Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam telah sepenuhnya mengambil alih langit Jakarta ketika Hani akhirnya melangkah keluar dari gedung pusat Baskara Group.
Lorong-lorong kantor yang beberapa jam lalu riuh oleh kesibukan karyawan, kini telah sunyi dan menyisakan pendar lampu koridor yang hemat energi. Di dalam tas kerjanya, tablet digital dan amplop cokelat berisi foto tua itu terasa seberat bongkahan batu.
Pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Duri yang paling beracun sering kali tumbuh di tempat yang paling indah. Kalimat itu terasa seperti sindiran kejam untuk posisinya saat ini.
Kamar kerja baru yang luas, buket mawar putih segar dari Reza, dan pengangkatan jabatan dari Narendra. Apakah semua keindahan ini hanyalah lapisan luar dari perangkap yang lebih mematikan?
Hani berdiri di lobi utama, berniat memesan taksi daring melalui ponselnya. Namun, sebuah klakson mobil yang halus mendadak berbunyi dari arah area jemputan lobi.
Sebuah mobil hitam yang sangat Hani kenal perlahan bergerak mendekat. Kaca jendela pengemudi diturunkan, menampilkan wajah Reza yang tampak sedikit letih namun langsung tersenyum begitu melihatnya.
"Lantai lima benar-benar menahan sekretaris saya terlalu lama," ujar Reza setengah menyindir sambil membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Ia melangkah mendekati Hani dengan tatapan yang dipenuhi perhatian.
"Siska bilang kamu mengunci diri sejak sore dan tidak boleh ada yang mengganggu. Aku hampir saja menelepon petugas keamanan untuk mendobrak pintumu karena takut kamu pingsan di dalam."
Hani memaksakan sebuah senyuman. Di bawah sorot lampu lobi yang terang, ia menatap wajah Reza. Ketulusan di mata pria itu, kekhawatiran yang tergambar jelas di wajahnya.
Apakah semua itu nyata? Ataukah Reza juga merupakan bagian dari skenario besar ini? Rasa paranoid yang ditanamkan oleh si pengirim gelap mulai bekerja layaknya racun lambat di dalam benak Hani, membuatnya merasa bersalah sekaligus waspada di saat yang bersamaan.
"Saya hanya... terlalu fokus memeriksa arsip lama, Pak Reza," jawab Hani, suaranya terdengar agak kaku di telinganya sendiri. "Banyak sistem administrasi delapan tahun lalu yang harus saya pelajari kembali agar tidak salah mengambil kebijakan."
Reza mengembus napas pendek, lalu meraih tas kerja Hani dari genggamannya dengan gerakan alami. "Kerja keras boleh, Hani. Tapi mengabaikan makan malam dan membuat bosmu ini menunggu di parkiran selama dua jam adalah pelanggaran berat."
Ia membukakan pintu penumpang depan untuk Hani. "Ayo masuk. Kita cari makan malam sebelum maag-mu kambuh."
Hani tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, membiarkan kehangatan pendingin ruangan menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin sejak sore tadi.
Selama perjalanan membelah kemacetan malam Jakarta, Reza bercerita banyak hal, mulai dari keluhan tentang rasa bubur rumah sakit yang hambar hingga rencana rapat pemegang saham luar biasa yang akan digelar minggu depan.
Namun, Hani hanya menanggapi dengan anggukan dan gumaman pendek. Pikirannya tertinggal pada nama pemegang saham rahasia yang ia temukan di arsip digital tadi yaitu Surya Adiguna, ayah dari Rachel Adiguna.
...****************...
Keesokan paginya, Hani memutuskan untuk mulai bergerak. Jika Surya Adiguna adalah pria ketiga di dalam foto itu, dan dia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kejahatan Hendra Baskara di masa lalu, maka pasti ada jejak transaksi keuangan atau kontrak kerja sama tersembunyi yang melibatkan divisi administrasi dan keuangan delapan tahun lalu.
Sebagai Kepala Divisi yang baru, Hani kini memiliki otoritas untuk mengakses ruang arsip fisik bawah tanah, tempat di mana dokumen-dokumen penting sebelum era digitalisasi total disimpan secara ketat.
Setelah memastikan Reza sedang menghadiri rapat direksi di lantai paling atas bersama Narendra, Hani melangkah menuju lift barang yang membawanya turun ke lantai basemen paling bawah.
Ruang arsip fisik Baskara Group adalah sebuah ruangan besar yang dingin, dipenuhi oleh deretan lemari besi bergeser yang dikunci dengan kode pengaman. Suasananya pengap oleh aroma kertas tua dan zat kimia ruang penyimpanan.
Hani berjalan menyusuri lorong lemari yang bertuliskan angka tahun 2015-2018. Dengan menggunakan kunci akses khusus eksekutif yang diberikan Narendra, ia mulai membuka lacinya satu per satu. Fokusnya adalah berkas proyek pengadaan lahan di koridor luar Jakarta, proyek yang sama yang menjatuhkan ayahnya delapan tahun lalu.
Jemarinya yang dibalut sarung tangan tipis membolak-balik map-map jepret kuning yang berdebu. Setelah hampir satu jam mencari di antara ribuan lembar dokumen, Hani akhirnya menemukan sebuah map kulit hitam tanpa label resmi perusahaan. Di bagian pojok kanan atas, hanya ada tulisan kode internal PROYEK-X.
Ketika Hani membuka map tersebut, lembar pertama langsung menyajikan sebuah perjanjian rahasia mengenai pembagian keuntungan transfer dana ilegal.
Di bagian paling bawah dokumen tersebut, terdapat tiga kolom tanda tangan. Kolom pertama adalah milik Hendra Baskara. Kolom kedua adalah milik Surya Adiguna.
Namun, kolom ketiga yang seharusnya diisi oleh nama dalang utama, sengaja dipotong secara fisik menggunakan pisau pemotong kertas. Potongannya sangat rapi, menghilangkan nama dan tanda tangan pihak ketiga tersebut secara mutlak.
Hani membelalakkan matanya. "Seseorang sengaja melenyapkan buktinya..." bisiknya tertahan.
Tiba-tiba, dari arah pintu masuk ruang arsip yang gelap, terdengar suara langkah kaki sepatu pantofel yang teratur memecah keheningan.
Plak... Plak... Plak...
Jantung Hani seketika berdegup kencang. Ia dengan panik segera menutup map kulit hitam itu dan mendekapnya di dada, lalu melangkah mundur ke celah di antara dua lemari besi yang sempit, mencoba menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan lorong lemari besi tempat Hani berada. Sinar lampu sensor ruangan otomatis menyala, menerangi sosok pria jangkung yang berdiri diam dengan kedua tangan diselipkan di dalam saku celana bahan formalnya.
Itu adalah Narendra Baskara.
Ayah Reza itu berdiri menatap deretan lemari besi dengan ekspresi wajah yang sangat sulit dibaca. Datar, dingin, dan penuh dengan aura otoritas yang menekan. Ia tidak menyadari keberadaan Hani yang menahan napas di balik bayangan lemari besi di sampingnya.
Narendra mengembus napas panjang, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menatap salah satu sudut lemari. "Kamu tidak seharusnya meninggalkan jejak sedalam ini, Hendra..."
Hani membeku di tempatnya berdiri, tangannya mencengkeram map kulit hitam itu hingga jemarinya memutih. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Narendra, sebuah spekulasi mengerikan kembali berputar di kepalanya.
Apakah Pak Narendra benar-benar tidak tahu apa-apa seperti yang dikatakannya selama ini? Atau justru beliau ke sini untuk memastikan bahwa tidak ada lagi bukti yang tersisa yang bisa mengaitkan namanya dengan Surya Adiguna?
Narendra berdiri di sana selama beberapa menit sebelum ponselnya berbunyi. Ia mengangkatnya, mendengarkan sekretarisnya berbicara sejenak, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang arsip bawah tanah tanpa menyadari bahwa ia baru saja diawasi.
Setelah memastikan suasana benar-benar aman, Hani keluar dari ruang arsip dengan tubuh yang lemas karena tegang. Ia kembali ke ruang kerjanya di lantai lima dengan membawa salinan dokumen Proyek-X yang berhasil ia selundupkan di dalam tasnya.
...****************...
Sore harinya, saat jam kantor hampir berakhir, Siska masuk ke ruangannya dengan membawa sebuah undangan fisik mewah berwarna beludru merah maroon dengan tinta emas.
"Bu Hani, ini undangan resmi untuk malam penganugerahan dan pemulihan nama baik almarhum ayah minggu depan," ujar Siska dengan wajah berseri-seri. "Acara ini akan dihadiri oleh seluruh pemegang saham utama dan relasi bisnis penting Baskara Group."
Hani menerima undangan mewah itu dengan tangan yang dingin. Matanya membaca deretan nama komite kehormatan yang tertera di bagian belakang undangan. Di sana, tertulis jelas dua nama yang kini menjadi pusat dari labirin kebohongannya yaitu Narendra Baskara dan Surya Adiguna.
Hani menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, menatap lurus ke arah buket mawar putih dari Reza yang mulai sedikit layu di sudut meja.
Minggu depan, di atas panggung megah yang disaksikan oleh seluruh kalangan elit Jakarta, ia akan berdiri di antara orang-orang yang mungkin saja merupakan dalang sejati di balik kehancuran hidup ayahnya.
Ia harus membuat pilihan besar. Tetap diam dan menikmati keindahan semu yang ditawarkan keluarga Baskara, atau terus melangkah maju membongkar duri beracun itu.