NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Balas Dendam Langit

Cahaya biru yang begitu menyilaukan itu meledak membesar seketika, menelan seluruh wilayah sejauh bermil-mil, mengubah siang menjadi putih bersih yang menyakitkan mata, dan mengirimkan gelombang kejut yang terasa sampai ke tulang-tulang pegunungan terjauh di sana. Suara ledakannya bukan lagi suara benturan biasa, melainkan suara gemuruh alam semesta yang bergeser, suara yang membuat tanah bergetar hebat seolah dunia ini mau pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Udara di sekitar menjadi begitu panas hingga pasir dan bebatuan yang tersisa langsung meleleh menjadi kaca cair, mengalir seperti sungai kecil di dasar kawah yang baru saja tercipta.

Di atas bukit yang aman, ribuan pasukan Garuda dan Elang Bebas bersujud ke tanah, menutup telinga dan mata mereka sekuat tenaga, gemetar hebat bukan lagi karena takut, tapi karena kekuatan yang mereka saksikan itu begitu dahsyat hingga sulit diterima oleh akal sehat manusia biasa. Jenderal Agus berdiri tegak di depan barisan, matanya terpejam rapat, tangannya mencengkeram tongkat komando sampai buku-buku jarinya memutih. Di dalam hatinya, ada rasa bangga yang luar biasa bercampur dengan rasa cemas yang menyakitkan. Ia tahu betul, apa yang dilakukan Raka tadi adalah pertaruhan nyawa yang paling gila, paling nekat, dan paling berani yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Raka mempertaruhkan segalanya—tubuhnya, nyawanya, dan masa depannya—hanya demi satu kali serangan.

"Raka..." bisik Jenderal Agus parau, napasnya tersendat berat. "Kau benar-benar mengeluarkan semuanya... kau mempertaruhkan segalanya... semoga kekuatan itu cukup, Nak. Cukup untuk menghentikan mereka... cukup untuk memberi kami waktu bernapas sedikit saja."

Beberapa menit terasa berjalan selambat-lambatnya, seolah waktu sendiri ikut berhenti karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Perlahan namun pasti, cahaya putih yang menyilaukan itu mulai memudar, mulai kembali menjadi warna alam yang wajar. Suara gemuruh panjang mereda, digantikan oleh suara angin kencang yang menderu-deru di sela-sela puing-puing yang baru saja terbentuk. Kepulan debu tebal, uap panas, dan asap hitam pekat mengepul tinggi ke langit, menutupi pandangan ke tengah lokasi benturan itu, membuat suasana menjadi kelabu, suram, dan penuh misteri yang menakutkan.

Semua mata tertuju lekat-lekat ke tengah kawah raksasa yang baru saja tercipta, kawah yang luasnya berkilomoter persegi, dalamnya ratusan meter, dan dasarnya berisi tanah yang masih mendidih serta berasap tebal. Napas ribuan orang tertahan di tenggorokan, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Hati mereka berdebar kencang antara harap dan cemas yang menyakitkan.

Perlahan, debu itu turun dan menipis, tersapu angin yang mulai tenang. Di tengah kawah itu, di atas tumpukan tanah yang hangus, retak-retak, dan masih berasap, sebuah sosok perlahan terlihat jelas. Sosok itu berlutut di tanah keras, tubuhnya membungkuk berat, kedua tangan menopang berat badannya agar tidak jatuh sepenuhnya ke tanah yang panas itu.

Itu Raka.

Wujud raksasa bayangan Garuda yang memancar dari punggungnya tadi sudah lenyap sepenuhnya, habis terbawa serangan terakhir itu, habis dikorbankan untuk melepaskan kekuatan maksimal. Tubuh aslinya kini terlihat kecil, rapuh, dan penuh luka parah yang mengerikan. Hampir seluruh pakaian tempurnya hangus, robek, dan hilang, menyisakan kain-kain kecil yang menempel di tubuhnya. Kulitnya penuh luka bakar, lecet dalam, dan memar besar yang membiru. Darah mengalir deras dari kepala, dahi, dada, tangan, dan kakinya, menetes ke tanah panas dan langsung menguap menjadi asap tipis begitu menyentuh permukaannya. Napasnya terdengar sangat berat, sangat pendek, dan sangat sulit, seolah setiap kali ia menarik napas, paru-parunya terasa robek dan sakit luar biasa.

Ia menghabiskan segalanya. Ia mengeluarkan seluruh isi cadangan kekuatan Sumber Unggul yang ada di dalam dirinya, tanpa sisa, tanpa penahanan, tanpa pikir panjang. Ia membiarkan energi murni itu meluap keluar melebihi batas kemampuan tubuh manusia, membiarkan tulang dan ototnya robek demi robek, hanya demi melepaskan satu serangan yang cukup kuat untuk melukai, atau bahkan menghancurkan, makhluk setingkat dewa seperti Elara.

Namun, meski tubuhnya terasa seperti hancur berkeping-keping, meski rasa sakitnya menyiksa jiwa raga, Raka masih berusaha mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang rabun dan kabur berusaha menyipitkan mata, berusaha mencari sosok musuhnya di tengah sisa-sisa debu dan asap yang masih tersisa itu.

"Apakah... sudah selesai?" gumam Raka pelan, suaranya nyaris tak terdengar, bibirnya bergetar hebat karena kelelahan ekstrem. "Apakah dia... sudah kalah... sudah mati?"

Dari sisa-sisa kepulan asap hitam dan uap panas yang perlahan hilang itu, sebuah suara terdengar. Suara itu berat, parau, penuh rasa sakit yang nyata, tapi yang paling mengerikan... suara itu masih hidup, masih ada, dan masih penuh kemarahan yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.

"Kau... kau manusia kecil... kau benar-benar... hampir saja membunuhku..."

Dari balik tirai asap terakhir itu, Elara muncul perlahan.

Pemandangan itu membuat darah seluruh pasukan yang melihatnya seolah berhenti mengalir di pembuluh darah. Bahkan Raka sendiri, yang sudah terbiasa menghadapi hal-hal mengerikan dan hampir mati berkali-kali, merasa bulu kuduknya berdiri tegak karena kaget dan rasa takut yang dingin menusuk tulang.

Elara masih berdiri. Ia belum mati. Ia belum hancur. Ia masih ada.

Tapi kondisinya sungguh tidak terbayangkan, sesuatu yang mustahil bagi makhluk biasa. Baju zirah indah miliknya yang dulu berkilauan, kokoh, dan tidak ternoda kini sudah hancur total, tinggal potongan-potongan kecil yang gosong dan menempel di tubuhnya. Sebagian besar kulit tubuhnya hangus, melepuh, dan terluka parah. Sebuah goresan besar, dalam, dan panjang memanjang dari bahu kanan hingga pinggang kirinya—bekas langsung serangan cahaya Raka—darah keemasan, darah bangsa Langit yang sakti dan sulit keluar, mengalir deras dari luka itu, menetes ke tanah dan mendesis keras saat bersentuhan dengan panasnya tanah. Sayap besar di punggungnya tinggal satu sisi saja, sisi lainnya hancur lebur menjadi debu halus yang tertiup angin. Wajah tampannya penuh luka dan noda hitam, satu matanya tertutup darah keemasan itu, dan rambut indahnya yang dulu berkilau seperti emas murni kini kusut, gosong, dan berantakan tak berbentuk.

Namun, yang paling mengerikan bukanlah luka-lukanya. Melainkan ekspresi wajahnya.

Wajah Elara kini bukan lagi wajah seorang panglima yang angkuh, tenang, dan penuh rasa kasihan. Bukan lagi wajah makhluk agung yang merasa lebih tinggi dari siapa pun. Wajah itu kini berubah menjadi wajah iblis yang penuh dendam membara, penuh rasa sakit yang mendalam, dan penuh keinginan membunuh yang mutlak tanpa ampun. Matanya yang merah menyala itu menatap Raka dengan pandangan yang begitu tajam, begitu pekat, dan begitu ganas seolah ia ingin merobek jiwa pemuda itu langsung dari tubuhnya, ingin membuatnya menderita ribuan kali lebih sakit daripada apa yang ia rasakan saat ini.

"Kau melukai aku..." desis Elara, suaranya mendesis dan bergetar hebat karena amarah yang ditahan sekuat tenaga agar tidak meledak seketika. Ia melangkah maju selangkah, setiap langkahnya membuat tanah bergetar dan berasap karena sisa panas yang masih tersimpan di tubuhnya. Darah keemasannya menetes di belakangnya, meninggalkan jejak yang bersinar terang dan tidak hilang tertiup angin. "Aku, Komandan Besar Pasukan Pengawas Wilayah Bumi... aku yang tak terkalahkan selama ribuan tahun... aku yang dianggap dewa oleh ribuan dunia dan ras... aku dilukai, aku dibuat terluka parah, aku hampir mati... oleh makhluk dari tanah rendahan... oleh manusia yang seharusnya menjadi semut kecil di bawah kakiku saja..."

Elara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap ke atas, menatap kapal raksasa yang masih melayang diam dan mengerikan di atas sana. Ia mengangkat tangan kirinya yang gemetar karena sakit dan marah, mengacungkan jari telunjuknya ke arah kapal itu, dan berteriak sekuat tenaga dengan suara yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya, suara yang bergema sampai masuk ke dalam ruang kendali kapal itu.

"AKU MINTA IZIN MENGGUNAKAN SENJATA TERLARANG! AKU MINTA IZIN MENGGUNAKAN KEKUATAN PENGHANCUR DUNIA! MAKHLUK INI BERBAHAYA! UMAT MANUSIA BERBAHAYA! MEREKA TIDAK LAYAK HIDUP DI ALAM SEMESTA INI LAGI! AKU AKAN HANCURKAN DUNIA INI SAMPAI KE AKARNYA! AKU AKAN PASTIKAN TIDAK ADA SATU PUN YANG SELAMAT DARI KEMATIAN YANG MENGERIKAN!"

Di atas sana, di dalam ruang kendali kapal raksasa yang dingin dan megah itu, suasana berubah drastis. Para penasihat, petinggi, dan pengamat yang tadinya diam, santai, dan meremehkan kini berdiri kaku di tempat mereka, wajah mereka pucat pasi, mata mereka melotot tak percaya melihat luka parah yang diderita Komandan Elara—salah satu prajurit terkuat, terhebat, dan paling sakti yang mereka miliki. Mereka tidak percaya, mereka tidak mau percaya, tapi bukti di depan mata mereka nyata dan jelas.

Seorang sosok tua berjubah putih bersih, duduk di kursi paling tinggi, di singgasana dinginnya, mengangguk perlahan dengan wajah yang sama dinginnya, kejamnya, dan tanpa belas kasihnya seperti batu karang di tengah lautan. Ia menatap layar pengawasan di depannya dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.

"Berikan izin... aktifkan 'Mata Penghakiman'. Hancurkan wilayah ini seketika. Hancurkan benua ini. Hancurkan apa saja yang ada di permukaannya. Jangan biarkan satu pun selamat. Keberadaan makhluk yang mampu melukai prajurit Langit... adalah ancaman nyata bagi seluruh tatanan alam semesta. Musnahkan semuanya sampai bersih."

Seketika itu juga, kapal raksasa yang diam dan sunyi itu berubah total. Seluruh tubuhnya yang berwarna perak putih bersih itu kini mulai bersinar merah darah pekat, dari ujung haluan hingga ke buritan. Suara dengungan rendah, berat, dan mengerikan terdengar bergema dari dalam perut kapal itu, suara yang membuat udara bergetar dan tanah bergetar hebat seolah ada gempa besar. Di bagian paling bawah kapal itu, sebuah lubang besar terbuka perlahan, menampakkan bola energi merah gelap yang berputar kencang, memancarkan aura kematian yang murni, dingin, dan mematikan.

Di bawah sana, Elara tersenyum mengerikan saat merasakan aliran energi dahsyat itu turun perlahan ke arahnya, memenuhi tubuhnya yang lemah dengan kekuatan sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Ia berbalik menatap Raka yang masih berlutut tak berdaya di tanah, tersenyum penuh kemenangan yang kejam dan penuh dendam.

"Kau bangga ya, manusia tanah? Kau bangga karena hampir mengalahkan aku? Kau bangga karena punya kekuatan besar yang warisan itu? Nah, sekarang... lihatlah apa yang baru saja kau lakukan. Kau tidak hanya membuatku marah... kau baru saja menghukum mati seluruh duniamu sendiri. Kau baru saja menandai bumi ini untuk dihancurkan total selamanya."

Elara mengangkat kedua tangannya ke atas, menyambut aliran energi merah gelap yang turun deras dari kapal raksasa itu, energi yang begitu pekat dan begitu besar hingga menutupi seluruh langit, menghalangi cahaya matahari, dan mengubah dunia menjadi gelap kelam total.

"Lihatlah ke atas, Raka Pratama! Lihatlah senjata sesungguhnya dari Kerajaan Langit kami! Ini bukan lagi kekuatanku saja... ini adalah kekuatan yang cukup untuk meratakan seluruh benua, menguapkan lautan luas, dan memusnahkan segala kehidupan di permukaan bumi ini dalam sekejap mata! Dan semuanya ini... semua kematian ini... semua kehancuran ini... adalah karena ulahmu! Karena keberanianmu yang bodoh itu!"

Raka berusaha keras mengangkat kepalanya, meski rasanya tulang lehernya sudah mau patah karena tekanan aura yang luar biasa itu. Ia menengadah ke atas, melihat pemandangan mengerikan itu. Ia melihat energi merah raksasa itu berkumpul di tangan Elara, membentuk tombak panjang yang besarnya setinggi gunung, berputar kencang dan berdenyut niat membunuh yang tak terbayangkan. Ia melihat wajah Elara yang penuh kepuasan kejam. Dan ia melihat ke belakang... melihat wajah pasukannya di kejauhan... wajah-wajah penuh ketakutan, keputusasaan, dan kematian yang sudah di depan mata.

Raka sadar sepenuhnya. Serangan ini... serangan yang akan dilepaskan Elara ini... kekuatannya jauh di atas apa pun yang pernah ia hadapi. Bahkan jika ia sehat sempurna, bahkan jika ia punya cadangan energi sepuluh kali lipat lebih banyak... ia tidak akan mampu menahannya. Ia tidak akan mampu menghindarinya. Dan ia tidak akan mampu menyelamatkan siapa pun darinya. Ini adalah akhir.

Dunia seolah berhenti berputar. Waktu terasa melambat sangat jauh. Di tengah keputusasaan yang paling dalam itu, di tengah rasa sakit yang menyiksa itu, di tengah rasa bersalah yang luar biasa karena telah membawa bencana sebesar ini ke pintu rumah mereka... Raka justru tersenyum. Senyum yang sedih, senyum yang ikhlas, dan senyum yang tegar.

Ia memandang ke arah Jenderal Agus, ke arah Karin, Reza, Dedi, Bara, Rio, dan semua pasukan Garuda yang berdiri tegak meski tahu mereka bakal mati. Ia berbisik pelan, suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan angin yang lewat.

"Maafkan aku... Ayah... Maafkan aku teman-teman... Aku sudah berusaha sekuat tenaga... aku sudah bertarung sekuat nyawa... tapi ternyata... musuh kita terlalu besar... terlalu kuat... maafkan aku..."

Namun, tepat saat Elara akan melepaskan tombak kematian itu ke bawah, tepat saat semua orang sudah menutup mata menerima kematian mereka, tepat saat hati semua orang sudah berhenti berharap... sesuatu yang tidak terduga, sesuatu yang mustahil, dan sesuatu yang legendaris terjadi.

Dari arah utara, dari balik pegunungan yang jauh dan tertutup kabut tebal, melesat puluhan cahaya berwarna biru, hijau, kuning, dan merah yang terang benderang, bergerak dengan kecepatan yang bahkan melebihi kapal raksasa itu, membelah langit gelap merah itu seolah membelah kain. Cahaya-cahaya itu melesat cepat, bergerak berkelompok, membentuk formasi tajam dan rapi, dan dalam sekejap mata sudah berada tepat di atas kepala mereka, tepat di antara kapal raksasa dan tanah bumi, memancarkan aura yang membuat energi merah itu bergoyang dan ciut ketakutan.

Cahaya-cahaya itu mendarat di tanah, berjarak seratus meter di sebelah kiri Raka. Saat debu mendarat mereka mereda, terlihat sosok-sosok yang mengenakan pakaian zirah indah, kuno, namun kokoh, bergambar lambang-lambang elemen alam yang berbeda-beda: api, air, tanah, angin, petir, dan cahaya. Ada sekitar lima puluh orang, semuanya berdiri tegak, memancarkan aura kekuatan yang stabil, murni, dan luar biasa dahsyat, aura yang setara, bahkan melebihi, aura Komandan Elara.

Di barisan paling depan, berdiri seorang lelaki tua yang berambut perak panjang sampai pinggang, wajahnya penuh kerutan namun matanya bersinar tajam, jernih, dan bijaksana, memancarkan wibawa yang membuat Elara mundur selangkah karena kaget dan takut. Lelaki tua itu mengenakan jubah panjang berwarna biru laut yang bergelombang, memegang tongkat kayu purba yang di atasnya bersinar kristal bening besar yang berdenyut tenaga alam.

Ia menatap Elara dingin, menatap kapal raksasa di atas sana dengan pandangan menantang, lalu perlahan menoleh ke arah Raka yang terbaring lemah di tanah dengan pandangan yang penuh rasa lega, haru, dan bangga yang mendalam.

"Kau sudah bertarung dengan sangat hebat, Nak..." ucap lelaki tua itu, suaranya tenang namun bergema ke seluruh penjuru, terdengar jelas oleh semua orang. "Kau sudah menahan mereka lebih lama dari yang kami duga. Kau sudah membuktikan keberanian yang belum pernah kami lihat selama ribuan tahun. Kau sudah membuktikan bahwa kami tidak salah menunggu."

Elara, yang tadinya penuh kemarahan dan kemenangan, kini menatap sosok-sosok baru itu dengan mata melotot tak percaya, mulutnya terbuka lebar karena kaget yang tak terlukiskan. Ia gemetar hebat, bukan lagi karena marah, tapi karena rasa takut yang murni dan kuno yang tersimpan jauh di dalam darahnya. Ia mengenali lambang-lambang itu, ia mengenali aura itu, ia mengenali siapa mereka.

"Kalian... kalian... tidak mungkin! Kalian sudah hilang! Kalian sudah musnah ribuan tahun yang lalu! Kami melihat keruntuhan kalian! Kami melihat kepunahan kalian! Kalian... Suku Penjaga Elemen Purba... masih ada? Masih hidup?!"

Lelaki tua berambut perak itu tersenyum tipis, senyum yang penuh wibawa dan ancaman dingin yang tajam. Ia mengangkat tongkatnya sedikit ke arah Elara dan kapal raksasa di atas sana, seolah menantang mereka semua.

"Kalian mengira kami sudah mati? Kalian mengira kalian sudah menghapus kami dari sejarah alam semesta ini? Kalian salah besar, anak Langit... Kami tidak mati. Kami bersembunyi, kami menunggu, kami mengumpulkan kekuatan, kami melestarikan pengetahuan... dan kami menunggu saat yang tepat untuk kembali. Dan hari ini... hari di mana pewaris sejati Sumber Unggul akhirnya bangkit, berani melawan, dan berani menentang keserakahan kalian... hari inilah saatnya kami kembali. Saatnya perputaran roda sejarah berbalik arah."

Lelaki tua itu menoleh ke arah Raka, menatap pemuda itu dengan pandangan seorang kakek yang sangat bangga pada cucu kesayangannya.

"Terima kasih, Raka Pratama... Kau adalah alasan kami keluar dari persembunyian. Kau adalah alasan harapan kembali tumbuh di bumi ini. Dan mulai detik ini... kau tidak sendirian lagi. Kami ada di sini. Kami ada bersamamu."

Suasana berubah total dalam sekejap. Keputusasaan yang tadinya menyelimuti seluruh wilayah itu lenyap seketika, digantikan oleh harapan baru yang meledak besar. Pasukan Garuda bersorak kaget dan bahagia, teriakan semangat menggema ke mana-mana. Jenderal Agus tersenyum haru sampai meneteskan air mata bahagia, mengenali lambang-lambang itu dari buku-buku sejarah kuno yang dulu ia baca. Dan Raka sendiri, yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena kelelahan, membuka matanya lebar-lebar dengan rasa kaget dan tidak percaya yang luar biasa.

Musuhnya bukan hanya Elara. Bukan hanya Kerajaan Langit. Tapi ternyata... ada sejarah lama, ada perjanjian lama, ada perang kuno yang belum selesai, dan ada musuh bebuyutan lain yang sudah menunggu ribuan tahun. Dan sekarang... dua kekuatan besar dunia akhirnya bertemu kembali di medan pertempuran yang sama.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!