NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKISAN DI BALIK KANVAS YANG TERSEMBUNYI

Ruang seni SMA Garuda Bangsa selalu menjadi sudut paling tenang ketika jam pelajaran terakhir selesai. Terletak di ujung koridor lantai tiga yang jarang dilalui, ruangan beraroma minyak cat, tiner, dan kayu tua itu menawarkan tempat persembunyian yang sempurna dari hiruk-pikuk sekolah. Sunlight sore menembus jendela-jendela kaca tinggi, membiaskan garis-garis emas di atas lantai semen yang berbercak cat warna-warni.

Nayla berdiri di depan sebuah kanvas berdiri (easel), memegang kuas kecil dengan ujung jemari yang agak gemetar. Di atas kanvas berukuran sedang itu, ia baru saja menyelesaikan sapuan warna cat minyak: sebuah pemandangan sudut taman sekolah saat senja, dengan dua siluet samar yang berdiri bersisian namun saling membelakangi.

Itu adalah lukisan perasaannya sendiri, sebuah cerminan dari hubungannya dengan Zavier yang tak pernah bisa diutarakan secara terbuka kepada siapa pun.

"Sapuan warnamu terlalu ragu-ragu di bagian sudut bawah."

Suara berat yang tiba-tiba mengalun dari arah pintu membuat Nayla tersentak kaget. Kuas di tangannya hampir saja terjatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya erat. Nayla memutar tubuhnya cepat dan menemukan Zavier sedang bersandar santai di kosen pintu ruang seni.

Pria itu mengenakan kemeja seragam yang lengannya sudah digulung hingga siku, memperlihatkan garis otot tangannya yang tegas. Di bahunya, terpasang tas ransel hitam yang menggantung longgar.

"Zavier? Kamu... sedang apa di sini?" tanya Nayla gagap, berusaha menetralkan keterkejutannya sembari secara refleks menggeser tubuhnya untuk menutupi bagian tengah kanvas.

Zavier tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan, langkah kakinya terdengar ketus di atas lantai semen. Pria itu berjalan mendekati Nayla, sama sekali tidak mempedulikan usaha gadis itu yang mencoba menyembunyikan lukisannya.

"Aku mencarimu dari tadi," ujar Zavier pelan. Ia berhenti tepat di sebelah kanvas Nayla, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati lukisan yang masih basah itu.

Mata Zavier yang tajam menyapu setiap perpaduan warna jingga, ungu temaram, dan dua siluet manusia di atas kanvas. Tatapan matanya meredup, menyadari betul makna tersirat di balik karya tersebut.

"Dua orang yang berdiri saling membelakangi?" tanya Zavier rendah, menatap Nayla dari jarak dekat. "Ini kita?"

Pipi Nayla mendadak memerah. Ia dengan cepat menundukkan kepala, membuang pandangannya ke arah palet warna di tangannya. "Bukan. Ini cuma... latihan kombinasi warna untuk tugas seni minggu depan."

"Kamu tidak pandai berbohong, Nayla," bisik Zavier. Pria itu mengulurkan tangannya, mengambil kuas dari jemari Nayla secara perlahan, lalu meletakkannya di atas meja kerja di dekat mereka. "Bahkan di dalam lukisanmu saja, kamu masih takut untuk membiarkan kita berhadapan."

Nayla meremas ujung seragamnya, merasakan dadanya mendadak berdesir hebat. "Karena di dunia nyata pun kita memang tidak pernah bisa benar-benar berhadapan, Zav. Kamu tahu itu."

Zavier tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia meraih kuas lain dari wadah kayu, mencelupkan ujungnya ke dalam cat warna putih dan kuning keemasan yang ada di palet Nayla. Tanpa ragu, Zavier mengayunkan kuas itu ke atas kanvas Nayla, menimpah sapuan cat di bagian tengah lukisan.

"Zavier! Apa yang kamu lakukan?" seru Nayla terkejut, mencoba menahan lengan pria itu. "Lukisanku rusak!"

"Aku tidak merusaknya. Aku memperbaikinya," balas Zavier tenang tanpa menghentikan gerakan tangannya.

Dengan beberapa goresan tegas dan lihai, Zavier menghubungkan dua siluet yang tadinya terpisah itu dengan sebuah garis cahaya keemasan yang menyatu di tengah, seolah menggambarkan sebuah jembatan kecil yang menembus kegelapan di antara mereka.

Nayla terpaku. Ia memperhatikan gerakan jemari Zavier yang begitu tenang namun penuh kepastian. Di bawah sentuhan tangan pria itu, lukisan yang tadinya terasa sepi dan menyayat hati kini berubah memancarkan harapan yang hangat.

Zavier meletakkan kembali kuasnya ke meja, lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan penuh dengan Nayla. Jarak di antara mereka begitu rapat hingga Nayla bisa merasakan hangatnya napas Zavier di atas dahinya.

"Dunia nyata boleh saja memisahkan kita dengan nama Alveric dan Mahendra," kata Zavier dengan suara yang sangat dalam dan jujur, menatap lurus ke dalam manik mata Nayla yang bergetar. "Tapi di sini... di dalam ruang ini, dan di dalam perasaan yang kita punya, tidak ada seorang pun yang bisa mendikte jarak di antara kita."

Nayla menahan napasnya. Tatapan Zavier yang begitu intens seolah menelanjangi seluruh dinding pertahanan yang dibangunnya selama ini. Air mata yang sempat ia tahan sejak kemarin sore akhirnya menetes tipis di pipinya.

"Aku takut, Zavier..." bisik Nayla jujur, suaranya terdengar sangat rapuh. "Aku takut kalau akhirnya kita cuma makin tersiksa karena memperjuangkan sesuatu yang sejak awal sudah dilarang."

Melihat air mata gadis di hadapannya, raut wajah Zavier yang biasanya dingin dan kaku melembut seketika. Pria itu mengangkat tangannya yang hangat, mengusap lelehan air mata di pipi Nayla dengan ibu jarinya secara perlahan. Touch lembut itu terasa begitu menenangkan, menghapus seketika seluruh kecemasan yang menghantui batin Nayla.

"Kalau kamu takut, genggam tanganku," ujar Zavier pelan namun penuh penekanan. "Jangan melangkah sendirian. Biar aku yang hadapi bagian yang sulitnya."

Kalimat itu terucap begitu tegas di antara keheningan ruang seni yang temaram. Di bawah naungan cahaya senja yang memudar dan bau cat minyak yang khas, Nayla menyadari satu hal: tak peduli seberapa jauh dan sulit jalan yang harus mereka tempuh di depan sana, ia tak lagi sanggup membohongi hatinya sendiri untuk menjauh dari pria ini.

Sentuhan lembut ibu jari Zavier di pipinya masih menyisakan rasa hangat yang membakar hingga ke dada Nayla. Gadis itu terdiam, tak sanggup lagi menarik diri atau sekadar berpaling. Di ruangan seni yang makin meredup itu, dinding pertahanan yang ia bangun selama berbulan-bulan seolah luruh tanpa sisa di hadapan keberanian Zavier.

Nayla perlahan memajukan tangannya, membiarkan jemarinya yang dingin menyentuh pergelangan tangan Zavier yang masih berada di pipinya. "Zav... ini bukan cuma soal kita berdua. Kamu tahu persis seperti apa Papi Kael dan Ayah Alexander. Mereka tidak akan pernah membiarkan sesuatu berjalan di luar rencana mereka."

Zavier tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia menurunkan tangannya pelan, lalu menyelipkan jemarinya ke antara jemari Nayla, menggenggamnya erat dengan sebuah genggaman yang hangat, kokoh, dan penuh kepastian.

"Aku tahu," sahut Zavier datar, namun ada ketegasan luar biasa dalam intonasinya. "Papi bisa mengatur arah bisnis Mahendra Group, dan Ayahmu bisa menentukan ekspansi Alveric. Tapi mereka tidak bisa memiliki jalan pikiran kita, Nayla."

Nayla meremas balik genggaman tangan Zavier, merasakan detak nadi pria itu yang berpacu tenang. "Tapi kalau mereka tahu... kalau keluarga kita sadar ada sesuatu di antara kita yang bukan sekadar urusan formalitas, mereka akan memisahkan kita lebih jauh. Bisa saja kamu benar-benar dikirim ke luar negeri semester depan."

Zavier terkekeh tipis, sebuah kekehan rendah yang terdengar sarat akan ketenangan di tengah situasi yang rumit. "Biarkan mereka mencoba. Kalaupun aku harus pergi ke ujung dunia sekalipun, itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku akan selalu kembali ke sini."

Pria itu memiringkan tubuhnya, menatap lukisan kanvas di sebelah mereka yang kini dihiasi garis cahaya keemasan hasil goresan tangannya.

"Dulu aku berpikir, berada di dekatmu tapi berpura-pura tidak kenal adalah cara terbaik untuk melindungi kita berdua dari tekanan keluarga," lanjut Zavier pelan, matanya kembali menatap manik mata Nayla yang jernih. "Tapi makin lama aku mencoba bertahan dalam kebohongan itu, makin aku sadar kalau jarak terjauh itu bukan soal angka atau peta, tapi saat aku ada di sampingmu tapi membiarkanmu merasa sendirian."

Kata-kata itu menghantam benak Nayla begitu dalam. Air mata yang sempat mengering di sudut matanya kembali merebak, bukan karena rasa sedih, melainkan karena rasa lega yang membuncah. Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang merasa sesak dalam ketidakpastian. Ia tidak pernah menduga bahwa di balik sikap dingin dan acuh tak acuh yang ditampilkan Zavier, pria itu memikul rasa bersalah dan kerinduan yang sama besarnya.

"Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Nayla lirih, suaranya nyaris teredam oleh desir angin sore yang menerobos celah jendela.

Zavier mengangkat genggaman tangan mereka, menyentuhkan punggung tangan Nayla ke bibirnya secara perlahan dengan sesebuah kecupan lembut yang membuat seluruh tubuh Nayla meremang.

"Kita ikuti permainan mereka untuk sementara," jawab Zavier tenang. "Di depan mereka, di depan sekolah, kita tetap menjadi anak dari Alveric dan Mahendra yang patuh. Tapi di balik semua itu, jangan pernah lepas genggaman ini lagi. Bisakah kamu berjanji padaku, Nayla?"

Nayla menatap mata kelam Zavier yang dipenuhi kesungguhan. Tidak ada ragu di sana, hanya ada keyakinan mutlak yang membuat seluruh rasa takut dalam diri Nayla perlahan menguap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam bayang-bayang ekspektasi keluarganya, Nayla merasa memiliki pijakan yang nyata.

Nayla mengangguk pelan, mempererat remasan jemarinya di tangan Zavier. "Aku berjanji, Zav."

Di bawah cahaya senja yang perlahan menghilang berganti malam, di antara aroma cat minyak dan bayangan kanvas yang berdiri diam, dua hati yang tadinya terpisah oleh tembok tebal nama besar keluarga akhirnya menemukan jalan untuk saling berpaut bersiap menghadapi badai apa pun yang akan menanti mereka di masa depan.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!