Raka seorang guru di salah satu SMA Swasta di ibukota, sekaligus pemegang saham terbesar di sekolah tersebut. tidak ada yang tahu jika keberadaan Raka sebagai guru baru adalah awal dari petaka bagi Raya. Raka sudah lama obsesi pada Raya, hingga Raya harus berusaha melarikan diri ke ibukota. kini karna pertemuan tak disangka, Raka berhasil menemukan Raya, dan ingin memiliki Raya.
Raya, siswi peraih beasiswa di SMA swasta yang terpaksa harus menjadi tawanan seorang guru yang posesif Raka, harus tetap bertahan demi pendidikan nya kesenjang yg lebih tinggi..
dimana Raya berada, Raka pasti mengawasi nya.. seperti seekor pemangsa yg mengintai mangsanya..
"jangan berharap kau bisa lepas dariku Raya, karna itu adalah hal yang mustahil. kau milikku, dan akan tetap menjadi milikku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terbuka
Saat ini Raka dan Raya sedang menikmati keheningan dibalik jendela kamar, mereka sedang duduk di sofabed yang menghadap langsung ke jendela itu. Melihat hujan yang kembali turun setelah reda beberapa saat yang lalu.
Setelah menandaskan makan siangnya, mereka memang tidak berniat untuk kemana-mana. Mereka hanya ingin menikmati suasana romantis berdua pasca pertengkaran hebat semalam.
Ya, itulah cinta. Sehebat apapun pertengkaran terjadi, bila rasa cinta masih kuat bersarang dalam hati manusia. Maka kata memaafkan dan meminta maaf hanya lah serpihan kecil yang terbang layaknya debu. Mereka akan menghilang oleh segenap rasa cinta yang kembali merekah.
Raya bersandar pada dada Raka yang duduk disebelahnya. Pandangannya lurus menatap jendela, sedang kakinya berselonjoran nyaman di sisi lain sofabed itu.
" Raka.. " ujar Raya sambil mengelus lembut rahang Raka.
" Hmmm.. " Raka terpejam menikmati belaian lembut Raya
" Dimana orangtuamu? "
" Mereka tinggal di Itali." Raka masih memejamkan mata
" Jadi kau tinggal sendiri disini?" Raya menghentikan belaiannya, membuat Raka membuka matanya perlahan.
" Ya, ada apa sayang?" Raka membawa kembali jemari Raya ke rahangnya, dia masih ingin merasakan belaian dari kekasihnya. Matanya mulai terpejam kembali ketika merasakan jemari Raya bergerak.
" Tidak, aku hanya penasaran saja."
" Tenang saja sayang, tidak ada wanita lain sebelumnya yang aku bawa masuk kesini, kecuali ibuku." ucap Raka sambil melirik sekilas pada Raya.
" Aku tidak membicarakan itu." Raya menengadahkan sedikit kepalanya hingga dapat melihat Raka.
" Yah, aku hanya takut hal itu yang ada di pikiranmu." ucap Raka santai namun penuh dengan tatapan menggoda.
" ish, menyebalkan." Raya mendengus
Saat itu waktu sudah menjelang sore hari, rencananya Raya akan pulang setelah makan malam.
" Sayang, siapa lelaki yang berbicara denganmu saat acara amal kemarin?" Raka penasaran pada sosok Raihan.
" Lelaki yang mana? " Raya sedikit bingung karna memang saat di acara itu, ada beberapa lelaki yang mengajaknya berbicara.
" Oh My Lord! Memang berapa banyak lelaki yang kemarin mendekatimu? Huh?! " Raka menegakkan tubuh Raya yang bersandar padanya dan menghadapkan wajah Raya kepadanya.
" Ishh, mereka semua temanku Raka. Wajar bukan jika berbicara denganku?!" sergah Raya.
" Lelaki yang ikut menawar sepedamu itu." Raka menjelaskan.
" Ooohh, Raihan." Raya seperti baru saja teringat.
" Dia temanku di kelas satu dulu." jelas Raya singkat.
" Dia menyukaimu, bukan?! " tanya Raka memastikan dugaannya.
" Aku tidak tahu." Raya mengangkat bahunya sedikit.
" Dia pasti menyukaimu, aku yakin." ucap Raka sambil melihat jauh ke luar jendela.
Buk!
Bantal sofa terlempar tepat di bahu pundak Raka. Raya memukulnya dengan bantal itu sambil berdiri di hadapan Raka.
" Aduh! Sayaang!" Raka meringis sambil menatap Raya yang berdiri di hadapannya.
" Kau.. Selalu saja curiga pada siapapun yang berbicara denganku." Raya menatap sinis Raka.
" Aku bukan curiga sayang, tapi memang aku tahu lelaki itu pasti menyukaimu. Itu terlihat jelas dari sorot matanya." Raka menjelaskan.
" Kau harus jauhi dia." sambungnya sambil menunjuk pada arah Raya.
Buk! Pukulan kedua melayang.
" Auw, sayang!" Raka mulai kesal dibuatnya.
" Kau, tidak boleh begitu. Apa kau akan selalu cemburu jika aku berbicara dengan semua lelaki, huh?!" tanya Raya.
" Ya! Aku akan cemburu setiap kau berbicara dengan lelaki lain!! Maka dari itu lebih baik kau jauhi lelaki lain, sebelum aku memindahkannya ke planet Mars!!" Raka berdiri dan berujar dengan suara tegasnya.
Raya yang menyaksikan tingkah Raka, tak bisa menahan godaan ingin tersenyum. Dia gemas melihat raut wajah Raka yang menahan kesal kepadanya. Oh sungguh, saat ini Raya merasa berada di atas awan. Dia tak menyangka bisa dicintai dengan begitu besar oleh seorang lelaki.
" Apa? Apa? Apa yang kau pikirkan hah?! " tanya Raka yang melihat Raya tersenyum penuh misteri kepadanya.
Tanpa berkata apapun, Raya langsung melompat ke arah Raka, Raka yang terkejut langsung menangkap tubuh Raya. Raya masuk dalam gendongan Raka. Posisinya yang berada di depan, dan berhadapan langsung dengan wajah Raka membuatnya tak ingin melewatkan kesempatan untuk menciumi wajah lelakinya itu. Kening, pipi, bibir terus berulang kali diciumi Raya. Raka merasa senang dibuatnya, bagaimana bisa dia tidak senang disaat Raya memberikannya ciuman bertubi-tubi.
Dengan Raya dalam gendongannya, Raka melangkah mendekati ranjang. Perlahan dia letakan Raya di ranjang itu, tanpa melepas pagutan bibirnya. Sedikit demi sedikit didorongnya tubuh Raya hingga berbaring, sejenak ia menjauhkan terlebih dulu pagutan bibirnya, untuk kemudian membuka pakainya. Namun segera ia temui lagi bibir Raya yang menanti.
Kecupan demi kecupan, belaian demi belaian, membuat mereka terlena dibuai gairah. Tak ada satupun bagian tubuh Raya kecuali pusatnya, yang tidak dilalui oleh bibir Raka. Mereka sibuk menumpahkan rasa satu sama lain, namun waktu terus berjalan tanpa henti. Membuat mereka terpaksa menyudahi apa yang terjadi.
" Aku harus pulang." ucap Raya yang sesekali masih menciumi bibir Raka.
" Tidak ingin menginap lagi?" Raka mengerlingkan matanya menggoda
" Tidak." Raya menggelengkan kepalanya
" Oooohhh." Raka memasang raut wajah sedih.
" Aku harus pulang Raka, ibu pasti menungguku."
" Oke, baiklah." ujar Raka
" Kita makan malam dulu, setelah itu baru aku antar kau pulang." Raka tersenyum bersiap untuk turun dari ranjang.
" Kau akan memasak? " tanya Raya ragu
" Hey, berhenti menatapku seperti itu. Aku cukup ahli memasak sayang."
" Oke." Raya mengganggukan kepalanya pelan. " Kalau begitu aku akan pergi mandi." sambungnya seraya berdiri mengikuti Raka.
Raka melangkah hendak ke pintu luar, sedang Raya melangkah ke pintu kamar mandi. Namun sebelum masuk kamar mandi, Raya membalikkan badannya menengok kearah Raka.
" Raka," Panggilnya ragu
" Ya sayang." Raka membalikkan badannya menatap Raya.
" Kau belum bercerita semua tentangmu." Raya sedikit terbata mengatakan itu.
" Maksudku, semua tentangku kau mengetahuinya. Ibuku, pendidikanku, asal usulku, semua kau tahu. Tapi aku.. Aku tidak tahu tentangmu." sambungnya
Raka yang mendengar Raya ingin mengenalnya lebih dekat merasa senang, dia memang belum menceritakan apapun tentangnya kepada Raya. Dan mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai ceritanya. Dia ingin Raya mengetahui semua tentangnya. Tentang siapa dia yang sebenarnya.
" Aku senang kau menanyakan hal itu sayang, bagaimana jika aku mulai bercerita saat makan malam? " ucap Raka sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Raya mengangguk tanda setuju, setelah itu ia masuk ke kamar mandi dan Raka turun untuk mulai memasak.
Sesuai dengan apa yang tadi dikatakan, Raka memulai bercerita mengenai dirinya kepada Raya saat mereka makan malam. Mulai dari keluarganya, hobinya, pekerjaannya, bahkan kenyataan bahwa ia menyamar menjadi guru pun sudah ia katakan.
" Kau tahu, aku bahkan sampai membeli sekolahmu hanya untuk kembali bertemu denganmu." Raka bercerita sambil memakan Osso Buco yang tadi ia buat.
Osso Buco itu olahan yang terbuat dari daging sapi dengan rempah yang beragam, disajikan bersama mashed potato dengan taburan peterseli kering diatasnya.
Raya tercengang, tak habis pikir dengan apa yang baru ia dengar.
" Apa kau gila?!" Raya belum bisa menghilangkan keterkejutannya.
" Jadi selama ini, kau adalah direktur utama sekolah swasta itu?!" Raya membelalakan matanya menatap Raka.
" Ya, begitulah."
" Jadi aku saat ini sedang menjadi kekasih dari direktur utama sekolahku sendiri?!" ucap Raya secara perlahan.
" Ya Tuhaaaan! " Raya langsung menengadahkan kepala menatap langit-langit ruangan.
Raka terkekeh geli melihat raut wajah Raya,
" Oke sayang, karna aku sudah cerita semuanya. Jadi sekarang kita lanjutkan lagi makan malamnya. Bagaimana?! " Raka tersenyum menatap lekat bola mata Raya.
Malam itu menjadi malam yang penuh kejutan bagi Raya, segala kemisteriusan Raka terbongkar sudah tak bersisa. Meskipun dia masih tak habis pikir dengan semua cerita Raka, tapi jauh dilubuk hatinya dia sangat bersyukur. Bahkan rasa syukurnya bertambah berkali-kali lipat karna Raka dengan segala kelebihannya, mau mencintai Raya dengan segala kekurangannya. Raya menjadi semakin paham, arti dari kata saling melengkapi.