NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Mereka sudah mencoba menguncinya dari luar.

Keesokan paginya, kalimat itu menjadi kenyataan.

Dosen pembimbing Kiana mengirim WhatsApp sebelum ia naik pesawat kembali ke Jakarta.

Bu Ratna: Kiana, soal rekomendasi ke Prof. Yansen, sementara jangan berharap terlalu banyak. Ada pihak sponsor kampus yang meminta berkasmu ditahan dulu. Katanya perlu verifikasi tambahan.

Kiana membaca pesan itu tiga kali.

Sponsor kampus.

Ia bahkan tidak perlu bertanya nama. Di dunia yang pernah ia tinggali selama tujuh tahun, Jovian selalu punya cara bersih untuk melakukan hal kotor. Satu telepon ke dekan, satu makan malam dengan yayasan, satu kalimat "demi reputasi kampus", lalu pintu yang baru terbuka bisa tertutup tanpa suara.

Di bandara, Kiana berdiri di antara orang-orang yang menarik koper, tetapi dadanya terasa seperti ditinggalkan sendiri di ruang sidang kemarin.

Jovian bukan hanya ingin ia kembali.

Ia ingin ia tetap kecil.

Saat pesawat mendarat di Jakarta, hujan sudah berhenti. Kiana tidak langsung pulang. Di dalam mobil menuju apartemen, ia membuka kontak lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia berani sentuh.

Prof. Yansen Herlambang.

Nomor itu dulu diberikan langsung oleh sang profesor setelah seminar nasional. Saat itu Kiana baru lulus SMA. Prof. Yansen berkata, "Kalau kamu ingin belajar serius, hubungi saya." Ia tidak menghubungi. Jovian bilang kampus pilihannya lebih dekat dengan rencana masa depan mereka.

Tahun ketiga kuliah, Prof. Yansen sekali lagi mengundangnya ikut riset musim panas. Ia menolak lagi karena Jovian sedang sakit ringan dan ia ingin menemani.

Dalam kehidupan sebelumnya, ketika ia akhirnya sadar betapa bodohnya semua pilihan itu, Prof. Yansen sudah sakit. Ia mencoba datang. Sang profesor menolak bertemu.

Kalimat terakhir yang ia dengar dari asisten Prof. Yansen masih menempel seperti duri.

Beliau bilang, murid yang berkali-kali meninggalkan jalannya sendiri tidak perlu ditarik lagi.

Kiana menatap layar ponsel sampai huruf-hurufnya kabur.

Lalu ia mengetik.

Kiana: Prof, ini Kiana Lim. Saya tidak tahu apakah nomor ini masih aktif. Saya pernah mengecewakan Anda dua kali. Kalau masih ada kesempatan, apakah Prof masih menerima murid?

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan.

Satu jam.

Satu hari.

Dua hari.

Kiana tetap bekerja. Ia menyelesaikan revisi demo Vista Home bersama tim Navara, mengecek ulang modul evakuasi, menjawab laporan Fang, dan berpura-pura tidak setiap lima menit melihat ponselnya.

Pada pagi hari ketiga, ia berhenti berpura-pura.

Ia membeli roti gandum hangat dari bakery kecil di Menteng, satu kotak teh oolong, dan suplemen mata untuk orang tua yang terlalu lama membaca layar. Lalu ia meminta sopir online mengantarnya ke Kediaman Prof. Yansen.

Rumah itu berada di jalan teduh Menteng, tidak terlalu mencolok, tetapi terasa berlapis sejarah. Pagar besinya tinggi, halaman dalamnya rapi, dan pohon besar di sisi kiri membuat udara lebih sejuk daripada jalan raya.

Kiana baru turun ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.

Jovian keluar lebih dulu.

Di belakangnya, Vanya turun dengan gaun putih sederhana, membawa map kulit mahal dan senyum yang sudah dipoles lembut. Mereka tampak seperti pasangan sempurna yang sedang mengantar masa depan ke pintu orang besar.

Jovian melihat Kiana. Matanya tidak terkejut, seolah sejak awal ia tahu Kiana akan datang.

"Kiana," katanya. "Kamu keras kepala sekali."

Kiana memegang kantong roti lebih erat. "Aku datang menemui Prof. Yansen."

Vanya menurunkan mata, suaranya halus. "Aduh, Kiana. Aku baru saja selesai bertemu Prof. Beliau sangat sibuk. Mungkin hari ini tidak bisa menerima tamu lagi."

"Aku bisa menunggu."

Jovian tersenyum tipis. "Untuk apa? Kamu pikir satu tesis bagus cukup membuat Prof. Yansen menerima murid? Vanya lulusan MIT. Kamu dari universitas swasta biasa. Dunia akademik juga punya standar."

Kiana menatapnya. "Standar akademik bukan standar siapa yang kamu antar."

Wajah Jovian mengeras.

Vanya buru-buru menyentuh lengan Jovian. "Sudahlah, Kak. Jangan bikin Kiana malu di depan rumah Prof."

Kalimat itu seperti perhatian, tetapi cukup keras untuk didengar satpam di pos kecil.

Kiana tidak membalas. Ia berjalan ke pos dan menyampaikan namanya kepada asisten rumah yang keluar.

"Maaf, Bu Kiana," kata pria paruh baya itu sopan. "Prof sedang istirahat."

"Saya tunggu."

"Mungkin lama."

"Tidak apa-apa."

Jovian menggeleng. "Kamu selalu begini. Kalau tidak dapat yang kamu mau, kamu memaksakan diri sampai orang lain iba."

Kiana duduk di bangku batu dekat pagar.

"Kalau kamu sudah selesai bicara, silakan pergi. Aku sedang menunggu masa depanku, bukan masa laluku."

Kali ini, wajah Jovian benar-benar berubah.

Vanya menariknya pergi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu yang lebih buruk.

Satu jam pertama, Kiana membuka laptop dan bekerja. Matahari bergerak dari balik daun. Dua email Navara selesai ia balas.

Jam kedua, baterai laptop menipis. Ia menyimpan file, lalu membaca ulang proposal Vista Home di tablet.

Jam ketiga, punggungnya mulai sakit dan pergelangan kakinya berdenyut. Asisten rumah beberapa kali keluar membawa air mineral, wajahnya makin tidak tega.

"Bu, mungkin Prof benar-benar tidak bisa menerima hari ini."

Kiana tersenyum. "Saya tahu."

"Kalau begitu..."

"Saya pergi sebentar. Tolong sampaikan kalau Prof bertanya, saya kembali sepuluh menit lagi."

Asisten itu tampak lega, mungkin mengira ia akhirnya menyerah.

Di lantai dua rumah, di balik tirai tipis ruang kerja, Prof. Yansen Herlambang menatap layar monitor CCTV dengan alis berkerut.

Pria tua itu kurus, rambutnya sudah putih seluruhnya, tetapi matanya tajam seperti pisau bedah. Di sampingnya, seorang asisten muda berdiri kaku.

"Dia pergi?" tanya Prof. Yansen.

"Sepertinya begitu, Prof."

"Dasar anak tidak sabaran." Prof. Yansen berdiri terlalu cepat sampai asisten muda hampir menahannya. "Suruh orang ke depan. Kalau dia sudah naik mobil, kejar. Bilang saya belum selesai mengujinya."

Asisten muda itu baru berbalik ketika asisten rumah dari bawah mengetuk pintu.

"Prof, Bu Kiana kembali."

Prof. Yansen berhenti.

"Kembali?"

"Iya. Beliau tadi hanya membeli bubur ayam dan kopi tanpa gula. Katanya Prof mungkin belum makan siang."

Ruangan hening.

Prof. Yansen menarik napas panjang, lalu mendengus. "Siapa yang bilang saya suka bubur ayam?"

Asisten rumah menunduk. "Beliau bilang orang yang sengaja membuat tamu menunggu tiga jam biasanya terlalu keras kepala untuk ingat makan."

Asisten muda menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan senyum.

Sepuluh menit kemudian, Kiana berdiri di ruang kerja Prof. Yansen.

Ruang itu penuh buku, papan tulis, dan kertas coretan rumus. Tidak ada dekorasi mahal. Hanya pengetahuan yang menumpuk sampai udara terasa padat.

Prof. Yansen duduk di balik meja, wajahnya galak.

"Kamu masih ingat jalan ke sini."

Kiana membungkuk. "Saya terlambat terlalu lama, Prof."

"Dua kali saya beri kesempatan. Dua kali kamu memilih laki-laki."

Kalimat itu menusuk tepat, tetapi Kiana tidak menghindar.

"Benar."

"Sekarang laki-laki itu tidak memilih kamu, baru kamu ingat belajar?"

"Tidak." Kiana mengangkat wajah. "Sekarang saya ingat bahwa sebelum saya ingin dicintai siapa pun, saya pernah ingin menjadi seseorang."

Mata Prof. Yansen berubah sedikit.

Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah buku tebal bersampul hitam, lalu melemparkannya ke meja dengan suara berat.

Di sampulnya tertulis: Kitab Cyber.

"Baca."

Kiana menyentuh buku itu seperti menyentuh benda panas.

"Ini..."

"Catatan saya sendiri. Belum pernah diterbitkan. Kalau kamu bisa memahami sepertiganya, datang lagi. Kalau tidak bisa, jangan buang waktu saya."

Kiana memeluk buku itu ke dada. Untuk pertama kalinya hari itu, sesuatu di dalam dirinya terasa longgar.

"Terima kasih, Prof."

"Jangan terima kasih dulu." Prof. Yansen menatapnya tajam. "Kalau kali ini kamu kabur lagi, saya tidak akan membuka pintu kedua kali. Vanya juga lumayan. Paling tidak dia datang tepat waktu."

Kiana tahu itu pancingan. Tahu juga pria tua itu sedang menyembunyikan hati lembut di balik kata-kata paling tajam yang bisa ia temukan.

Ia tersenyum pelan.

"Kalau saya kabur lagi, Prof boleh menutup pintu. Tapi saya tidak akan kabur."

Prof. Yansen mendengus.

"Kita lihat."

Kiana keluar dari Kediaman Prof. Yansen dengan Kitab Cyber di pelukan. Di luar pagar, matahari Menteng mulai turun, dan jalan yang tadi terasa panjang kini tampak seperti awal.

Untuk pertama kalinya setelah kelahiran kembali, ia merasa bukan hanya sedang memutus masa lalu.

Ia sedang mengambil kembali dirinya sendiri.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!