Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Seperti biasa, setelah pulang sekolah Leon dan Zen segera pulang ke rumah. Rumah Zen tepatnya. Leon berjalan mendahului Zen dan masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Alandra dengan santainya. Zen merupakan anak tunggal dari keluarga Alandra dan merupakan pewaris tunggal keluarga tersebut.
Keluarga Alandra sendiri merupakan salah satu keluarga besar yang paling mendominasi di benua Asia, hal itu jugalah yang membuat Zen dan Leon saling mengenal dan merupakan sahabat sejak kecil.
Keluarga Oswald maupun Keluarga Alandra merupakan 2 dari 5 keluarga besar yang mendominasi benua Asia, namun itu dulu sebelum tragedi besar yang menimpa keluarga Oswald.
Kini bahkan keberadaan dari orang-orang keluarga Oswald pun tidak di ketahui oleh pihak manapun, namun hubungan antara kedua keluarga ini memang dulunya cukup terjalin dengan baik. Hal itu pulalah yang membuat keberadaan Leon di terima di keluarga tersebut tanpa adanya penolakan.
Sejak kecil juga hubungan Leon dan Zen memang sudah cukup dekat, mengingat umur mereka yang sepantaran membuat keduanya lebih mudah untuk berinteraksi.
“Zen, kamu liat 'kan followers aku nambah banyak? 10 ribu bro... haha,” tawa Leon begitu bangganya.
“Iya tahu.”
“Kamu pasti iri 'kan...?”
“Siapa juga yang iri, mereka aja yang buta, jelas-jelas aku lebih oke!”
“Haha, masa sih?” ledek Leon.
Leon dan Zen segera masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tas mereka dan mengganti pakaian, sebenarnya adalah banyak kamar yang tersedia di rumah besar itu. Namun Leon lebih memilih untuk tidur satu kamar dengan Zen, mengingat ukuran kamar tersebut juga cukup besar untuk menampung dua orang sekaligus.
Zen sendiri pun tidak merasa terganggu atau sebagainya, dia malah senang jika ada Leon dirumahnya. Dari pada harus tidur seorang diri di kamar yang begitu besar dia lebih memilih untuk tidur bersama-sama agar suasana terasa lebih nyaman.
“Kita tempur di dapur yok, aku udah dapat amunisi baru nih!”
“Apaan tuh amunisinya?”
“Puding coklat Belgia di tambah lelehan susu dan kacang almond.”
Mendengar namanya saja Zen langsung menelan ludah, dia memang biasanya hanya memakan makanan yang di sajikan oleh para pelayan karena memang ia tidak terlalu sering meminta ini dan itu.
Namun jika Leon sedang tinggal di tempatnya, mereka berdua akan sangat sering bermain bersama dan bahkan membuat makanan dengan tangan mereka sendiri. Bukan karena ingin mencoba rasa dari makanan itu, tapi dengan mereka membuatnya sendiri akan lebih menambah citarasa makanan tersebut menjadi lebih nikmat.
Setelah itu keduanya segera turun ke lantai bawah dan pergi ke dapur untuk mempersiapkan pertempuran mereka. Saat tubuh sudah tertutupi oleh peralatan lengkap untuk bertempur, keduanya segera mengambil bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat amunisi mereka.
“Aku potong coklat, nanti kamu yang panasin ya.”
“Oke.”
Keduanya mulai membagi tugas masing-masing dengan di komandoi oleh Leon, kegiatan itu berjalan dengan sangat mengasikan. Setelah beberapa puluh menit berlalu, kini tibalah detik-detik terakhir dari pertempuran itu. Leon segera meletakkan sentuhan terakhir yang menjadi tanda keberhasilan mereka dalam menciptakan amunisi yang fantastik.
“Yes, akhirnya selesai!”
“Haha, ini baru amunisi yang paling gokil!”
Setelah mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama, kini waktunya kedua manusia itu untuk melanjutkan pertempuran yang sesungguhnya. Mereka langsung mengambil senjata rahasia masing-masing, yaitu sebuah sendok.
Dengan gerakan cepat dan telaten keduanya mulai melancarkan serangan masing-masing untuk mendapatkan setiap bagian dari amunisi mereka tersebut, tak menghiraukan keadaan dapur yang sudah di buat berantakan keduanya terus melanjutkan kegiatan mereka dengan canda dan tawa hingga pertempuran usai.
Masa bodo ah mau berantakan juga, haha.
-
-
-
-
-
***
Jangan lupa like dan komen di setiap bab
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??