"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pergi Tanpa Jejak
"Silakan saja kalau kau berani melangkah keluar dari pintu itu!" tantang Arga dengan napas memburu, masih berdiri kaku di balik meja makan yang berantakan. "Kau masih istri sahku, Keysa. Aku bisa mengerahkan ratusan penjaga keamanan untuk menyeretmu kembali ke sini detik ini juga."
"Lakukan saja. Kita lihat siapa yang akan lebih dulu masuk berita utama televisi besok pagi atas tuduhan penyekapan," balas Keysa tanpa menoleh sedikitpun.
Perempuan itu melangkah tegap meninggalkan ruang makan. Sepatu hak tingginya berderap mantap menapaki lantai kayu apartemen menuju kamar utama. Tidak ada keraguan dalam setiap langkahnya. Logikanya sudah mengambil keputusan final, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menghentikannya, apalagi laki-laki keras kepala yang sedang kehilangan arah itu.
Keysa membuka pintu lemari pakaiannya lebar-lebar. Ia menarik koper perak berukuran sedang dari sudut bawah lemari dan membukanya di atas kasur.
Tangannya bergerak luar biasa cepat dan efisien. Ia sama sekali tidak meneteskan air mata.
Ia tidak membawa gaun malam mewah, tas bermerek, atau perhiasan mahal yang pernah Arga belikan untuknya menggunakan uang perusahaan. Ia hanya memasukkan kemeja kerja putih, celana bahan hitam, pakaian santai, dan dokumen-dokumen penting miliknya sendiri.
Ia juga menyelipkan kartu logam hitam Zenith miliknya ke dalam saku jas. Kartu itu adalah nyawanya, bukti kemerdekaan finansial yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk Keysa mengemas seluruh kehidupannya ke dalam koper tersebut.
Suara langkah kaki berat terdengar memasuki kamar. Arga berdiri menghalangi ambang pintu. Laki-laki itu bersedekap dada. Rahangnya masih mengeras, namun kilat panik mulai terlihat jelas di sepasang mata cokelat gelapnya.
"Kau benar-benar keras kepala," geram Arga, suaranya sedikit menurun namun tetap mengancam. "Hanya karena aku merobek kertas bodoh itu, kau rela membuang semua yang kita miliki? Kita bisa mencari jalan keluar lain, Keysa. Tidak perlu sampai harus angkat kaki dari rumah ini."
"Rumah ini milikmu, bukan milikku," koreksi Keysa datar. Ia menutup ritsleting kopernya dengan satu tarikan panjang, lalu menegakkan tubuh. "Dan sejak awal kita tidak pernah memiliki apa-apa selain kontrak kerja bernilai triliunan. Jangan bertingkah seolah kita adalah pasangan romantis yang sedang bertengkar hebat. Aku hanya sedang menyelamatkan kewarasanku dan asetku sendiri."
Keysa menarik gagang kopernya. Ia berjalan lurus ke arah pintu, berniat menerobos hadangan suaminya.
"Minggir, Arga. Aku harus pergi sekarang," perintah Keysa saat jarak mereka hanya tersisa setengah meter.
Arga tidak bergeser satu inci pun. Laki-laki itu justru melebarkan kedua kakinya, menutup seluruh akses keluar dari kamar tersebut. Egonya menolak keras melihat perempuan ini meninggalkannya pergi. Insting dominannya berteriak untuk menahan Keysa dengan cara apapun, bahkan jika ia harus menggunakan kekuatan ototnya.
"Kita belum selesai bicara!" bentak Arga. Kesabarannya habis total. Tangan kanannya melesat maju, berniat mencengkeram lengan atas Keysa secara paksa untuk menarik istrinya kembali ke dalam kamar.
Namun, tepat sebelum jari-jari besar itu menyentuh kemeja sutra Keysa, sebuah serangan rasa sakit yang luar biasa dahsyat menghantam bagian kanan tengkorak Arga.
"Argh!" Arga mengerang keras. Laki-laki itu menarik tangannya kembali secara refleks, memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangan.
Rasa sakit itu datang seolah ada godam besi yang memukul saraf otaknya dari dalam. Pandangan Arga mendadak kabur. Ruang kamar tidur itu berputar hebat. Di tengah rasa sakit yang membutakan itu, sebuah kilasan memori masa lalu tiba-tiba meledak di dalam kepalanya bagai kaset rusak yang diputar paksa.
Di dalam kilasan ingatan itu, Arga melihat ruang kerjanya yang luas di kantor pusat. Suasananya sangat tegang. Keysa berdiri tegak di depannya, menolak menandatangani sebuah berkas pemecatan massal karyawan pabrik yang dianggap cacat prosedur.
"Kamu pikir perusahaan ini panti asuhan?! Tanda tangani surat itu atau kamu yang keluar dari sini!" Suara Arga dari masa lalu itu menggema sangat kejam dan arogan.
Di dalam memori itu, Arga melihat dirinya sendiri melangkah maju dengan amarah yang meledak tidak terkendali. Ia melihat tangannya sendiri terulur kasar, mencengkeram lengan atas Keysa dengan kekuatan penuh. Ia mencengkeram lengan perempuan itu sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih, lalu mendorong Keysa ke samping hingga tubuh istrinya menabrak ujung meja kaca.
Keysa meringis menahan sakit saat itu, namun wajahnya tetap datar menolak menangis. Arga mengingat dengan sangat jelas, keesokan harinya ia melihat ada lebam biru keunguan yang sangat besar tercetak di lengan kulit putih istrinya akibat cengkeraman kasarnya tersebut. Dan brengseknya, Keysa harus memakai kemeja lengan panjang selama satu minggu penuh untuk menutupi bukti kekejaman suaminya dari tatapan karyawan lain.
Kilasan mengerikan itu berhenti berputar.
Napas Arga terengah-engah putus asa kembali ke alam sadar. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipis dan leher kemejanya. Ia menunduk menatap tangan kanannya yang masih menggantung di udara. Tangan yang baru saja hendak mencengkeram lengan Keysa persis seperti apa yang ia lakukan di masa lalu.
Ketakutan luar biasa langsung menyergap dada laki-laki itu. Kengerian yang menyiksa batin meruntuhkan seluruh ego dan keangkuhannya dalam hitungan detik.
Jika ia membiarkan emosinya menguasai akal sehatnya hari ini, ia akan kembali menyakiti Keysa secara fisik. Ia akan kembali menggunakan kekerasan untuk memaksa kehendaknya. Fakta bahwa insting tiran itu masih bersembunyi di dalam darahnya membuat Arga merasa jijik pada dirinya sendiri.
Keysa berdiri kaku di tempatnya, memegang erat gagang koper. Matanya menatap suaminya dengan penuh kewaspadaan, bersiap menahan rasa sakit jika laki-laki itu benar-benar menyerangnya.
Namun, hal yang terjadi selanjutnya justru membuat Keysa tertegun.
Tangan Arga yang biasanya sangat kuat itu kini bergetar parah. Laki-laki itu menarik napas putus-putus, lalu mundur perlahan.
Satu langkah. Dua langkah. Arga menjauhkan tubuhnya dari Keysa, menekan punggungnya sendiri ke dinding lorong untuk memberikan jalan keluar yang terbuka lebar bagi istrinya.
"Pergilah," ucap Arga dengan suara yang sangat parau dan pecah. Tidak ada lagi nada mengancam. Tidak ada lagi bentakan arogan. Yang ada hanyalah keputusasaan yang sangat dalam dan hitam.
Arga menatap mata Keysa dengan sorot yang hancur lebur. "Pergi dari sini sekarang juga, Keysa. Sebelum aku kehilangan kendali dan menyakitimu lagi."
Keysa menelan ludah. Ia melihat penderitaan dan ketakutan yang nyata di wajah suaminya, namun logikanya segera mengingatkan bahwa ia tidak boleh goyah. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Keysa menarik kopernya dan melangkah pasti melewati Arga yang masih bersandar lemas di dinding.
Suara roda koper bergesekan dengan lantai terdengar perlahan menjauh menuju ruang depan. Arga hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, menahan rasa sakit di kepalanya sekaligus rasa sesak yang merobek habis rongga dadanya. Ia mendengar suara pintu utama apartemen dibuka, lalu ditutup kembali dengan bunyi klik yang tegas.
Bunyi pintu yang tertutup rapat itu menjadi tanda berakhirnya kebersamaan mereka.
Arga perlahan membuka matanya. Ia berjalan gontai menuju ruang tamu. Ruangan raksasa yang tadinya menjadi arena perdebatan mereka mendadak terasa sangat dingin, hampa, dan kosong melompong tanpa kehadiran sang istri. Wangi parfum vanila dari tubuh Keysa perlahan menguap hilang ditiup embusan pendingin ruangan.
Laki-laki perkasa yang menguasai ribuan karyawan itu kini jatuh terduduk di atas sofa kulit dengan bahu merosot tajam. Ia meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan yang masih bergetar hebat. Kesombongannya hancur berkeping-keping di atas lantai apartemennya sendiri.
"Aku kehilangan dia," gumam Arga putus asa di tengah keheningan yang menyiksa. Matanya menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat. "Bukan karena ada laki-laki lain, tapi karena kebrengsekanku sendiri."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..