Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 ~ Lakukan Pemeriksaan
Hezlin membeku.
Sentuhan hangat telapak tangan Garra yang menyentuh pinggangnya biasanya selalu berhasil membuat jantungnya berdebar. Namun malam ini, yang terlintas di benaknya justru potongan video yang baru saja ia lihat.
Perlahan, ia menarik kedua tangan Garra dari tubuhnya, dengan gerakannya lembut namun tegas.
Garra mengernyit. Tapi pria itu tidak bertanya lebih jauh.
Hezlin mengangkat wajahnya. Tatapannya tampak tenang, tetapi sorot matanya begitu asing. "Aku akan suruh Bii Rum untuk menyiapkan air hangat.."
Usai mengucapkan itu, Hezlin hendak melangkah pergi. Namun baru satu langkah, pergelangan tangannya kembali ditahan Garra.
"Hezlin."
Wanita itu berhenti, namun tidak menoleh.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Tanpa menjawab, Garra menarik pergelangan tangan Hezlin hingga tubuh wanita itu berbalik menghadapnya.
"Heh—"
Belum sempat Hezlin menyelesaikan ucapannya, Garra sudah menariknya lebih dekat. Tubuh mereka kembali saling menempel. Dingin dari pakaian pria itu yang basah oleh hujan langsung terasa di kulit Hezlin.
Garra menatap wajah istrinya beberapa saat. Tatapannya tajam, seolah sedang memastikan sesuatu.
Kemudian, tanpa meminta izin, salah satu tangannya perlahan menyusup ke balik pakaian Hezlin. Telapak tangannya yang dingin berhenti di pinggang ramping wanita itu, lalu bergeser hingga menempel tepat di atas perutnya.
Hezlin refleks menahan napas. "Garra..."
"Aku akan memanggil dokter." ucapnya pelan namun tegas.
"Aku tidak perlu diperiksa." potong Hezlin cepat.
"Itu bukan itu bukan pertanyaan. Tapi keputusan." Garra memotong ucapannya tanpa ragu. Telapak tangannya masih tetap berada di atas perut Hezlin, seolah enggan berpindah.
"Jika benar kamu hamil..." Ia berhenti sejenak. Rahangnya mengeras sebelum kembali melanjutkan. "...jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu."
Dada Hezlin seketika terasa sesak. Kalimat yang selama ini begitu ingin ia dengar... Entah mengapa kini justru terasa begitu menyakitkan.
Ia menatap wajah Garra dalam diam. Mencoba mencari sesuatu di balik sorot mata pria itu. Namun seperti biasa... Garra terlalu sulit dibaca. Yang ia tahu hanyalah pria itu sedang bersikeras mempertahankannya.
Tetapi...
Karena dirinya?
Atau karena anak yang mungkin sedang dikandungnya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa berani ia ucapkan.
Perlahan Hezlin menggenggam pergelangan tangan Garra yang masih menempel di perutnya. Bukan untuk membalas sentuhan itu, melainkan untuk melepaskannya.
"Garra..." suaranya nyaris berbisik. "Kalau memang ada anak di antara kita..." Ia menarik napas panjang, berusaha tetap terlihat setenang mungkin. "...aku tetap tidak akan mengubah keputusanku.
Tatapan Garra langsung mengeras.
"Aku tetap ingin bercerai." putus Hezlin.
Tatapan Garra seketika berubah tajam. Rahangnya mengeras. Tanpa melepaskan pandangannya dari Hezlin, pria itu kembali menggenggam pergelangan tangan wanita tersebut yang hendak menarik diri.
"Kamu ulangi." suaranya rendah. Namun cukup untuk membuat suasana di antara mereka berubah mencekam.
Hezlin menarik napas pelan. "Aku tetap ingin bercerai."
Garra menggeleng pelan. "Tidak." jawabannya singkat, tegas. Seolah tidak memberi ruang sedikit pun untuk dibantah.
"Aku bukan sedang meminta izin, Garra."
"Dan aku juga bukan sedang meminta pendapatmu." tekan Garra.
Hezlin terdiam. Jemarinya perlahan mengepal. Wajahnya terangkat menatap Garra dengan tatapan lelah.
"Garra, kamu tahu... ini bukan hanya tentang kita." Suaranya terdengar lirih.
Garra tidak menyahut. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Hezlin.
"Aku tidak mau ada satu orang pun yang terluka karena terus mempertahankan pernikahan ini. Dan kalau benar ada anak di antara kita..."
Napasnya terasa berat.
"...aku tidak ingin dia dilahirkan hanya untuk menjadi alasan kita tetap bersama."
Tatapan Garra berubah semakin dalam. Namun Hezlin melanjutkan ucapannya sebelum pria itu sempat memotong.
"Seorang anak berhak lahir dari kedua orang tua yang benar-benar saling mencintai... Bukan karena terpaksa bertahan."
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar memukul kaca jendela.
Hezlin perlahan melepaskan kembali tangan Garra dari pergelangan tangannya.
"Aku sudah lelah, Garra. Kalau memang ada anak ini... biarkan dia menjadi tanggung jawab kita. Bukan alasanmu untuk menahanku tetap menjadi istrimu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju lantai atas. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, juga tidak sekali pun menoleh ke belakang. Padahal, setiap langkah yang diambilnya terasa begitu berat, seolah ia sedang memaksa dirinya menjauh dari satu-satunya pria yang paling ingin ia pertahankan di dalam hidupnya.
Sementara itu, Garra tetap berdiri di tempat. Tatapannya tidak pernah lepas mengikuti punggung Hezlin hingga sosok wanita itu benar-benar menghilang di balik anak tangga.
Rahangnya mengeras.
Entah mengapa, semakin Hezlin bersikeras ingin pergi, semakin besar pula keinginannya untuk menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya dan mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkannya pergi.
Sayangnya, Garra bukan pria yang pandai mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata.
Yang ia tahu hanyalah satu hal. Apa pun yang terjadi, iatidak akan pernah menandatangani surat perceraian itu.
••
••
Keesokan paginya...
Suasana rumah masih terasa lengang ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman rumah sakit.
Begitu mobil berhenti, Garra lebih dulu turun. Ia berjalan memutar, lalu membuka pintu di sisi penumpang.
"Ayo."
Hezlin mengangkat wajahnya sekilas.
"Aku bisa turun sendiri."
Tanpa menjawab, Garra tetap berdiri di samping pintu yang telah terbuka, menunggu hingga Hezlin benar-benar keluar dari mobil.
Wanita itu akhirnya mengembuskan napas pelan sebelum melangkahkan kaki.
Keduanya berjalan berdampingan memasuki rumah sakit tanpa sepatah kata pun.
Sesekali beberapa orang menoleh ke arah mereka. Penampilan Garra yang rapi dengan setelan jas gelap, ditambah wajah tampannya yang dingin, memang selalu menarik perhatian. Namun pria itu sama sekali tidak memedulikannya.
Fokusnya hanya tertuju pada satu orang.
Hezlin.
Sesampainya di depan ruang pemeriksaan kandungan, seorang perawat menghampiri mereka.
"Selamat pagi. Atas nama Nyonya Hezlin Rayla Iyzebele?"
Garra mengangguk singkat.
"Silakan masuk. Dokter sudah menunggu."
Hezlin baru hendak melangkah ketika Garra ikut berjalan di belakangnya.
Wanita itu langsung berhenti.
"Kamu tidak perlu ikut."
"Aku ikut."
"Garra..."
"Aku suamimu." jawabannya singkat. Tidak memberi ruang untuk ditolak.
Hezlin memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya memilih mengalah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan, disusul Garra yang menutup pintu di belakang mereka.
Dokter yang duduk di balik meja langsung menyambut dengan senyum ramah.
"Silakan duduk, Tuan dan Nyonya."
Tatapan dokter bergantian mengarah kepada keduanya.
"Keluhannya apa, Nyonya?"
Hezlin menundukkan pandangan sesaat.
"Saya beberapa kali muntah..."
Belum sempat ia melanjutkan, Garra sudah lebih dulu menyela.
"Sudah tiga kali sejak semalam. Nafsu makannya juga menurun."
Hezlin melirik pria itu sekilas.
Dokter mengangguk sambil mencatat sesuatu di berkas pemeriksaan.
"Baik. Kalau begitu, kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu."
•
•
❤️