NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.

Malam yang panjang itu perlahan berganti menjadi pagi yang dingin. Di atas sofa, Rafael sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia duduk diam, memperhatikan gundukan selimut di atas ranjangnya. Freya tampaknya baru bisa tertidur beberapa jam yang lalu setelah lelah menangis.

​Rafael bangkit, melangkah mendekati ranjang dengan suara langkah kaki yang sengaja disamarkan. Ia menatap wajah Freya yang tampak begitu pucat dalam tidurnya. Sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya, dan bibir indahnya sedikit bengkak akibat lumatannya yang kasar semalam. Kemeja hitam sutra milik Rafael tampak terlalu besar di tubuh mungil itu, mengekspos leher jenjangnya yang kini dipenuhi tanda kemerahan yang mencolok.

​Saat Rafael mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut yang menutupi kening Freya, kelopak mata wanita itu bergerak. Freya terbangun.

Begitu menyadari keberadaan Rafael yang berada sangat dekat di atasnya, Freya tersentak hebat dan langsung merangkak mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

​"J-jangan... jangan mendekat," bisik Freya, suaranya parau dan habis. Matanya memancarkan ketakutan yang teramat dalam.

​Rafael menarik kembali tangannya, lalu bersedekap dada. Wajahnya kembali mengeras, dipenuhi wibawa dingin seorang Tuan Besar Ravindra.

​"Kau tidak perlu ketakutan seperti itu. Aku tidak akan menyentuhmu lagi pagi ini," kata Rafael datar.

​"Keluar... aku mohon, Papa keluar dari kamarmu sendiri. Biarkan aku pergi ke kamarku," lirih Freya, air matanya kembali menggenang. Rasa perih dan berdenyut di area intinya setiap kali ia bergerak seolah menjadi alarm yang terus menerus meneriakkan dosa yang telah terjadi.

​"Kau tidak akan ke mana-mana dengan kondisi seperti itu, Freya," sahut Rafael dingin. Tatapannya turun ke arah leher Freya. "Lihat tubuhmu. Jika kau keluar dari kamar ini sekarang, Bi Sofi atau pelayan lain akan langsung tahu apa yang terjadi semalam. Kau ingin seluruh rumah ini tahu?"

​Freya spontan menarik kerah kemeja hitam itu ke atas, mencoba menutupi lehernya. Tubuhnya bergetar hebat. "Ini semua karena Papa! Kenapa Papa tega melakukan ini padaku?! Aku menantumu... Demi Tuhan, aku ini istri anakmu!"

​"Aku sudah katakan semalam, dan akan aku ulangi lagi pagi ini," Rafael melangkah satu kali lebih dekat, membuat Freya semakin mencengkeram selimutnya. "Sean tidak pernah menganggapmu istri. Dia meninggalkanmu dalam keadaan terluka hanya untuk tidur dengan wanita lain. Pria seperti itu yang kau pertahankan?"

​"Tapi itu tidak memberi Papa hak untuk merenggut kesucianku!" teriak Freya histeris, air matanya luruh berhamburan. "Aku menjaga diriku hanya untuk Sean! Aku percaya suatu hari dia akan menerimaku! Tapi Papa... Papa sudah menghancurkan satu-satunya harapanku..."

​Mendengar nama Sean kembali diagungkan, rahang Rafael mengeras. Rasa cemburu dan kesal kembali membakar dadanya. Ia membungkuk, mencengkeram kedua sisi kepala ranjang, mengurung tubuh Freya di antaranya.

​"Buka matamu yang naif itu, Freya!" desis Rafael tajam, napasnya menerpa wajah Freya yang gemetar. "Kau pikir jika Sean pulang dan tahu kau masih suci, dia akan menyentuhmu dengan lembut? Tidak. Dia akan tetap menyiksamu, atau mungkin membagimu dengan pria lain demi bisnisnya! Dia tidak punya hati. Sementara aku..."

​Rafael menggantung kalimatnya, matanya berkilat penuh obsesi yang menggelap saat menatap bibir Freya. "...aku menginginkanmu. Aku menginginkan seluruh dirimu sejak awal. Dan sekarang, kau sudah menjadi milikku. Sepenuhnya."

​"Tidak... aku tidak mau," tangis Freya pecah, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak takdir mengerikan yang kini mengikatnya. "Saat Sean pulang, aku akan meminta cerai... aku akan pergi jauh dari keluarga ini!"

​"Cerai?" Rafael mendengus sinis, sebuah senyuman meremehkan terukir di wajah matangnya. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja? Sekali kau melangkah keluar dari rumah ini tanpa izinku, aku pastikan keluarga mu akan hancur Freya.."

​Freya tertegun, bibirnya kelu. Ancaman Rafael telak menghantam titik kelemahannya.

​"Jadi, bersikaplah penurut," lanjut Rafael sambil berbalik menuju pintu kamar mandi. Sebelum masuk, ia menoleh sedikit. "Mandilah di kamar mandi dalam ini. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti yang baru di dalam lemari. Setelah ini, turunlah untuk sarapan bersamaku."

​Blam.

​Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan Freya yang kini menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Harapan hidupnya hancur, jalannya ditutup rapat.

*

Rasa perih yang teramat sangat di area intinya membuat Freya meringis tertahan saat mencoba menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Setiap kali ia mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa sakit itu kembali berdenyut, seolah merobek kembali luka baru yang ditinggalkan oleh Rafael semalam.

​"Nghh... s-sakit sekali," bisik Freya parau.

​Jangankan berjalan tegak, untuk sekadar berdiri pun kedua lututnya terasa lemas bak kehilangan tulang.

Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang kembali mengalir menahan perih, Freya terpaksa menurunkan tubuhnya ke lantai. Ia menyeret tubuhnya perlahan, berpegangan pada tepi ranjang dan dinding dingin kamar mandi dalam milik Rafael. Setiap senti pergeseran terasa seperti siksaan fisik yang nyata.

​Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran air hangat yang membasuh tubuhnya, Freya menangis sejadi-jadinya. Air yang mengalir di kakinya samar-samar masih membawa sisa kemerahan, membilas jejak-jejak penyatuan paksa semalam.

​Setelah merasa sedikit lebih baik dan rasa kaku di tubuhnya mulai berkurang, Freya mengenakan jubah mandi bersih yang tersedia di sana. Ia melangkah keluar kamar mandi dengan sangat hati-hati, memastikan Rafael sudah tidak ada di dalam kamar pribadi itu.

​Suasana kamar sudah kosong. Dengan langkah pincang dan pelan, Freya bergegas keluar, menyusuri koridor, dan kembali ke kamarnya sendiri. Begitu menutup pintu kamar utamanya, ia langsung menguncinya dari dalam, menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil menghela napas panjang. Untuk sesaat, ia merasa aman di teritorinya sendiri.

​Freya melangkah menuju nakas, tempat ia meletakkan ponselnya. Begitu layar menyala, matanya menangkap puluhan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan singkat. Semuanya dari satu nama: Leticia, ibu tirinya.

​Firasat buruk seketika menghantam dada Freya. Jantungnya berdegup kencang saat ia menekan tombol panggil ulang untuk menghubungi Leticia. Tidak butuh waktu lama, panggilan itu langsung diangkat di seberang sana dengan suara yang melengking panik sekaligus kesal.

​"Halo! Freya! Ke mana saja kamu?! Kenapa baru angkat telepon?!" semprot Leticia tanpa memedulikan keadaan Freya.

​"M-maaf, Mama. Ponselku tadi tertinggal di... di bawah," bohong Freya, suaranya masih terdengar bergetar. "Ada apa, Ma? Kenapa panik sekali?"

​"Ayahmu, Freya! Dirga masuk rumah sakit semalam! Kondisinya kritis!" seru Leticia dari seberang telepon. Kedengaran samar-samar suara bising khas koridor rumah sakit di latar belakang.

​Bagai disambar petir di siang bolong, kaki Freya mendadak lemas hingga ia terduduk di tepi ranjang. "Ayah...? Ayah sakit apa, Ma? Bagaimana kondisinya sekarang?"

​"Penyakit jantungnya kambuh lagi, dan kali ini jauh lebih parah! Dokter bilang dia harus segera dioperasi dan dipasang ring baru, kalau tidak, nyawanya tidak akan tertolong!" Leticia mendengus kasar, suaranya berubah menjadi penuh keluhan. "Dan yang bikin sial, asuransinya menolak mencover! Katakanlah limitnya sudah habis karena saking parahnya penyakit ayahmu belakangan ini. Rumah sakit minta uang muka ratusan juta sekarang juga, Freya!"

​"R-ratusan juta...?" Freya membeku. Uang dari mana ia bisa mendapatkan nominal sebesar itu dalam waktu singkat? Sean tidak pernah memberinya uang bulanan yang layak, dan semua asetnya dikendalikan oleh suaminya itu.

​"Iya! Dan Mama tidak punya uang sebanyak itu!" sahut Leticia egois, tidak mau tahu. "Dengar ya, Freya. Mama sudah sangat lelah di sini. Mama sudah berjaga sejak semalam dan kepala Mama pusing. Sekarang kamu segera datang ke rumah sakit, gantikan Mama menjaga ayahmu! Cepat ke sini dan bawa uangnya! Urus administrasi ayahmu, Mama mau pulang dan istirahat!"

​"Tapi Ma, aku—"

​"Tidak ada tapi-tapi! Dia itu ayah kandungmu,! Cepat datang ke rumah sakit sekarang!" Klik.

​Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Leticia.

​Freya menurunkan ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi punggung tangannya. Dunianya benar-benar runtuh dari segala arah. Di saat tubuh dan harga dirinya baru saja dihancurkan oleh mertuanya sendiri, kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa nyawa ayahnya sedang di ujung tanduk.

​Ancaman Rafael beberapa saat lalu kembali berdengung di telinganya: 'Sekeli kau melangkah keluar dari rumah ini tanpa izinku, aku pastikan keluargamu hancur, freya..'

​Freya tahu, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan ayahnya saat ini, satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan dan uang untuk membayar biaya rumah sakit itu, adalah Rafael Ravindra—pria yang baru saja merenggut paksa kesuciannya semalam.

*

*

*

1
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!