[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 6
Disaat atasan sedang bersantai di ruang kerja yang nyaman, jabatan juga aman. Para pekerja seperti Layla harus was-was setiap hari karena kabar perampingan karyawan pabrik terus terdengar. Setiap hari mereka berdoa supaya bukan salah satu dari mereka yang di PHK selanjutnya.
Hari ini Layla dan kawan-kawan bekerja sift pagi, pagi itu pagi yang sangat sibuk. Suasana pabrik juga serius dan kaku. Namun salah satu teman Layla berbisik-bisik kepadanya, dia suka mengobrol dengan Layla saat jam kerja maupun jam istirahat. Hubungan pertemanan mereka di bilang cukup dekat.
"Hei Layla, aku dengar ada yang mau di PHK lagi di pabrik kita, di bagian produksi," bisik Alea kepada Layla teman kerja sekaligus teman satu kamar asrama.
"Siapa yang di PHK?" bisik Layla penasaran
"Belum tau, semoga aja bukan kita. Kalau itu benar-benar terjadi sama kita itu bakal jadi serem banget. Tanggunganku kan banyak," bisik Alea sambil mengeluh.
"Iya itu serem banget, apalagi ayahku lagi sakit terus anak-anakku butuh uang buat biaya hidup," bisik Layla pada Alea. Obrolan rahasia itu semakin menarik.
"Aku jadi ingat adikmu. Jadi benar mereka batal nikah gara-gara uang adat?" bisik Alea penasaran.
"Iya. Kami enggak sanggup memenuhi permintaan mereka," jawab Layla.
"Tega benget pihak laki-laki, kayaknya otak mereka di dengkul deh. Masa enggak bisa melihat kondisi pihak perempuan nya sih. Terus si laki-laki itu diam aja gitu?" bisik Alea, ia merasa kesal karena tingkah laku mantan calon ipar Layla yang pengecut.
"Iya" bisik Layla.
"Dih nyebelin banget" gumam Alea ketus. Layla hanya membalas dengan senyum.
Tak lama kemudian Layla di panggil ke kantor HRD. Firasatnya tak enak, ia berdoa semoga ini bukan soal apa yang dia takutkan. Saat dia masuk ke kantor HRD Layla di sambut oleh Pak Irfan selaku kepala HRD di sana, dengan raut wajahnya yang masam seperti dosen killer, Pak Irfan mempersilahkan duduk Layla kemudian berbicara serius, "Silahkan duduk Layla. Dengan berat hati kami memutus hubungan kerja dengan anda. Ini adalah hari terakhir anda bekerja di sini. Saya kasih anda waktu sampai sore ini untuk mencari tempat tinggal baru" kata Pak Irfan dengan tegas.
"Apa?! Tapi salah saya apa pak?" Layla terkejut mendengar kabar yang tak enak itu.
"Layla, hasil dari investigasi internal menunjukkan adanya kesalahan yang menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan. Dan bukti itu mengarah ke kamu, Layla," ucap Pak Irfan.
"Apa anda yakin pak? Apa anda punya buktinya?" Layla protes.
"Ya tentu kami punya buktinya" ucap Pak Irfan sambil meletakan beberapa lembar dokumen yang di atas meja.
"Barang yang Ok dan NG telah tertukar ribuan pcs. Ini sudah tidak bisa di tolelir lagi. Bukan hanya sekali tapi dua kali kamu melakukan kesalahan ini. Maaf kamu harus pergi dari perusahaan ini" Pak Irfan melanjutkan perkataannya dengan intonasi yang agak tinggi.
"Tapi pak itu kan juga salah QC pak. Kenapa hanya saya yang di salahkan? Saya minta tolong pada bapak untuk menyelidiki terlebih dahulu masalah ini pak, karena saya yakin bukan saya yang melakukannya pak. Saya jamin itu 100%, saya yakin bukti itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, ada tanda tangan yang mencurigakan dari laporan itu pak. Tolong," Layla sedikit membela diri lalu memohon untuk mengulang investigasi terkait kasus ini.
"Kalau kamu keberatan, silakan ajukan keberatan secara resmi. Tapi keputusan perusahaan sudah final. Hari ini hari terakhir kamu kerja di sini. Waktu kamu sampai sore ini untuk angkat kaki dari dorm karyawan. Silahkan keluar dari ruangan saya," kata Pak Irfan tegas dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
Layla keluar dari ruang HRD dengan telinga berdenging. Suara mesin produksi yang biasanya begitu bising kini terdengar jauh, seolah seluruh dunia mendadak sunyi, langkahnya lunglai sambil menahan tangis. Pikirannya melayang jauh. Bagaimana ia bisa membiayai semua kebutuhan yang di perlukan.
Layla kembali ketempat kerja dengan hati yang kecewa, meski Layla yakin dirinya telah dijebak, Layla tetap bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang luput dari perhatiannya hingga semua ini bisa terjadi. Bertahan hidup di dunia yang kejam terkadang membuat ia lelah dan ingin menyerah, namun setiap melihat ke belakang ia menyadari bahwa ada orang-orang yang masih membutuhkannya untuk terus berjuang walau rasanya seperti kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala. Melihat raut wajah Layla yang seperti itu, Alea merasa khawatir, "Layla, kamu kenapa?" bisik Alea cemas.
"Aku di pecat Lea. Aku di pecat karena di tuduh melakukan kesalahan, yang sebenarnya bukan aku pelakunya" bisik Layla kepada Alea, suara yang tadinya masih terdengar semangat sekarang sudah redup.
"Sabar Layla, aku yakin di luar sana ada kerjaan yang lebih baik dari pada di sini. Jadi hari ini kamu terakhir kerja? " bisik Alea, ia mencoba menghibur temannya yang sedang bersedih.
"Iya, aku di kasih waktu sampai sore nanti buat cari tempat tinggal baru" bisik Layla.
Setelah percakapan yang singkat itu, Layla pulang kembali ke asrama karyawati dengan raut wajah yang lesu.
****************