gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASI YANG MENJADI BUBUR
Beberapa hari telah berlalu sejak ledakan emosi di Pelabuhan Tanjung Priok, namun gema dari peristiwa itu masih terasa menyesakkan di dada orang-orang yang terlibat. Di sebuah rumah sederhana di sudut Jakarta Barat, Bima Pradana masih memilih untuk mengurung diri. Dunia luar, yang biasanya ia anggap sebagai taman bermain kosmik tempat ia menebar tawa dan teori absurd, kini terasa seperti ruang hampa yang menyedot seluruh energinya.
Bima tidak keluar kamar sama sekali, kecuali untuk ke kamar mandi atau sekadar mengambil air minum saat ibunya sedang tidak di dapur. Meskipun ia sudah berteriak mengundurkan diri di depan banyak orang, jauh di lubuk hatinya, ada ikatan yang sulit diputus dengan pelabuhan. Ia merindukan bau solar, deru mesin derek, dan bahkan omelan para buruh. Namun, rasa sakit melihat "calon istrinya" bergandeng tangan dengan Anton jauh lebih besar daripada rasa rindunya pada pekerjaan. Luka itu menganga, menciptakan lubang hitam dalam cakranya yang biasanya terang benderang.
Di sisi lain, Susi menunjukkan loyalitas yang melampaui batas kewajiban seorang rekan kerja. Setiap hari, ia melakukan perjalanan melelahkan dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat. Macetnya ibu kota tidak ia hiraukan demi satu tujuan: memastikan Bima tidak benar-benar tenggelam dalam kesedihan. Susi tahu bahwa surat pengunduran diri Bima belum ditandatangani oleh Paman Tino. Sang Direktur Transportasi itu sengaja menahan berkas tersebut, berharap kemarahan keponakannya dan Bima bisa mereda seiring berjalannya waktu.
Susi bahkan memutuskan untuk menginap di rumah Bima. Dengan izin dari Ratih Prameswari, Susi menempati kamar kosong yang ada di sana. Ratih, sang ibu yang biasanya ketus, ternyata memiliki sisi modern dan terbuka. Ia membiarkan Susi menginap karena ia sadar bahwa kehadiran gadis itu adalah satu-satunya harapan untuk menarik Bima kembali ke realitas.
"Tante senang kamu ada di sini, Susi," ujar Ratih suatu malam sambil menyiapkan makan malam sederhana. "Ibu-ibu lain mungkin akan berpikiran kolot melihat gadis menginap, tapi Tante tahu niatmu tulus. Bima butuh seseorang yang sabar menghadapi kegilaannya, dan sepertinya itu cuma kamu."
Susi tersenyum tipis, meski hatinya tetap cemas. Ia sering berdiri di depan pintu kamar Bima, membisikkan kata-kata penyemangat, meski yang terdengar dari dalam hanyalah gumaman lirih tentang "kiamat frekuensi."
Sementara itu, badai besar yang diramalkan Bima akhirnya menghantam Wiratama Trading.
Pengiriman pertama dan kedua dari proyek Nathan memang berjalan sangat lancar, seolah memberikan rasa aman palsu bagi Alina. Namun, pada pengiriman ketiga, kekacauan meledak tanpa ampun. Laporan dari gudang pusat menyatakan bahwa beberapa kontainer berisi barang yang sama sekali tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan. Komponen elektronik yang seharusnya kelas premium ternyata hanyalah barang rongsokan yang dikemas ulang.
Namun, itu belum seberapa. Masalah paling fatal muncul saat petugas bea cukai dan kepolisian melakukan inspeksi mendadak berdasarkan laporan anonim. Di dalam beberapa kontainer, ditemukan barang-barang ilegal yang tidak memiliki Standar Sertifikasi Indonesia (SNI), bahkan melanggar protokol sertifikasi internasional.
Di ruang kerjanya yang mewah, Alina Wiratama duduk dengan wajah pucat. Kabar tersebut bagaikan tamparan keras bagi reputasinya sebagai CEO yang perfeksionis. "Bagaimana ini bisa terjadi? Saya sudah memeriksa semua dokumen!" teriak Alina frustrasi, memukul meja kerjanya hingga vas bunga sedikit bergeser.
Tiba-tiba, ingatannya melayang pada map kusam yang dilemparkan Bima ke arah kakinya tempo hari. Dengan tangan bergetar, Alina meraih tasnya dan mengeluarkan map tersebut. Ia membukanya, membacanya satu per satu dengan ketelitian yang kini bercampur dengan rasa takut.
Alina mulai mencocokkan nama-nama supir dalam daftar Bima dengan database database internal perusahaan. Hasilnya mengejutkan. Beberapa supir memang merupakan orang baru dari rekanan Nathan, namun ada fakta yang lebih menyakitkan: sebagian besar supir yang membawa kontainer bermasalah itu tercatat bekerja di bawah naungan perusahaan logistik milik Anton.
"Apakah ini ulah Anton? Apakah dia sengaja ingin mengambil keuntungan lebih dari perusahaanku atau... dia memang berniat menghancurkanku sejak awal?" bisik Alina pelan. Suaranya bergetar karena rasa kesal yang memuncak. Ia merasa dikhianati oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai sahabat lama sekaligus tempat pelarian dari keanehan Bima.
Di saat Alina sedang tenggelam dalam kecurigaan yang membara, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Susi.
"Halo, Susi? Ada kabar apa lagi?" tanya Alina dengan nada lelah.
Suara Susi di seberang sana terdengar ketus dan dingin. Tidak ada lagi nada hormat yang biasanya ia tunjukkan pada atasannya. "Bu Alina, saya baru saja mendapatkan konfirmasi dari lapangan. Mobil ekspedisi yang tertangkap membawa barang ilegal itu adalah unit resmi dari perusahaan Anton. Semuanya sudah jelas sekarang."
Susi terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh dengan kekecewaan yang mendalam. "Dan asal Ibu tahu, sampai saat ini Bima masih belum mau keluar kamar. Dia hancur, Bu. Dia yang pertama kali curiga, dia yang mengumpulkan data itu meski dianggap gila, tapi Ibu malah lebih memilih bergandengan tangan dengan pria yang sekarang menusuk Ibu dari belakang. Saya permisi dulu, saya harus mengurus 'calon suami' saya yang Ibu sakiti."
Klik
Panggilan terputus. Alina tertegun, menatap layar ponselnya yang gelap. Kata-kata Susi bagaikan sembilu yang menyayat egonya. Rasa tidak enak di hatinya kini berubah menjadi sesak yang nyata. Wajah Susi yang biasanya ceria kini selalu tampak masam setiap kali mereka bertemu secara singkat di kantor, dan laporan terakhir ini seolah menjadi pukulan pamungkas.
Alina menyadari bahwa kesombongannya telah membutakan matanya. Ia telah membuang permata yang terlihat seperti batu kerikil (Bima) demi sebuah permata palsu yang berkilau (Anton). Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Masalah hukum sedang berjalan, citra Wiratama berada di ujung tanduk, dan orang yang paling mampu mendeteksi "kebusukan" di lapangan kini sedang meringkuk dalam kegelapan akibat perbuatannya sendiri.
Alina menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Matanya menatap langit-langit ruangan yang megah, namun ia merasa sangat kecil dan sendirian. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Anton, pria yang ia sambut dengan binar mata di hadapan Bima, kemungkinan besar adalah bagian dari skenario besar yang dirancang untuk menjatuhkannya.
"Bima... apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Alina lirih. Untuk pertama kalinya, sang Ratu Es merasa sangat membutuhkan banyolan absurd tentang "cakra semesta" untuk menenangkan jiwanya yang sedang dilanda badai kehancuran. Namun ia tahu, meminta maaf pada Bima tidak akan semudah menandatangani kontrak kerja sama. Bima tidak hanya kehilangan pekerjaan, ia kehilangan kepercayaannya pada "pusat semestanya."