Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Sudah ku ikhlaskan
"Ijin Komandan. Mohon di maafkan segala ucapan istri saya. Harap memaklumi kondisi nya saat ini" kata Rival.
"Saya paham Val" kata Kolonel Rudi.
"Saya juga minta maaf atas tindakan saya yang tidak terpuji" kata Letkol Susilo.
Rival mengusap perut Shila. Paham sekali bagaimana rasa takut Shila saat ini. Ia terus memeluk erat dirinya, tak ingin lepas sedikitpun.
-_-_-_-_-
Para Komandan sudah keluar dari kamar rawat Rival. Oka, Arshen dan beberapa anggota lain berjaga di luar.
"Kenapa Abang bohong sama Shila???" ketus Shila dengan wajah yang masih cemberut.
"Abang nggak mau kamu kepikiran. Tidak semua pekerjaan Abang harus kamu pahami. Abang juga memikirkan si dedek di dalam perut" Rival mengusap perut Shila. Ada tendangan kuat dari dalam sana. Senyum Rival mengembang merasakan putri yang ia rindukan sehat dalam perut istrinya.
"Adek marah juga sama papa?" tanya Rival ke arah perut Shila.
"Marah lah pa, papa bohong.." ucap shila masih dengan gaya marahnya.
"Papa nggak niat bohong ma" Rival menghapus air mata di pipi Shila. Istrinya itu sangat sensitif sekarang ini.
-_-_-_-_-
Randy dan Naya datang ke rumah sakit membawa Arben dan Abrian. Anak-anak Rival sungguh sangat nakal. Selang infus Rival sampai terlepas tiga kali karena ulah mereka.
"Kalau kalian nakal, pulang saja!!!" bentak Rival membuat Arben dan Abrian bersembunyi di balik badan Shila. Ia takut Arben dan Abrian akan menabrak Shila lagi seperti saat kemarin.
Randy dan Naya menggeleng kepala melihat kelakuan cucunya, sebab di rumah.. mereka tidak senakal itu.
Tak lama mereka berlarian lagi padahal Rival sudah mengingatkan. Arben dan Abrian berebut botol minuman berukuran besar. Arben melepas paksa botol itu hingga terlepas dan mengenai perut Shila. Randy dan Naya terkejut melihat botol yang melayang.
"Ya Allah Arben..Abrian" suara Rival menggelegar membuat takut kedua bocah itu. Rival refleks mencabut paksa infusnya dan berjalan menuju Shila yang agak meringis sakit.
Arshen masuk dalam ruangan dan tersenyum pada kedua anak Danki.
"Ayo siapa yang mau ice cream??" tanya Arshen.
"Aku mauuuuu" jawab kedua bocah gendut itu dan mengikuti Arshen.
"Sakit dek???" tanya Rival cemas.
"Nggak begitu bang"
"Nggak begitu kelihatan?????" gerutu Rival mengusap perut Shila lalu menciumnya.
"Maaf ya.. kakak nakal"
Dokter masuk ke ruangan Rival.
"Lepas lagi infusnya Kapten??"
"Iya dok. Tidak perlu di pasang lagi. Saya mau pulang. Stress saya harus berlama-lama di sini" kesal Rival.
"Satu kantong lagi. Tenagamu belum pulih benar Kapten. Sekali-kali lah kamu beristirahat dari kegiatanmu. Lagi pula saya yakin rasanya badanmu masih sakit" kata dokter.
Rival diam dan memang benar rasa badannya masih tidak karuan.
"Iya dok" jawab Rival pasrah.
***
"Tolong antar istri saya pulang" perintah Rival pada Arshen.
"Siap bang"
"Nggak mau.. Shila mau disini sama Abang" tolak Shila merengek menggoyangkan lengan Rival.
"Bukannya Abang tidak suka kamu disini. Tapi menjaga anak kita itu lebih baik"
Shila tidak menjawab dan ia hanya menunduk tidak ingin pergi dari sana.
"Begini nih yang selalu buat Abang kelabakan. Sebentar lagi menangis dan Abang pusing tujuh keliling menenangkan mu" Rival melihat ranjangnya lumayan tinggi. Shila yang tidak bisa tidur tenang pasti akan membuatnya lebih cemas, tidak mungkin juga ia membiarkan istrinya tidur di sofa.
Arshen tersenyum melihat Shila. Rival melirik sedikit ke arah Arshen. Senyum Arshen itu sungguh tidak ia sukai.
***
Tengah malam Arshen menarik pembatas ranjang di sisi tempat Shila tidur. Rival yang sebenarnya tidak bisa tidur sedikit mengintip. Arshen mengusap bahu Shila, tampak ada rasa sayang yang tidak bisa di ungkapkan. Kalau saja saat itu Rival bisa menghajarnya, mungkin Arshen sudah babak belur di tangannya.
Berani lain kali kau sentuh istriku. Tanganku sendiri yang akan menggantung nyawamu.
***
"Apa masih ada yang Bu Rival butuhkan?" tanya Arshen.
"Nggak ada om" jawab Shila sambil tersenyum.
Shila menuju ruang Dokter ingin memastikan lagi bagaimana keadaan suaminya.
Rival menarik kerah pakaian Arshen.
"Apa kamu mau menusuk Abang dari belakang???" geram Rival tak bisa menahan kesalnya.
"Apa maksud Abang" tanya Arshen.
"Hanya kamu yang memberi perhatian lebih pada istri Abang. Jangan berkhayal kamu bisa mendapatkan nya. Br*****k sekali kau ini"
Rival melepas kasar cengkeraman nya. Arshen mengulum senyum yang entah di artikan apa oleh Rival.
***
Malam sepi di asrama, hari lewat tengah malam. Shila sudah tidur pulas. Rival mengangkat tangannya perlahan lalu bangkit dari tidurnya. Ia menyelimuti Shila lalu mencium kelopak matanya.
"Tidur yang nyenyak kesayangan Abang!!" gumamnya. Rival melangkah menuju belakang rumahnya.
-_-_-_-_-
Rival mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya. Nampak foto Yara yang sangat cantik jelita. Rival mendekap erat dalam dada foto itu.
"Yara sayang.. hari ini ulang tahunmu. Sudah dua tahun kamu tinggalin mas dan anak-anak" air mata Rival mulai menetes. Ia mengusap air matanya
"Aku kangen kamu Yara"
Saat itu tanpa disadari Rival, Shila mendengar kata rindu yang memang hanya bukan untuknya sendiri. Kakinya tidak sanggup berdiri hingga ia duduk di samping pintu tidak jauh dari tempat Rival duduk.
"Selamat ulang tahun cantik. Tetaplah tenang tidur dalam mimpimu yang panjang. Mas sayang kamu dek" Rival menunduk terisak mengingat Yara.
"Maaf mas mencintai Shila. Mungkin rasa cinta mas ini sama besarnya seperti mas mencintaimu. Rasa yang selalu mas tolak, wanita yang awalnya tidak mas inginkan tapi perasaan ini tidak bisa bohong, Mas lah yang ingin mencintai Shila setelah kepergian mu. Sekarang mas hanyut dalam rasa ini. Mas juga terlalu dalam mencintai Shila. Jangan pernah benci mas ya sayang. Maaf..maaf..." isak tangis Rival semakin kuat. Ia mengambil korek api dari sakunya.
"Tuhan.. Kau tau bagaimana rasa ini. sedikit pun tidak ada niat menggantikan posisi Yara. Tapi hati ini pun sudah penuh terisi Shilaku saja. Ya Allah Tuhan.. jika Shilaku bertanya.. tolong jawabkan....Aku sangat..dan teramat mencintai Shila"
Rival membakar ujung foto Yara. Tapi tangan Shila mencegahnya.
"Kalau Abang sangat mencintai nya, jangan Abang bakar fotonya" Shila memeluk Rival. Rival pun lemah dan luluh dalam pelukan istrinya.
"Biarkan dia tenang disana. Alam Abang dan Yara sudah berbeda. Sekarang Abang hanya inginkan kamu. Percaya Abang ya!" ucap seorang Rival dalam keterpurukan nya.
"Tuhan sudah mengirimkan pesan Abang untuk Shila dan Shila tau, cinta Abang hanya untuk Shila"
Shila mencium bibir Rival, menenangkan perasaan suaminya.
"Maafkan Abang dek. Abang manusia biasa. Marahlah sama Abang. Asal Shila tidak tinggalkan Abang. Cukup satu kali saja Abang rasakan kehilangan. Abang nggak mau lagi. Abang nggak sanggup lagi!!! sakit hati Abang dek" Rival meremas dadanya yang terasa sangat sakit dan sesak.
Shila beringsut berganti masuk dalam pelukan Rival.
"Nggak akan bang, karena Shila juga sangat mencintai Abang"
.
.