Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mata Keisya melebar saat melihat hidangan di meja sarapan pagi itu. 'Wah, akhirnya setelah sekian lama, aku benar-benar bisa kembali menyantap nasi di sini,' batinnya.
Di hadapannya tersaji dua jenis lauk berprotein yaitu ikan laut dan ayam, masing-masing diolah dengan bumbu yang tampak begitu menggugah selera.
Sebenarnya, sejak Keyla hadir, tak hanya menu pedas yang dikurangi, namun juga beragam jenis ikan yang kerap disajikan, karena gadis itu sangat menyukainya.
Di masa lalu, Keisya kerap memanfaatkan hal ini untuk memfitnah Keyla berkali-kali. Bahkan ia pernah nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menu kesukaan Keyla itu, hanya untuk kembali mendapatkan perhatian keluarga Alex. Dan sayangnya, cara itu berhasil.
Namun saat ingatan kelam itu melintas, Keisya segera bangkit berdiri. Ia menoleh ke arah Steven yang duduk di ujung kanan meja, berhadapan dengan Alex di ujung kiri.
"Pa, Keisya ke toilet sebentar ya," pamitnya. Mendapat anggukan dari Steven, ia pun bergegas pergi tanpa menoleh ke arah Alex, lagipula posisi mereka berjauhan, rasanya tak perlu.
Merasa aliran hangat mulai mengalir di hidung, Keisya mempercepat langkah sambil menunduk dan menutup hidung dengan tangan kanannya. Tanpa sengaja, tubuhnya terhuyung ke belakang setelah menabrak seseorang cukup keras.
"Kalau jalan, lihat ke depan, Keisya," tegur suara yang sangat dikenalinya.
Keisya hanya mengangguk cepat, tak ingin memperpanjang urusan. "Maaf Kak." Lalu kembali melangkah dengan posisi yang sama.
Geo hanya memandangi punggungnya hingga menghilang di balik pintu toilet dekat dapur, lalu menghela napas pelan. Ia tahu peringatannya sama sekali tak didengar.
Saat hendak berbalik, matanya menangkap jejak samar darah di lantai tepat tempat Keisya melintas. Tatapannya seketika tertuju pada pintu toilet itu.
Beberapa menit kemudian, Keisya kembali ke meja makan, dan barulah sarapan benar-benar dimulai. Beruntung tak ada yang menyadari perubahan pada dirinya.
Dengan gerakan hati-hati, Keisya menyuapkan nasi ke mulutnya. Hatinya bergetar menikmati rasa lezat yang lama tak ia rasakan, namun ia tak sadar dua pasang mata terus mengawasinya lekat-lekat. 'Pucat,' pikir mereka berdua dalam hati.
Dengan helaan napas panjang, Keisya melangkah masuk ke dalam ballroom perusahaan milik Alden. Ia berjalan mengikuti barisan keluarga di belakangnya, tenggelam dalam kesunyiannya sendiri.
'Akhirnya hari ini tiba juga,' batinnya pasrah. Waktu terasa berlalu begitu cepat, dan kini mereka semua berada di sini, tempat peresmian perusahaan Alden sekaligus pengumuman posisi Keyla di keluarga Jordan.
Bahkan di masa lalu pun, ia tak pernah diumumkan secara resmi sebagai bagian dari keluarga ini. Bukan belum, melainkan memang tak akan pernah.
Baginya, ia hanyalah pengganti yang tak sepenting itu untuk membawa nama Jordan secara resmi. Nama itu hanyalah formalitas sementara, selama ia mengisi tempat Keyla yang belum pulih.
Saat memasuki ruangan luas itu, pandangannya terkunci pada sosok pria dewasa yang sangat ia kenal. Senyum terukir manis di wajah Keisya saat pria itu berjalan mendekat dan mengecup keningnya penuh kasih sayang. Tanpa sadar, tangan pria itu pun mengusap kepala Keyla yang sedari tadi berjalan di sampingnya.
"Sudah lama sampai di sini, Kak?" tanya Steven pada Gilbert, kakak sulung mereka.
"Baru saja," jawab Gilbert singkat sambil menepuk bahu adik-adiknya satu per satu. Ia meminta mereka segera mengatur tempat duduk, mulai dari anak-anak di area yang ditentukan, dan orang dewasa di tempat masing-masing, mengingat tamu serta rekan bisnis mulai berdatangan.
Keisya mengerutkan kening saat Keyla tiba-tiba duduk di sebelah kanannya, disusul Geo di sisi lain gadis itu, dan Ivan tepat di hadapannya. Keempatnya kini duduk melingkar di meja bundar. Sementara Alden yang melihat meja adik-adiknya sudah penuh, bergabung dengan Jonathan, Gevan, dan Livia di meja sebelah.
Para pelayan mulai berkeliling menyajikan minuman. Karena masih ada yang di bawah umur, tersedia bukan hanya minuman dewasa, melainkan juga jus dan sari buah segar.
Keisya harus sangat berhati-hati. Di sinilah ia akan mempertaruhkan nyawanya demi menggagalkan rencana yang mengancam Livia. Namun satu hal yang belum ia ketahui bahwa racun itu tersembunyi di jus, atau di sari buah?
Saat matanya mengawasi seisi ruangan dengan cermat, Keyla mendekatkan kursinya ke arah Keisya. Gadis itu tampak bingung dan sedikit tak nyaman, apalagi Geo terus-menerus memantau tingkah laku mereka. Keisya sadar betul bahwa belakangan ini Geo menjadi sangat posesif pada Keyla, dan tatapan tajamnya kerap membuatnya merasa tertekan.
"Tadi siapa?" bisik Keyla pelan, seolah tak ingin didengar siapa pun. Ia tampak malu mengaku tak mengenal sosok yang tadi menyapa mereka.
Keisya mendekatkan bibirnya ke telinga remaja itu, menghargai keraguannya. "Itu Daddy Gilbert, kakak kandung Ayah dan Papa. Bisa dibilang, anak sulung dari Opa dan Oma."
Setelah menjawab, Keisya kembali ke posisi semula, menelan ludah pelan dan memasang senyum yang sudah terlatih layaknya sebuah pola tetap. "Kalian bicara soal apa?" tanya Ivan dengan nada kecewa yang dibuat-buat, menatap mereka seolah menuntut tahu topik yang dibisikkan tadi.
Keduanya hanya menggeleng serempak, menimbulkan kesan manis dan akur. Tindakan itu tanpa sadar sedikit meredakan rasa cemburu Geo sekaligus rasa penasaran Ivar.
Tak lama kemudian, Keyla kembali menarik tangan Keisya di atas meja untuk menarik perhatian gadis itu. Ia mulai bertanya dan bercerita tentang banyak hal acak, membuat Keisya merasa kian canggung dipaksa berbicara begitu terbuka.
Di sisi lain, Keisya harus tetap fokus pada misinya. Matanya tanpa sengaja menangkap seorang pelayan yang membawa nampan berisi gelas sari buah. Pandangannya seakan terpaku pada gelas itu, terlebih saat pelayan itu berjalan lurus menuju meja sebelah, tempat Livia dan saudara-saudaranya duduk.
Keyla yang menyadari perubahan sikap Keisya pun ikut menatap penasaran ke arah sana.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu