NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Kita bikin romantis

Hugo melewati hari itu dengan perasaan campur aduk. Sejak mengetahui kalau Ana bersedia menikah dengannya, sikapnya berubah drastis. Seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, Hugo selalu ingin dekat dengan wanita pujaannya. Sebagai bentuk perhatiannya, tanpa sepengetahuan Ana, ia mengundang Kila dan ibu Astrid datang ke rumahnya.

“Terima kasih,” ucap Ana di telinga Hugo, lalu secercah kecupan manis singgah di pipinya membuat hatinya melambung. Ana tak lagi malu-malu dan ragu menunjukkan rasa sayangnya. Kalau saja tak ada orang di sekitar mereka, ingin rasanya Hugo balas mengecup bibir Ana. Tapi hal itu tak mungkin dilakukannya, ada banyak mata yang sedang mengawasi mereka.

Hugo senang melihat Ana yang tersenyum bahagia menerima kejutan darinya, tapi ia juga harus bisa menahan diri dan bersabar karena waktu kebersamaannya dengan Ana menjadi sangat terbatas. Sepanjang sore ia terus berusaha mendekati Ana, dan hal itu terlihat jelas oleh mereka semua yang ada di sana.

Kila bukannya tidak tahu, tapi ia malah dengan sengaja membawa Ana masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Alhasil Hugo hanya bisa menatap dari jauh tanpa bisa berbuat apa-apa. Saat ibu Astrid muncul dari dapur rumah dengan membawa nampan di tangan, Hugo mencegatnya dan minta padanya untuk membawa Ana dan Kila keluar kamar dan mengatakan pada mereka kalau ia ingin mengajak mereka makan malam di luar.

“Baiklah, Ibu akan bilang pada mereka. Tapi Ibu tidak bisa menjamin apa mereka mau diajak makan di luar,” ujar Ibu Astrid menanggapi permintaan Hugo.

Rasanya Hugo ingin menerobos masuk ke dalam kamar Ana dan menculiknya saat itu juga ketika dilihatnya ibu Astrid berdiri di ambang pintu kamar Ana dan bicara dengan suara pelan, memberitahu kalau Ana dan Kila menolak ajakannya.

Hugo berjalan ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang, pikirannya mengembara mencari ide agar bisa kembali berduaan dengan Ana. Namun dering ponselnya berbunyi dan ia sigap mengangkatnya begitu melihat nama seseorang yang ditunggunya tertera di sana.

Selanjutnya Hugo tersenyum dan bisa bernapas lega, ia baru saja mendapat kabar kalau surat -surat yang dibutuhkan saat akad nanti sudah selesai diurus dan ia bisa menikah dalam waktu dekat tanpa harus menunggu minggu depan.

“Aku harus bertindak cepat, bagaimana kalau lusa?” Kata Hugo menanggapi ucapan dari seberang telepon. Tak lama Hugo mengepalkan tangan sambil berteriak lantang, “Yes!”

Sementara di dalam kamarnya, sepanjang sore hingga malam hari Ana berkumpul bersama dengan ibu Astrid dan Kila. Saling melepas rindu dan bercerita tentang banyak hal termasuk soal penjualan kafe Dylan yang dilakukan ibu Astrid kepada Hugo. Bertiga mereka duduk melingkar di atas karpet bulu tebal dengan tangan masing-masing memeluk bantal.

“Banyak hal terjadi sejak Kau dan Ibu pergi, dan Aku harus bekerja sendirian.” Kila menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ana langsung bergerak mendekat begitu juga dengan ibu Astrid, mereka kembali berpelukan saling menguatkan.

“Maafkan Ibu, membuatmu harus menghadapinya sendirian.” Ibu Astrid mengusap rambut Kila lalu mengecupnya lembut.

“Aku juga minta maaf, Aku terlalu sibuk dengan urusan di tempat ini dan lupa untuk menghubungimu sampai Hugo bicara soal masalah yang terjadi di kafe Dylan.” Sahut Ana penuh penyesalan.

“Kalau saja suamimu itu tidak segera bertindak cepat, Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengatasi semua masalah yang terjadi di kafe Dylan.” Kila menatap Ana dan tersenyum lega. “Dan Aku senang, pada akhirnya kafe itu kini telah beralih nama dan menjadi milikmu.”

Ibu Astrid mengangguk senang, “Ibu pun lega, kafe itu tidak menjadi milik orang lain tapi jadi milik Ana.”

“Dia belum menjadi suamiku. Kami bahkan belum menikah,” sahut Ana berkilah, ia memalingkan wajahnya yang mendadak merah jambu.

“Ibu yakin Hugo akan menjadi suami yang baik untuk Ana, dia lelaki yang bertanggung-jawab.” Tambah ibu Astrid.

“Baik dan bertanggung jawab saja tidak akan cukup, Bu. Dia juga harus mencintai Ana, apa jadinya pernikahan tanpa cinta. Seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap yang sama,” kata Kila sambil menjawil dagu Ana agar menghadap padanya. “Katakan padaku, apa Hugo mencintaimu seperti Kau mencintainya?”

“Tentu saja, dia mencintaiku. Kini kami saling mencintai.” Sahut Ana cepat, ia yakin dengan jawabannya mengingat ucapan terakhir Hugo padanya.

“Syukurlah kalau begitu, Aku senang mendengarnya.”

“Rencananya kami akan menikah minggu depan,” kata Ana dengan wajah semringah. Ia katakan soal rencananya itu pada Kila dan ibu Astrid, berharap keduanya bisa terus ada di dekatnya hingga hari pernikahannya tiba.

“Saat Hugo mengundang kami datang, Aku pikir kalian akan menikah minggu ini.” Sahut Kila, ia tak bisa berlama-lama tinggal di rumah Hugo karena ada pekerjaan yang menjadi tanggung-jawabnya. Begitu juga dengan ibu Astrid. Meski kesehatan orang tuanya sudah lebih baik sekarang, bukan berarti ia bisa berlama-lama tinggal dan menemani Ana.

Berulang kali nama Hugo disebut, Ana berpikir ia harus bicara pada pria itu soal hari pernikahan mereka. Ana mau saat hari itu tiba, ada Kila dan ibu Astrid hadir menemaninya. Ia pun berpamitan untuk menemui Hugo di kamarnya. Namun baru tiga langkah meniti anak tangga, Ana ragu dan mengurungkan niatnya. Bila ia datang menemui pria itu dan mengutarakan masalahnya, Ana merasa seolah ia sedang mendesak Hugo untuk segera menikahinya.

Ana balik badan dan berjalan cepat kembali ke kamarnya, namun cekalan tangan di lengannya juga suara bariton di belakangnya membuat langkahnya terhenti tiba-tiba. “Tu-an?”

Ana tergagap melihat Hugo tiba-tiba muncul di dekatnya, sepertinya sejak tadi lelaki itu menunggunya keluar kamar.

“Tuan lagi!” Gemas, Hugo langsung menarik Ana masuk dalam pelukannya dan secepat kilat mencium bibirnya. Hanya sekilas namun mampu membuat jantung Ana berdesir dan berdegup kencang. “Kalau Kau terus memanggilku dengan sebutan itu, bersiap menerima hukuman dariku!” kata Hugo lagi, lalu mencondongkan wajahnya bersiap mencium Ana lagi.

“Janji!” Ana menekan bibir Hugo dengan jemarinya, dan sebelah tangan mencengkeram lengan pria itu. Ana mengelak dengan memundurkan wajahnya, dan Hugo harus menahan pinggangnya agar tak terjatuh ke lantai. “Gak lagi deh, panggil dengan sebutan Tuan.”

“Bilang, sa – yang.”

Bibir Ana langsung mengatup rapat, kepalanya menggeleng tanda kalau ia menolak memanggil Hugo dengan panggilan sayang.

“Gak suka? Terus apa, dong? Punya panggilan kesayangan lain?” desak Hugo, ia bertanya dengan tangan masih memeluk pinggang Ana.

“Nanti aja Aku kasih tahu, kalau sudah sah.” Sahut Ana dengan wajah kembali bersemu merah.

“Oke.” Hugo menegakkan tubuh Ana, lalu meregangkan pelukannya. Ia tatap wajah cantik di hadapannya itu, tangannya pun terulur menyibak helai rambut yang jatuh menutupi sebagian pipi Ana. “Kamu tahu, Aku kesulitan bertemu denganmu di rumahku sendiri. Aku rindu, padahal jarak kita begitu dekat.”

“Rindu?” Ana mengernyit.

Hugo mengangguk, “Iya, rindu. Entah kenapa, seharian ini Aku ingin terus dekat denganmu.”

Ana grogi, bingung harus bagaimana menanggapinya. Ia menoleh ke samping dan terlonjak kaget begitu melihat dua pasang mata sedang berdiri mengawasi mereka berdua.

“Astaga! Sejak kapan kalian di situ?” tanya Ana, lalu bersembunyi di belakang punggung Hugo dan menatap Kila dan ibu Astrid dari balik bahunya.

“Kami kebetulan lewat dan tidak sengaja mendengar percakapan kalian,” ujar Kila dengan santainya, ia lalu menggamit lengan ibu Astrid dan berjalan melewati keduanya. “Permisi,” imbuh ibu Astrid sambil menahan senyum.

“Aku sarankan kalian untuk segera menikah, minggu depan terlalu lama. Lebih cepat lebih baik,” kata Kila lagi, menoleh sekilas pada Ana dan Hugo yang berdiri diam mengawasi.

“Aku setuju dengan saranmu, Kila. Oh, ya. Aku lupa menyampaikan pada kalian. Lusa Aku dan Ana akan segera menikah,” kata Hugo, membuat Kila langsung berbalik dan berjalan menghampiri mereka lagi.

“Benarkah?”

“Kau bilang kita akan menikah minggu depan, bagaimana bisa dalam waktu kurang dari sehari semua berubah?”

“Tak ada yang tak mungkin, semua bisa saja terjadi dan Aku sudah membuktikannya. Kita akan menikah lusa.” Tegas Hugo pada Ana yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Syukurlah, Tuhan mendengar doa kita. Akhirnya kalian bisa menikah lebih cepat tanpa harus menunggu lama. Senangnya kami bisa melihat kalian bersanding di pelaminan.” Kata ibu Astrid tulus. Mereka pun kembali ke kamar dan tak keluar lagi hingga pagi.

“Benarkah yang Aku dengar barusan, kita akan menikah lusa?” Ana masih tak percaya, ia menatap Hugo yang kini menggenggam erat tangannya. Dan laki-laki itu hanya mengangguk, lalu membawanya berjalan ke lantai dua, menikmati pemandangan langit malam dari balkon kamarnya.

“Akhirnya Aku bisa berduaan saja denganmu malam ini,” kata Hugo sambil memeluk Ana dari belakang, menautkan kedua tangannya di atas perut Ana.

“Lusa? Bagaimana Kau melakukannya, padahal tadi siang Kau bilang kita akan menikah minggu depan?” tanya Ana penasaran.

Hugo hanya tertawa, ia kecup lembut pipi Ana sebagai jawabannya. “Lebih cepat lebih baik,” bisik Hugo lagi, dan Ana tersenyum mendengarnya.

Ana memejamkan mata sesaat, meresapi suasana romantis berdua di bawah sinar bulan yang tampak penuh di atas sana. Lamat-lamat terdengar alunan musik dari lantai bawah, dan tahu-tahu mereka sudah berdansa bersama sambil tertawa bahagia.

Kita bikin romantis, bikin paling romantis. Sambil bermain mata turun ke hati, hatinya jatuh.

Kita bikin romantis, yang paling romantis. Sambil bergandengan tangan hati pelukan di angan syahdu.

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!