Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai hari ini, saya ceraikan kamu
Alena terus berjalan tanpa memperdulikan Althaf yang memanggilnya dari belakang. Panggilan alam dari perutnya Alena menuju ruang makan dimana sudah tersedia berbagai menu sarapan.
“Alena kamu kenapa sih?? Kamu salah minum obat?” Althaf terus saja berbicara, memegang kening Alena untuk mengecek suhu tubuhnya.
Alena memutar kedua bola matanya dengan malas, apalagi saat ini dia ingin menikmati sarapannya dengan tenang. Meskipun sebenarnya waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 siang.
“Mas Al, bisa biarkan aku untuk sarapan dulu? Aku lapar mas,” jawab Alena dengan sedikit tegas.
Althaf diam, tak lagi mengganggu Alena. Melihat Alena makan dengan lahap, mulai muncul keraguan dalam hatinya. Meskipun tak banyak waktu yang dihabiskan bersama Alena waktu itu. Namun Althaf mengingat dengan jelas bagaimana cara Alena makan. Mulai dari cara memegang sendok maupun kebiasaan saat memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Itu sungguh berbeda dengan saat ini. Alena makan tanpa memperdulikan Althaf yang ada disampingnya. Alena makan tanpa ada rasa malu dah selalu menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum. Althaf mulai meragukan sosok Alena yang ada di depannya, terutama tindakan Alena pagi ini yang membuat dirinya dan orang-orang di dekatnya terkejut.
Merasa bosan, Alena menuju area di belakang rumah yang disana terdapat gazebo. Meskipun kakinya saat ini masih terasa sakit untuk berjalan, namun dia tak boleh manja. Ketika bangun tidur, Alena merasa kakinya terasa ringan, dia pun mencoba untuk berdiri sendiri. Ajaibnya, Alena bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa bantuan apapun. Kemungkinan hal itu disebabkan saat Alena tenggelam kemarin Alena berusaha menggerakkan kedua kakinya agar tidak tenggelam.
Di gazebo belakang rupanya ada Zaldo yang sedang bertelepon dengan seseorang. Alena pun menghampirinya bermaksud untuk mengucapkan terimakasih karena telah menolongnya kemarin. Merasa ada seseorang yang mendekat, Zaldo langsung menutup teleponnya.
“Alena, kenapa kamu kesini? Bukannya istirahat saja,” ucap Zaldo agak gugup. Dia takut Alena mendengar percakapannya dengan seseorang yang baru saja menghubunginya.
“Lena bosan Kak, lagipula aku harus banyak melatih kaki ini agar cepat normal,” sahut Alena
“Tapi kan pasti masih sakit rasanya saat digunakan untuk berjalan,” todong Zaldo, dia membantu Alena untuk duduk disampingnya.
“Memang sakit tapi tidak sesakit saat masih lumpuh Kak. Aku juga mau mengucapkan terimakasih kemarin kakak sudah menolongku, jika tidak mungkin aku—” Zaldo buru-buru menutup mulut Alena dengan jari telunjuknya.
“Kakak tidak bisa membayangkan jika kemarin kakak gagal menyelamatkanmu Alena. Mungkin Tuhan sudah menggariskan kakak untuk menolongmu,” ucap Zaldo.
“Mmm. Iya deh iya. Lalu kenapa Kak Zaldo kembali ke Indonesia? Bukannya beberapa minggu yang lalu sudah kembali ke Inggris? Apa ada urusan pekerjaan di sini?” tanya Alena penasaran.
Zaldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali tidak menyangka jika Alena akan bertanya seperti itu. Dia tidak mungkin memberitahukan yang sebenarnya alasan mengapa dia kembali ke Indonesia. Zaldo tak ingin Alena kepikiran atau bahkan kecewa dan sakit hati.
“Mmmm… itu anu, iya ada kerjaan. Ada bisnis baru juga sih jadi terpaksa balik ke sini. Lumayan buat simpanan tujuh turunan,” jawab Zaldo asal.
Alena hanya menganggukkan kepalanya seolah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zaldo, padahal dari ekspresinya saat berbicara Alena tahu jika pria itu sedang berbohong.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Meskipun kondisi tubuhnya masih sedikit lemas dan pusing, namun Althaf tak bisa beristirahat begitu saja. Masalah perusahaannya membutuhkan tindakan yang nyata. Adapun investor yang mau bekerja sama belumlah bisa mengatasi krisis yang ada. Apalagi beberapa proyek mendekati deadline dan harus segera dikerjakan. Jika tidak perusahaan akan terkena pinalti dan harus menanggung denda yang sangat besar.
Althaf tak tahu lagi harus melakukan hal apa. Diapun tak ingin meminta bantuan sang ayah karena Alena taruhannya. Sang ayah tentu akan mengekangnya dengan segala aturan dan perintah. Althaf tak mau itu. Walaupun ancaman kebangkrutan dan jatuh miskin di depan mata, Althaf lebih memilih itu daripada harus melepas Alena.
“Tuan sebaiknya Anda istirahat saja, masalah ini biar saya coba mencari solusi yang lain,” ucap Gilbert yang tak tega melihat wajah Althaf yang masih pucat.
“Nasib para karyawan di tanganku Gil, bagaimana bisa saya bersantai beristirahat begitu saja. Tak masalah saya menjadi bangkrut, tapi bagaimana nasib keluarga mereka yang kehilangan pekerjaannya,” sahut Althaf sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
“Investasi dari Mr William hanya cukup untuk menopang 1 proyek, tapi proyek lainnya masih menunggu. Apa yang harus saya lakukan Gil,” sambung Althaf, Gilbert hanya berdiam, diapun tak memiliki solusi.
Bisa saja Gilbert memberikan sebagian asetnya dalam bentuk pinjaman kepada Althaf namun urung dia lakukan karena sifat Althaf yang gengsi jika menerima bantuan dari orang terdekat. Tentu bila nanti Althaf meminta bantuan darinya pasti akan dia berikan dengan sukarela.
“APA MAKSUDNYA INI SEMUA ALTHAF!!!” Ruby tiba-tiba saja masuk kedalam ruang kerja Althaf dengan wajah yang emosi. Dia melemparkan sebuah map yang berisi selembar kertas.
Pintu ruang kerja Althaf tidak tertutup sehingga Ruby bisa masuk begitu saja. Tanpa melihat isi dari map tersebut, Althaf sudah mengetahuinya. Belum ada solusi yang pasti untuk masalah perusahaannya kini muncul lagi masalah baru.
“Surat cerai. Apa kamu tidak bisa membacanya Ruby? Perlu saya bacakan?” jawab Althaf dengan tenang
“Cerai? Apa kamu pikir kita bisa bercerai begitu saja? Jangan lupa perjanjian ga yang kamu sepakati sebelum kita menikah Althaf!” Ruby semakin geram.
Althaf pun berdiri menghampiri Ruby, tatapannya tenang.
“Jangan lupa pernikahan kita itu adalah pernikahan bisnis dan terjadi dibawah tangan. Mulai hari ini, saya ceraikan kamu sekarang juga dan tidak ada lagi ikatan pernikahan di antara kita,” ucap Althaf seraya mengucapkan ikrar talak bagi Ruby.
“Tidak… tidak … tidak Althaf. Aku tidak mau bercerai!!” elak Ruby.
“Kau pikir kau itu siapa hah!!!” Althaf mencengkram rahang Ruby, “Ayahmu sudah menarik semua investasinya di perusahaan, maka pernikahan diantara kita susah seharusnya berakhir,” lanjut Althaf dengan geram.
“Uuughhhhh” Ruby berusaha melepas cengkraman tangan Althaf yang membuatnya tidak bisa berbicara.
“Hahahahaha… Itu semua aku yang memintanya pada ayahku Althaf. Kau memperlakukanku hanya sebagai pajangan, aku juga istrimu yang juga berhak mendapatkan sentuhanmu setiap malam,” ungkap Ruby meluapkan apa yang dia inginkan.
“Ciihhhhhh… jangan bermimpi Ruby. Di surat perjanjian pun kau tahu apa isinya. Jangan meminta hal di luar batas.”
“ Ya.. aku tahu Al. Maka dari itu aku meminta ayah menarik semua investasinya di perusahaanmu. Mari kita buat perjanjian pernikahan baru Al, maka ayahku akan kembali menjadi investor utama di perusahaanmu,” ucap Ruby mengajak negosiasi.
“Licik juga kamu ternyata. Tapi kali ini saya tidak akan lagi tertipu!!!”
“Kamu tidak punya pilihan Al, jangan sampai aku juga membuat Mr William mencabut sana investasinya,” ancam Ruby, kedua mata Althaf membola.
“Beraninya kau….” Althaf berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya, hingga kuku-kukunya menancap pada kulit.
Prok
Prok
Prok
Tepukan tangan mengiringi langkah Alena berjalan memasuki ruangan kerja Althaf. Dengan ekspresi wajah yang datar, tepukan tangannya tetap dilakukan. Sengaja untuk memberitahu keberadaannya, tapi hal itu pula yang membuat Althaf panik. Bergegas menjaga jarak dengan Ruby, tak ingin Alena salah paham. Aura disekitarnya seolah Althaf tengah berhadapan dengan malaikat maut.
“Sadar tidak tahu diri, masuk tanpa permisi!!” ledek Ruby tak tahu malu.
“Kamu berbicara untuk diri sendiri hah!! Bukannya kamu juga tadi masuk tanpa izin!” ledek balik Alena.
“Kau!!”
Gilbert hampir saja maju untuk mencegah Ruby menampar Alena, namun tangan Alena rupanya lebih cepat menangkisnya. Dicengkeramnya pergelangan tangan Ruby dengan sangat kuat hingga wanita itu merasa kesakitan.
“Dulu mungkin aku akan pasrah saat mendapatkan perlakuan kasar darimu Nyonya Ruby. Tapi tidak kali ini!!” ucap Alena dengan tegas.
“Lepaskan Upik Abu sialaannn. Sakit!!” Ruby berusaha melepaskan cengkraman tangan itu, namun Alena justru semakin memperkuatnya.
Alena menarik tubuh Ruby seminggu posisinya semakin berdekatan.
“Upppsss… aku lupa jika mas Althaf sudah menjatuhkan talak kepadamu. Jadi aku tak pantas lagi memanggilmu Nyonya. Harusnya kamu yang memanggil aku dengan sebutan Nyonya Alena,” bisik Alena tepat ditelinga Ruby, pelan tetapi terdengar sangat tegas.
Gilbert dan Althaf hanya saling memandang saat kedua orang wanita itu berbicara, tak ada yang berani menyela.
“Kurang ajar kau Alena!! Akan aku buat Althaf kehilangan segalanya!!” pekik Ruby sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah.
Alena kembali mencondongkan tubuhnya, dengan tatapan yang tajam.
“Sayangnya hal itu tidak akan berhasil,” ucap Alena dengan senyum tersungging.
Alena mengeluarkan sebuah amplop yang telah dia siapkan sebelumnya. Diletakkannya di atas meja kerja Althaf dan memberikan sebuah kode agar Althaf segera membawanya. Dengan hati-hati Althaf membuka amplop tersebut, takut surat di dalamnya tersobek. Matanya mulai memindai dan membaca kalimat demi kalimat. Meskipun tertulis bahasa asing namun Althaf membacanya dengan penuh perhatian.
Tangannya mulai gemetaran ketika membaca bagian tengah isi dari surat itu yang merupakan inti dari isi surat itu. Seolah tak percaya Althaf kembali membaca isi surat itu dari awal untuk meyakinkan jika hal yang tertulis adalah benar dan nyata. Hingga akhirnya air matanya tak kuasa lagi menetes begitu saja.
maka ny cepat2 sadar diri ,,
sblum jatuh ny harga diri ,,
/Smug//Smug//Smug//Chuckle/
Pak su diam dlu aj yx ,, sayangi nyawa anda yx Pak su ,, 🤭🤣🤣🤣
nama udh keren2 di panggil ny kodok buruk ,, 🤣🤣🤣