NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Selamat Pagi, Pak Tan!

Sejak mobil Darren pergi ke Depok, kursi roda Tan Ardian memang tidak pernah benar-benar menjauh dari arah pintu.

Awalnya ia hanya duduk di ruang tengah.

Lalu bergeser ke dekat jendela.

Lalu, entah sejak kapan, posisinya menjadi tepat menghadap pintu utama.

Tidak ada yang berani bertanya.

Handi datang malam itu membawa kabar bahwa kontrak sudah ditandatangani. Darren pulang dengan wajah terlalu cerah, perut terlalu penuh, dan dua kotak makan dari keluarga Budiman. Ia hampir berlari masuk.

"Koko, berhasil!"

Ardian menatap kotak makan di tangannya. "Dia di mana?"

"Mbak Sekar pulang dulu. Keluarganya minta dia istirahat akhir pekan. Senin pagi dia kembali."

Kalimat itu seharusnya cukup.

Senin pagi.

Hanya dua hari.

Tetapi bagi rumah yang baru saja kehilangan suara langkah seseorang, dua hari ternyata bisa menjadi sangat panjang.

Ardian hanya berkata, "Oh."

Darren menunggu. "Koko tidak mau tanya apa-apa lagi?"

"Tidak."

"Tidak mau tahu syaratnya?"

"Kamu sudah setuju?"

"Iya."

"Berarti selesai."

Darren menatap kakaknya. Lalu menatap kursi roda yang menghadap pintu.

"Koko, Senin masih dua hari lagi."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa duduknya seperti satpam?"

Ardian menoleh pelan.

Darren langsung mundur. "Aku pergi makan kotak dari Tante Meli."

Malam itu, sebelum Darren sempat benar-benar menikmati makanan kiriman keluarga Budiman, telepon dari Tan Hendrawan masuk.

Suara ayah mereka terdengar dingin bahkan lewat speaker.

"Kamu membiarkan pengasuh itu kembali?"

Darren berdiri di ruang kerja, menatap Ardian yang tetap menghadap jendela. "Papa, Koko butuh orang yang mengerti jadwal pemulihannya."

"Yang dia butuhkan adalah kontrol diri. Bukan orang yang menendang tamu."

Darren menggenggam ponsel lebih kuat. "Kevin bukan tamu biasa."

"Jangan membantah."

Kalimat itu seperti pintu yang langsung ditutup. Darren menelan jawabannya.

Tan Hendrawan melanjutkan, "Aku kecewa padamu. Sejak kakakmu kecelakaan, kamu makin tidak bisa membedakan urusan keluarga dan perasaan."

Darren menatap lantai.

Di dekat jendela, jari Ardian bergerak sedikit di sandaran kursi roda.

"Maaf, Papa," kata Darren akhirnya.

Panggilan berakhir.

Ruang kerja diam. Darren memaksa tertawa kecil. "Aku dimarahi. Jadi kontraknya makin sah. Kalau Papa marah, biasanya keputusan kita benar."

Ardian tidak tertawa.

"Darren."

"Iya?"

"Lain kali jangan angkat teleponnya di depanku."

Darren tertegun. "Koko..."

"Pergi makan."

Darren ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. Ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kalimat lucu.

Sabtu berlalu tanpa Sekar.

Rumah Tan kembali berjalan sesuai jadwal lama. Dapur menyiapkan makanan mahal yang disentuh sedikit. Perawat kiriman Rio datang untuk pemeriksaan ringan, tetapi Ardian menolak pijat lebih dari sepuluh menit. GoFood datang dua kali. Satpam melapor, paket datang. Bodyguard berganti shift.

Semua berjalan.

Tidak ada yang hidup.

Ardian duduk di depan pintu utama sejak pagi. Di atas meja kecil di sampingnya, kotak makan dari Halim Meliana masih ada. Darren sudah memanaskannya sekali, tetapi Ardian hanya membuka tutupnya sebentar.

Bubur kacang merah dan ubi.

Manis.

Ia tidak makan manis.

Namun tutup kotak itu ia pasang kembali dengan lebih hati-hati daripada perlu.

Siang menjadi sore. Sore menjadi malam. Darren beberapa kali lewat, pura-pura mengambil air, pura-pura mencari charger, pura-pura tersesat di rumah sendiri. Setiap kali, Ardian tetap di posisi yang hampir sama.

"Koko, punggungmu tidak pegal?"

"Tidak."

"Mau pindah ke ruang TV?"

"Tidak."

"Mau aku nyalakan drama Valencia?"

"Pergi."

Darren pergi.

Minggu tidak lebih baik.

Rumah itu terlalu besar untuk satu orang yang menunggu tanpa mengaku menunggu. Dulu Ardian mengira rumah ini memang selalu sepi. Setelah Sekar datang, ia baru sadar sepi ternyata punya banyak jenis. Ada sepi yang biasa. Ada sepi yang dingin. Ada sepi yang membuat suara lift turun pun terdengar seperti harapan bodoh.

Beberapa kali roda kursinya bergerak sedikit ke arah pintu saat interkom berbunyi.

GoFood.

Kurir.

Satpam.

Bukan dia.

Setiap kali, Ardian mundur lagi. Wajahnya tetap datar. Hanya matanya yang makin gelap.

Darren sebenarnya sudah mengirim pesan pada Sekar malam itu.

Mbak Sekar, besok jadi datang, kan?

Balasannya masuk lima menit kemudian.

Jadi. Senin pagi sesuai kontrak. Jangan lupa siapkan jadwal pijat dan sarapan Pak Tan.

Darren membaca pesan itu dua kali, lega sampai hampir berteriak. Ia ingin menunjukkannya pada Koko, tetapi ketika melihat Ardian duduk di ruang tengah dengan wajah "aku sama sekali tidak peduli", nyalinya mengecil.

"Mbak Sekar bilang besok pagi," katanya akhirnya.

"Aku tidak tanya."

"Aku cuma memberi informasi."

"Tidak perlu."

Darren memasukkan ponsel ke saku. Setelah itu ia lupa menyebut jam tepatnya. Bagi orang normal, Senin pagi sudah cukup. Bagi Tan Ardian yang sedang pura-pura tidak menunggu, rupanya tidak.

Senin datang dengan langit Jakarta yang masih pucat.

Pukul enam lewat tiga puluh, Ardian sudah berada di ruang tengah. Kemejanya rapi. Rambutnya disisir. Di meja samping, sticky note kuning baru sudah tersedia, meski belum ada tulisan.

Ia bahkan sempat menyuruh staf mengepel ulang area dekat pintu karena menurutnya lantai terlalu licin. Padahal lantai itu sudah mengilap sejak subuh. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa koper kecil seseorang mungkin akan lebih mudah masuk kalau jalurnya bersih.

Darren turun dengan piyama motif sapi dan berhenti di tangga.

"Koko... kamu bangun jam berapa?"

"Baru."

Handi yang lewat membawa dokumen berbisik, "Pukul lima."

Darren menatap Handi penuh rasa terima kasih karena sudah menghancurkan kebohongan Koko secara profesional.

Ardian tidak peduli.

Pukul tujuh, bel pintu berbunyi.

Suara itu kecil.

Tetapi bagi Ardian, seluruh rumah seperti ikut berhenti.

Darren langsung berdiri tegak. "Aku buka!"

"Duduk."

Darren duduk lagi, sangat cepat.

Pintu utama dibuka oleh staf rumah.

Budiman Sekar berdiri di ambang pintu dengan ransel di bahu, koper kecil di samping kaki, dan bandana pink bunga yang membuat wajahnya tampak seperti pagi yang berani masuk ke rumah terlalu dingin.

Ia melihat Ardian.

Lalu tersenyum seperti tidak pernah dipecat, tidak pernah pergi, tidak pernah membuat rumah ini kehilangan suara selama dua hari.

"Selamat pagi, Pak Tan!"

Ardian menatapnya.

Untuk sesaat, tidak ada kalimat yang keluar. Hanya sesuatu di dadanya yang terlalu cepat naik, seperti napas yang hampir salah tempat.

Ia memutar kursi rodanya sedikit, membuang wajah ke arah jendela.

"Kamu terlambat."

Sekar melihat jam di dinding. "Masih pukul tujuh tepat."

"Menurut standar rumah ini, terlambat."

Darren menutup mulut dengan dua tangan.

Sekar menunduk mengambil koper. "Baik. Mulai besok saya datang enam lima puluh sembilan."

Ardian tidak menjawab.

Ia tetap menghadap jendela, tidak membiarkan siapa pun melihat matanya yang merah.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!