudah berapa lama kamu duduk di sini, Nak?”
Suara yang hangat membuat Salma menoleh. Kakeknya, Haji Mahmud, berdiri di belakangnya dengan tubuh yang sudah bungkuk tapi masih tegap. Baju melayu hitam yang dikenakannya tetap rapi, ditambah dengan ikat pinggang songket dan peci yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Di tangannya ada sebuah ember bambu berisi air kelapa muda yang masih segar.
“Sejak adzan subuh, Kakek,” jawab Salma sambil berdiri dan membantu kakeknya duduk di atas tikar anyaman yang telah dia siapkan sebelumnya. “Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengan batu hari ini. Seolah-olah dia sedang berbicara.”
Haji Mahmud menghela napas panjang sambil menatap batu karang yang berjuluk Batu Tujuh Sudut itu. Garis-garis di wajahnya yang penuh keriput tampak lebih jelas di bawah sinar matahari pagi. “Batu itu selalu berbicara, Salma. Hanya saja tidak semua orang bisa mendengarnya. Orang tua kita bilang, setiap lekukan di permukaannya adalah jejak dari takdir seseorang yang pernah hidup di desa ini. Tujuh sudutnya mewakili tujuh generasi yang telah menjaga Kelumbayan.”
Salma mendekatkan wajahnya pada kain batik yang sedang dia kerjakan. Pola batu karang yang dia gambar memang memiliki tujuh sudut yang jelas, sama seperti yang ada di tepi pantai. “Kenapa namanya Batu Tujuh Sudut, Kakek? Bukankah dari sini kelihatannya hanya ada lima sudut saja?”
“Karena dua sudut lainnya tersembunyi di bawah permukaan laut,” jawab kakek sambil mengambil irisan kelapa muda dari ember bambu dan memberikannya kepada Salma. “Legenda mengatakan, pada zaman dahulu, batu itu adalah rumah bagi seorang jin perempuan yang mencintai seorang nelayan muda. Ketika cinta mereka tidak bisa terwujud karena larangan adat, dia mengubah dirinya menjadi batu untuk selalu melindungi desa dan menunggu sang nelayan kembali.”
Salma mengangkat pandangannya ke arah batu karang. Di bagian tengah yang terkena sinar matahari, memang terlihat lekukan yang menyerupai wajah wanita yang sedang melihat ke arah laut jauh. “Apa sang nelayan pernah kembali, Kakek?”
Haji Mahmud menggeleng perlahan. “Tak seorang pun tahu pasti, Nak. Ada yang bilang dia tenggelam bersama kapalnya di tengah badai besar, ada juga yang bilang dia pergi ke daratan jauh dan tidak pernah kembali. Yang jelas, batu itu tetap berdiri di sana – saksi bisu dari semua suka dan duka desa ini.”
Suara mesin kapal kecil tiba-tiba terdengar dari arah laut. Mereka berdua menoleh dan melihat sebuah perahu nelayan sedang mendekati dermaga kayu yang sudah tua. Di sekitar kapal, beberapa orang nelayan sedang bekerja dengan giat, menarik jaring yang penuh dengan ikan. Di antara mereka, sosok seorang pemuda yang mengenakan kaos putih dan celana panjang biru tua terlihat lebih tinggi dari yang lain. Dia sedang membantu menarik tali jaring dengan kekuatan yang luar biasa, wajahnya penuh konsentrasi meskipun keringat sudah menetes di pipinya.
“Siapa orang itu, Kakek?” tanya Salma dengan penasaran. Dia tidak pernah melihat wajah pemuda itu sebelumnya.
“Namanya Yuda,” jawab Haji Mahmud sambil mengurut perutnya yang sudah mulai terasa sakit. “Kembali dari Jakarta sekitar seminggu yang lalu. Anak dari Pak Soleh yang dulu berjualan ikan bakar di tepi pantai. Katanya dia bekerja di perusahaan besar sana, tapi sekarang kembali dan ingin membantu menjaga ekosistem laut desa.”
Salma terus menatap sosok Yuda yang kini sedang berbicara dengan salah satu nelayan, tangannya masih terus bekerja tanpa berhenti. Ada sesuatu dari sikapnya yang membuat Salma tidak bisa mengalihkan pandangannya – seperti rasa tekun yang sama ketika dia sedang mengerjakan kain batiknya.
“Kita harus pulang sekarang, Nak,” ucap Haji Mahmud sambil berdiri perlahan. “Kakakmu akan datang besok dengan keluarganya untuk membicarakan sesuatu yang penting. Ayahmu bilang kita harus siap.”
Salma mengangguk dan mulai mengumpulkan barang-barangnya. Sebelum berdiri, dia melihat sekali lagi ke arah Batu Tujuh Sudut. Seolah ada sinar khusus yang menyinari salah satu lekukan di batu itu – sebuah bentuk yang menyerupai wajah pemuda yang sedang melihat ke arah daratan. Salma mengerutkan keningnya. Apakah dia hanya khayalan saja? Atau apakah batu itu memang sedang memberitahukan sesuatu padanya?
“Mari, Salma,” ucap kakeknya lagi dengan suara yang lebih keras.
Salma mengangguk dan mulai berjalan mengikuti langkah kakeknya yang lambat menuju desa. Tapi setiap beberapa langkah, dia tidak bisa tidak melihat ke belakang – ke arah batu karang yang berdiri kokoh, dan ke arah pemuda yang masih sibuk bekerja di dermaga. Di dalam hatinya, muncul rasa penasaran yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Mentari pagi semakin tinggi, menyinari seluruh desa Pantai Kelumbayan dengan cahaya yang hangat. Di balik kabut tipis yang menyelimuti laut jauh, ombak terus menerus menyapukan Batu Tujuh Sudut – seperti ingin menyampaikan pesan yang telah tersembunyi selama berabad-abad.