*Sekuel dari cerita "Ada pelangi sehabis hujan"
Juna, seorang pria yang sangat menggilai pekerjaan, hari-harinya hanya dilalui dengan pekerjaan. Baginya pekerjaan adalah hal yang terpenting dalam hidupnya setelah keluarganya.
Orang tuanya berusaha mencarikan jodoh untuknya. Tapi, setiap wanita yang datang untuk dijodohkan padanya semuanya gagal. Menurut Juna wanita itu tidak ada yang menarik baginya. Padahal wanita yang dijodohkan padanya wanita yang cantik dan tampak seksi.
Wanita seperti apa yang dapat menaklukkan hati Juna? Seorang pria yang menggilai pekerjaan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilda ellen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membantu ganti perban
Maya membawa kotak obat, dan perban untuk Menganti perban Juna yang sudah tampak kotor. Icha pun langsung mengambilnya dari tangan Maya. Maya langsung pergi kearah dapur, meninggalkan Icha dan Juna.
Icha dengan pelan-pelan dia membuka perban tangan Juna, supaya Juna tidak merasa kesakitan.
Karena jarak antara mereka sangat dekat, membuat Juna bisa memandang wajah Icha dengan dekat. Entah kenapa Juna memandang bibir Icha yang tampak merah. Juna ingin sekali merasakan nya, tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Dia tidak ingin membuat Icha marah padanya. Kini jantungnya berdetak lebih cepat, dia berharap Icha tidak mendengar suara detak jantungnya.
"Sudah selesai, kak!" ucap Icha tiba-tiba membuat Juna sadar, Juna langsung mengendalikan dirinya.
"Terimakasih!" ucap Juna.
"Sama-sama, kak!" jawab Icha dengan tersenyum manis.
"Silahkan minum, Cha!" ucap Maya sambil membawa minuman untuk Icha.
"Tidak perlu repot-repot, kak!" ucap Icha.
"Tidak apa-apa!" Kini Maya duduk didepan Icha.
"Oh, Cha bagaimana orang-orang yang ingin merampok kita kemarin?" tanya Maya.
"Mereka sudah Icha antar ke desa mereka, kak!" ucap Maya.
"Oh!" ucap Maya dengan singkat.
"Maaf, kak! Saya mau ijin balik dulu!" ucap Icha setelah dia melihat jam yang di tangannya.
Icha langsung bangkit dari tempat duduknya, begitu juga Maya dan Juna langsung bangkit dari tempat duduknya. Saat dia bangkit dan mau berjalan untuk bersalaman dengan Juna dan Maya , dia tidak melihat ada mainan bola Sanjaya di lantai.
Akibattnya, Icha tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Juna yang melihat Icha mau jatuh, langsung menangkap tubuh Icha, sehingga mereka terjatuh bersama di kursi yang di dekat Juna. Icha berada di atas tubuh Juna, tidak hanya itu bibir Icha mendarat di pipi Juna. Sehingga mereka jadi mematung.
Maya yang melihatnya ingin sekali ketawa, tapi dia langsung ambil hpnya untuk memfotonya, supaya ada kenangan untuk Juna. Setelah itu, dia masih melihat Jelas Juna dan Icha masih seperti itu.
"Emm." Maya berpura-pura gatal tenggorokannya.
Mendengar suara Maya, membuat Icha langsung bangkit berdiri dan begitu Juna. Icha sangat malu, dengan apa yang dilakukannya. Begitu juga Juna, Juna merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat.
"Maaf, kak!" ucap Icha dengan malu dan warna pipinya kini berubah menjadi kepiting rebus.
Saat melihat kearah Juna, Icha melihat jelas, lengan Juna yang kena perban sudah mengeluarkan darah lagi. Icha langsung mendekati Juna dan menyentuh lengan Juna. Dia langsung lupa apa yang barusan terjadi padanya dan Juna.
"Ya, ampun! Pasti jahitannya terbuka, kak!" ucap Icha panik.
"Astaga, aku akan telepon dokter!" ucap Maya juga panik.
Icha langsung menyuruh Juna untuk duduk, setelah itu pelan-pelan dia membuka perban lengan Juna. Juna hanya diam saja, sejak tadi. Dia Hanya memandang wajah Icha, dan apalagi dia senang melihat Icha cemas melihat dirinya.
Icha melihat luka Juna, dia merasa lega ternyata jahitan lukanya tidak terbuka. Ternyata hanya karena kena tekan tadi saat Icha menyentuh lengan Juna, sehingga daranya keluar.
Icha melihat Maya masih terus menghubungi dokter.
"Kak tidak perlu panggil dokter. Jahitannya tidak terbuka. Mungkin karena sempat saya tekanan tangan saya, sehingga daranya keluar!" jelas Icha sambil membersihkan darah yang di lengan Juna.
Maya pun langsung mematikan teleponnya. Dia langsung melihat Icha yang sangat telaten, membersihkan luka Juna.
"Maaf! Karena saya, darahnya keluar lagi!" ucap Icha.
"Tidak apa-apa. Saya tahu itu tidak sengaja!" ucap Juna. Icha pun langsung berdiri setelah membalut lengan Juna lagi.
"Baiklah, saya permisi dulu ya kak!" ucap Icha.
Maya dan Juna langsung mengantar Icha ke depan rumahnya.
"Kamu naik, apa Cha?" tanya Maya.
"Saya naik taksi kak!" ucap Icha. Tak butuh waktu lama taxi online yang dipesan Icha sudah sampai di depan rumah Juna dan Maya.
"Baiklah kak, saya permisi dulu! Lekas sembuh ya kak Jun!" ucap Icha. Juna memberikan senyum manisnya pada Icha, untuk menjawab ucapan Icha.
***
Juna kini berada didalam kamarnya. Dia terus teringat dengan apa yang terjadi pada dirinya dan Icha. Dia masih teringat benda kenyal kedua bibir Icha mendarat di pipinya. Juna terus senyum-senyum sendiri, sambil membayangkan wajah cantik Icha. Tapi, semuanya langsung buyar, ketika suara pintu kamarnya di ketok.
Tok..tok...
"Masuk!" ucapnya dengan kesal. Saat dia melihat siapa yang masuk, ternyata adalah mama dan papanya yang baru saja sampai.
Mama dan papanya langsung mendekati Juna, dan mamanya duduk dipinggir tempat tidur Juna. Sedangkan papanya berdiri di sampingnya.
"Ya ampun nak! Ini kenapa, sih?" tanya Rani dengan cemas sambil menyentuh lengan Juna yang kena perban.
" Tidak apa-apa, ma! Lukanya tidak dalam! Lagian ini sudah di obati!" ucap Juna.
"Kamu yakin nak?" tanya Mamanya lagi.
"Iya, loh ma!" jawab Juna dengan meyakinkan kedua orangtuanya.
"Baiklah, Jika kamu ada perlu apa-apa kasih tahu papa dan mama!" ucap papanya.
"Em!" gumam Juna sambil mengangguk kepalanya.
***
Icha yang kini sudah berada di dalam kantornya sambil mengerjakan skripsinya. Dia ingin secepatnya skripsinya itu selesai.
Dia sudah menyusun apa yang akan dilakukannya saat dia sudah wisuda. Dia juga melihat undangan yang di mejanya.
Saat dia lagi liburan kemarin, ternyata Tante Rosa datang ke toko kuenya. Karena Icha tidak ada di toko, Tante Rosa langsung menitipkan undangan ulang tahun pernikahan tante Rosa dan suaminya pada karyawannya.
"Aku bingung! Apa aku harus datang? Tapi, kalau tidak datang, pasti Tante Rosa sangat sedih. Baiklah, aku akan datang. Untung saja, acaranya satu bulan lagi.
Setelah menandai di kalendernya acara Tante Rosa, Icha langsung mengerjakan skripsi nya yang sudah mau selesai.
***
jangan sampai dia berhasil dsn merusak semuanya....
pernikahan icha dan juna
icha untuk kali ini saja jangan protes ya...
walaupun kamu jago karate tapi kamu tetaplah seorang gadis...yg butuh perlindungan
ahhhh jangan sampai icha diculik ya....
khan mau married sama kak juna
jangan bilang kalau dia jahat
yg sangat berat dan taruhannya nyawa...