NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Salah pegang

Beberapa menit kemudian...

Lantai direksi kembali sibuk. Dara dan Rina masih berkutat dengan tumpukan dokumen. Sesekali mereka memeriksa daftar keberangkatan yang dikirim bagian operasional.

"Boarding pass sudah masuk email?" tanya Rina.

"Sudah."

"Hotel?"

"Sudah dibooking."

"Bagus."

Dara mengangguk sambil terus mengetik. Namun pikirannya sesekali melayang ke percakapan tadi di ruangan Alexander.

"Bagus."

Kenapa beliau menjawab seperti itu saat memastikan dirinya tidak punya hubungan apa-apa dengan Aldi? Dara langsung menggeleng pelan. Jangan mikir aneh-aneh.

Sementara itu...

Di dalam ruangan CEO. Alexander masih membaca dokumen yang akan dibawa ke Surabaya. Namun entah kenapa konsentrasinya tidak setajam biasanya. Pikirannya justru teringat ekspresi Aldi beberapa menit lalu.

Pria itu terlihat benar-benar tidak suka saat mendengar Dara ikut... aneh.

Tok..Tok.

Pintu kembali diketuk.

"Masuk."

Kali ini yang masuk adalah Rina. "Permisi, Tuan."

Alexander mengangguk. "Semua dokumen sudah siap."

"Bagus."

"Tim juga sudah lengkap." Rina menyerahkan beberapa berkas terakhir.

Setelah itu ia keluar lagi, ruangan kembali sunyi. Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya mengarah ke jendela. Lalu tanpa sadar ia mengingat satu hal.

Flash back...

Beberapa minggu yang lalu...

Saat Aldi memaksanya menerima Dara sebagai sekretaris pribadi. "Kenapa harus dia?"

Aldi waktu itu meletakkan sebuah map di atas meja. "Karena dia kompeten."

Alexander bahkan tidak membuka map tersebut. "Ada puluhan kandidat lain."

"Dan gue pilih dia."

Alexander menatap sahabatnya datar. "Sejak kapan lo ikut campur urusan gue?"

"Sejak sekretaris lo resign."

"Lo aneh."

"Memang."

Saat itu Alexander akhirnya membaca isi map tersebut. Nilai akademik bagus, pengalaman kerja cukup. Hasil tes sangat baik, tidak ada yang istimewa. Namun juga tidak ada alasan untuk menolak.

Akhirnya Dara diterima. Dan sejak saat itu Aldi selalu terlihat terlalu memperhatikan perkembangan wanita itu.

Kembali ke masa sekarang.

Alexander menyipitkan mata. Jangan-jangan, pria itu terdiam beberapa detik. Lalu mendecak pelan.

"Nggak mungkin."

Namun semakin dipikirkan, semakin masuk akal. Kalau memang Aldi menyukai Dara. Itu menjelaskan kenapa tadi reaksinya begitu aneh.

Di sisi lain...

Aldi yang sedang berada di parkiran bawah tanah justru mengacak rambutnya frustrasi. "Astaga." Ia bersandar pada mobilnya.

Kenapa gue jadi emosi begitu sih? Padahal Dara hanya pergi dinas. Hanya dua hari, tidak lebih. Namun tetap saja ada perasaan tidak nyaman yang muncul. Dan itu membuat Aldi semakin kesal pada dirinya sendiri.

Sementara itu di lantai atas...

Dara akhirnya selesai menyiapkan seluruh dokumen. Ia menghela napas lega. "Sudah selesai."

Rina langsung berdiri. "Kalau begitu kita berangkat."

Tak lama kemudian lift VIP terbuka.

Alexander keluar dari ruangannya dengan jas hitam yang sudah rapi dikenakan. Semua staf langsung berdiri.

"Selamat siang Tuan."

Alexander mengangguk singkat. Tatapannya menyapu seluruh tim. Lalu tanpa sengaja berhenti beberapa detik pada Dara.

"Dokumennya?"

"Sudah siap, Tuan."

"Bagus."

Alexander mengangguk.

Kemudian berjalan menuju lift. Seluruh tim mengikuti dari belakang. Dan tanpa disadari siapa pun... dari kejauhan, Aldi yang baru kembali ke lantai direksi hanya bisa memperhatikan rombongan itu masuk ke lift. Tatapannya sempat berhenti pada Dara. Lalu pada Alexander.

Pintu lift tertutup perlahan.

Di dalam lift VIP, suasana terasa tenang. Tim yang ikut ke Surabaya berjumlah sekitar delapan orang. Sebagian sibuk memeriksa ponsel, sebagian lagi mengecek dokumen terakhir.

Dara berdiri di samping Rina sambil memeluk map di dadanya. Sedangkan Alexander berdiri paling depan. Seperti biasa. Tegak, tenang, dan sulit ditebak.

Tiga puluh menit kemudian...

Rombongan tiba di bandara. Bagian operasional PT Dirgantara Group ternyata sudah mengurus semuanya dengan sangat rapi. Tiket, bagasi, hingga ruang tunggu VIP sudah disiapkan.

"Enak juga ya kerja di perusahaan besar," bisik salah satu staf.

Rina langsung terkekeh, Dara hanya tersenyum kecil. Meski begitu, ini tetap pengalaman pertamanya melakukan perjalanan dinas menggunakan fasilitas perusahaan sebesar ini.

Setelah proses check-in selesai, mereka menuju ruang tunggu VIP. Saat itulah ponsel Dara bergetar... Mama.

Wajah Dara langsung melunak. Ia segera mengangkat telepon. "Halo, Ma."

"Dara."

"Iya."

"Kamu sudah makan?"

Dara langsung tertawa kecil.n"Sudah."

"Jangan bohong."

"Benar."

"Kalau kerja jangan lupa istirahat."

Dara tersenyum hangat. "Iya, Ma."

Alexander yang sedang membaca laporan di seberang ruangan tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan itu. Matanya terangkat sesaat, melihat Dara yang tersenyum lembut sambil berbicara dengan ibunya.

Ekspresi yang jarang ia lihat di kantor, entah kenapa pemandangan itu terasa... menenangkan. Namun beberapa detik kemudian ia kembali menunduk ke dokumen. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Tak lama kemudian...

Pengumuman keberangkatan terdengar. Seluruh rombongan mulai bergerak menuju gate. Penerbangan menuju Surabaya berlangsung sekitar satu setengah jam.

Awalnya Dara mengira dirinya akan duduk bersama Rina. Ternyata tidak, begitu melihat nomor kursi, Dara langsung membeku.

"Kenapa?" tanya Rina.

Dara menunjukkan boarding pass. Rina membaca nomor kursinya. Lalu membaca nomor kursi Dara. Kemudian perlahan menoleh ke arah kursi di sebelah Dara. Yang ternyata... milik Alexander.

Rina langsung menggigit bibir agar tidak tertawa. "Selamat berjuang."

"Hah?"

"Saya duduk di belakang."

Deg.

Wajah Dara langsung pucat.

"Tunggu..."

Namun Rina sudah pergi. Meninggalkan Dara sendirian. Dengan nasib yang tragis. Beberapa menit kemudian, semua penumpang mulai duduk.

Dara duduk kaku di kursinya. Tangannya menggenggam sabuk pengaman seperti sedang menghadapi ujian hidup. Tak lama kemudian Alexander datang, pria itu duduk di kursi sebelahnya.

"Kenapa wajahmu seperti ingin dieksekusi?"

Deg.

Dara langsung menoleh. "T-tidak, Tuan."

Alexander mengangkat sebelah alis. Kemudian duduk dengan tenang. Pesawat mulai bergerak menuju landasan.

Beberapa menit pertama berlangsung hening. Sampai akhirnya, Alexander melirik ke samping. Dara terlihat menggenggam sandaran tangan terlalu erat.

"Kau takut terbang?"

Dara terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. "Sedikit."

Alexander menatapnya. Baru kali ini ia melihat Dara benar-benar gugup. Bahkan saat pertama kali bertemu dirinya, wanita itu tidak segugup ini.

"Pertama kali naik pesawat?"

Dara mengangguk lagi. "Iya."

Alexander memahami sekarang. Tak lama kemudian pesawat mulai lepas landas. Mesin meraung keras, tubuh pesawat sedikit bergetar.

Dan refleks, jari Dara langsung mencengkeram sesuatu. Sangat erat, beberapa detik berlalu. Baru kemudian Dara menyadari sesuatu. Tangannya tidak sedang memegang sandaran kursi. Melainkan, lengan Alexander.

Deg.

Wajah Dara langsung kehilangan warna. Astaga, ia perlahan menoleh. Alexander sedang menatap tangannya yang masih mencengkeram lengan jasnya.

Suasana mendadak hening.

Dara langsung melepaskan pegangan itu secepat kilat. "Maaf!"

Wajah Dara kini benar-benar merah. "Saya tidak sengaja, Tuan!"

Alexander menatapnya beberapa detik. Lalu, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tidak apa-apa."

Rasanya Dara ingin menghilang dari muka bumi.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!