NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu benang merah

Pagi datang perlahan. Sinar matahari menembus celah tirai ruang tamu ketika Arga bersama ayahnya kembali ke rumah Bima. Mereka datang setelah sarapan, seperti yang telah dijanjikan malam sebelumnya. Dedi sudah menunggu. Begitu pintu dibuka, Arga melihat Bima sedang duduk di ruang keluarga bersama Pak Hendra dan Maya. Wajah mereka terlihat lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Namun dari tatapan masing-masing, Arga tahu bahwa pembicaraan hari ini bukanlah pembicaraan ringan.

Ayah Arga duduk di kursi yang semalam ditempatinya. Arga mengambil tempat tidak jauh dari Bima. Dedi menutup pintu.

"Baik," katanya pelan.

"Kita mulai dari yang paling jelas."

Bima menatap kakaknya. Dedi melanjutkan.

"Kamu terakhir ingat apa sebelum semuanya berubah?"

Bima menghela napas.

"Kabut."

Satu kata itu membuat semua orang langsung diam.

"Kabut tebal," lanjut Bima.

"Sangat tebal sampai aku bahkan nggak bisa melihat teman-temanku yang jaraknya mungkin cuma beberapa meter."

Arga sedikit mengangkat kepala. Bima melanjutkan.

"Waktu itu kami berjalan berdekatan. Aku masih ingat Arif ada di depan. Bayu di belakangku. Yang lain juga masih terdengar."

Ia memejamkan mata, berusaha menyusun kembali potongan ingatan yang baru beberapa hari dia lalui namun ternyata sudah berlalu selama puluhan tahun yang seolah terkunci.

"Awalnya hanya kabut biasa. Semakin lama semakin tebal. Suara mereka masih terdengar. Memanggil namaku. Bahkan Arif berteriak benerapa kali meminta kami diam ditempat. Dan aku yakin semua pun diam ditempat mengikuti instruksi Arif. Hanya beberapa menit kabut itu." Bima membuka mata.

"Tapi anehnya..."

"Apa?" tanya Arga.

Bima menatapnya.

"Kami tetap menjaga suara saling bersahutan meski satu sama lain tidak saling melihat. Tapi Suara mereka seperti datang dari tempat yang berbeda."

Dedi mengerutkan kening.

"Maksudnya?"

"Kadang dari depan." Bima menunjuk ke arah pintu.

"Kadang dari belakang." Ia kemudian menunjuk ke sisi rumah.

"Bahkan pernah terdengar dari sebelah kanan, padahal aku tahu mereka tidak mungkin ada di sana. Karena sebelah kanan adalah lereng cukup curam"

Ruangan kembali sunyi. Arga memperhatikan wajah Bima.

"Ada suara lain?"

Bima mengangguk perlahan.

"Ada."

"Suara siapa?"

"Nggak tahu."

"Suara laki-laki atau perempuan?"

Bima terdiam cukup lama.

"Laki-laki."

Arga menatap ayahnya. Bima melanjutkan.

"Suara itu memanggil namaku."

"Berapa kali?"

"Nggak ingat."

"Dan kamu mencarinya?"

"Iya. Karena begitu kabut hilang hanya suara itu yang ada. Teman-teman semuanya pun tidak ada." Bima menundukkan kepala.

"Aku pikir salah satu teman sedang meminta tolong."

Dedi bertanya hati-hati.

"Ketemu?"

Bima menggeleng.

"Nggak."

"Meski kamu mengikuti suara itu?"

"Iya, tapi nggak pernah ketemu. Dan aku malah baru sadar berada di vegetasi pohon yang sangat berbeda. Jalur yang tidak kukenal sama sekali."

Jawaban itu membuat Arga semakin memperhatikan.

Bima mengusap wajahnya.

"Aku terus berjalan. Setiap kali merasa suara itu dekat, aku mencoba mendekat. Namun Kosong."

"Selalu?"

"Iya."

Bima menarik napas.

"Yang ada cuma pepohonan. Aku terus berjalan bahkan bermalam. Setiap mendengar suara aku dekati tapi selalu berakhir sama, tidak ada apapun. Dan di hari sebelum aku bertemu Arga, hampir seharian penuh aku melewati hutan bambu yang seperti tanpa ujung. Sampai di ujungnya ada jalan besar dan bertemu mobil yang ditumpangi Arga saat itu."

Arga tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menatap ayahnya. Kemudian kembali kepada Bima.

"Mas..."

Bima menoleh.

"Aku juga mengalami sesuatu yang mirip."

Dedi langsung memandang Arga.

"Kamu?"

Arga mengangguk.

"Aku juga tersesat dulu sebelum bertemu dengan mas Bima di jalan pulang dari desa."

Ayah Arga tidak menyela. Ia membiarkan putranya bercerita.

"Waktu itu aku perjalanan turun kami dari puncak. Saat kabut turun, aku berhenti. Dan teman-teman juga seharusnya berhenti. Sambil berhenti aku memperkuat simpul di tali sepatuku, menunduk. Saat angkat kepala lagi kabut sudah hilang tapi semua orang tidak ada. Aku berjalan sendirian. Meniup peluit beberapa kali, awalnya masih ada jawaban tapi suara peluit itu ada dari berbagai arah. Aku bingung mengikuti yang mana. Sampai akhirnya suara itu benar-benar hilang dan aku nggak kenal jalur yang kulewati." Arga mulai mengingat kejadian yang selama ini hanya ia anggap sebagai pengalaman tersesat biasa.

Bima perlahan duduk lebih tegak.

Arga melanjutkan.

"Aku nggak tahu berapa lama berjalan. Yang jelas, setelah beberapa waktu aku sadar, aku benar-benar sendirian. Jalur yang asing, tidak ada bekas apapun seperti tidak pernah terjamah manusia."

Dedi bertanya.

"Nggak ada orang?"

"Nggak ada."

"Suara?"

Arga terdiam.

"Ada. Suara alam, pohon, angin, tidak ada suara orang sama sekali."

Bima langsung mengangkat wajah. Dedi juga mulai menyadari sesuatu.

Arga melanjutkan ceritanya.

"Aku terus berjalan."

"Sendirian?"

"Iya."

"Terus?"

"Sampai akhirnya aku bermalam sendirian, besoknya menemukan sungai."

Bima langsung menatapnya.

"Sungai?"

Arga mengangguk.

"Sungainya cukup jelas. Airnya mengalir deras. Aku mengikuti alirannya karena kupikir pasti membawa ke permukiman."

Ia tersenyum tipis.

"Dan ternyata benar. Aku berjalan cukup lama sampai menemukan sebuah papan nama desa."

Dedi maju sedikit dari tempat duduknya.

"Papan nama desa?"

"Iya."

"Masih ingat tulisannya?"

Arga mengangguk. Bahkan nama orang-orang didalamnya pun masih teringat jelas di kepalanya.

"Kampung Ciburial." Namun ia kemudian memejamkan mata.

"Dan tulisan dibawahnya Jangan datang setelah matahari tenggelam"

Bima mendengarkan dengan sangat serius.Arga menghela napas.

"Lalu aku memutuskan bermalam kembali, karena hari sudah mulai malam. Besoknya aku lanjut, dan ternyata dibelakang papan nama itu ada hutan bambu cukup panjang."

Ruangan mendadak sunyi. Bima yang sejak tadi duduk tenang tiba-tiba mengangkat kepala.

"Hutan bambu?"

Arga mengangguk.

"Iya."

"Setelah hutan bambu?"

"Perkebunan kopi."

Bima tidak berkedip.

"Perkebunan kopi warga?"

"Iya." Arga mengangguk.

"Ada beberapa orang di sana. Mereka yang akhirnya menemukan aku."

Bima menatap lantai. Tidak mengatakan apa pun.

Dedi memandang keduanya bergantian.

"Jadi..." Ia berhenti.

"Bima menemukan hutan bambu sebelum..." Ia menoleh kepada adiknya.

"Sebelum apa?" Bima menjawab pelan.

"Sebelum keluar dari hutan."

Arga menatap ayahnya. Ayahnya juga tampak mulai berpikir serius.

"Ga."

"Iya?"

"Kamu bilang setelah hutan bambu ada perkebunan kopi?"

"Iya."

"Dan kamu ditemukan warga?"

"Iya."

"Mereka sama-sama keluar dari hutan setelah melewati hutan bambu panjang."

Bima terdiam cukup lama. Kemudian ia bertanya lagi.

"Berapa lama kamu melewati hutan bambu itu?"

Arga menggeleng.

"Nggak tahu tepatnya, tapi seharian. Aku mulai masuk pagi setelah membereskan tenda. Dan bertemu warga saat terdengar adzan maghrib dari kampung."

"Kalau dari saat masuk kabut sampai ditemukan?"

Arga kembali menggeleng.

"Sekitar tiga hari. Hanya dua malam aku bermalam."

Dedi menatap adiknya.

"Kalau kamu, berapa lama melewati hutan bambu itu?"

"Sepanjang malam kang. Saat itu aku sadar isi bekal ku dalam carier bertambah. Carier yang aku tinggalkan karena mengikuti jejak kaki. Saat aku kembali ke carier, air dalam tumbler dan bekal makananku bertambah. Jadi malam itu aku memutuskan tidak bermalam tapi terus berjalan. Dan sepanjang malam itu aku melewati hutan bambu sampai pagi harinya bertemu mobil."

Bima perlahan berdiri. Ia berjalan menuju meja kecil. Mengambil kertas dan pulpen. Kemudian kembali duduk. Ia menggambar sesuatu. Sebuah garis.

"Sungai." Kemudian garis kedua.

"Papan nama desa."

Kemudian beberapa garis vertikal.

"Hutan bambu."

Arga memperhatikan gambar tersebut.

"Mirip."

Bima menatapnya.

"Mirip dengan yang kamu lihat?"

"Iya."

Bima terdiam. Dedi ikut mendekat.

"Kalau cerita kalian digabung..." Ia menunjuk kertas.

"Kabut." Bima mengangguk.

"Suara." Arga mengangguk.

"Sungai. Hutan bambu. Kemudian..." Dedi berhenti.

"Orang lain."

Arga melanjutkan.

"Bedanya, aku ditemukan di perkebunan kopi."

Bima menatap gambar itu.

"Sedangkan aku langsung bertemu jalan besar ditengah hutan."

Ruangan kembali sunyi. Ayah Arga akhirnya angkat bicara.

"Jangan-jangan..."

Semua menoleh. Ayah Arga menunjuk kertas di tangan Bima.

"Hutan bambu itu bukan sekadar kebetulan."

Bima menatapnya.

"Menurut Ayah?"

"Belum bisa menyimpulkan." Ayah Arga menggeleng.

"Tapi terlalu banyak kesamaan."

Dedi mengangguk perlahan.

"Dan Eko juga pernah mengatakan hal yang sama."

Bima langsung menoleh.

"Apa?"

"Hutan bambu."

Dedi menjelaskan.

"Dia bilang setelah terpisah dari kalian, dia berjalan sampai menemukan hutan bambu."

Bima membeku. Arga juga tidak bergerak.

"Tunggu."

Arga menatap Dedi.

"Jadi..."

Dedi mengangguk.

"Eko juga menemukan hutan bambu."

Bima perlahan menurunkan pulpen.

"Tiga orang."

Suaranya hampir berbisik.

"Eko."

"Arga."

"Dan aku."

Tidak ada yang menjawab. Bima melihat gambar di kertas. Kabut. Sungai. Papan nama. Hutan bambu.

Dan setelahnya...

sesuatu yang berbeda.

Namun semuanya memiliki satu titik yang sama.

Hutan bambu.

Arga tiba-tiba berkata.

"Berarti kita harus mencari hutan itu."

Ayah Arga mengangguk.

"Tapi bukan asal mencari."

Dedi menatapnya.

"Kita harus mulai dari catatan pencarian tiga puluh tahun lalu."

"Catatan Eko. Catatan orang-orang yang menemukan Arga. Dan lokasi perkebunan kopi tempat Arga ditemukan."

Arga mengangguk.

"Kalau titik-titik itu bisa dipetakan, mungkin kita bisa menemukan lokasi hutan bambu yang sama."

Dedi menatap kertas tersebut. Untuk pertama kalinya sejak Bima pulang, wajahnya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya harapan. Melainkan kemungkinan. Kemungkinan bahwa selama tiga puluh tahun mereka sebenarnya mencari di tempat yang salah. Bima kembali menatap gambar itu. Jarinya berhenti tepat pada tulisan kecil yang dibuatnya.

HUTAN BAMBU.

Ia mengusap tulisan itu perlahan

"Kalau benar ini tempat yang sama..."

Arga menatapnya.

"Berarti?"

Bima mengangkat wajah.

"Berarti mungkin aku bukan satu-satunya yang bisa keluar dari sana."

Tidak ada yang berbicara. Namun kalimat itu telah mengubah suasana seluruh ruangan.

Karena jika benar, maka hilangnya Arif, Bayu, Rasyid, Amin, dan Asep selama tiga puluh tahun mungkin bukanlah akhir. Mungkin mereka pernah mencapai tempat yang sama. Mungkin mereka juga pernah melewati hutan bambu itu.

Dan mungkin, hutan bambu tersebut adalah satu-satunya pintu yang menghubungkan semua kejadian yang selama ini dianggap tidak berkaitan.

Satu benang merah.

Kini mulai terlihat.

Tinggal satu pertanyaan yang belum terjawab.

Di mana sebenarnya hutan bambu itu berada?

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!