"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 6
Di saat para petinggi perusahaan bekerja dengan tenang di ruang berpendingin udara, para buruh di lantai produksi justru menjalani hari-hari dengan kecemasan. Kabar perampingan karyawan terus berembus. Tak seorang pun tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya.
Hari ini Layla dan kawan-kawan bekerja sift pagi. Pagi itu pagi yang sangat sibuk. Suasana pabrik juga serius dan kaku.
Namun salah satu teman Layla berbisik-bisik kepadanya, dia suka mengobrol dengan Layla saat jam kerja maupun jam istirahat. Hubungan pertemanan mereka di bilang cukup dekat.
Alea melihat sekelilingnya. Memastikan keadaan aman tidak ada pengawas.
Alea berbisik kepada Layla teman kerjanya sekaligus teman sekamar.
"Hei Layla, aku dengar ada yang mau di PHK lagi di pabrik kita, di bagian produksi."
Sontak Layla terkejut dengan kabar itu. Ia khawatir musibah itu menimpa dirinya.
"Siapa yang di PHK?" bisik Layla penasaran
Dengan wajah yang agak memelas Alea mengeluhkan tentang dirinya..
"Belum tau, semoga aja bukan kita. Kalau itu benar-benar terjadi sama kita itu bakal jadi serem banget. Tanggunganku kan banyak," bisik Alea.
"Iya itu serem banget, apalagi ayahku lagi sakit terus anak-anakku butuh uang buat biaya hidup," bisik Layla pada Alea.
Obrolan rahasia itu semakin menarik.
"Aku jadi ingat adikmu. Jadi benar mereka batal nikah gara-gara uang adat?" bisik Alea penasaran.
Layla mengangguk.
"Iya. Kami enggak sanggup memenuhi permintaan mereka," jawab Layla.
"Tega benget pihak laki-laki, kayaknya otak mereka di dengkul deh. Masa enggak bisa melihat kondisi pihak perempuan nya sih. Terus si laki-laki itu diam aja gitu?" bisik Alea.
Alea merasa kesal karena tingkah laku mantan calon ipar Layla yang pengecut.
"Iya" bisik Layla.
"Dih nyebelin banget" gumam Alea ketus.
Layla hanya membalas dengan senyum.
Tak lama kemudian Layla di panggil ke kantor HRD. Firasatnya tak enak, ia berdoa semoga ini bukan soal apa yang dia takutkan.
Saat dia masuk ke kantor HRD Layla di sambut oleh Pak Irfan selaku kepala HRD di sana, dengan raut wajahnya yang masam seperti dosen killer.
Pak Irfan mempersilakan Layla duduk.
Ia membuka sebuah map cokelat.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
"Layla..."
"Dengan berat hati, perusahaan memutuskan mengakhiri hubungan kerja dengan Anda." ucap pak Irfan.
"Ini adalah hari terakhir anda bekerja di sini. Saya kasih anda waktu sampai sore ini untuk mencari tempat tinggal baru," ucap Pak Irfan dengan tegas.
Layla terkejut mendengar kabar yang tak enak itu. Ia terdiam sejenak seolah tak percaya.
"Apa?! Tapi salah saya apa pak?" protes Layla.
"Layla, hasil dari investigasi internal menunjukkan adanya kesalahan yang menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan. Dan bukti itu mengarah ke kamu, Layla," ucap Pak Irfan.
Layla menarik napas panjang sebelum kembali membela diri.
"Apa anda yakin pak? Apa anda punya buktinya?" tanya Layla.
Dengan raut wajah yang serius pak Irfan berkata,
"Ya tentu kami punya buktinya"
Ia meletakan beberapa lembar dokumen yang di atas meja.
Dengan tegas pak Irfan menjelaskan apa kesalahan Layla yang menyebabkan dirinya di berhentikan dari pekerjaannya.
"Hasil investigasi menunjukkan ribuan produk OK tercatat sebagai NG, sementara produk NG justru lolos sebagai barang layak kirim. Seluruh dokumen produksi mengarah kepada Anda.'' ucap pak Irfan.
Seolah tak terima segala kesalahan dilimpahkan kepadanya. Layla kembali protes dengan menyalahkan departemen lain.
"Tapi pak itu kan juga salah QC pak. Kenapa hanya saya yang di salahkan?" ucap Layla.
Layla mencoba membela diri lalu memohon untuk mengulang investigasi terkait kasus ini.
"Saya minta tolong pada bapak untuk menyelidiki terlebih dahulu masalah ini pak, karena saya yakin bukan saya yang melakukannya pak. Saya jamin itu 100%, saya yakin bukti itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, ada tanda tangan yang mencurigakan dari laporan itu pak. Tolong," Layla memelas.
Pak Irfan meninggikan intonasi bicaranya.
"Kalau kamu keberatan, silakan ajukan keberatan secara resmi. Tapi keputusan perusahaan sudah final. Hari ini hari terakhir kamu kerja di sini. Waktu kamu sampai sore ini untuk angkat kaki dari dorm karyawan. Silahkan keluar dari ruangan saya," kata Pak Irfan.
Layla keluar dari ruang HRD dengan telinga berdenging.
Suara mesin produksi yang biasanya begitu bising kini terdengar jauh, seolah seluruh dunia mendadak sunyi, langkahnya lunglai sambil menahan tangis.
Dadanya terasa sesak. Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa cara melangkah.
Pikirannya melayang jauh. Bagaimana ia bisa membiayai semua kebutuhan yang di perlukan.
Layla kembali ke tempat kerja dengan hati yang kecewa.
Meski Layla yakin dirinya telah dijebak, Layla tetap bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang luput dari perhatiannya hingga semua ini bisa terjadi.
Bertahan hidup di dunia yang kejam terkadang membuat ia lelah dan ingin menyerah, namun setiap melihat ke belakang ia menyadari bahwa ada orang-orang yang masih membutuhkannya untuk terus berjuang walau rasanya seperti kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala.
Melihat raut wajah Layla yang seperti itu, Alea merasa khawatir.
"Layla, kamu kenapa?" bisik Alea.
Layla tertunduk lesu.
Dengan suara pelan Layla menjawab pertanyaan Alea..
"Aku di pecat Lea. Aku di pecat karena di tuduh melakukan kesalahan, yang sebenarnya bukan aku pelakunya" bisik Layla kepada Alea.
Suara yang tadinya masih terdengar semangat sekarang sudah redup.
Wajah Alea langsung berubah muram. Ia benar-benar ikut merasakan pukulan yang diterima teman itu.
Ia mencoba menghibur temannya yang sedang bersedih.
"Sabar Layla, aku yakin di luar sana ada kerjaan yang lebih baik dari pada di sini. Jadi hari ini kamu terakhir kerja? " bisik Alea.
Layla mengangguk pelan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Iya, aku di kasih waktu sampai sore nanti buat cari tempat tinggal baru" bisik Layla.
Setelah percakapan yang singkat itu, Layla pulang kembali ke asrama karyawati dengan raut wajah yang lesu.
Layla menatap koper kecilnya yang tergeletak di sudut kamar.
Mulai malam ini... ia tidak lagi memiliki pekerjaan.
Dan beberapa jam lagi, ia bahkan tidak memiliki tempat tinggal.
Di saat yang sama, di sebuah ruangan yang jauh dari lantai produksi, seseorang menandatangani berkas PHK atas nama Layla. Sudut bibirnya terangkat tipis. Baginya, semua berjalan persis seperti yang telah direncanakan.
****************
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️