"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
** Happy reading **
Pagi kembali menyapa, Anisa dan Ibu Mirna di bantu oleh asisten rumah tangga mulai menyiapakan sarapan untuk mereka pagi ini. Tidak ada lagi pembahasan apapun soal semalam, Ibu Mirna hanya menanyakan tumbuh kembang Ziane yang tidak bisa mereka lihat dan dengan antusias Anisa menjelaskannya. Sesekali tawa dari mantan menantu dan mertua itu terdengar di ruangan itu.
"Zia dimana ?" Tanya Dimas sudah berdiri di ambang pintu dapur masih dengan piyama yang melekat di tubuhnya.
"Masih di kamar mas." Jawab Anisa menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Kenapa di biarkan sendirian Nis, kalau jatuh dari ranjang bagaiman." Ujar Dimas khawatir lalu segera berlalu dari sana menuju kamarnya yang di tempat Anisa.
Anisa menatap punggung Dimas yang hilang di balik dinding pembatas dapur.
"Jangan masukin di hati, dia hanya sedang khawatir dengan putrinya." Ucap Ibu Mirna sambil menepuk pelan punggung mantan menantunya. Anisa menatap pada mantan ibu mertuanya lalu mengangguk mengerti.
***
Dimas berlari menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar tidurnya yang semalam di gunakan Anisa dan putrinya beristirahat. Menekan handel pintu pelan lalu membuka pintu kamar dengan hati-hati agar tidak mengganggu putrinya yang mungkin masih tertidur.
Baru semalam mantan istrinya itu menempati kamar ini, namun wangi vanilla sudah menguar di dalam ruangan. Wangi yang menjadi kesukaanya setelah malam kelam itu kini dia nikmati di dalam kamar pribadinya.
Pandangannya tertuju pada meja rias, hatinya mencelos kotak merah itu masih berada di tempat dimana dia meletakkanya semalam. Kotak itu bahkan tidak berpindah seincipun dari tempat dia meletakkannya semalam. Dimas tersenyum miris, Anisa sama sekali tidak menyentuh kotak itu, itu berarti wanita itu sama sekali tidak lagi ingin memberinya kesempatan.
Pandangannya kini mengarah ke ranjang dimana putrinya berada, lalu dengan langkah perlahan Dimas berjalan menuju ranjang kemudian menatap putrinya dengan begitu lekat.
"Tolong bantu Ayah." Ujarnya lalu kembali membalik tubuhnya menuju ruang ganti, mengambil kemeja dan celana panjang berbahan kain lalu di bawanya masuk kedalan kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, Dimas keluar dari dalam kamar mandi sudah memakai pakaiannya dengan rapi lalu kembali berjalan menuju ranjang tempat putrinya berada.
Gadis kecil yang masih saja terlelap di atas ranjang besar mulai menggeliat pelan saat tangan dingin Dimas mengelus pipi gembulnya. Dan perlahan mata polos Zia mengerjap pelan lalu menatap lekat pada wajah Ayahnya.
Dimas tersenyum senang melihat wajah putrinya ini di pagi hari. Zia mengulurkan tangan mungilnya agar sang Ayah segera meraihnya, dan Dimas segera membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya lalu kembali membaringkannya di tengah ranjang.
Zia semakin tertawa geli saat Dimas menggelitik tubuhnya dengan hujaman ciuman. Tawa riang gadis kecilnya kini memenuhi kamar yang baisanya begitu sepi mencekam.
Bolehkah dia berharap agar tawa riang ini bisa dia nikmati di setiap paginya. Bolehkah dia berharap gadis kecil ini akan menjadi mood boosternya sebelum memulai aktivitas padatnya setiap hari. Dia tahu harapannya terlalu tinggi, namun inilah kenyataanya. Hal yang paling dia inginkan sekarang adalah Zia dan Anisa kembali dalam hidupnya. Permintaan yang tidak tahu diri inilah yang paling dia harpakan bisa di kabulkan oleh Allah nanti.
***
Di ruang dapur, Anisa mulai menata makanan bersama asisten rumah tangga di atas meja makan, kemudian meminta izin pada Ibu Mirna pergi ke kamar untuk melihat putrinya.
Ibu Mirna mengangguk lalu memintanya untuk menyuruh Dimas sarapan. Anisa mengiyakan perintah dari mantan Ibu mertuanya lalu segera beralalu dari dapur menuju tangga.
Berapa menit Anisa terdiam di depan pintu yang di biarkan sedikit terbuka, dadanya kembali berdetak cepat ketika mendengar suara tawa putrinya di dalam sana. Tawa riang yang selalu dia nikmati sendirian kini ada orang lain yang begitu menginginkan dan berharap dia bisa membaginya. Bukan egois dan tidak ingin berbagi, namun kesakitan yang masih berkeliaran di fikirannya membuatnya takut untuk kembali menuju luka yang sudah bersusah payah dia tutupi empat tahun ini.
Masih dengan rongga dada yang bergemuruh Anisa menarik nafasnya dalam lalu kembali menghembuskannya perlahan. Sungguh dia tidak pernah segugup ini bahkan ketika dulu mereka berada dan tidur di kamar yang sama selama hampir tujuh bulan lamanya.
Anisa memberanikan diri untuk kembali masuk kedalam kamar dan berada di dalam ruangan yang sama bersama mantan suaminya ini. Dimas menoleh saat pintu terbuka lebar dan menatap Anisa yamg sudah berdiri canggung di sana.
"Ibu meminta mas untuk sarapan." Ucap Anisa pelan. Masih mencoba menetralkan kegugupan yang kini melandanya.
Dimas kembali menatap kearah putrinya lalu menghujamkan ciuman dinseluruh bagian wajah putrinya.
"Ada tempat yang ingin mas tuju hari ini ?" Tanya Anisa mengalihkan kegiatan suaminya.
"Aku mau ke kantor lalu mengantar kalian ke Bandara." jawab Dimas singkat tanpa menoleh pada Anisa. Dia tetap saja sibuk mengajak Zia bermain. Dia berusaha mengabaikan wanita yang sudah berdiri di samping ranjang tempat dia dan putrinya berada.
"Zia paling suka jika di ajak ke kebun binatang atau sejenisnya." Ujar Anisa lagi. Sungguh dia tidak tau bagaimana caranya mengatakan jika hari ini dia akan membiarkan Dimas menghabiskan waktu bersama Zia, karena besok dia berencana kembali ke Bandung.
Dimas berhenti lalu menatap lekat pada wajah yang semakin membuat jantungnya menggila.
"Nikamti waktu bersama Zia hari ini, aku akan menunda kepulangan kami besok hari." Ucap Anisa lagi.
"Benarkah ?" Tanya Dimas senang dan Anisa mengangguk.
"Baiklah, bersiaplah kita akan ke Aquarium dan safari." Ujar Dimas lalu kembali mengajak Zia bermain.
"Kenapa mas masih disini ?" Tanya Anisa heran.
"Aku masih ingin bermain bersama Zia." Ujar Dimas singkat tanpa menghentikan kegiatannya.
"Mas." Ujar Anisa kesal.
Dimas mengentikan kegiatannya lalu berdiri dari ranjang. Sebelum berlalu dari dalam kamar Dimas mengusap kepala mantan istrinya yang masih tertutup hijab.
Anisa menegang dengan detakan jantung yang menggila. Setelah malam kelam itu, baru kali ini bagian tubuhnya kembali di sentuh oleh laki-laki itu.
Bunyi pintu yang tertutup terdengar di telinganya. Tatapannya menoleh, mengarah pada pintu kayu yang kini sudah tertutup rapat lalu nafas lega ikut berhembus dari mulutnya.
"Mommy." Ujar Zia kembali mengalihkan tatapan Anisa dari daun pintu kearah putrinya yang kini sudah terduduk diam di atas ranjang.
Tangan kecil Zia kini sudah terulur dan Anisa segera meraihnya lalu membawa tubuh kecil putrinya masuk kedalam kamar mandi.
***
"Anisa dan cucu ibu mana ? kenapa turun sendirian ?" Tanya Ibu Mirna beruntun pada putranya.
"Masih di kamar bu, mau menyiapkan Zia. Kami mau jalan-jalan hari ini." Ucap Dimas dengan senyum bahagianya.
Ibu Mirna ikut tersenyum melihat kehangatan putranya yang sudah menghilang empat tahun ini.
"Jangan sia-siakan lagi jika dia memutuskan untuk memberimu kesempatan ." Ucap Ibu Mirna sambil menepuk pelan punggung tangan putranya.