"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Bintang.
FLASHBACK ON.
Bintang masuk ke kamar Black dan melihat Black yang sedang menatap lurus ke depan, Black sekarang sedang duduk menyender dengan tatapan yang tak bisa Bintang artikan.
Bintang berdiri disebelah kanan Black, mereka diam untuk waktu yang cukup lama sampai Black membuka suara
“Mungkin gue sudah gak bisa menyembunyikan identitas gue lagi, apa yang lo tadi dengar memang benar.”
“Jadi kamu benar Rain istri aku?” Ada rasa bahagia yang sangat terlihat di raut muka Bintang, tapi raut bahagia itu tak terlihat dari wajahnya Black.
“Iya, gue memang Rain tapi jangan pernah lo panggil gue Rain lagi, karena bagi gue Rain sudah meninggal bersama dengan jatuhnya pesawat waktu itu.”
“Kenapa kamu sembunyikan identitas kamu dari aku? Aku ini suami kamu.”
“Suami? Emang lo pantas disebut suami?”
“Aku tahu aku salah dan kesalahanku ini tak mudah untuk dimaafkan tapi apa sampai segitunya kamu menutupi identitas kamu?”
“Awalnya gue tidak berniat menutupi identitas gue, semua karena gue memang tidak ingat lo siapa, sampai detik ini ingatan gue juga belum sepenuhnya kembali, tapi dari apa yang gue dengar dari mulut lo dan dari apa yang gue cari, rasanya gue dulu terlalu bodoh karena selalu mengalah dan menerima semua sifat buruk lo itu.”
“Iya aku tahu aku salah, aku minta maaf, aku ingin perbaiki semuanya, aku akan menebus kesalahanku sama kamu, kamu juga boleh hukum aku apapun tapi ijinkan aku untuk selalu berada disamping kamu.”
“Dulu lo juga mungkin pernah ngomong kaya gitu sama gue saat gue kecelakaan karena ulah Leon, tapi apa buktinya? lo tetap bersifat sama setelah gue sembuh.”
“Lo ingat semua itu?” Pertanyaan Bintang seakan dia tidak percaya jika Black benar-benar lupa ingatan.
“Lo gak percaya Black lupa ingatan? Lo mau bilang ini hanya cara dia biar bisa pergi dari lo, gitu?” Tanya Alvin yang mulai tersulut emosi.
“Bukan begitu maksud gue, tapi kenapa Black bisa ingat sejauh itu?”
“Bagaimana gue gak ingat jika setelah gue yang nolong lo sama Kevin, kalian semua selalu ada di sekeliling gue, kecuali Kevin, kemana tu orang setelah ketemu di resto udah gak pernah muncul lagi?”
“Kevin lagi ngurusin perusahaan yang ada di luar negeri, kenapa jadi bahas Kevin?”
“Selain Andra, Kevin bukannya orang yang selalu bantuin gue ya dulu tiap lagi dihukum sama lo?”
“Iya memang mereka yang sering nolongin lo dulu, tapi bukan berarti Resta dan Jems tidak menolong lo.”
“Berarti lo sadar dong kalau sahabat lo saja slalu nolongin gue, sementara lo malah jadi musuh gue, miris sekali nasib Rain.”
“Iya, gue sudah menyadari semuanya jika gue salah.”
“Sayangnya kesadaran lo itu telat, lo sudah kehilangan gue, lo udah kehilangan Rain yang dulu selalu ngalah sama lo, lo kehilangan orang yang selalu melindungi lo dalam hal apapun, lo juga kehilangan orang yang selalu sabar ngadepin sikap tempramen lo itu, Rain sekarang sudah meninggal dan sekarang hanya ada Black, Black yang sifatnya berbanding terbalik dibanding Rain yang lemah itu.”
“Kasih kesempatan gue buat menebus kesalahan gue.” Bintang sangat memohon, bahkan dia sampai sujud tapi tatapan Black sama sekali tak berubah, raut kebencian terpancar jelas.
“Gue bukan Rain yang mudah memaafkan lo, gue gak sebodoh itu.”
“Gue gak pernah bilang lo bodoh. Gue akan buktikan kalau gue sungguh-sungguh berubah.”
“Gue gak butuh perubahan lo, maksud gue manggil lo masuk buat kasih tahu kalau gue gak mau ketemu lo lagi, dan jangan anggap gue ini istri lo lagi, Rain sudah meninggal dan gue bukan Rain lagi.”
“Mau lo menolak juga gue gak perduli, gue akan tetap buktikan kalau gue sudah berubah, lo bisa pegang omongan gue.”
“Terserah lo ngomong apa, sekarang mending lo pergi, gue gak mau lihat muka lo lagi, PERGI.” Bintang kaget pasalnya Rain yang dia kenal dulu tak akan mungkin membentaknya.
‘Rain memang sudah meninggal dan di depan gue adalah sosok orang yang gak gue kenal, tapi apapun rintangannya gue akan tetap maju buat meyakinkan lo sebelum anak kita lahir,’ batin Bintang, dia langsung yakin jika anak di kandungan Black itu memang benar anaknya, karena dia memang ingat jika dia pernah menyentuh Rain satu bulan sebelum kecelakaan itu terjadi, hanya dia heran kenapa perut Black sudah seperti orang hamil yang sudah siap melahirkan?
“Mau pergi sendiri atau saya yang menyeret kamu keluar?” Tanya nenek Ayu dengan tanpa menatap Bintang. Sedetik kemudian Bintang langsung keluar sendiri, dia merasa tatapan nenek Ayu jauh lebih menyeramkan dari kakek Ares meskipun nenek Ayu tak melihatnya sama sekali.
FLASHBACK OFF.
Bintang menceritakan semuanya pada ketiga sahabatnya di dalam mobil, mereka bertiga sedikit kaget tapi mereka juga tidak yakin jika Bintang akan menepati ucapannya dengan menunjukkan perubahannya.
“Lo sudah yakin mau tetap menunjukkan perubahan lo sama Black?” Tanya Jems seolah tak percaya?”
“Kalian semua masih gak percaya?”
“Tang, sulit bagi kita untuk mempercayai ucapan lo sekarang karen lo juga pernah berkata seperti itu dulu saat Rain kecelakaan,” Jawab Andra.
“Ok, gak apa-apa kalau kalian gak percaya sama gue, tapi gue janji sama kalian, perubahan gue bukan cuma wacana ataupun kata-kata doang, gue akan buktikan semuanya.
Ada rasa lega dan bahagia di hati mereka bertiga melihat tekad kuat Bintang, si brengsek yang sadar setelah kehilangan.
Bintang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meski tugasnya sangat berat, tapi kebahagiaannya mengetahui jika Rain masih hidup bahkan sekarang sedang mengandung anak mereka jauh lebih besar.
Setelah mengantar ketiga sahabatnya, Bintang pulang dan menemui keluarganya yang tumben sudah berkumpul di rumah.
“Kenapa kalian ribut?” tanya Bintang yang kaget saat masuk rumah malah mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
“Papa kamu selingkuh,” Singkat, padat dan jelas, itulah definisi dari ucapan Melisa.
“Papa selingkuhi mama?” Bahagia yang sebelumnya sempat ingin Bintang sampaikan pada orang tuanya kini telah terganti dengan amarah yang sangat besar, melihat mamanya menangis karena ulah papanya sendiri.
“Papa gak selingkuh, papa dari tadi mau jelasin tapi selalu dipotong sama mama kamu.”
“Aku bakal dengerin penjelasan papa asal papa punya bukti dan apakah mama punya bukti kalau papa selingkuh?”
Melisa melempar beberapa foto ke meja dan Bintang meneliti dari setiap foto yang Melisa lempar, tapi satu foto pun tak ada yang menampilkan wajah dari si cewek karena foto itu diambil dari belakang cewek itu.
“Papa bisa jelasin?”
“Papa bisa jelasin semuanya, tapi tolong jangan potong penjelasan Papa, semua sia-sia kalau penjelasan papa selalu dipotong.”
“Iya, kita tak akan memotong penjelasan papa?”
“Cewek itu Black bukan selingkuhan papa.”
BERSAMBUNG.