NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13_Kepulangan orang tua

“Besok Mommy dan Daddy akan pulang, Elvara. Kamu pasti senang, kan?” ucap Edgar sambil menatap adiknya yang sejak tadi termenung di depan jendela.

 Senyum hangat mengembang di wajah Edgar. Tatapannya penuh kelembutan, berharap kabar itu mampu menghapus kesedihan yang selama ini membayangi adiknya.

Elvara yang semula hanya memandang langit sore perlahan menoleh. Untuk beberapa detik ia hanya diam, seolah memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.

“Benarkah, Kak?” tanyanya lirih. Mata Elvara membulat penuh harap. Bibirnya bergetar pelan, sementara kedua matanya mulai dipenuhi air mata yang ia tahan agar tidak jatuh.

Edgar mengangguk mantap.

“Benar. Pesawat mereka akan tiba besok pagi. Mommy dan Daddy bahkan sudah tidak sabar ingin memeluk putri kesayangan mereka.” Lanjutnya

Edgar tersenyum lembut sambil mengusap kepala Elvara dengan penuh kasih sayang.

Mendengar kalimat itu, benteng pertahanan Elvara runtuh begitu saja. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir membasahi pipinya. Sudah terlalu lama ia memendam rindu kepada kedua orang tuanya.

Selama berbulan-bulan mereka hanya bisa saling bertukar kabar melalui panggilan video. Elvara selalu memaksakan senyum agar kedua orang tuanya tidak mengetahui penderitaan yang ia alami.

Sebaliknya, sang ibu dan ayah juga selalu berpura-pura tenang meskipun hati mereka dipenuhi kecemasan terhadap putri semata wayangnya.

Elvara langsung memeluk Edgar dengan erat.

“Terima kasih, Kak... akhirnya Mommy dan Daddy pulang juga." Balas Elvara menangis haru.

 Elvara menangis haru dengan senyum tipis di bibirnya. Bahunya bergetar, meluapkan seluruh rasa rindu yang selama ini ia pendam sendirian.

Edgar membalas pelukan itu tanpa berkata apa-apa. Baginya, kebahagiaan Elvara jauh lebih penting daripada apa pun.

Malam itu, Elvara hampir tidak bisa memejamkan mata. Ia berkali-kali melihat jam dinding, berharap waktu segera berlalu. Sesekali ia membuka album foto keluarga di ponselnya, menatap wajah kedua orang tuanya dengan senyum yang dipenuhi kerinduan.

Ia bahkan menyiapkan pakaian terbaik yang akan dikenakannya ke bandara. Namun, saat berdiri di depan cermin, senyumnya perlahan memudar.

Tatapannya tertuju pada bekas luka yang masih samar terlihat di wajah dan lengannya.

Ia mengusap bekas luka itu dengan pelan.

“Apa Mommy akan sedih melihatku seperti ini?” gumamnya lirih.

Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga akhirnya ia tertidur menjelang dini hari.

Keesokan paginya, Edgar mengajak Elvara menuju bandara. Sepanjang perjalanan, gadis itu tampak gelisah. Jarinya saling bertaut erat, sementara pandangannya tak pernah lepas dari jalan di depan.

Begitu mereka tiba, suara pengumuman kedatangan pesawat terdengar menggema di seluruh ruangan.

Jantung Elvara berdetak semakin cepat.

Beberapa menit kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka.

Satu per satu penumpang mulai keluar. Hingga akhirnya...

Elvara melihat dua sosok yang begitu ia rindukan.

“Mommy... Daddy...” Suara Elvara nyaris tak terdengar.

Wanita paruh baya yang anggun itu langsung menghentikan langkahnya. Begitu melihat putrinya berdiri di kejauhan, air mata langsung memenuhi kedua matanya.

“Elvara... Sayang Mommy!" Ucap Sang Mommy menangis haru. Senyum dan tangis bercampur menjadi satu saat melihat putri yang begitu ia rindukan.

Tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya, ia berlari menghampiri Elvara.

Elvara pun melakukan hal yang sama.

Mereka saling berpelukan dengan sangat erat.

Tangisan keduanya pecah seketika.

“Mommy kangen sekali sama kamu...” Kata Sang Mommy memeluk Elvara erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Air matanya terus mengalir tanpa henti.

Sang Daddy ikut memeluk mereka berdua.

Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari mereka yang mampu mengucapkan kata-kata.

Kerinduan yang selama ini tertahan akhirnya terbayarkan dalam pelukan hangat keluarga kecil itu.

Namun, ketika sang Mommy perlahan melepaskan pelukan dan memperhatikan wajah putrinya lebih jelas, senyumnya mendadak menghilang.

Wajah Elvara terlihat lebih pucat. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Masih ada bekas luka yang belum sepenuhnya hilang.

Sang Mommy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan... Putri Mommy...” Gumam lirih, tatapan sang Mommy dipenuhi kepedihan. Air mata kembali mengalir saat melihat kondisi putri kesayangannya.

Sementara itu, sang Daddy mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Rasa bersalah memenuhi dadanya. Sebagai seorang Daddy, ia merasa gagal melindungi anak yang paling ia sayangi.

“Maafkan Daddy... Daddy tidak ada saat kamu membutuhkan kami.” Ucap sang Daddy. wajahnya dipenuhi penyesalan. Rahangnya mengeras menahan emosi yang hampir meledak.

Sang Mommy kembali mengusap pipi Elvara dengan tangan yang gemetar.

“Pasti kamu menderita sekali selama ini...” Ucap sang ibu dengan suara serak.

Mendengar suara ibunya yang penuh kesedihan, hati Elvara ikut terasa sesak. Ia tidak ingin kepulangan kedua orang tuanya diwarnai dengan tangisan dan rasa bersalah. Dengan susah payah, Elvara memaksakan senyum.

Ia menggenggam kedua tangan Mommynya dengan lembut.

“Aku nggak apa-apa kok, Mom. Yang penting sekarang aku sudah bisa berkumpul lagi sama Mommy dan Daddy.” balas Elvara berusaha kuat

Elvara tersenyum lembut meski kedua matanya masih basah oleh air mata. Senyum itu dipaksakan agar kedua orang tuanya tidak semakin merasa khawatir.

Mendengar kalimat itu, sang Mommy justru semakin menangis. Ia tahu putrinya sedang menyembunyikan rasa sakitnya. Tidak mungkin seorang ibu tidak menyadari luka yang tersimpan di balik senyum anaknya.

Sang ayah pun memeluk Elvara sekali lagi.

“Mulai sekarang, Daddy janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.” katanya, tatapan sang Daddy berubah tegas. Di balik kesedihannya, tersimpan tekad kuat untuk menjaga putrinya apa pun yang terjadi.

Edgar yang berdiri tak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis. Melihat keluarganya kembali berkumpul membuat beban di dadanya sedikit demi sedikit menghilang.

Ia sadar, luka di hati Elvara mungkin belum akan sembuh dalam waktu dekat. Namun setidaknya kini Elvara tidak lagi menghadapi semuanya seorang diri.

Sesampainya di rumah, suasana yang selama ini terasa sepi kembali dipenuhi tawa.

Sang Mommy sibuk memasak semua makanan favorit Elvara, sementara sang Daddy terus mengajak putrinya berbincang, seolah ingin mengganti semua waktu yang hilang selama mereka berjauhan.

Di sela-sela makan malam, Elvara memandang satu per satu wajah orang-orang yang paling ia cintai.

Hatinya masih menyimpan luka. Kenangan pahit itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.

Namun, saat melihat senyum Mommy, tatapan hangat Daddy, dan sosok Edgar yang selalu melindunginya, Elvara kembali memiliki alasan untuk bangkit.

Ia menyadari bahwa seberat apa pun cobaan yang pernah menghancurkan hidupnya, rumah akan selalu menjadi tempat paling aman untuk pulang.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum yang terukir di wajah Elvara bukan lagi senyum yang dipaksakan, melainkan senyum tulus dari hati yang perlahan mulai sembuh karena cinta keluarganya.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!