NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Merasa tersudut, Aiko tidak mundur. Tangan kirinya justru bergerak cepat, mencengkeram balik pergelangan tangan Ren yang sedang menahan dagunya.

​"Kau ingin tahu wanita seperti apa ibuku?" bisik Aiko dengan suara bergetar. "Maka rasakan sendiri."

​Aiko memejamkan mata. Ia melepaskan seluruh batasan spiritualnya, membiarkan energi dingin di tubuhnya mengalir melalui titik sentuhan kulit mereka, menyalurkan gema suara yang baru saja menerornya beberapa menit lalu.

.

.

​Ren tersentak, dengan mata yang melebar. Di dalam pendengarannya ia bisa mendengar suara asing yang tumpang-tindih dan serak.

​“Perjanjian... Darah yang belum dibayar... Keturunan yang terikat...”

​Bukan hanya suara, gelombang hawa dingin menghantam dada Ren hingga ia refleks tersentak melepas tangannya. Napas Ren memburu. Logika rasionalnya menolak keras apa yang baru saja terjadi.

​Namun, sebelum Ren sempat menuntut penjelasan, tubuh Aiko di hadapannya mendadak menegang.

​Uhuk!

​Aiko terbatuk keras. Setitik darah segar keluar dari sudut bibirnya, mengotori kerah yukata putihnya. Detik berikutnya, kedua mata Aiko terpejam rapat dan tubuhnya limbung ke depan.

​"Aiko!"

​Refleks Ren bergerak lebih cepat dari egonya. Ia menangkap tubuh lemas Aiko sebelum membentur lantai. Tatapan mata Ren tertuju pada noda merah di bibir istrinya.

​Tanpa berpikir dua kali, ia mengangkat tubuh Aiko dan membaringkannya di atas kasur miliknya.

​Ren berdiri tegak di sisi ranjang, memandangi wajah pucat Aiko yang bernapas pendek-pendek. Telapak tangannya sendiri masih terasa kebas dan dingin.

​Dengan langkah cepat, Ren berjalan ke ambang pintu. Dua pengawal di luar langsung membungkuk tegang.

​"Panggil dokter sekarang."

​"Ba-baik, Tuan Besar!"

​Malam itu, setelah dokter memberikan penanganan dan membersihkan sisa darah di bibir Aiko, Ren tidak beranjak dari kamar. Ia menarik sebuah kursi kayu ke sisi tempat tidur.

​Ren duduk bersedekap, mengunci pandangannya pada wajah Aiko sepanjang malam. namun pikirannya masih menyangkal dengan suara yang ia dengar dan sensasi aneh di tangannya.

**

Keheningan pagi itu mendadak terasa asing bagi Aiko saat ia perlahan membuka matanya. Sentuhan pertama yang dirasakan kulitnya bukan permukaan tatami yang keras, melainkan kehangatan kasur yang empuk dan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

Aiko mengerutkan kening. Kesadarannya yang belum pulih sepenuhnya memaksa matanya untuk mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan terangnya ruangan. Ia menoleh ke samping, dan jantungnya seketika berdesir tajam.

Ia tidak sedang berada di atas kasur lantainya sendiri. Ini adalah ranjang besar milik Ren.

Aiko bergerak hendak bangkit, namun rasa pening yang luar biasa hebat langsung menghantam pangkal kepalanya, memaksanya kembali menjatuhkan kepala ke atas bantal. Lenguhan pelan lolos dari bibirnya yang masih terasa kering dan kaku.

"Jangan bergerak jika kau tidak ingin memuntahkan isi perutmu ke atas kasurku."

Suara berat dan serak itu terdengar dari sudut ruangan. Aiko menoleh lambat ke arah sumber suara. Di atas sebuah kursi kayu tebal yang ditarik tepat ke sisi tempat tidur, Ren masih duduk bersedekap. Kemeja hitam yang dikenakannya semalam tampak sedikit kusut di bagian lengan, dan beberapa kancing teratasnya terbuka, menampilkan gurat lelah yang jarang terlihat di wajahnya. Matanya yang memerah menatap Aiko tanpa ekspresi.

Ren menurunkan kedua tangannya dari dada. Ia bangkit berdiri, membuat tubuh tingginya langsung mendominasi pandangan Aiko. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ren melangkah mendekat. Ia membungkuk sedikit, lalu menempelkan punggung tangan kanannya ke atas dahi Aiko.

Sentuhan itu terasa sangat tiba-tiba. Kulit tangan Ren yang hangat berbenturan dengan sisa hawa dingin yang masih mendekam di tubuh Aiko. Aiko menegang, matanya melebar menatap wajah Ren yang berada begitu dekat. Selama beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya ada keheningan di mana sepasang mata mereka saling berpandangan.

Ren menarik kembali tangannya dengan gerakan kaku setelah memastikan suhu tubuh Aiko tidak lagi setinggi semalam. Ia menegakkan tubuhnya, kembali memasang wajah datarnya.

"Demammu sudah turun," ucap Ren dingin, berbalik memunggungi ranjang dan melangkah menuju meja kecil di sudut kamar. "Jangan berpikir untuk mati di tempat ini dan membuat repot pengawalku."

Aiko berusaha duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sembari menarik selimut hingga ke dada. "Aku tidak berencana mati di rumah suamiku sendiri, Tuan Ren. Tapi aku juga tidak menyangka seorang pemimpin Tachibana-gumi rela memberikan ranjangnya untuk tawanan politik sepertiku."

Ren menghentikan langkahnya. Ia berbalik lambat, menatap Aiko dengan mata yang menyipit berbahaya. Tangan kanannya, yang semalam mencengkeram tangan Aiko dan ikut merasakan getaran asing itu, secara refleks bergerak samar di balik saku celananya.

"Kau mengira trik murahan semalam bisa membuatku kehilangan akal, Nona Kurogawa?" desis Ren. "Suara-suara serak di dalam ruangan ini... aku tidak tahu racun atau sugesti apa yang kau gunakan hingga indra pendengaranku ikut terganggu semalam. Klan Kurogawa memang selalu punya cara kotor untuk mengacaukan fokus musuhnya."

Aiko terkekeh hambar, meski dadanya terasa sesak. "Jika kau menganggapnya sebagai racun, mengapa kau tidak membuangku kembali ke lantai? Mengapa kau membiarkan dokter pribadimu merawatku?"

Ren tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah botol obat dari atas meja dan melemparnya ke atas kasur, tepat di dekat jemari Aiko.

"Mulai hari ini, urusanmu di luar rumah ini selesai. Kau dilarang kembali ke kampus," perintah Ren, suaranya tidak menerima bantahan dan negosiasi. "Pihak universitas akan menerima surat penundaan semester atas namamu hari ini. Kau akan tetap berada di dalam kediaman ini, di bawah pengawasanku."

Mendengar kata 'dilarang kuliah', raut wajah Aiko langsung berubah drastis. "Kau tidak bisa mengurungku seperti ini! Insiden di tangga darurat kemarin bukan salahku. Dan jika kau mengurungku di rumah ini, kau sama saja menyerahkanku pada sesuatu yang lebih buruk."

"Apa maksudmu?"

Aiko mencenckeram ujung selimut tebal itu kuat-kuat. "Rumah ini... entitas kuno yang ada di balik dinding-dinding kayu ini sedang menuntut sesuatu. Mereka terus berbisik tentang perjanjian darah yang belum dibayar. Berada di kamar ini membuatku perlahan gila, Ren!"

Ren terdiam. Kata 'perjanjian darah' dan 'keturunan yang terikat' yang juga sempat menggaung di kepalanya semalam mendadak memicu benang merah yang selama ini buntu di otaknya. Ingatan Ren langsung melesat pada kasus pembantaian kedua orang tuanya belasan tahun lalu di paviliun barat, sebuah kasus yang mandek tanpa jejak.

Tatapan mata Ren yang semula penuh amarah perlahan berubah menjadi tajam dan penuh kalkulasi. Logika mafianya mulai bergeser ke arah yang berbeda. Ia mungkin belum sepenuhnya percaya pada hal mistis, namun jika keanehan Aiko ini nyata, maka wanita di hadapannya ini adalah kunci untuk sesuatu yang selama ini ia cari.

"Kau bilang kau bisa mendengar apa yang tidak bisa didengar orang lain," ucap Ren rendah, langkah kakinya kembali mendekat ke sisi ranjang. "Kau bilang tempat ini menuntut darah."

Aiko menatap Ren dengan kening berkerut, mencoba membaca perubahan ekspresi suaminya yang mendadak menjadi sangat dingin dan fokus.

"Ikut aku," perintah Ren pendek.

1
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Cerita nya seru dan menegangkan. Kehidupan yang tidak biasa yang harus Aiko jalani. Karakter Aiko sendiri sangat Memukau.
putri
😖 mau ngapain knp gw yang ngeri
putri
mencekam muka nya si ren itu
putri
mau ngapain si Ren
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jangan sampai ibunya Aiko di bunuh sam Ren ya.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
istri yang di tahan
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ada yang hawatir nih ye
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kalau aku jadi Aiko langsung pingsan pasti
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus Ren
putri
Ceritanya seru
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
putri
Si Renn kayanya? apa dia jemput Aiko 😂
putri
knp nih??
putri
SII ren ini sebenernya udah ada rasa sama Aiko blm ya?? tapi kaya ga ada cemburu-cemburunya
putri
Hana beneran tertarik sama daichi ini 😭 Jagan yahhh hana
putri
gigih bgt si Hana ini 🤣
putri
aku ikut batuk dengernya 😖
putri
🤣🤣🤣 Hana kamu jangan nekat ya
putri
kenapa ini hana?? apa suka Daichi 😂
putri
Si Charming
putri
Daichi ini ga kalah serem dari Ren
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!