Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Kaelen pulang saat makan malam hampir disajikan. Ia masuk ke ruang makan pribadi dengan langkah berat, membawa hawa dingin bersamanya. Jubah bulunya basah, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat lelah.
Ia berhenti saat melihat Elara sudah duduk di sana, menunggunya dengan tenang. Tidak ada pertanyaan "dari mana saja kau" atau "kenapa kau pergi pagi sekali".
Elara hanya tersenyum tipis. "Sup bawang Perancis malam ini. Dengan roti keju panggang."
Kaelen menatapnya sejenak, seolah mencari jebakan di balik senyum itu. Tidak menemukannya, ia menghela napas panjang, bahunya turun sedikit. Ia melepas sarung tangannya yang basah dan duduk.
"Kau tidak istirahat," kata Kaelen, melirik tumpukan kertas di ujung meja yang belum sempat dibereskan Silas.
"Aku bosan melihat dinding kamar," jawab Elara sambil menyendok supnya. "Dan aku menemukan sesuatu yang menarik di catatan inventaris."
Kaelen mulai makan. Ia tampak lapar. "Apa? Hutang ayahmu yang lain?"
"Bukan," Elara mengabaikan sarkasme itu. "Gudang penyimpanan lilin lebah kita penuh. Ada ribuan batang lilin yang tidak terpakai selama lima tahun. Jika disimpan lebih lama, sumbunya akan lapuk."
"Lalu?" Kaelen mematahkan rotinya.
"Aku ingin menggunakannya untuk Aula Besar. Dua minggu lagi."
Gerakan tangan Kaelen berhenti. Ia menatap Elara tajam. "Untuk apa?"
"Festival Titik Balik Matahari," kata Elara tenang.
Kaelen meletakkan rotinya kembali ke piring. Suasana di meja itu langsung berubah tegang. Suhu emosional turun drastis.
"Tidak," katanya datar.
"Kenapa tidak?"
"Kita sedang perang, Elara," suara Kaelen mulai naik sedikit, nada ketidaksabaran yang familiar muncul. "Prajuritku tidak butuh pesta. Mereka butuh fokus. Musik dan mabuk-mabukan hanya akan membuat mereka lemah dan lengah."
"Siapa bilang soal mabuk-mabukan?" sanggah Elara. "Aku bicara soal makan malam bersama. Satu malam di mana mereka tidak makan ransum kering di barak yang sempit, tapi makan daging hangat di Aula Besar yang terang. Satu malam di mana mereka ingat apa yang mereka perjuangkan. Mereka berjuang untuk melindungi rumah, Kaelen. Tapi bagaimana mereka bisa ingat rasanya 'rumah' jika rumah ini gelap dan sunyi selamanya?"
Kaelen menatap Elara. Argumen itu logis. Menjengkelkan, tapi logis.
"Ini bukan tentang prajurit," Kaelen mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit. "Ini tentang kau. Kau bosan. Kau merindukan pesta-pesta mewah di ibu kota, kan? Kau merindukan dansa dan gaun sutra."
Elara meletakkan sendoknya perlahan . Denting halusnya terdengar nyaring. Ia menatap mata suaminya dalam-dalam.
"Kau benar-benar tidak mengenalku, ya?" bisik Elara. Ada kesedihan tulus dalam suaranya yang membuat Kaelen terdiam.
"Aku tidak butuh dansa," lanjut Elara. "Aku tidak butuh sutra. Aku menghabiskan masa kecilku menghindari penagih hutang ayahku, Kaelen. Aku tahu rasanya hidup dalam ketakutan. Dan aku melihat ketakutan itu di mata pelayanmu, di mata prajurit mudamu. Mereka takut padamu, mereka takut pada perang, mereka takut pada musim dingin."
Elara menarik napas panjang. "Aku hanya ingin menyalakan lilin. Itu saja. Menggunakan lilin yang sudah kita miliki. Tanpa biaya tambahan. Hanya cahaya."
Kaelen terdiam. Ia menatap sup bawangnya yang mulai dingin. Ia teringat wajah para prajurit mudanya. Wajah-wajah yang keras, lelah, dan sering kali kosong. Ia teringat bagaimana mereka menatap Elara di gudang senjata dengan rasa hormat, dan bagaimana mereka berbisik tentang kehangatan pipa uap di barak.
Istrinya benar. Dia membangun moral dengan cara yang tidak bisa dilakukan Kaelen dengan pedang.
"Tanpa musik," kata Kaelen akhirnya, suaranya kaku. "Dan tanpa alkohol berlebih. Satu gelas ale per orang. Tidak lebih."
Elara menahan senyum kemenangannya agar tidak terlalu lebar. "Dua gelas," tawarnya. "Ini malam terpanjang dalam setahun."
Kaelen mendengus, kembali memakan rotinya dengan gigitan besar. "Satu setengah. Dan jika ada perkelahian, aku akan membubarkan semuanya detik itu juga."
"Sepakat," kata Elara lembut.
Mereka makan dalam diam lagi untuk beberapa saat. Namun kali ini, Kaelen tampak gelisah. Ia beberapa kali melirik Elara, lalu membuang muka.
"Mengenai tadi malam..." Kaelen memulai, suaranya rendah, hampir seperti geraman.
Jantung Elara berdegup kencang. Akhirnya.
"Ya?"
Kaelen tidak menatapnya. Ia menatap gelas ale-nya. "Itu tidak akan terjadi lagi. Aku lelah. Aku tidak sadar apa yang kulakukan."
Elara merasakan tusukan penolakan itu, tapi ia sudah siap. Ia tahu Kaelen akan mengatakan ini.
"Tentu," jawab Elara tenang, meski tangannya meremas serbet di pangkuannya. "Kau lelah. Kursinya keras. Itu masuk akal."
Kaelen menoleh, menatapnya dengan kening berkerut. Ia mengharapkan perdebatan, atau setidaknya air mata. Reaksi tenang Elara justru membuatnya bingung.
"Aku serius, Elara," tekan Kaelen. "Jangan berpikir itu berarti... sesuatu. Aku tidak bisa memberimu apa yang kau inginkan. Aku bukan suami yang bisa dipeluk di malam hari."
"Kau memelukku di Hutan Besi," Elara mengingatkan, suaranya sangat pelan.
"Itu untuk menyelamatkan nyawamu!" Kaelen membentak sedikit, defensif.
"Dan tadi malam?" tanya Elara. "Siapa yang kau selamatkan tadi malam? Aku? Atau dirimu sendiri dari mimpi buruk?"
Rahang Kaelen mengeras. Ia berdiri tiba-tiba, kursinya berderit keras di lantai batu. Ia melempar serbetnya ke meja.
"Aku kenyang," katanya dingin. "Habiskan makan malammu. Aku akan tidur di ruang kerja."
Kaelen berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Ia melarikan diri lagi.
Tapi saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Elara menghentikannya.
"Kaelen."
Pria itu berhenti, punggungnya tegang, tapi dia tidak menoleh.
"Kau bisa tidur di mana pun kau mau," kata Elara, suaranya tidak mengandung kemarahan, hanya kelembutan yang menyakitkan. "Tapi ketahuilah satu hal... saat kau bangun pagi ini, dan kau pergi tanpa pamit... tempat tidur di sebelahku terasa dingin. Dan aku membencinya."
Bahu Kaelen menegang. Ia berdiri mematung selama beberapa detik yang menyiksa. Kata-kata itu menembus zirah emosionalnya lebih dalam dari pedang mana pun. Elara tidak memintanya kembali; Elara hanya memberitahunya bahwa kehadirannya dirindukan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaelen membuka pintu dan keluar, menutupnya dengan sedikit terlalu keras.
Elara duduk sendirian di meja makan yang besar. Lilin-lilin berkedip terkena angin dari pintu yang tertutup.
Ia tidak menangis. Ia kembali menyendok supnya.
"Satu langkah maju, dua langkah mundur," gumamnya pada diri sendiri. "Tidak apa-apa, Kaelen. Kau bisa lari sejauh yang kau mau. Tapi kau sudah menyetujui festival itu. Dan di festival itu... aku akan pastikan kau tidak punya tempat untuk sembunyi dari cahaya."
Elara menyeka mulutnya dengan anggun. Rencananya untuk Festival Musim Dingin bukan hanya tentang memberi makan prajurit. Itu adalah panggung. Panggung di mana ia akan memaksa Kaelen untuk melihat masa depan, dan berhenti menatap ke belakang pada reruntuhan masa lalu.
Dan besok... besok dia akan kembali ke Sayap Selatan. Karena mawar itu butuh air, dan Elara punya banyak emosi yang perlu disalurkan.