Istri yang Tak Dianggap
Sinopsis
Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.
Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.
Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Azkia Masuk Kantor
"Tatapan matamu selalu menghadirkan debar rindu, namun apalah dayaku, telaga rindu di matamu telah direnangi orang lain."
By Rajuk Rindu
💝💝💝💝
Suara azan subuh membangunkan Azkia, dia duduk terus turun dari tempat tidur, langsung menyambar handuk dan mandi. Selesai mandi, berpakaian kemudian melaksanakan shalat subuh. Dia membuka jendela kamarnya, hawa angin subuh masuk menerpa wajahnya.
"Segarnya." ujar Azkia seraya menghirup udara pagi.
Setelah beberapa kali menghirup udara segar, dia naik kembali ketempat tidur, sambil menunggu agak siang, dia meraih ponselnya dan membuka whatsapp.
[Selamat pagi bidadariku] pesan Riyan masuk.
[Selamat pagi juga sepupuku] balas Azkia dengan diakhiri emoji senyum.
[Sebelum ngantor jangan lupa sarapan, biar encer otak nerima pelajaran dari pak Jaya] pesan Riyan dengan emoji ngakak.
[Baik bos!] balas Azkia, emoji cemberut.
[Udah dulu ya, bos kecil mau ngantor, hahaha] balas Kia, kemudian menutup chatnya dengan salam.
Azkia membereskan berkas dan laptop, memasukkan ke tas kerjanya, kemudian dia mengganti bajunya, dangan baju stelan kantor, dia mematut-matut dirinya di depan kaca.
"Sekarang kamu CEO Kia, harus berwibawa, tidak boleh cengengesan lagi." batinnya seraya memutar tubuhnya, memastikan kalau pakaiannya sudah rapi.
Dengan menenteng tas Azkia keluar rumah, berjalan beberapa meter ke depan rumah Santi.
"Pagi Kia." sapa Santi yang sedang menyiram bunga.
"Pagi juga ibu kost." balas Kia seraya tertawa renyah.
"Udah mau pergi ngantor bu?" tanya Santi dengan pamggilan bergurau.
"Iya." jawab Kia sambil masuk ke dalam mobil.
"Jangan ngebut-ngebut." seru Santi saat Kia sudah membelokkan mobilnya. Azkia hanya membalasnya dengan membunyikan kelakson.
Begitu Azkia keluar dari jalan Pepaya, sebuah motor mengikuti mobilnya dengan jarak sekitar lima belas meter.
"Hallo bos, wanita itu ternyata sekarang bekerja di perusahaan Hadi group. ini hari pertama dia masuk." kata lelaki itu menelpon seseorang
"Di mana kamu tahu kalau dia bekerja di sana." tanya seseorang dari sambungan ponsel.
"Dari pemilik cafe yang bersebelahan dengan kantor Hadi group." kata lelaki itu lagi, setelah menyampaikan laporannya, dia naik ke motornya kemudian memutar mengambil jalan yang dilaluinya tadi.
Azkia keluar dari mobil, kedatangannya bersamaan dengan pak Jaya.
"Nyetir sendiri bu?" tanya pak Jaya saat melihat Azkia turun dari mobil.
"Iya pak." jawab Azkia.
"Kalau ibu perlu supir, saya bisa carikan." ujar pak Jaya lagi.
"Untuk sementara belum pak." ujar Azkia seraya menutup mobilnya kemudian menenting tas kerjanya.
Seorang satpam menyusul Azkia, kemudian mengambil tas yang azkia tenteng, awalnya dia ragu menyerahkan tasnya, tapi lirikan pak Jaya meminta satpam membawa tasnya.
"Selamat pagi bu." sapa satpam yang membukakan pintu untuk Azkia, tiba-tiba semua karyawan berdiri dan menunduk hormat padanya, Azkia yang tidak pernah diperlakukan seperti itu merasa sangat kikuk.
"Apa memang harus seperti ini pak?" tanya Azkia begitu mereka sudah berada di lift.
"Tidak pernah ada perintah, tapi itu sudah jadi kebiasaan di kantor ini." ujar pak Jaya.
"Owh..." hanya itu yang keluar dari mulut Azkia, kemudian mereka berpisah, pak Jaya masuk keruangannya dan Azkia juga ke ruangannya.
"Terima kasih." ucap Azkia pada satpam yang setia mengiringinya, dan mengantarkan tasnya sampai ke ruangan.
Baru lima menit Azkia meletakkan pantatnya ketempat duduk, pak Jaya sudah datang ke ruangannya bersama Naya sang sekretaris.
Mereka berdua membuka file berkas perusahaan, sesuai arahan pemilik perusahaan agar mengajari Azkia dari nol, seluk beluk tentang bisnis yang mereka jalankan. Untungnya Azkia wanita yang pintar dan cerdas, jadi tidak terlalu sulit mengajarinya.
Hanya butuh empat jam mentranfer ilmu yang dimiliki pak Jaya, semuanya sudah berpindah ke otak Azkia.
"Alhamdulillah, sudah selesai bu." ujar pak Jaya tersenyum puas, dia sangat percaya kalau perusahaan Hadi group akan maju pesat di bawah pimpinan Azkia, tidak salah Riyan menyerahkan perusahaan ini padanya.
"Yang benar pak sudah selesai?" tanya Azkia rasa tak percaya.
"Iya bu, garis besarnya sudah semua, yang kecil-kecilnya sambil jalan bisa ibu pelajari, iyakan pak." ucap Naya, berdecak kagum pada kepintaran bos barunya itu.
Pak Jaya dan Naya kembali ke ruangannga masing-masing, kini tinggal Azkia sendirian, dia masih fokus di depan laptopnya.
Dreeet... Dreeet, suara masuk panggilan ponsel dari Riyan.
"Kia! aku sudah di bandara ni." seru Riyan saat dia sudah di bandara Soekarno-Hatta.
"Om sama tante mana?" tanya Kia, Riyan mengarahkan kameranya ke ayah ibunya, Hadi dan istrinya melambaikan tangan.
"Om dan tante pergi dulu ya."
"Iya Om, hati-hati ya, Om!" ujar Azkia, kemudian Riyan memindahkan kamera ke wajahnya.
"Kamu di sana baik-baik, nggak boleh sedih."
"Iya iya, aku nggak sedih kok."
"Mana senyuman termanis untukku." ujar Riyan memohon, Azkia memasang senyum termanisnya dengan tulus.
"Terima kasih untuk semuanya, Kia! dadah." Riyan melambaikan tangannya.
"Terima kasih ju..." belum sempat Azkia melanjutkan ucapannya, Riyan sudah mematikan cameranya, karena namanya sudah dipanggil masuk.
Riyan selalu bisa membuat Azkia tersenyum dengan kekonyolannya, kali ini ada yang beda dari sinar mata Riyan, biasa bias mata nakalnya selalu menggoda Azkia, tadi sinar mata itu seakan redup.
"Mungkin hanya perasaanku saja." batin Azkia seraya melirik jam dipergelangannya, sudah menunjukkan pukul 13.45 wib, dia belum shalat zuhur.
Segara bangkit dari duduknya, terus ke luar ruangan menuju musalla kantor yang memang disiapkan untuk karyawan muslim mengerjakan shalat.
Beberapa karyawan wanita yang sedang berdiri antri untuk mengambil air wudhu, satu persatu menyingkir dan mempersilahkan Azkia duluan, namun Azkia menolaknya.
"Sesuai nomor antri saja." kata Azkia, dia sengaja di hari pertama masuk kerja, shalatnya di musalla, hanya ingin melihat ada tidak karyawannya menunaikan kewajibannya. Pada hal di ruangannya dia bisa leluasa tanpa harus menunggu antrian.
"Permisi bu, apa makan siangnya saya antar keruangan ibu?" seorang office boy menyambanginya dan bertanya.
"Tidak usah, saya masih kenyang, tidak usah pikirkan saya ya, kalau saya mau makan nanti bisa pesan sendiri." ujar Azkia, dia tidak biasa dilayani seperti itu, lagian dua juga memang belum lapar.
"Baik lah kalau begitu, saya permisi bu." office boy berlalu. Azkia pun segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat zuhur.
Tepat pukul 14.00 dia kembali ke ruangan, duduk di kursi kerja yang biasa di duduki Riyan, enyah kenapa tiba-tiba dia ingat Lelaki itu, teringat kekonyolannya. Azkia merasa sepi tanpa Riyan.
Azkia meraih ponselnya, kemudian mulai mengetek hurup demi hurup.
[Riyan, kalau sudah sampai ke Pontianak, kabari aku ya, aku mau video call, pingin lihat kota Pontianak] Azkia mengirim pesan ke ponsel Riyan, ceklis satu.
"Riyan pasti sudah mengudara." batin Azkia seraya melirik jamnya sudah pukul 14.10 wib, karena tadi Riyan bilang berangkatnnya pukul 14.00.
Laptop yang dari tadi masih hidup, dan sempat tersingkirkan saat Riyan video call, Azkia letakkan kembali di depannya, dia mulai lagi fokus pada layar laptop.
Tok... Tok... Tok
"Masuk." ujar Azkia tanpa memindahkan pandangannya dari layar laptop.
"Permisi bu, ini makan siangnya."
"Letakkan di atas meja saja." ujar Azkia.
"Bukannya tadi aku tak minta makan siang." pikir Azkia.
"Apa ibu mau request minuman."
Belum sempat Azkia berpikir sempurna, office boy itu bertanya lagi, spontan Azkia mengangkat kepala, dan suara itu mengingatkannya pada seseorang.
"Hay, bang Dev." serunya kaget, ternyata yang membawakannya makan siang bukan seorang office boy, tapi Dev.
"Kok abang bisa tahu aku di sini?" tanya Azkia lagi.
"Gampang! mataku ada di mana-mana." ujar Dev seraya tersenyum ramah.
Dev sudah sering keluar masuk kantor Riyan, karena dia salah satu rekan kerja Riyan, bahkan diperusahaan Hadi group ada sahamnya 20 persen, waktu Azkia diangkat menjadi CEO dia tidak bisa menghadiri undangan Riyan, karena adik bungsunya mengalami musibah.
Dev bergabung dengan Riyan, Dev berminat mendirikan bisnis sampingan yang bergerak di bidang tranfortasi, namun bisnis utamanya tetap di pabrik tahu.
Dev sempat kaget waktu Riyan memperlihat foto Azkia, dan mengatakan padanya, bahwa Azkia yang akan menggantikannya.
"Siapa wanita itu?" tanya Dev kala itu, bertanya hanya ingin mengorek hubungan Riyan dan Azkia.
"Seseorang yang sangat istimewa." ujar Riyan membuat jantung Dev berdebar kencang.
"Istimewa? maksudnya?" Dev dibuat Riyan penasaran.
"Dia sepupu aku, orangnya pintar dan cerdas." kata Riyan dengan bangganya memperkenalkan pada Dev. Pada hal Dev sempat menjadi kekasih Azkia selama tiga tahun, saat mereka kuliah, dan perjodohan itu membuat Dev mundur teratur.
"Kok tahu, kalau aku belum makan?" tanya Azkia lagi, heran saja melihat Dev membawa menu kesukaannya.
****
Jangan lupa like, komen dan votenya ya readers.
Terima kasih🙏🙏
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita