Karya asli!!!
on-Going
Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.
Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.
Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?
Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!
"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 Kedamaian yang dinanti...?
Angin bertiup pelan.
Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, angin terasa seperti anugerah, bukan tanda kehancuran.
Langit kembali biru, meski di ujung cakrawala masih ada sisa sobekan halus dari celah dimensi yang sebelumnya menganga. Daratan penuh reruntuhan, tubuh-tubuh tertutup abu, dan darah para pejuang mewarnai tanah sebagai bukti harga dari kemenangan itu.
Namun, dunia mereka masih ada. Masih berdiri. Masih hidup.
Di tengah reruntuhan, para tetua dari berbagai sekte, yang sebelumnya saling bermusuhan, kini berlutut bersama menghadap satu arah—ke puncak menara utama Sekte Langit Abadi.
Di sana, sosok berjubah hitam keemasannya berdiri tegak.
Pupil emasnya menyapu dunia yang baru saja ia selamatkan.
“Ye Qingchen…”
“Dia bukan hanya seorang kultivator.”
“Dia adalah... penghalang terakhir dunia ini dari kehancuran.”
Suara-suara lirih berubah menjadi sorakan.
Bukan teriakan kemenangan yang gegap gempita, tapi teriakan penuh penghormatan…
Ketulusan yang berasal dari rasa syukur terdalam.
Seribu Sekte Mengakui Penguasa Baru
Dalam sejarah panjang dunia kultivasi, belum pernah ada satu nama yang mampu memersatukan Seribu Sekte. Tapi hari itu, mereka semua datang:
Pemimpin Sekte Naga Langit membungkuk dalam.
Patriark Klan Bunga Abadi mengangkat cawan arak dan menumpahkannya ke tanah.
Tetua Sekte Bayangan Gelap memahat nama “Ye Qingchen” di altar batu leluhur mereka.
“Mulai hari ini…” ujar Tetua Besar dari Sekte Kaisar Petir, “Ye Qingchen bukan hanya salah satu dari kami. Dia adalah Penjaga Dunia, dan Hukum yang kami akui.”
Namun, Di Balik Sorak Kemenangan…
Ye Qingchen, atau Huang Di, duduk bersila sendirian di ruangannya.
Wajahnya tetap dingin. Tak tergoyahkan oleh pujian atau kehormatan.
Karena dalam hatinya, kemenangan ini… hanyalah awal.
Kilatan dari dunia lain itu—laptop, dunia tanpa spiritual, kisah tentang dirinya sendiri yang tertulis di layar—masih jelas dalam benaknya.
Untuk sesaat, pupil emasnya bersinar lebih dalam.
Bukan hanya menatap dunia, tapi menembus batas dunia.
Dia tak hanya ingin menguasai dunia ini—tapi mengungkap siapa yang berani mempermainkan takdirnya.
Sementara dunia merayakan keberlangsungan hidup,
Sementara nama Ye Qingchen mulai dicatat dalam prasasti dan naskah kekal,
Sang Dewa Kekacauan menyusun jalannya menuju takdir yang lebih tinggi.
Karena bagi Ye Qingchen…
Kemenangan atas makhluk luar hanyalah awal dari pemberontakan terhadap penciptanya sendiri.
Ratapan Di Bawah Langit Tanpa Cahaya
Di puncak tebing putih Sekte Bunga Surgawi, seorang wanita berselimut jubah putih berdiri membisu.
Rambut panjangnya tertiup pelan oleh angin malam.
Tatapannya menembus langit yang tak berbintang.
Di matanya—ada lautan kenangan, tapi tak satu pun dapat diraih.
Qianlong Yue’er.
Wanita yang dikenal sebagai Lentera Suci Void Manifestation, dan satu-satunya yang mampu menembus Ranah Ketiga Belas dalam seribu tahun terakhir.
Namun malam ini, di bawah langit sunyi, dia bukanlah seorang legenda.
Dia hanyalah seorang wanita yang merindukan seseorang.
“...Sudah berapa tahun sejak kau pergi… Huang Di?”
Suaranya lirih, seolah berbicara kepada bayangan waktu.
“Dunia ini… masih tetap berdiri. Tapi rasanya seperti tubuh tanpa jiwa.”
Dia duduk di tepi tebing. Di tangannya, sebuah kristal cahaya yang dahulu dipenuhi energi spiritual Huang Di—kini nyaris redup.
“Apakah kau tahu?” lanjutnya, “setelah kau pergi… banyak yang berubah.”
“Sekte mulai bersaing satu sama lain lagi.”
“Pemerintah surgawi mulai mengatur ulang keseimbangan kekuasaan.”
“Bahkan langit… terasa lebih dingin sekarang.”
Dia menggenggam kristal itu lebih erat.
“Aku menaiki ranah demi ranah… tidak untuk kekuasaan.”
“Tapi hanya untuk bisa lebih dekat dengan langit tempatmu pergi.”
Angin membawa serpihan aroma sakura dari lembah, dan bersamanya… kenangan kembali....
Suara tawa lembut Huang Di ketika ia mengajari teknik yang diberikan saat secreat realm pertama kalinya.
Tatapan dalam yang seolah bisa membaca isi hatinya.
Dan janji yang tak pernah sempat diucapkan.
Qianlong Yue’er bukan wanita yang lemah.
Tapi malam itu, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.
“Kau terlalu tinggi sekarang…
Mungkin bahkan aku tidak bisa menyentuh bayanganmu.”
“Tapi... aku tidak akan berhenti.”
“Jika seluruh dunia ini adalah panggung sandiwara...
Maka aku akan memecahkan ilusi dan mencarimu di luar tirai takdir itu.”
Dari kejauhan, langit bergemuruh perlahan.
Seberkas cahaya turun dan melintas sekejap—seperti jejak dari dunia yang berbeda.
Qianlong Yue’er menatapnya dengan penuh harap.
“Jika itu kau, Huang Di…”
“...jangan lupa jalan pulang.”
Dan malam pun menutup halaman kenangan,
menyisakan satu nama yang tetap hidup dalam diam......Huang Di.
Di dalam ruang meditasi pribadi yang terletak di puncak menara kerajaan Timur, Huang Liangchen duduk termenung.
Dia adalah Pangeran Keempat—dahulu dikenal sebagai penopang kejayaan Kerajaan Timur. Seorang pemimpin alami, dingin dalam strategi, tapi menyimpan kelembutan bagi satu orang yang tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai seorang bangsawan…
Adiknya. Huang Di.
Atau sekarang dikenal oleh dunia asal sebagai Ye Qingchen.
“Sudah berapa musim… sejak namamu tak lagi terdengar di bawah langit ini?”
Huang Liangchen menatap langit merah senja dari jendela batu giok. Tangannya menggenggam erat liontin yang dulu ia berikan pada adiknya saat perpisahan—saat dunia menyingkirkan Huang Di dan mengubur namanya di balik kehinaan.
Tapi dia tahu.
Mata Huang Di saat itu tidak menyimpan dendam.
Hanya tekad. Dan sepi.
Leluhur, takdir, masa lalu
Semua orang memujamu sekarang, adikku…"
Ia berdiri, menyapu debu dari jubah kebesarannya.
Di balik mahkota perang dan gelar bangsawan, Huang Liangchen adalah seorang kakak yang gagal melindungi saudaranya sendiri.
“Mereka menyebutmu Sovereign… Penguasa Dimensi… Pewaris Hukum Kekacauan…”
“Tapi bagiku, kau masih si bocah keras kepala yang selalu menatap langit lebih lama dari siapapun.”
Tatapannya mengeras.
“Apakah kau masih di dunia ini? Atau sudah mencapai alam yang bahkan nama-namanya belum pernah kami kenal?”
Saat malam menggulung langit, Huang Liangchen menyandarkan diri di kursi batu. Di luar jendela, seekor burung berwarna perak terbang melintas—makhluk langka yang konon hanya muncul saat ada kekuatan dari dimensi atas hadir.
Dia mengangkat wajahnya, menatap jauh…
“Kalau kau bisa mendengarku dari tempatmu sekarang…”
“Ketahuilah, bahwa satu-satunya hal yang kutunggu… bukan kekuatanmu… tapi kehadiranmu.”
Dan malam pun menjawabnya hanya dengan angin sunyi.
Dua tahun telah berlalu sejak pertempuran besar yang mengguncang dunia asal—pertarungan antara para cultivator dan makhluk luar dimensi Yingwai yang hampir merobek batas realitas. Pertempuran itu memakan banyak korban dan mengukir nama Ye Qingchen, atau Huang Di, sebagai pahlawan mutlak yang mengubah alur sejarah Seribu Sekte.
Kini dunia kembali tenang. Alam-alam spiritual tidak lagi bergolak. Angin gunung membawa harum dedaunan kuno, dan langit kembali memperlihatkan biru murni yang lama tidak tampak.
Di Dalam Puncak Gunung Sunyi
Sebuah istana terapung berdiri di puncak gunung yang bahkan tak terdaftar dalam peta kekuatan dunia—Istana Retakan Kekacauan. Diciptakan oleh kekuatan integrasi hukum mutlak Huang Di, istana itu menjadi tempat pengasingan dan kultivasi tertutupnya selama dua tahun.
Tak seorang pun berani mendekat.
Bahkan para Sovereign dari sekte agung hanya bisa menatap dari jauh, menanti kapan Dewa Tanpa Takdir itu akan membuka matanya kembali.
Dan pada suatu senja, saat cahaya keemasan merembes menembus tirai hukum, mata Huang Di terbuka.
[DING!] – Sistem Aktif Kembali
[Sistem Pemeliharaan Kehendak Mutlak Aktif…]
[Integrasi kehendak tuan terdeteksi mencapai ambang dimensi ke-19…]
Suara familiar yang sudah lama tak terdengar kembali menggema di lautan kesadaran Huang Di.
[Pertanyaan: Apakah Anda ingin membuka jalur menuju “Puncak Tuan” dan melangkah ke Ranah Tak Bernama?]
Narasi Dalam Hati Huang Di
Huang Di terdiam.
Ia bangkit perlahan dari meditasi terdalamnya, mengenakan jubah hitam emas yang mengalir seperti kabut hukum. Di belakangnya, lingkaran Dao kuno berputar lambat, memancarkan simbol-simbol hukum yang menyatu: Waktu, Kekacauan, dan Kehendak Mutlak.
“Puncak Tuan… Ranah Tak Bernama…?”
Ia menatap telapak tangannya. Di sana, pusaran hukum kecil berputar, seolah menunggu kehendaknya untuk meledak kapan saja.
“Selama ini aku memanjat setiap ranah dengan darah dan prinsipku sendiri…”
“Jika ada puncak di balik segala yang telah aku capai… apakah itu takdir yang sebenarnya, atau jebakan yang tersisa?”
Huang Di:
"Sistem... apakah ini jalan akhir?"
Sistem:
[Negatif. Puncak Tuan hanyalah gerbang menuju dimensi berikutnya. Namun, langkah ini akan mengunci seluruh masa lalu Anda. Anda tidak akan dapat kembali sebagai makhluk biasa.]
Huang Di:
"Apakah aku... masih manusia jika melangkah ke sana?"
Sistem:
[Tuan telah lama meninggalkan sifat dasar manusia. Tapi pilihan, tetap milik Anda.]
Kilasan Masa Lalu dan Pilihan Besar
Dalam keheningan itu, kilasan wajah-wajah yang pernah mengisi perjalanan hidupnya melintas:
Qianlong Yue'er, yang menunggu dengan sabar di dunia lama.
Huang Liangchen, kakaknya yang menanti kabar dari langit.
Para sahabat, musuh, dan sekutu yang telah menjadi bagian dari jalannya.
“Apakah aku harus tinggalkan semua ini… demi sesuatu yang bahkan belum kutahu wujudnya?”
Keputusan yang Memecah Langit
Huang Di perlahan berdiri di altar hukum di tengah ruangannya. Langkahnya ringan, tapi dunia di sekitarnya bergetar seakan merespons keputusan yang mendekat.
Huang Di mengangkat tangannya.
Lingkaran hukum mulai berputar dengan intens. Mata emasnya menyala seperti bintang di kehampaan malam.
“Sistem… bukakan gerbang itu.”
[DING!] – Perintah Diterima
[Membuka Jalur Puncak Tuan… 1%... 30%... 70%...]
Langit di atas istana mendadak retak. Bintang-bintang mulai memutar orbit. Dunia asal—yang pernah disebut tempat asal semua hukum—mulai merespons keberadaan gerbang baru.
“Dunia telah memberiku takdir… tapi kali ini, aku akan menjadi penentu hukum atas takdir itu sendiri.”
Dengan langkah mantap, Huang Di melangkah ke dalam pusaran cahaya yang menyala di hadapannya.
Tidak lagi sebagai murid dunia.
Tapi sebagai calon penulis ulang hukum realitas.
Dan dunia pun kembali terdiam, menanti kelahiran kembali Tuan Mutlak Tanpa Nama.
gaassss....