NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Tugas kelompok dan Kehebohan Minda

Hari Sabtu yang biasanya tenang di rumah Lila mendadak berubah total.

Hari itu, kelompok biologi kelas X-5 yang terdiri dari Minda, Lila, dan dua teman lainnya, sepakat untuk mengerjakan tugas membuat maket sel hewan di rumah Lila.

Bagi Minda, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kediaman sahabatnya.

Bagi Lila, ini adalah ujian kesabaran terbesar dalam hidupnya.

Rumah Lila adalah cerminan sempurna dari kepribadiannya: minimalis, serba putih, sangat rapi, dan memiliki keheningan yang menyerupai perpustakaan kota.

tek-tok.. tek-tok... (Suara detak jam dinding berbunyi)

Jangankan suara teriakan, suara detak jam dinding pun bisa terdengar jelas di ruang tamu itu.

"Permisi! Paket energi X-5 datang!" seru Minda saat pintu rumah dibuka.

Suaranya langsung memantul di dinding-dinding rumah Lila yang sepi, membuat kucing persia putih milik Lila yang sedang tidur di sofa langsung meloncat kaget dan lari bersembunyi di bawah kolong meja.

"Sstt... Minda, pelan-pelan. Ibu aku lagi istirahat di kamar atas," bisik Lila sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

Minda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya mengerling jenaka.

"Ups, maaf, Li! Kebiasaan di angkot tadi," bisiknya dengan volume yang sebenarnya masih terhitung keras untuk standar rumah Lila.

Bencana komedi dimulai ketika mereka mulai mengeluarkan alat dan bahan di ruang tengah.

Minda membawa stereofom besar, plastisin warna-warni, lem tembak, cat arkrilik, dan gunting.

Srttt... (Suara bunyi decitan resleting tas)

Minda membuka tasnya, isi tasnya yang berantakan langsung tumpah ke lantai karpet bulu milik Lila yang bersih tanpa noda.

Byur!....

"Aduh, Lila! Maaf! Ini plasitisinnya kok agak meleleh ya karena kepanasan di jalan!" pekik Minda heboh saat melihat plastisin hijau terang menempel di karpet.

Lila yang melihat itu langsung melebarkan matanya panik.

Dengan kecepatan kilat yang belum pernah dilihat Minda sebelumnya, Lila berlari ke dapur mengambil tisu basah dan cairan pembersih.

Sambil berlutut, Lila menggosok karpetnya dengan penuh dedikasi. "Minda, tolong, pengerjaan catnya di atas koran saja ya. Jangan sampai ada yang netes," ujar Lila dengan suara yang bergetar menahan cemas.

Proses pembuatan maket pun dipenuhi aksi kocak karena gaya kerja mereka yang bertolak belakang.

Lila bertugas memotong stereofom dengan penggaris dan cutter secara presisi, milimeter demi milimeter.

Sementara Minda bertugas mencampur warna cat untuk bagian sitoplasma.

"Lila, lihat deh! Ini warna organel mitokondrianya keren banget kan? Kayak warna gulali di pasar malam!" seru Minda sambil mengacungkan kuas yang penuh dengan cat merah muda terang.

Karena terlalu bersemangat mengepakkan tangannya secara teatrikal, beberapa cipratan cat pink melesat terbang.

Ciiiipp.....

Beruntung tidak kena karpet, tapi mendarat tepat di ujung hidung Lila dan pipi mulus Minda sendiri.

Lila membeku, sementara dua teman kelompok mereka yang lain langsung menahan tawa sampai pundak mereka terguncang.

Lila menghela napas panjang, menatap Minda lewat pantulan cermin kecil di meja.

"Minda... hidung aku jadi mitokondria sekarang?" Minda terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal di lantai.

"Hahaha! Maaf, Li! Tapi jujur, kamu kelihatan estetik banget kayak model-model pameran seni!" Minda segera mengambil tisu dan membersihkan hidung Lila dengan gemas.

Kekacauan memuncak saat mereka harus menggunakan lem tembak untuk merekatkan organel-organel sel dari plastisin ke stereofom.

Minda yang tidak sabaran mencoba menekan pelatuk lem tembak terlalu keras.

Bukannya keluar perlahan, lem panas itu justru muncrat membentuk benang-benang putih panjang yang melayang ditiup angin kipas angin.

"Aaaaa! Benang laba-laba! Spider-Man beraksi!" teriak Minda panik saat benang lem itu menempel di rambutnya sendiri dan menjuntai ke mana-mana.

Ia bergerak heboh mencoba melepaskan lem tersebut, yang malah membuat benang lemnya melilit ke lengan baju Lila.

Suasana ruang tamu yang tadinya tenang kini berubah seperti medan perang kerajinan tangan.

Lila yang biasanya kalem terpaksa ikut bergerak cepat, memegangi tangan Minda agar berhenti berputar-putar.

"Minda, diam dulu! Kalau kamu gerak terus, nanti rambut kamu kepotong semua!" perintah Lila, mencoba mengambil kendali situasi dengan memotong benang lem menggunakan gunting.

Setelah tiga jam yang penuh dengan kepanikan, tawa, dan kepasrahan Lila, maket sel hewan kelas X-5 akhirnya selesai.

Hasilnya luar biasa indah dan rapi—berkat ketelitian Lila yang mengoreksi semua bagian miring yang dibuat Minda, serta berkat sentuhan warna berani yang disarankan oleh Minda.

Rumah Lila memang tidak lagi sebersih tadi pagi, ada beberapa remah stereofom yang tertinggal dan aroma cat yang pekat, tetapi untuk pertama kalinya, rumah yang biasanya sepi itu terasa begitu hidup dan hangat.

Tap-tap-tap...

Ibu Lila yang baru turun dari kamar atas bahkan tersenyum melihat kehebohan mereka dan menyuguhkan camilan.

Sambil menikmati es sirop, Minda menyenggol bahu Lila.

"Gimana, Li? Seru kan kerja kelompok sama aku? Rumah kamu jadi punya aura kehidupan baru!"

Lila menyeruput siropnya, lalu menatap sekeliling ruang tamunya yang sedikit berantakan, kemudian beralih menatap wajah Minda yang masih ada noda cat pink.

Lila tertawa kecil tanpa menutupi mulutnya lagi.

"Iya, seru banget. Tapi setelah kalian pulang, aku mau deep cleaning rumah ini seminggu penuh, Minda," canda Lila, yang langsung disambut sorakan protes bernada canda dari Minda.

________________

Tap.. tap.. tap....

Begitu kaki mereka melangkah keluar dari pagar rumah Lila, energi Minda yang sempat "tertahan" demi menghormati ketenangan rumah langsung meledak kembali.

Sambil membetulkan tali tasnya yang miring, Minda tiba-tiba berhenti di pinggir jalan, berbalik menghadap Lila, dan menepuk kedua pundak sahabatnya itu dengan mata berbinar-binar.

"Lila! Tugas maket biologi kita akhirnya selesai dan otak aku resmi butuh asupan gizi tingkat tinggi! Kamu tahu nggak, persis di dekat pertigaan depan sana, ada kuliner legendaris yang rasanya bisa bikin kita sungkem sama penjualnya?" seru Minda dengan volume suara yang kembali ke setelan pabrik—alias menggelegar sampai mengundang perhatian bapak-bapak yang sedang menyapu halaman.

Lila mengerjapkan mata, refleks mundur selangkah karena kaget.

"Kuliner apa, Minda? Jangan bilang batagor lagi..."

"Bukan! Ini jauh lebih dahsyat, Lila!" Minda menggelengkan kepalanya dengan dramatis, tangannya mulai bergerak aktif memperagakan sebuah adegan.

"Ini adalah seblak kuah jebred level dewa! Tapi dengerin dulu, ini bukan seblak biasa. Kuah merahnya itu kental, wangi daun jeruknya langsung menusuk hidung dari jarak lima meter, dan taburan cikurnya... beuh, melimpah ruah kayak pasir di pantai!"Minda memejamkan mata, memegang dadanya seolah sedang mengecap kelezatan seblak itu di dalam imajinasinya.

"Bayangin ya, Li. Setelah kita perang sama lem tembak dan cat akrilik sampai pusing, kita duduk di depan mangkok seblak yang masih ngebul. Begitu kuahnya disendok... slurp... rasanya tuh pedas, gurih, manis, bercampur jadi satu simfoni yang meledak di dalam mulut! Langsung bikin mata merem-melek, keringat bercucuran, dan semua beban pikiran tentang sel hewan langsung menguap ke angkasa!" pekik Minda heboh, kali ini sambil melakukan gerakan tangan seperti kembang api meletus.

Lila yang awalnya lelah setelah mendampingi kehebohan Minda di rumahnya, entah kenapa tiba-tiba menelan ludah.

Deskripsi Minda yang kelewat ekspresif dan penuh penghayatan itu mendadak terdengar sangat menggoda di telinganya yang sedang lapar.

"Tapi yang paling juara itu topping-nya, Lila!" Minda menggoyang-goyangkan lengan baju Lila dengan gemas.

"Ada kerupuk oren yang kenyal-kenyal manja, mi instan yang masaknya pas nggak kematangan, sosis, bakso sapi yang uratnya berasa banget, dan... bintang tamunya: ceker tanpa tulang yang lembutnya minta ampun! Begitu digigit, langsung lumer, Li! Lumer kayak es krim di tengah terik matahari!"

Dua teman kelompok mereka yang baru keluar dari pagar rumah Lila langsung tertawa terbahak-bahak mendengar monolog kuliner Minda.

"Minda, kamu kalau jualan seblak pasti laku keras deh. Promosinya niat banget sampai mau nangis gitu mukanya," goda salah satu teman mereka.

Lila akhirnya tidak bisa menahan senyumnya lagi. Perutnya sendiri mulai berbunyi setuju dengan seluruh khayalan estetis yang dibangun oleh Minda.

"Minda, kalau kuahnya semenarik itu, level pedasnya ada yang aman buat aku nggak? Kamu tahu sendiri kan aku nggak sekuat kamu kalau makan pedas."

Minda langsung menjentikkan jarinya dengan heboh.

"Aman terkendali, Tuan Putri Lila! Di sana ada Level setengah, namanya Level Amatir. Pas buat kamu yang anggun begini. Nah, kalau aku jelas Level Mahaguru, biar cabainya nendang sampai ke ubun-ubun!" Minda langsung merangkul pundak Lila dengan penuh semangat, menuntun sahabat pendiamnya itu berjalan cepat menuju pertigaan jalan.

"Ayo cepat, sebelum kehabisan ceker tanpa tulangnya! Hari ini Minda si ahli seblak bakal mentraktir kamu sebagai hadiah karena karpet kamu sudah ternoda oleh plastisin hijau!"

Lila hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah sekaligus bahagia.

Bersama Minda, perjalanan pulang sekolah atau sepulang kerja kelompok tidak pernah menjadi momen yang biasa-biasa saja. Selalu ada drama, tawa, dan petualangan rasa yang menanti mereka di setiap sudut jalan.

Bersambung~~~

Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!