Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24.
Malam harinya Salindra tidur lebih awal. Ia ingin memulihkan kondisi tubuhnya agar ketika bangun tubuh menjadi segar dan bugar. Malam itu bulan terlihat separuh dan bintang berkelip terlihat sangat banyak itu menandakan kalau malam ini tidak akan terjadi hujan karena langit terlihat cerah.
Jayanti masih terjaga tapi di dalam kamar baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah karena Salindra belum bisa diandalkan dan sedang sakit. Mulutnya menguap tapi belum bisa tidur akhirnya memutuskan menonton acara di layar ponselnya.
Semakin malam udara semakin dingin selimut menjadi penghangat bagi kakak beradik, Jayanti dan Salindra. Malam menunjukkan waktu pukul satu, seseorang menyelinap lewat pintu belakang dengan mudah karena Jayanti lupa menguncinya. Sehingga membuat orang lain dengan mudah masuk ke dalam rumah.
Seorang pria berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat remang-remang hanya lampu kamar dan kamar mandi belakang saja yang menyala lampunya. Pria itu melihat situasi dalam rumah dan mencari sesuatu yang menjadi tujuan utamanya.
Ketika berjalan di depan sebuah kamar, lampu terlihat menyala dengan cahaya terang pertanda pemiliknya masih terjaga, sedangkan di sampingnya ada kamar yang lampunya mati, Berarti pemiliknya sudah terlelap. Pria itu berjalan ke kamar yang lampunya mati, dengan berhati-hati mencoba membuka pintu dengan alat yang ia bawa dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara dan akhirnya berhasil.
Pintu di tutup kembali dengan rapat kemudian melihat ke arah tempat tidur di mana Salindra terlelap dengan sangat nyenyak. Pria itu mendekat melihat wajah Salindra dari jarak sangat dekat. Wajah pria itu tersenyum senang melihat posisi Salindra tertidur tanpa mengenakan selimut dan hanya memakai pakaian tidur itupun tipis sehingga menampilkan lekuk tubuhnya.
Tanpa menunggu lama pria itu melancarkan aksinya dengan cara membius Salindra. Karena Salindra dalam keadaan sangat nyenyak ia tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Pria itu hendak membuka pakaian Salindra satu per satu. Ia melihat wajah Salindra sangat menggairahkan ketika sedang tidur membuatnya tidak bisa menahan hawa nafsu.
Jayanti sedang melihat acara di layar ponselnya tiba-tiba merasa haus, ia berjalan keluar mengambil air minum. Setelah mengisi tenggorokannya kembali ke kamarnya, namun ia sempat melihat kamar adiknya terbuka sedikit membuatnya curiga.
Jayanti berjalan ke kamar Salindra dan saat membuka pintu ingin mengecek keadaan Salindra justru pemandangan yang sangat tidak senonoh membuat dadanya bergemuruh hebat. Matanya terasa panas hatinya sakit melihat pria sedang menindih tubuh Salindra.
Di luar Jayanti mencari alat untuk memukul pria tersebut dan ia melihat sebuah balok berukuran besar dan kayu panjang lalu mengambil dan berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke kamar adiknya dengan wajah penuh amarah.
Pria yang berada di atas tubuh Salindra terkejut melihat Jayanti hendak memukulnya dengan balok mencoba melawan. Namun, terlambat sehingga ia merasakan sebuah pukulan mengenai tubuhnya. Jayanti dengan membabi buta memukul pria itu menggunakan balok kemudian mengganti dengan kayu panjang dengan sangat keras sampai membuat pria itu pingsan di tempat.
Jayanti berhenti ketika tidak ada pergerakan dari pria tersebut. Lalu, melihat ke arah tempat tidur. Beruntung Salindra belum seluruhnya telanjang baru bagian atas saja itu pun belum terbuka semuanya. Ia membenahi pakaian Salindra dan mengikat pria itu kemudian menyeret keluar dari kamar dan meletakkan di ruang tamu.
Pagi menjelang Salindra terbangun dari tidur, ia mengerjapkan matanya merasa ada yang aneh pada dirinya. Kemudian berjalan keluar, saat melihat ke arah ruang tamu ia melihat seseorang tertidur di lantai, mendekatinya dengan rasa penasaran. Salindra terkejut melihat seorang pria dalam keadaan terikat memejamkan mata.
"Kamu tidak apa-apa kan, Sa?" tanya Jayanti berdiri tak jauh darinya.
Salindra menoleh ke belakang meminta penjelasan tentang pria berada di rumah mereka. Jayanti berjalan mendekati pria tersebut sambil memukul wajahnya dengan kasar.
"Kak, siapa dia... kenapa dalam terikat begini?" tanya Salindra.
"Nanti kita bicarakan masalah ini, kamu bersih-bersih dulu lalu sarapan. Kakak sudah menelepon polisi untuk menangkap pria ini," jelas Jayanti.
Salindra pergi ke kamar sesekali melihat pria tersebut dengan perasaan penasaran juga heran. Sepertinya sesuatu telah terjadi di rumah ini batin Salindra.
Pria itu membuka mata dengan susah, ia mengeluh sakit di sekujur tubuhnya karena pukulan Jayanti semalam. Tubuh pria itu penuh dengan lebam dan darah kering di beberapa bagian anggota tubuh.
Pandangan pria menyapu seluruh ruangan sambil berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya tapi terlalu kuat. "Brengsek, kamu. Lepaskan aku perempuan laknat,"
Umpatan serapah pria itu mengarah kepada Jayanti, membuat perempuan itu tersenyum smirk. “Kamu pikir aku takut sama kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu," sahut Jayanti meninggalkan pria tersebut.
Setelah sarapan pagi Salindra dan Jayanti menunggu pihak polisi datang membawa pria tersebut. Beberapa menit kemudian pihak kepolisian datang ke rumah mereka. Banyak tetangga yang melihat mobil polisi berhenti di depan rumah Salindra merasa penasaran.
Para tetangga berdatangan dan melihat keadaan Salindra dan Jayanti. Mereka terkejut ketika melihat pria dalam keadaan terikat sedang di pegang oleh salah satu anggota kepolisian.
"Ada apa dengan Jayanti dan Salindra, apakah mereka kerampokan, atau dilecehkan oleh pria itu?" tanya Nuning melongok ke dalam rumah Salindra.
"Kamu kalau ngomong sembarangan, lihat dulu kebenarannya," sahut Susi berdiri di samping Nuning.
"Aku juga lihat ada pria di dalam rumah mereka, makanya aku nanya," sewot Nuning sambil melengos ke arah Susi.
"Ya sudah tunggu aja nanti gimana ceritanya," Susi pindah tempat karena tidak suka dengan sikap Nuning.
Sementara di dalam rumah, pihak kepolisian sedang berbicara serius dengan Salindra dan Jayanti mengenai pria yang masuk ke dalam rumah mereka. Setelah cukup lama berbicara tidak lama pihak kepolisian membawa pria menuju kantor polisi setempat.
Salindra dan Jayanti ikut bersama mereka untuk memberi kesaksian dan segera menindaklanjuti kasus mereka. Sementara di luar rumah para tetangga saling bertukar pertanyaan mengenai Salindra dan Jayanti. Di antara mereka ada yang tidak suka dengan sepasang kakak beradik karena masalah keluarga yang mereka alami selama ini. Ada juga yang merasa kasihan, namun pembicaraan para tetangga tidaklah memberi solusi atau memberi bantuan. Pembicaraan mereka hanya sekedar buah bibir semata, setelah itu bagai diterpa angin.
Di kantor polisi Salindra dan Jayanti memberi keterangan. sedangkan pria itu sebagai pelaku tindak pelecehan seksual dan mencemarkan nama baik. Pria tersebut masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut karena ada orang lain di balik perbuatan yang ia lakukan.
Salindra dan Jayanti pulang dengan perasaan lega. Akhirnya masalah selesai dan berharap tidak ada lagi kisah seperti ini di kemudian hari. Mereka pulang dengan naik angkutan umum.
Sampai di rumah para tetangga berdatangan dan menanyakan tentang kejadian tadi malam, mereka sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Jayanti. Sedangkan Salindra masuk ke dalam kamar, untuk menenangkan diri.
...----------------...
"Marcella, sayang. Ayo sarapan, Nak," panggil Kamila mengetuk pintu kamar Marcella.
Pintu di buka terlihat wajah Marcella yang acak-acakan khas orang bangun tidur sambil menguap. "Aku belum lapar, Mama sama Papa duluan aja,"
Kamila hendak berkata lagi, Namun pintu sudah di tutup kembali oleh Marcella. Akhirnya memilih sarapan sendirian karena suaminya sudah berangkat bekerja sepuluh menit yang lalu.
Ponselnya berdering memberitahu kalau orang suruhannya tertangkap polisi. Marcella sangat terkejut dan heran. "Bagaimana bisa dia ketangkap polisi, dasar tidak becus," umpatnya dengan kasar.