NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008: Ritme Baru

"Tidak terlalu asin," ulang Meilin pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Kevin.

Keesokan harinya, kalimat itu menjadi ukuran baru di dapur kecil mereka.

Meilin menumis bawang putih lebih dulu, seperti yang pernah Kevin katakan. Dia menunggu aromanya keluar sebelum memasukkan sayur. Garamnya hanya sedikit. Ketika mencicipi kuah bening itu, rasanya masih jauh dari masakan enak, tapi setidaknya tidak membuat lidah menyerah.

Di meja, ponselnya terus menyala.

Setelah unggahan sketsa pertama dan satu pesanan selesai, dua orang lain bertanya harga. Satu mundur setelah tahu harus membayar DP. Satu lagi mengirim foto kucing peliharaan dan meminta sketsa sederhana.

Meilin hampir tertawa.

Dia masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan calon penguasa konglomerat, tapi uang makan hari ini mungkin datang dari gambar seekor kucing oren yang terlalu gemuk.

Pembeli: Bisa selesai dua hari, Kak?

Meilin: Bisa, Kak. Untuk sketsa sederhana, DP 50 persen di awal ya.

Kali ini dia tidak bertanya pada Kevin untuk setiap kalimat. Dia sudah punya format, folder bukti, dan catatan harga. Ada rasa takut, tentu saja. Tapi ketakutan itu tidak lagi membuatnya diam.

Sore hari, dia membeli beras lebih baik sedikit, tempe, dan satu sachet kecil kaldu. Pemilik warung mengangkat alis.

"Wah, sekarang belanjanya rapi."

Meilin tersenyum. "Pelan-pelan, Bu."

"Suaminya pasti senang."

Tangan Meilin yang sedang menerima kembalian berhenti.

Suami.

Dia dan Kevin belum menikah. Dalam dunia novel ini mereka hanya tinggal bersama dalam hubungan yang sudah rusak oleh Meilin asli. Tapi mendengar kata itu membuat jantungnya tersandung aneh.

"Bukan..." Meilin hampir menjelaskan, lalu menahan diri. "Makasih, Bu."

Malamnya, Kevin pulang hampir pukul satu.

Meilin benar-benar tidak menunggu di dekat pintu. Dia duduk di meja, mengerjakan sketsa kucing, tapi wadah makan sudah siap di samping rice cooker. Saat Kevin masuk, dia hanya mengangkat wajah.

"Makanannya di sana. Tidak terlalu asin."

Kevin melepas sepatu. "Kamu belum tidur."

"Aku kerja."

Tatapan Kevin turun ke sketsa kucing gemuk di buku.

"Klien baru?"

"Iya. Kucing oren."

"Kliennya?"

"Kucingnya."

Untuk sesaat, Kevin tampak seperti lupa harus bersikap dingin. Matanya turun lagi ke gambar kucing itu, lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Mirip bos."

"Kucingnya?"

"Klien yang suka minta cepat."

Meilin tertawa kecil. Kevin tidak ikut tertawa, tapi dia juga tidak memotong suasana. Dia mengambil makan, duduk di lantai, lalu mencicipi sayur bening.

Meilin pura-pura fokus pada gambar, padahal seluruh tubuhnya menunggu penilaian.

"Lebih baik," kata Kevin.

Hanya dua kata.

Cukup untuk membuat garis kucing di buku Meilin hampir melenceng.

Setelah makan, Kevin duduk di dekat meja seperti beberapa malam terakhir. Meilin membuka salep dan cotton bud. Dia tidak lagi perlu bertanya panjang. Dia hanya mengangkat tube kecil itu.

Kevin melirik, lalu memiringkan kepala sedikit.

Izin yang sunyi.

Meilin mendekat. Gerakannya lebih tenang dari kemarin, meski jarak mereka tetap membuat napasnya hati-hati. Bekas luka itu tidak berubah apa-apa, tentu saja. Tapi kulit di sekitarnya tidak sekering sebelumnya.

"Sudah tidak terlalu merah," gumamnya.

"Kamu dokter?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku yang mengoleskan. Aku boleh merasa tahu sedikit."

Kevin diam.

Meilin baru sadar jawabannya terlalu berani. Dia cepat-cepat menutup salep. Tapi Kevin hanya mengambil laptop dan membuka pekerjaannya.

Keesokan harinya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Kevin berangkat pagi. Meilin menggambar, memasak, membalas DM, mencatat pemasukan. Malamnya Kevin pulang, makan, memperbaiki cara Meilin memotong bawang, lalu duduk diam saat dia mengoleskan salep.

Hari berikutnya, Meilin menyelesaikan sketsa kucing itu. Pembeli mengirim sisa pembayaran dan mengunggah ulang hasilnya di story. Dari sana, tiga pesan baru masuk.

Uang mereka belum banyak.

Kos itu masih sempit. Pemanas air masih rusak. Kevin masih tidur di lantai, meski Meilin beberapa kali menawarkan bergantian memakai kasur. Tapi sekarang ada beras di tempatnya, telur di rak, sabun cuci piring yang tidak perlu diencerkan dengan air, dan token listrik yang cukup untuk menyalakan lampu tanpa takut mati setiap malam.

Perubahan kecil itu membuat Meilin berani bernapas.

Kevin memperhatikan semuanya.

Dia tidak pernah memuji panjang. Tidak pernah berkata terima kasih dengan jelas. Tapi suatu malam, ketika Meilin lupa makan karena mengejar revisi, Kevin meletakkan sepiring nasi di samping buku sketsanya.

"Makan dulu."

"Sebentar."

"Sekarang."

Meilin menatapnya.

Kevin menatap balik.

Akhirnya, Meilin meletakkan pensil. "Iya, Ko."

Itulah cara mereka mulai saling menjaga. Tidak manis. Tidak lembut seperti pasangan dalam novel yang sengaja ditulis untuk membuat pembaca iri. Cara mereka lebih mirip dua orang yang sama-sama nyaris tenggelam, lalu diam-diam mendorong satu sama lain ke permukaan.

Namun tubuh manusia punya batas.

Pada malam keempat sejak hujan itu, Kevin belum pulang sampai pukul dua.

Meilin berkali-kali melihat ponsel. Tidak ada pesan. Dia mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Meilin: Ko, pulang jam berapa?

Pesan itu hanya centang satu selama hampir dua puluh menit.

Saat pintu akhirnya terbuka, Meilin langsung berdiri.

Kevin masuk dengan langkah yang tidak stabil.

Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Kemejanya basah oleh keringat, bukan hujan. Tas laptopnya hampir terlepas dari bahu.

"Kevin?"

"Aku tidak apa-apa."

Dia baru melangkah dua kali ketika lututnya goyah.

Meilin berlari menahannya. Berat tubuh Kevin jatuh ke arahnya, panasnya menembus kain baju.

Tangan Meilin menyentuh dahinya.

Panas.

Terlalu panas.

"Ko," suara Meilin pecah, "kamu demam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!