Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Aditama
Hening. Karena Panji masih terdiam sedangkan istrinya sedang mengatur nafasnya agar normal kembali.
Seorang laki laki muda yang merupakan salah satu pengawalnya datang terburu buru mendekat dengan wajah agak takut.
"Maaf pak, bu, tuan muda Aditama tidak ada di kamarnya. Saya juga sudah memeriksa ruang makan, ruang gym dan halaman belakang, tapi tuan muda tidak ada."
Sejenak suami istri itu saling pandang. Wajah Merelin seperti kehilangan darahnya.
Dia langsung memukul lengan suaminya dengan sekeras yang dia bisa.
"Dia ngga ada, Panji. Aditama ngga ada!"
"Tenanglah." Panji memegang kedua tangan istrinya dan dia menatap pengawalnya.
"Periksa seluruh rumah," perintahnya tegas.
"Siap, pak." Pengawal itu langsung bergegas pergi. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, tubuhnya mematung. Tuan mudanya muncul ngga jauh di depannya.
Pengawal itu segera berbalik menghadap ke arah tuan besarnya yang sedang menenangkan istrinya.
"Tuan besar;" panggilnya dengan suara yang agak keras.
Panji dan istrinya menoleh dan keduanya jadi membeku ketika melihat putra yang mereka khawatirkan dan cari cari sejak tadi sedang berjalan ke arah mereka dengan tatapan mata yang penuh bara.
Sunyi, hening dan senyap. Seolah untuk menarik nafas pun terasa sangat sulit. Hingga Aditama kini sudah berdiri dalam jarak beberapa meter saja dari kedua orang tuanya.
Tubuh Merelin gemetar melihat roman wajah putranya.
"Ma, pa, apa maksudnya ini?! Wanda anak selingkuhan papa?!" suara Aditama bergetar karena kemarahan yang siap meledak. Dia tidak berbasa basi, langsung meluapkan kemarahannya.
Kedua orang tuanya terperangah, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Lidah mereka rasanya kelu dan mulut yang seolah terkunci rapat.
Pengawal yang ada di sana segera menyingkir, tidak ingin ikut campur urusan keluarga tuan besarnya.
"Apa benar itu, ma, pa!" tanya Aditama lagi dengan suara yang lebih keras. Kemarahannya makin menjadi karena kedua orang tuanya malah tidak menjawab pertanyaannya.
"Papa selingkuh saat mama hamil?!" Kali ini Aditama sampai berteriak.
Terdengar suara langkah tergopoh gopoh dari dalam rumah.
"Ada apa ribut ribut?" Terdengar suara Oma Ester. Tapi begitu sampai di luar dan melihat Aditama yang memasang wajah penuh amarah, beliau sejenak tertegun. Kedua opanya juga ikut keluar dari dalam rumah. Mereka juga sama terdiam.
"Tama, kita bicarakan di dalam." Oma Ester beucap lembut setelah bisa mengendalikan kekagetannya. Dia mendekati cucu kesayangannya yang sedang diliputi perasaan marah.
"Aku mau dengar penjelasan papa sekarang, Oma. Kenapa dia berselingkuh dengan anak pembantu!" Sudut mata Aditama menangkap sosok Oma Tina dan Nenek Sunarmi yang juga sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Darahnya tambah mendidih melihat Nenek Sunarmi yang menurutnya masih tidak tau malu, tetap berada di rumah ini padahal sudah merusak kebahagiaan penghuninya.
Aditama mendengus. Hampir saja dia tertipu. Ternyata ibu dan anak sama saja. Pintar menggoda anak majikannya.
Papanya digoda anak Nenek Sunarmi. Dan dia digoda oleh cucunya Nenek Sunarmi. Malangnya dia bahkan sempat curhat tentang perasaannya pada Mahesa.
Apa yang akan dikatakan Mahesa kalo dia sempat menyukai anak selingkuhan papanya.
Darah Aditama menggelegak. Da hampir saja melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya.
"Usir wanita tua bangka biang masalah itu!" Telunjuk tangan Aditama menuding tepat ke wajah Nenek Sunarmi yang keberadaannya tidak jauh darinya.
"Aditama! Yang sopan kalo bicara!" sergah Oma Tina dengan tatapan ngga suka. Sementara Nenek Sunarmi tersentak dengan perlakuan kasar Aditama yang baru kali ini dia terima.
"Oma masih mau membela dia? Dia sudah membiarkan anaknya merayu papa!" Aditama malah membentak Oma Tina. Dia tidak peduli lagi dengan etika sopan santun. Yang ada sekarang kemarahannya makin meluap karena merasa omanya membela Nenek Sunarmi.
"Aditama, bicaralah yang sopan dengan oma kamu." Opa Bramasta juga memarahi cucunya, ngga terima istrinya dibentak.
"Tenanglah Aditama," bujuk Oma Ester. Opa Iryawan menghela nafas panjang. Yang mereka takutkan akhirnya terjadi. Cucunya sudah tau tentang rahasia ini.
"Kita bicara di dalam, Tama. Jangan teriak teriak di sini," ucap Opa Bramasta lagi.
Sementara itu sepasang mata Merelin mulai basah. Ini yang dia takutkan. Dia merasa hatinya hancur saat melihat wajah terluka anaknya sekarang.
"Buat apa dibicarakan lagi. Kalian semua juga sudah tau," tolaknya dengan aliran darah yang terasa sangat panas. Tapi anehnya tubuhnya malah mengeluarkan keringat dingin. Dia berjalan cepat menghampiri motornya.
"Tama, papa minta maaf," ucap Panji Hasta dengan suara serak. Udara di sekitarnya terasa pengap.
Tapi Aditama mengabaikannya. Kebencian pada papanya membuatnya muak.
"Tama, jangan pergi." Merelin menahan lengan putranya.
Aditama menatap mamanya yang sudah bersimbah air mata. Dia menghapus air mata di pipi mamanya.
"Sebelum nenek tua itu pergi, aku ngga akan pulang, ma."
"Tama, jangan pergi dalam keadaan marah," bujuk Oma Tina.
Aditama tidak menggubris. Di matanya saat ini Oma Tina adalah dalang terjadinya perselingkuhan papanya dengan anak Nenek Sunarmi. Aditama yakin, Oma Tina merestui hubungan terlarang papanya.
"Selagi Oma tidak mengusir dia, aku ngga akan pulang." Dia mengancam lagi.bAditama segera menunggangi motornya, bersiap menghidupkan mesinnya.
"Nenek akan pergi, Tama," ucap Nenek Sunarmi dengan wajah yang masih pucat.
"Pergilah yang jauh. Ingat, jangan sebut dirimu nenek lagi di depanku!"
"Tama!" seru Oma Tina dengan suara bergetar. Ngga menyangka cucunya bisa berucap sekasar ini.
Aditama menyeringai. Hatinya puas melihat wajah renta Nenek Sunarmi makin pucat.
Opa Iryawan memengang lengannya, menahan cucunya agar tidak pergi.
"Ngga baik pergi dalam keadaan marah, Tama," bujuknya berusaha melembutkan hati Aditama.
Aditama menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga bisa di sini, opa." Akhirnya opa dan oma juga mama dan papanya mundur ketika Aditama tetap menggas motornya.
"Kamu harus tau cerita yang sebenarnya, Tama," seru Oma Tina tapi Aditama tetap melaju pergi.
Papanya melirik pengawalnya yang berdiri beberapa meter darinya. Seolah mengerti pengawal itu segera pergi. Dia akan mengikuti kemana tuan mudanya pergi.
"Panji. Aku akan mengejarnya." Merelin tambah khawatir melihat kepergian putranya.
"Aku sudah menyuruh pengawal menyusulnya."
Baru saja dia menyelesaikan perkataannya, terdengar suara beberapa motor yang sudah pergi melewati gerbang rumah, menyusul Aditama.
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius