NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03

Kirana baru menyadari satu hal setelah keluar dari rumah Pak Hendra.

Ia membawa seorang laki-laki, tetapi tidak membawa rencana.

Matahari Jakarta sedang galak-galaknya. Trotoar di depan kompleks perumahan itu terasa panas sampai menembus sol sepatu. Mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang, melewati mereka seolah mereka bagian dari pemandangan yang tidak penting.

Raka berjalan di sebelahnya tanpa banyak bicara.

Kirana menoleh. "Kamu sungguh tidak punya tempat tinggal?"

"Ada tempat."

Kirana berhenti. "Tadi kamu bilang tidak."

"Saya bilang tidak punya tempat tinggal yang bisa kita datangi sekarang."

"Apa bedanya?"

Raka memasukkan tangan ke saku celana jeans. "Tempat itu tidak cocok."

Kirana memejamkan mata sebentar. Ia terlalu lelah untuk menerjemahkan kalimat laki-laki ini.

"Dengar, Raka. Aku tidak punya banyak uang. Kalau kamu berharap bisa tinggal di apartemen, lupakan. Aku akan cari kontrakan murah. Mungkin sempit. Mungkin jauh dari pusat kota. Mungkin dindingnya lembap."

"Saya tidak bilang keberatan."

"Kamu tadi keberatan waktu disebut miskin?"

"Saya keberatan karena yang bicara Nadira."

Kirana menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia ingin tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena hidupnya terlalu kacau sampai jawaban kecil seperti itu terasa aneh.

"Kamu selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Bicara sedikit, bikin orang kesal."

Raka menatap jalan. "Tidak semua orang."

"Berarti aku termasuk yang sial."

"Mungkin."

Kirana menghela napas dan mengangkat tangan menghentikan taksi online yang baru menurunkan penumpang dekat gerbang. Sopir membuka kaca.

"Mau ke mana, Mbak?"

Kirana menyebut nama daerah di Jakarta Timur, kawasan yang ia tahu masih punya banyak kontrakan murah. Sopir mengangguk.

Mereka duduk di kursi belakang. Di mobil kecil itu, jarak mereka terasa terlalu dekat. Kirana menatap keluar jendela, sementara Raka diam saja.

Ponsel Kirana bergetar.

Pesan dari Bu Farida.

Jangan macam-macam. Kalau keluarga Pak Hendra makin malu karena kamu, jangan harap kami mau menerimamu lagi.

Kirana membaca pesan itu dua kali, lalu mematikan layar.

Raka melirik. "Dari siapa?"

"Tidak penting."

"Kalau tidak penting, kenapa wajahmu berubah?"

"Karena orang tidak penting juga bisa menyebalkan."

Raka tidak bertanya lagi.

Itu membuat Kirana sedikit lega. Kebanyakan orang akan memaksa tahu. Raka justru membiarkan diam itu ada.

Mereka berhenti di depan kantor agen properti kecil yang juga merangkap penjualan pulsa dan fotokopi. Seorang pria paruh baya berkemeja kotak-kotak menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Cari kontrakan, Mbak? Untuk berdua?"

Kirana ingin menjawab cepat, tapi pertanyaan itu menampar kenyataan. Untuk berdua.

Ia dan Raka.

"Iya," jawabnya akhirnya. "Yang murah. Kalau bisa dekat akses bus atau commuter line."

Pria itu memandang Raka sekilas. Mungkin menilai baju sederhana, rambut masih agak basah, dan wajah terlalu tampan untuk ukuran laki-laki yang mencari kontrakan murah siang-siang.

"Budget berapa?"

Kirana membuka catatan di ponsel. Sisa uangnya tidak banyak. Ia punya tabungan dari kerja sambilan di Bandung, tapi itu harus cukup sampai gaji pertama masuk.

"Maksimal satu juta dua ratus per bulan."

Agen itu menggaruk kepala. "Kalau satu juta dua ratus, ada. Tapi ya begitu, Mbak. Jangan berharap bagus."

"Yang penting bisa ditempati."

Raka tiba-tiba berkata, "Ada yang lebih aman?"

Agen tersenyum. "Lebih aman ada, Mas. Dua juta setengah."

Kirana langsung menoleh tajam. "Tidak."

"Saya bisa cari kerja."

"Cari kerja dulu baru bicara dua juta setengah."

Agen tertawa kecil, mungkin mengira mereka pasangan baru bertengkar soal uang. "Ada satu di gang belakang. Satu kamar, ruang kecil, kamar mandi dalam. Listrik token. Air sumur bor. Kalau mau, saya antar lihat."

Kirana mengangguk.

Kontrakan itu lebih buruk dari bayangannya.

Gangnya cukup untuk satu motor. Di depan rumah, selokan kecil mengalir pelan. Cat dinding luar sudah mengelupas. Pintu kayu mengeluarkan suara saat dibuka. Di dalam, bau lembap langsung menyambut.

Ruang depan hanya cukup untuk satu sofa kecil dan meja lipat. Kamar tidur sempit. Dapur berada di sudut belakang, menyatu dengan tempat cuci piring. Kamar mandi bersih seadanya, tapi keramiknya retak di beberapa bagian.

Raka berdiri di tengah ruangan, melihat sekeliling.

Kirana bersiap mendengar keluhan.

"Bisa ditempati," kata Raka.

Kirana menatapnya curiga. "Kamu yakin?"

"Kamu sendiri yang bilang, yang penting bisa ditempati."

"Aku kira kamu akan protes."

"Saya bisa protes kalau itu membantu."

Agen tertawa lagi. "Masnya santai, ya."

Kirana mengeluarkan uang muka dan membayar satu bulan sewa plus deposit kecil. Tangannya berat saat menyerahkan uang itu, tapi ia tahu tidak ada pilihan lebih baik.

Setelah agen pergi, tinggal mereka berdua di ruangan kosong.

Kirana menaruh tas di lantai.

"Kita perlu sapu, pel, ember, kasur lipat, galon, kompor kecil, piring..."

Raka mendengar daftar itu dengan wajah datar.

"Banyak."

"Hidup memang banyak biaya."

"Berapa sisa uangmu?"

Kirana menatapnya. "Kamu mau mengaudit aku?"

"Aku perlu tahu supaya bisa membantu."

"Dengan apa? Doa?"

Raka tersenyum sedikit. "Doa juga penting."

Kirana menghela napas. "Aku masih bisa urus. Besok aku mulai kerja di Hotel Wijaya. Gajinya memang belum langsung, tapi ada uang makan kalau masuk shift."

"Kamu yakin kerja di hotel itu aman? Setelah skandal tadi?"

"Aku tidak punya kemewahan untuk memilih aman atau tidak."

Kalimat itu keluar terlalu jujur.

Raka diam.

Kirana merasa tidak nyaman dengan tatapannya. Seolah laki-laki itu melihat lebih banyak dari yang ia izinkan.

"Ayo," katanya cepat. "Kita beli perlengkapan. Kalau tidak, malam ini kita tidur di lantai."

Mereka pergi ke toko peralatan rumah tangga murah dekat pasar. Kirana memilih barang dengan teliti. Sapu paling murah tapi tidak mudah patah. Ember ukuran sedang. Tikar. Kasur lipat tipis. Dua bantal. Piring plastik. Gelas. Kompor portable. Tabung gas kecil.

Raka mengambil set piring keramik.

Kirana langsung mengembalikannya. "Tidak perlu."

"Yang ini lebih bagus."

"Yang plastik tidak pecah."

"Tapi..."

"Raka."

Ia diam.

Di kasir, Raka tiba-tiba merogoh saku.

Kirana memegang tangannya. "Jangan."

"Aku masih punya uang."

"Berapa?"

Raka berhenti.

Kirana menatapnya tajam.

"Aku tanya berapa."

Raka mengeluarkan dompet. Isinya tidak seperti dompet orang miskin. Kulitnya bagus, jahitannya rapi. Kirana menyipitkan mata.

Raka cepat-cepat mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Cukup untuk bantu."

"Dari mana?"

"Sisa kerja."

"Kerja apa?"

"Macam-macam."

Kirana mengambil uang itu hanya dua lembar, lalu mendorong sisanya kembali.

"Kalau kamu masih punya uang, simpan. Aku tidak mau nanti kamu bilang aku memanfaatkanmu."

"Saya tidak akan bilang begitu."

"Orang berubah saat lapar."

Raka menatapnya lama.

Mungkin ia ingin membantah. Namun akhirnya ia hanya mengangguk.

Mereka kembali ke kontrakan saat langit mulai gelap. Kirana langsung menyingsingkan lengan baju dan mulai menyapu. Debu beterbangan. Raka batuk sekali.

Kirana menunjuk ember. "Isi air."

Raka mengambil ember, lalu berhenti di depan kamar mandi. "Kerannya yang mana?"

Kirana menatapnya seperti melihat makhluk dari planet lain.

"Yang keluar air."

"Saya tahu."

"Kelihatannya tidak."

Raka masuk kamar mandi. Beberapa detik kemudian terdengar suara air menyembur terlalu keras, lalu suara ember jatuh.

Kirana menutup wajah dengan telapak tangan.

"Ya Allah, Raka..."

"Tidak apa-apa," sahutnya dari dalam. "Aman."

Saat ia keluar, celana jeans bagian bawahnya basah. Kirana tidak tahan. Ia tertawa kecil.

Raka menatapnya.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aman."

Ia mengulang kalimat Raka dengan nada datar.

Raka akhirnya ikut tersenyum.

Mereka membersihkan rumah itu sampai malam. Kirana menempelkan kertas motif kayu murah di satu bagian dinding yang paling kusam. Raka memasang paku kecil untuk menggantung tas. Tangannya canggung, tapi ia berusaha.

Ketika semua selesai, ruangan itu masih sempit. Masih sederhana. Masih jauh dari rumah mewah Pak Hendra.

Tapi tidak lagi terasa asing.

Kirana duduk di tikar, punggung bersandar ke dinding. Tubuhnya pegal. Raka duduk di dekat pintu, menyeka keringat dengan lengan.

"Jadi ini rumah kita?" tanya Raka.

Kirana menoleh. "Untuk sementara."

"Lumayan."

"Jangan memuji kalau terpaksa."

"Saya serius."

Kirana melihat sekeliling. Ada dua piring plastik di dekat kompor. Ada galon belum dipasang. Ada kasur lipat di kamar.

"Kamar untuk aku," katanya.

Raka langsung menoleh. "Lalu saya?"

"Ruang depan."

"Kita sudah..."

Kirana mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Raka.

"Jangan selesaikan kalimat itu."

Raka menangkap bantal. "Saya hanya bertanya."

"Pertanyaanmu ditolak."

Ia meletakkan bantal di ruang depan, lalu berdiri.

"Aku mandi dulu. Jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk. Jangan nyalakan kompor kalau tidak tahu caranya. Jangan sentuh galon sampai aku pasang."

Raka mengangkat alis. "Saya bukan anak kecil."

"Buktikan."

Kirana masuk kamar mandi.

Raka duduk sendirian di ruang depan, memegang bantal tipis itu. Dari luar terdengar suara motor lewat dan anak-anak kecil berteriak di gang.

Ia melihat sekeliling lagi.

Kontrakan satu juta dua ratus ribu.

Tikar murah.

Piring plastik.

Perempuan yang baru saja kehilangan nama baiknya, tapi masih memikirkan uang makan laki-laki yang ia kira tidak punya apa-apa.

Ponsel Raka bergetar.

Nama Bima muncul di layar.

Raka mengangkatnya.

"Pak, mobil sudah standby di jalan besar. Apa perlu saya jemput?"

Raka menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

"Tidak."

"Tapi tempat itu..."

"Mulai malam ini, jangan muncul di sekitar kontrakan tanpa perintah saya."

Bima terdiam di ujung sana. "Baik, Pak."

"Cari tahu siapa pelayan hotel semalam. Semua rekaman. Semua akun yang mengunggah video. Jangan biarkan nama Kirana dihancurkan lebih jauh."

"Siap."

Raka menutup telepon.

Dari kamar mandi, Kirana berseru, "Raka! Kamu bicara sama siapa?"

Raka memasukkan ponsel ke saku.

"Teman."

"Teman yang bisa memberimu kerja?"

Raka tersenyum.

"Mungkin."

"Bagus. Besok cari kerja."

"Baik."

Ia menatap bantal tipis di tangannya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidur di kamar besar, Raka merasa ruang sempit ini tidak buruk.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, seseorang dengan serius berkata akan menanggungnya.

Dan anehnya, ia ingin melihat sejauh mana perempuan itu akan bertahan.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!